Archive for the Category ◊ My Family ◊

05 Jun 2009 Suatu Sore yang Cerah
 |  Category: My Family, My Self, Refleksi  | Leave a Comment

Baru saja saya akan menuntaskan mengepel bagian belakang rumah, Si Bungsu yang tadinya asik main di luar langsung menghambur menaiki sofa dengan membawa pistol mainan yang penuh pasir. Tak lama Aslam, Si Tengah, ingin ikut masuk dengan kaki berpasir pekat. Sebelum itu terjadi saya keburu menghalaunya dengan suara keras dan menyuruhnya untuk cuci kaki di keran luar dan lalu segera masuk ke kamar mandi.

“Duh capeknya…!” Padahal tadinya mau selonjoran sebentar meluruskan kaki sambil menikmati lantai yang bersih dan wangi. Lima menit pun tak apalah. Mumpung mereka masih asik main di luar.

Setelah itu Si 3,5 Tahun dan Si 2 Tahun saya biarkan main air sebentar di kamar mandi sembari saya menuntaskan mengepel. Selesai memandikan dan memakaikan baju saya mengunci kamar sebentar agar bisa tenang Sholat Ashar karena belakangan Halim suka sekali menaiki punggung ketika sujud.

Usai sholat saya merenung sebentar dan mencoba berpikir jernih. Lantas pikiran waras datang. Kalau ingin mengeluh, memang banyak hal yang bisa dikeluhkan. Tapi kalau saja kita ingin bersyukur, maka sungguh lebih banyak hal lagi yang bisa disyukuri. Shit happens, indeed. But it’s OK.

Setelah sholat, ada rencana untuk mengajak mereka ke luar. Sore hari begini, atau sering juga pagi hari, kadangkala saya mengajak anak-anak bersepeda mengelilingi komplek mencari angin. Biasanya lantas mampir ke mini market depan perumahan untuk membeli cemilan lalu mencari tempat duduk yang nyaman untuk menikmatinya bersama-sama. Ya, kalau mau bersyukur memang banyak hal yang bisa (bahkan harus) disyukuri. Toh, saya masih bisa menghabiskan waktu bersama anak-anak. Kala jenuh, bisa bermain di luar. Kalau ingin jajan, bisa jajan tanpa harus memikirkan soal uang. Sementara ada ibu lain yang harus bekerja di luar demi memenuhi ekonomi keluarga. Harus kehilangan sebagian waktu bersama anak-anak karena terpaksa. Tentu ibu-ibu yang bekerja demi aktualisasi diri saya kecualikan dari konteks ini.
Kalaupun saat ini keadaan memaksa saya untuk mengerjakan pekerjaan rumah sendiri tanpa asisten, toh sudah ada alat-alat modern yang memudahkan. Ada mesin cuci untuk mencuci baju. Things can be a lot worse. Kalau mesin cuci rusak memang mau tak mau harus mencuci sendiri. Tapi toh nasib saya masih lebih baik daripada ibu-ibu yang terpaksa harus mencucikan baju orang lain dari rumah ke rumah?

Sekali lagi, banyak hal yang harus disyukuri.

Akhirnya sore ini kami tak jadi ke luar. Sore yang cerah ini saya habiskan di rumah saja dengan menulis ini sambil menyuapi anak-anak. Sebelum ide menulis kabur (seperti yang seringkali terjadi bila tidak segera menuliskannya). Pun mereka sedang asik main bertiga di rumah sambil nonton Spongebob. Si Kecil lalu minta susu. Si Sulung meminta es teh manis dan Si Tengah minta dibikinkan keduanya. Dan saya melayaninya dengan tenang di sela-sela menulis.

