Archive for the Category ◊ My Kids ◊

02 Mar 2010 Siklus
 |  Category: My Family, My Kids, My Self, Refleksi  | One Comment

Kesibukan yang luar biasa kadang membuat kita lupa untuk menikmati hidup. Tadi pagi aku berjalan santai bersama anak-anak setelah, seingatku, nyaris 2 bulan lebih kami banyak berdiam diri di rumah dan hanya keluar ketika akhir pekan.

Hangat rasanya diterpa mentari jam 10 pagi yang kebetulan tak bersinar terlalu garang. Kami berjalan santai sambil bercerita. Tentang daun dan rumput. Tentang tanah dan kupu-kupu. Tentang matahari dan bunga. Sepertinya aku yang mengajari mereka, malaikat-malaikat kecilku: Aslam, Halim dan Nuri yang tengah tenang dalam buaian. Tapi nyatanya justru aku yang banyak belajar. Aku bercerita tentang warna daun yang hijau, yang di sela-selanya ada daun yang telah kuning menua. Dan ada pula daun yang telah gugur ke atas tanah: rapuh, coklat, mengering. Tanpa sadar aku telah belajar tentang siklus hidup itu sendiri. Bagaimana kita kanak-kanak, remaja, dewasa, menua, hingga akhirnya ajal pun tiba.

Dadaku menghangat. Mataku berkaca. Aku terharu. Betapa Allah menaburkan tamsil pada segala sesuatu yang hadir di dunia ini. Kisah hidup daun itu sejatinya adalah kisah hidup kita juga.

Kita hidup dalam masa yang amat singkat: lahir, dewasa, menua. Tamsil itu telah nyata ada dalam Kitab-Nya, tapi amat sedikit orang yang mau mengambil pelajaran darinya.

Lumayan juga ‘oleh-oleh’ hasil jalan santai kami siang ini. Selain beberapa cemilan ringan dan minuman dingin, sedikit bekalan ajaran tauhid untuk anak-anak, aku juga membawa pulang segenggam pelajaran hidup.

Friday, February 05, 2010, 23.03

14 Jan 2010 Pesan untuk Anakku
 |  Category: My Family, My Kids, My Self, Refleksi  | Leave a Comment

Baru saja di tivi kudengar berita miris tentang seorang bapak memperkosa anak angkatnya karena menonton film porno. I sudden remember about all my children. Aku resah gelisah mencemaskan bagaimana mereka melewatkan masa puber nanti dengan konsisten berpegang pada aturan Allah.

Hampir 8 tahun usia anak tertuaku sekarang. Waktu terbang begitu cepat. Sebagai orangtua kadang kita tergagap menghadapi perkembangan anak-anak yang begitu pesat. Bekalan belum cukup tapi perjalanan harus berlanjut. Masa terus dipergilirkan. Masa mereka akan berbeda dari masa kita. Mungkin dahulu waktu kita kecil, belum ada orang gila yang tega menyisipkan film porno dalam film anak-anak. Mungkin dahulu waktu kita remaja, belum lazim koneksi internet yang mudah diakses setiap orang. Tapi lihat sekarang? Semua hal yang ingin kamu cari ada di dunia maya itu, Anakku. Maka pesan Bunda untukmu: pilihlah input yang baik, sehingga yang keluar darimu adalah output yang baik. Jaga dirimu dari segala hal yang sia-sia dan merusak otakmu. Bergaullah dengan teman yang positif yang dapat menjagamu dari perilaku yang merugikan orang lain. Betapa banyaknya orang yang keberadaannya di dunia ini bernilai negatif hanya karena mereka salah dalam menentukan pilihan. Mereka salah dalam memilih apa yang mereka tonton, baca, dengar, gauli, sehingga otak mereka rusak dan tidak dapat berpikir hal lain selain keburukan. Gunakan masa mudamu untuk hal-hal yang bermanfaat. Kendalikan hormon masa muda yang meletup-letup dengan menyalurkannya ke berbagai aktivitas positif. Jadikan Al-Quran dan sunnah Nabi sebagai pegangan hidup. Yakin pada diri sendiri dan jangan melulu tunduk pada apa kata orang. Tanyalah nuranimu sebelum bertindak. Bila baik, maka berkeras hatilah melaksanakannya. Bila buruk, maka berusaha kuatlah menghindarinya. Ada Bunda dan Ayah di sini yang bersedia menjadi temanmu manakala kau butuh teman. Kami berusaha untuk tidak menghakimimu bila suatu saat kau membuat pilihan yang salah. Karena kesalahan ada agar kita dapat belajar tentang yang benar. Tapi jangan juga kau marah pada kami bila apa yang kami pikir benar ternyata tidak benar bagimu, karena sebagai orangtua, kami pun masih harus banyak belajar. Kehidupan adalah sekolah yang tak mengenal kata lulus, Anakku. Aku, ayahmu, kamu dan semua orang adalah murid sekolah kehidupan yang harus terus belajar sampai tiba hari diperhitungkan amal-amal.