Friday, June 05, 2009, 16.57

25 May 2009 Jalan Santai Minggu Pagi
 |  Category: My Family, My Marriage, Refleksi  | Leave a Comment

Hari Minggu pagi aku dan Mas jalan santai berdua saja. Mumpung ada ayah ibuku yang tengah bertandang ke sini yang bisa menjaga anak-anak. Ternyata begitu menyegarkannya aktivitas sederhana itu. Menyegarkan badan, menyegarkan jiwa, menyegarkan pikiran, juga menyegarkan hubungan kami berdua.

Setiap orang yang sudah berumah tangga pasti sesekali merasakan kejenuhan dalam hubungan mereka, anak kadang menyita seluruh fokus dalam kehidupan sehingga kita lalu kehilangan waktu untuk pribadi, kehilangan waktu sebagai pribadi.

Pagi itu, dengan santai kami membicarakan rencana-rencana kami ke depan. Apa yang Mas ingin lakukan, bagaimana kira-kira cara mewujudkan rencana itu. Apa yang ingin kulakukan dan suamiku lantas memberi masukan bagaimana melakukannya. Yang mengejutkan adalah, di luar kebiasaan, kami sama sekali tidak memperbincangkan soal anak. Hanya tentang diri kami sendiri. And we not feel sorry about that. Bahkan merasa harus melakukannya secara berkala, artinya melepaskan topik tentang anak dari hidup kami sesekali. Dan kurasa itu bukanlah sifat egois. Bagaimanapun orang tua adalah pribadi yang harus bertumbuh secara utuh, terlepas dari peran mereka sebagai ‘ayah’ dan ‘ibu’.

Salah satu cara orang tua mengayomi dan membuat anak merasa aman adalah dengan menunjukkan hubungan kasih sayang yang kuat di antara mereka. Tapi kadang kesibukan menggerus sedikit demi sedikit hubungan itu. Seolah ‘aku’ dan ‘kamu’ tiada dan harus selalu melebur menjadi ‘kita’.

Sungguh menyegarkan bicara hati ke hati seperti ini. Menukik ke dalam jiwa. Karena seringkali yang kami perbincangkan hanya soal keseharian yang bersifat permukaan saja. Seperti, “Apa kegiatan di kantor hari ini?” atau “Bagaimana anak-anak hari ini?”, “Mau jalan-jalan kemana kita weekend besok?” Dan banyak lagi soal keseharian lainnya. Itu masih bagus karena berarti masih terbangun komunikasi dalam rumah tangga dan tidak saling cuek satu sama lain, tapi kurasa sesekali, kita harus menukik lebih dalam dari itu.

Written: Monday, May 24, 2009, 02.46

21 May 2009 Hidup Kami di Surabaya
 |  Category: My Family  | Leave a Comment

Tak terasa, hampir 2,5 tahun kami bermukim di Kota Pahlawan ini. Kota yang terkenal dengan hawa panasnya yang menyengat. Sejauh ini, kami sekeluarga cukup merasa betah dan nyaman berada di sini. Meskipun nyaris tidak ada sanak saudara yang mendampingi, dan ada kerinduan pada kampung halaman yang sesekali menyelinap di hati.

Honestly, I can’t say that I love Surabaya more than Jakarta. Jakarta, sebagai kampung halamanku, pastinya punya tempat tersendiri yang istimewa di hatiku. Jakarta dengan segala kesibukan dan hiruk-pikuk kehidupannya yang sangat metropolis itu. Jakarta yang tak pernah absen dari kemacetan. Jakarta yang langganan banjir di beberapa tempat bila musim penghujan tiba. Jakarta yang diklaim sebagai tempat yang paling enak dan gampang buat cari duit.

But I can’t complain also about Surabaya. Surabaya adalah kota besar juga sehingga boleh dikata hampir semua yang ada di Jakarta, pasti ada pula di Surabaya. Dalam segi fasilitas, Surabaya tidak kalah dibanding Jakarta. Ditambah nilai plus bahwa, di Surabaya jarang kutemui kemacetan seperti yang lazim ada di Jakarta. Di Surabaya, biaya tol, bensin, dan parkir dapat kami tekan dengan jumlah yang signifikan di banding di Jakarta. Setelah, kupikir-pikir, kualitas hidup kami pun lebih baik dibanding waktu tinggal di Jakarta.

Bagi sebagian orang, hidup di Jakarta bisa berarti tua di jalan. Karena sedimikian banyaknya waktu yang dihabiskan sehari-hari untuk pergi dari rumah ke tempat kerja. Suamiku sempat mengalaminya. Waktu itu sempat selama hampir 6 bulan Mas harus pulang pergi Depok-Cikarang yang memakan waktu tempuh 2-2,5 jam sekali jalan. Berarti kira-kira 5 jam dalam sehari waktu yang dihabiskan di jalan menuju tempat kerja. Pergi pada 5.30 pagi dan baru kembali ke rumah paling cepat pukul 8 malam. Itu pun jarang, yang sering adalah pukul 9 ke atas. Dengan jadwal seperti itu, apa yang bisa diharapkan dari intensitas pertemuan dengan anak? Bahkan mencari waktu pun susah. Harus pergi begitu pagi, dan kembali ke rumah begitu larut. Pergi ketika anak masih terpejam dan kembali saat anak sudah tertidur pulas. Aku rasa, bukan kualitas hidup seperti itu yang kami inginkan. Hidup memang harus bekerja, tapi hidup (harusnya) ga melulu tentang kerja. Anak memang butuh uang, tapi tak hanya uang. Anak juga butuh waktu, perhatian, dan kasih sayang.

Sekarang di Surabaya ini, waktu tempuh suamiku ke kantor hanya 15 menit. Dia biasanya pergi jam 7 pagi dan kembali ke rumah sehabis Sholat Maghrib di kantor. Kadang memang lebih lama, tergantung kesibukan kerjanya. Tapi kadang juga lebih cepat. Tapi secara umum, kualitas dan kuantitas waktu pertemuan dengan anak jauh lebih baik. Karena stamina tubuh tidak terkuras di jalan, di rumah masih merasa segar untuk bermain dengan anak-anak. Sungguh membahagiakan melihat anak-anak bercanda suka ria di tempat tidur bersama ayahnya. Sebuah kebahagian masa kecil yang tak terbeli dan takkan pernah kembali.

26 Apr 2009 Tanpa Asisten
 |  Category: My Family, Serba-serbi  | 4 Comments

Tak terasa, sudah hampir 2 minggu sejak aku ‘kehilangan’ PRT ku yang sejak 2 tahun lebih ini menjadi bagian keluarga kami. Mulanya aku cukup shock dengan kepergiannya yang sangat mendadak, yang bahkan tidak kuduga 1 jam sebelumnya. Tiba-tiba she got all her things packed, ready to go. Maka kemudian aku tertatih menyesuaikan diri lagi.

Along the way, sampai saat ini, sudah 2 orang datang menawarkan diri untuk membantuku setengah hari tanpa menginap. Yang satu menawarkan untuk bekerja kira-kira 2-3 jam sampai pekerjaan seperti mencuci, menyetrika, dan beres-beres selesai. Sedangkan yang satu lagi, yang baru malam tadi datang kepadaku, menawarkan setengah hari penuh dari siang sampai sore hari. Hmm…tawaran yang menarik. Suprisingly, ketika penawaran itu datang, aku justru ragu dan mempertanyakan diri lagi apakah aku benar-benar telah sangat membutuhkan jasa mereka. Sejauh ini aku merasa masih cukup enjoy dengan kesendirianku. Anak bungsuku sudah cukup besar (26 bulan), sehingga sudah bisa kutinggal bermain sendiri bersama abangnya, sementara aku mengerjakan pekerjaan rumah. Yang masih merepotkan hanya masalah BAB dan BAK yang masih suka sembarangan. Aku sering menaturnya setidaknya sejam sekali. Tapi ketika tiba ‘hari-hari hujan’ alias hari di mana dia sering sekali BAK dan aku mulai merasa stress ketika berualang kali harus membersihkannya, aku menyiasatinya dengan memakaikannya pospak. Sesekali saja.