Thursday, January 14, 2010, 03.15

14 Jan 2010 Happy Mother’s Day
 |  Category: My Family, My Kids, My Self  | Leave a Comment

Life is so full of surprices especially when you are a mom, taking a snap of nap and leaving your toddler alone. Here’s my today story. Sebelum tidur siang sebentar aku membuatkan susu untuk dua balitaku, Aslam dan Halim. “Bunda, tidur sebentar ya Nak. Kalo pipis siram yang banyak ya. Jangan berantem terus ya.”

Dan ketika baru saja bangun, selalu ada saja ‘kejutan’ yang kudapati. Hari ini adalah bongkahan p*p yang tersebar di beberapa tempat. Kalau aku kilas balik kejadian yang dulu-dulu, kejutannya bisa beraneka macam. Pernah aku mendapati sofa yang penuh berlumur debu dan tanah, serbuk minuman yang berserakan lengket karena tercampur dengan air seni, atau bak mandi yang putih butek (bukan bening) karena dituangi hampir sebotol bedak, dan lain sebagainya.

It’s never been easy of becoming a mom. Tapi dalam kebanyakan kasus itu, karena tubuhku sudah segar sehabis istirahat, maka aku bisa membereskan semuanya dengan tenang. Yang membuat uring-uringan adalah ketika aku lelah misal karena keasyikan terlalu lama duduk di depan komputer. Too much of doing something can surely makes your life imbalance.

Aku menulis ini dalam rangka merayakan Hari Ibu yang tepat jatuh tanggal 22 Desember. Selamat Hari Ibu, semua. Selamat menikmati suka duka menjalani peran mulia ini…

Surabaya, Tuesday, Dec 22, 2009, 12.35

18 Nov 2009 What Is The Hardest Part of Having A Baby?
 |  Category: My Kids, My Self  | Leave a Comment

What is the hardest part of having a baby? Begitu pertanyaan dalam ruang pikiran yang tak henti berkelebatan. Susui bila haus lapar. Bersihkan badannya agar nyaman.Timang-timang bila menangis bosan. As simple as that. Sungguh aku takut terdengar sombong mengecilkan masalah. Karena setiap perkataan pasti diuji. Semua orang tahu beratnya jadi ibu. Pekerjaan yang tak mengenal kata libur dan cuti.

Tips of the day. Jangan pernah mencoba untuk sempurna. Kekecewaan itu timbul bila ada kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Cuek sedikit tak mengapa. Lupakanlah tentang rumah yang harus selalu bersih cemerlang. Aku mencermati bahwa aku selalu jadi kesal dan judes pada anak-anak bila kelelahan berulang kali menyapu tapi rumah kembali kotor lagi dan lagi. Hari ini moodku sedang bagus. I’am loosen up a little bit. Tetap tenang walau banyak barang berserakan tak pada tempatnya. Toh nanti ada waktunya juga semua kekacauan itu akan kubereskan.

Aku pernah menulis tentang how I manage my routines. Well, setelah kehadiran amanah baru, apa yang dulu rutin kujalani pastinya berubah sedikit banyak. Sekarang, kadang aku mengerjakan sesuatu hal single-handedly. Bukan kiasan tapi benar-benar single-handed karena tangan yang satu kugunakan untuk menggendong Nuri yang kebetulan bobot tubuhnya masih ringan. Menyapu dan mengepel mungkin saja bukan, dilakukan sambil menggendong?

Jadi, jangan risau dan stress Dear Mommies. You are not alone. Enjoy aja. Keep it simple. Jangan diperumit. Segala sesuatu itu terasa sulit kalau kita menjadikannya sulit. Kita pasti selalu punya cara untuk menghadapi apa yang ada di depan mata hari ini.

Wednesday, Nov 18, 2009, 11.00

12 Jul 2009 How I Manage My Routines
 |  Category: My Kids, My Self  | 5 Comments

Banyak hikmah yang kurasakan sejak kehilangan asisten pada 13 April 2009 lalu. Sungguh, di balik kejadian itu aku sangat bersyukur pada Allah yang berkenan membolak-balik keadaanku dari bentuk semulanya yang stagnan menjadi lebih hidup dan bermakna. Dia berkenan memangkas ranting kering tak berguna dalam kehidupanku, sehingga pohon diri ini dapat tumbuh lebih segar dan subur.