Ada masanya ketika aku mudah sekali stress ketika tak ada bantuan asisten sama sekali. Seingatku mungkin pada saat anak keduaku masih berusia beberapa bulan. Rasanya seperti dalam keadaan ‘red alert’ setiap saat. Sangat susah untuk sejenak merasa santai tanpa dikejar-kejar pekerjaan rumah yang menyusul satu setelah yang lain. Seingatku aku tak bisa tidur nyenyak sebelum semua pekerjaan beres. Dan itu artinya mugkin saja aku masih memaksakan diri untuk menyetrika pada jam 11 atau 12 malam, ketika sebenarnya badan sudah remuk redam.

But I take it more easy now. Aku menyempatkan diri untuk istirahat siang hari manakala memang merasa butuh untuk istirahat. Masa bodolah dengan pekerjaan yang segunung dan rumah yang berantakan bak kapal pecah. Toh ketika badan ini sudah segar setelah istirahat, semua insya Allah akan kuselesaikan juga dengan cepat, efektif dan efisien. Anak-anakku juga selamat dari omelanku yang rentan keluar terutama ketika badan sudah capek. Dan sekarang, aku bisa tidur malam dengan nyenyak bahkan ketika masih banyak piring kotor tergeletak in my kitchen sink, atau banyak baju kusut di bak setrika. Meskipun kadang-kadang akan kuselesaikan juga setelah bangun tidur jam 2 atau jam 3 dini hari. Dengan catatan kalau memang mata ini bisa terbuka dan sedang tidak merasa malas. By the way, aku memang pasti terbangun setiap malam rata-rata setiap 1- 1,5 jam sekali untuk membuat susu untuk bungsuku yang semalaman bisa minum sampai 8 botol. And guess what, seseorang memang bisa be pushed to the limit ketika dalam keadaan terdesak. Dulu, aku selalu melaundry bed coverku. Sekarang hitung punya hitung sudah 4 kali aku mencucinya sendiri. Literally by my own hand, karena memang mesin cuciku tengah rusak. Meski secara simpel saja yaitu dengan merendamnya dengan pewangi. Karena tidak terlalu kotor, hanya terkena sedikit rembesan pipis dari diapers Halim yang sudah kepenuhan.

Well, sampai saat ini, setidaknya sampai hamilku belum besar, insya Allah aku masih sanggup bekerja sendiri. Masa’ sih punya 3 anak aja ga bisa, sedangkan nenekku yang beranak 13 saja bisa.

By the way, aku masih sempat buka facebook dan YM sesekali kok sebagai pelepas lelah. Just enjoy…

Sunday, April 26, 2009, 02.59

28 Jul 2008 Our Very First Home
 |  Category: My Family  | 3 Comments

Home is where your heart belongs to. Nice quotes. Entah aku lupa pernah baca di FS nya siapa. Hayo…yang ngerasa boleh ngaku. Aku emang nyontek kok.

Kalo home seperti makna di atas insya Allah sudah aku punyai sejak lama. In my little happy family. Maksudku sekarang adalah home secara fisik loh.

Setelah selama ini setia menjadi kontraktor, akhirnya kami memutuskan -dan alhamdulillah diberi kemampuan- untuk memiliki rumah sendiri (finally!). Setelah melalui beberapa proses yang agak berbelit, akhirnya terlaksanalah akad kredit pada 23 April 2008. Jadi sejauh ini berarti kami sudah mencicil sebanyak 3 kali. Tinggal 117 bulan lagi sisa cicilan (waks, ini mah banyakan yg belum ya…Still a long way to go :D ). Baru lunas pas anakku remaja nanti. Ya…mudah-mudahan kalo ada rejeki bisa dipercepat pelunasannya. Aamiin…

So, tanpa banyak kata lagi, inilah potonya sodara-sodara….