Sebelumnya hariku berjalan sangat santai karena hampir semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh asistenku. Mulanya pekerjaan memasak masih aku yang mengerjakan sendiri, tapi begitu dia sudah pintar, dia pun dengan sukarela mengambil alih tugas itu. Aku paling hanya mengerjakan tugas ringan sesekali. Waktuku banyak habis di depan komputer. YM ngalor-ngidul, browsing sana-sini, tidur, menemani anak. Meski banyak waktu luang, tapi tak banyak pekerjaan produktif yang kulakukan. Aku malas membaca buku dan mandul pula dalam menulis. Dan tanpa kusadari emosi batinku seringkali terkuras karena suka makan hati pada asisten yang tentu saja lumrah punya kekurangan karena dia manusia. AstaghfiruLlah…

Setelah mbakku tidak ada, beginilah ritme baruku dalam menjalani rutinitas harianku. Setelah Sholat Shubuh, kalau tidak kesiangan, aku akan belanja ke pasar kecil yang hanya digelar tiap pagi di depan komplek perumahan. Meski pilihannya agak terbatas –seperti daging yang jarang ada- tapi inilah pasar terdekat yang mudah kujangkau dalam waktu singkat. Pulang belanja aku akan menyiapkan sarapan. Kalau aku bangun agak kesiangan, aku akan menyiapkan sarapan dulu, baru kemudian belanja kalau anak-anakku yang kecil sudah bangun. Kalau mereka belum bangun, biasanya aku akan berjaga menunggu Pak Penjual Sayur Bermotor yang biasa lewat di depan rumah. Dulu, waktu mesin cuciku sempat rusak, spare waktu antara menunggu anak-anakku terbangun dan Alfath serta ayahnya telah pergi beraktivitas, kugunakan untuk mencuci. Tapi sejak mesin cuciku sudah ‘sembuh’, aku hanya tinggal menjemur pakaian yang telah dicuci malam sebelumnya. Aku memang biasa memperkerjakan mesin cuciku malam hari karena pasokan air yang deras dan lancar sehingga tidak merusak mesin.

Setelah krucil – Halim Si 2 Tahun dan Aslam Si 3,5 Tahun- bangun, aku memandikan mereka. Memberi susu dan sarapan. Dan setelah itu memulai aktivitas memasak. Belakangan aku sering memakai jasa catering. Terus terang aku sangat terbantu bila memesan catering. Ada 3 pekerjaan yang bisa ku-skip. Aku tak perlu belanja, tak perlu memasak, juga tak perlu mencuci peralatan memasak. Tentu saja ada pula kekurangannya. Kadang menu tak cocok, terlalu sedikit sehingga tetap harus menambah dengan membeli makanan lagi di luar, dan aku juga tidak bisa memastikan bahan makanan apa yang masuk ke perut keluargaku. Apakah cukup sehat seperti bebas MSG, dlsb.

Oh iya, terus terang saja, hingga kini setelah 8 tahun menikah, rasanya progressku dalam memasak tak banyak berubah. Masih setia dengan menu-menu sederhana dan simpel, yang kadang membosankan. Tidak rumit dan sophisticate. Bayam, kangkung, sawi, sop, aneka balado dan tumis-tumisan dan sebangsanya yang berputar-putar itu-itu saja. Tambahan lagi anakku juga suka pilih-pilih makanan, sehingga pilihan bahanku makin terbatas. Masak ikan ini itu Alfath ribut amis. Tempe gak suka. Dan lain sebagainya. Aku juga tak pernah bikin kue. Cemilanku buat anak-anak paling-paling seputaran jelly, agar-agar, pudding, es krim dari bubuk instant. Haha…ini ceritanya sharing atau buka aib sih :)

In the middle of the cooking process yang dimulai sekitar jam 9-an itu , aku biasanya menghidupkan computer dan modemku. Mencari sedikit hiburan lewat facebook, Multiply dan cek e-mail. Untuk YM, sekarang nyaris tak pernah kulakukan karena sangat menuntut fokus perhatian yang intens dan tak bisa ditinggal. Anak-anakku pada saat itu biasanya asyik main, menyusun-nyusun mainan dan memanggilku untuk melihatnya hasil karyanya bila sudah jadi. “Bunda…Bunda…liat deh, Acam bikin rumah…”, atau “bikin keretaan” atau “bikin robotan” atau asyik menonton VCD anak-anak, atau asyik main pasir atau main air di luar.

Jam setengah satu Alfath pulang sekolah. Dulu, PC di rumah langsung berpindah tangan begitu dia pulang. Tapi sekarang karena ada komputer satu lagi, jadwalku jadi agak leluasa. Halim biasanya tidur jam segini. Aslam kadang tidur kadang tidak setelah kusuapi makan siang. Alfath juga kadang masih kusuapi barengan Aslam. Sehabis itu aku mandi dan Sholat Dhuhur. Setelah itu aku istirahat tidur siang, karena kalau kurang istirahat biasanya aku jadi uring-uringan, jadi sensitive dan gampang marah. Apalagi dalam keadaan hamil begini. Aku sangat butuh istirahat sejam dua jam.

Agar tidurku tenang, pintu rumah kukunci dam Halim kupakaikan diapers. Karena Alfath jarang sekali tidur siang, adik-adiknya pun terkadang suka skip their nap time atau hanya tidur sebentar saja. Tapi sering juga para krucil itu tidur bareng aku. Sementara Alfath sibuk main game computer setelah sholat Dhuhur atau menggambar kalau dia sedang ingin. Kadang dia tertidur juga bila kelelahan.

Aktivitas soreku mulai sekitar jam tiga atau setengah empat. Yaitu: Sholat Ashar, memandikan anak, nyapu dan mengepel, masak nasi, mengangkat jemuran, menyuapi anak. Biasanya selesai sekitar jam 5 sore atau menjelang Maghrib (Maghrib di Sby sekitar jam 17.30). Mencuci piring biasanya makan waktu beberapa menit saja. Karena kulakukan sering-sering tiap ada yang kotor jadi tak sampai menumpuk.

Nah, jadwal sore yang sibuk ini juga yang suka jadi pikiranku. Kalau dulu anakku Halim tiap sore diajak main ke luar oleh Si Mbak. Sekarang dia tak pernah main jalan-jalan ke luar, hanya main di rumah saja. Apa Halim ga suntuk ya seharian di rumah saja?

Sehabis Sholat Maghrib aku terkadang baca Al-Qur’an dan mengajari Alfath mengaji (sayangnya sekarang sering bolong-bolong, Alfath suka beralasan dia sudah belajar ngaji di sekolah, *mungkin akunya juga yang malas mengajar sehingga tak berkeras memaksanya. Don’t mean to blame on him. Hehe..*). Kegiatan baca Qur’an ini kadang kulakukan tengah malam. Satu kebiasaan baikku yang sejak dulu kulakukan adalah, aku tak pernah mengaji tanpa membaca terjemahan. Walaupun sedikit-sedikit mengerti Bahasa Arab karena sempat mengenyam bangku pesantren dulu, bagiku mengaji kurang afdol kalau sekedar membaca teks Arabnya saja. Walaupun hanya mengaji beberapa ayat yang penting kita tahu artinya.

Setelah Maghrib biasanya Si Bapak pulang kantor. Setelah makan malam, Mas biasa main, bercengkrama dan besenda gurau bersama anak-anak.

Aku biasanya membuka komputer lagi setelah keadaan santai. Pekerjaan yang termasuk shift malamku adalah: mencuci piring untuk terakhir kalinya, menyetrika baju yang tak pernah alpa kulakukan tiap hari agar tak menumpuk, dan memasukkan cucian ke mesin cuci. And tomorrow, I’m ready for the new day … :) Memulai siklus ini sekali lagi.

Sepanjang malam aku akan terbangun beberapa kali untuk membuatkan Halim susu bila ia terbangun dan minta susu. Dan pada waktu tengah malam beginilah, di suasana yang sunyi ini, biasanya aku bisa dengan lancar menuangkan ideku dalam tulisan. Rasanya aku lebih produktif menulis setelah menjalani hidup yang aktif.

Aku berterima kasih pada-Mu ya Allah…atas waktu dan tenagaku yang telah Kau karyakan.

Tentu saja aku masih jauh dari sempurna dalam menjalani peranku sebagai ibu, istri dan pribadi. Masih banyak sekali kekuranganku. I didn’t do gardening. I didn’t do dusting kecuali bila telah diingatkan suami akan betapa telah kotor dan berdebunya perabotan kami yang cuma sedikit itu. Aku tak bisa ingat kapan terakhir kali aku membaca bacaan serius dan bermutu. Aku suka menyerah pada instant junkfood yang kurang sehat tapi enak untuk anak-anakku. And I do a little bit too much facebooking…. :)

Forgive me. I’m only human…

Saturday, July 11, 2009, 22.55