Rumah_edit_2 Rmh_edit_2

Sebuah rumah yang mungil saja. Aslinya tipe 36/91. Tapi oleh yang empunya dulu sudah ditutup belakang dan ditingkat dengan tambahan 2 kamar di atas dan sebuah kamar mandi. Ini rumah seken yang masih terbilang baru. Bangunan tahun 2005. Harganya sih banyak yang bilang termasuk murah. Dengan renovasi seperti itu loh. Masih di bawah 200 lah. Jadi total ada 3+1 kamar tidur dan 2 kamar mandi. Ya…sementara ini cukup memadai lah untuk keluarga kecil kami.

Tapi rumah ini sampai sekarang belum kami tempati. Masih perlu dirapikan di sana sini. Contohnya ini nih. Tangganya belum dipasangi railing oleh yg empunya dulu.Dsc04842edit

Gak safe banget kan buat anak-anak. Jadilah kita nempa railing dulu. Elah dalah ternyata setelah jadi, hasilnya tidak seperti harapan. Masih nyelos banget jerujinya. Sama juga boonk. Dasar! Siapa sih nih yang milih model…?! (padaal gw sendiri, wakaka…Dasar dodol).

Tangga_1_edit Dsc05147_edit

Asli deh, pas baru liat waktu belum kepasang, langsung berasa ilfil. Soalnya setelah dites dengan nyuruh Alfath mencoba lewat, langsung nyeplos aja tuh. Apalagi buat 2 krucil yang masih imut-imut. Langsung deh ilang napsu mengingat uang 3 juta lenyap tanpa sesuai harapan. Waduh, nasi dah jadi bubur, mo nempa yang baru ga mungkin kan. Emang kebanyakan duit apa. Tapi alhamdulillah, ternyata tukang nya terima complainan kita dan masih nerima perbaikan. Akhirnya dibetulin deh. dan yang paling penting: Free of Charge. Emang paling enak dapet gratisan. Jadilah hasilnya seperti ini, ga keliatan seperti tambelan kan…?!

Dsc05223edit Dsc05225edit

Alhamdulillah….sekarang aman deh.

Sementara itu, tukang cet yang satu ini agaknya sudah menyerah dan meninggalkan pekerjaan untuk diselesaikan oleh yang expert alias tukang bangunan aseli. Capek bo, udah bolak-balik tapi ga kelar-kelar. Kalo misua sih udah nyerah dari kapan tau. Katanya ga worthed banget ngecat sendiri, yang ada waktu luang untuk main bersama anak-anak di waktu libur jadi kebuang.

Kalo yang mau liat hasil cat an ku ini nih. Sayang cuma dikit gambarnya. Soalnya males banget harus resize gambar mulu. Gini nih punya kamera kecanggihan dengan spek melebihi kebutuhan. Pixelnya rapet banget shg filenya jadi besar dan susah di-upload. Makanya udah lama banget ga pernah upload foto yang sebenernya bejibun di komputer.

Dsc05074edit  Ini yg warnanya norak banget adalah kamar Apat and the gank. Abisnya dia sendiri yang milih. Kupilihin yg lebih soft ga mau.

Dsc05133edit_1 Ini kamar orang tua yang agak norak dikit. Ceritanya mau eksperimen dengan kamar yang bukan putih seperti kebiasaan sebelumnya.

Ruang_tamu_edit_1 Untuk ruang tamu, ga berani eksperimen macem-macem dah. Cukup dengan Light Ivory Catylac ajah.Ntar mau warna macem-macem malah kebanting karena ruangannya cuma seiprit.

Ya lumayanlah untuk rumah pertama di daerah yang rencananya adalah (bukan) persinggahan terakhir.

*Masih merasa bahwa Jakarta lah rumahku.