Archive for the Category ◊ My Kids ◊

18 Sep 2007 Selamat Ulang Tahun Anakku
 |  Category: My Kids  | 6 Comments

Hari ini, 18 September 2007, adalah ulang tahun Aslam yang ke-2. Kalo dalam pertanggalan Qomariyah, ulang tahun Aslam tepat betul dengan Nishfu Sya’ban (15 Sya’ban 1426 H).
Tidak ada perayaan meriah. Hanya pembacaan doa sederhana selepas tarawih. Nampaknya dia juga belum mengerti betul apa artinya ulang tahun.
Selamat ulang tahun ya Nak. Doa ayah bunda senantiasa menyertaimu…

05 Sep 2007 Si Kriwil
 |  Category: My Kids  | One Comment

Anakku yang rambutnya lain sendiri ya si Aslam. Rambutnya halus dan agak berombak.  Rambut kriwil, begitu kami menyebutnya. Setelah digundul barengan Halim waktu Aqiqah kira-kira 5 bulan lalu, rambutnya udah mulai gondrong dan ga rapi.

Senin lalu (3/9) aku bawa ke tukang cukur. Tapi entah lantaran kepagian (jam 08.30) sehingga masih tutup,  atau karena memang kebetulan sedang tutup, kami akhirnya pulang lagi. Di rumah aku  iseng ga ngapa2in karena komputer lagi ngadat, akhirnya terpikir untuk botakin sendiri pas Aslam lagi bobo pagi (dia bobo siang 2x sehari: jam 9 an dan jam 2 an). Jadilah aku alih profesi sebagai tukang cukur. Kurang lebih 1 jam aku bergerilya pelan-pelan dengan silet cukur supaya dia ga terbangun, akhirnya alhamdulillah misiku sukses juga. Kepala anakku langsung botak plontos.

Kayaknya tanganku masih gatel juga untuk cari mangsa lain. Mengingat dulu Aslam Halim botaknya barengan, maka sekarang pun pingin kubotakin juga sekalian.
Jam 1 siang gantian Halim kubotakin sambil tidur dalam gendongan mbaknya. Alhamdulillah kali ini lebih cepat, 45 menit beres.

Hasilnya: luweechu buanget.  Halim langsung menjelma jadi Bo Bo Ho. Andaikan bisa kupajang di sini… Sayang kameranya lagi dibawa ayahnya.

24 Aug 2007 Triple The Happiness
 |  Category: My Kids  | One Comment

Aku banyak membaca blog yang dibuat oleh para mommy dedicated to their beloved children. Untuk melihat, mencatat dan mencermati pertumbuhan dan perkembangan Sang Buah Hati. Untuk mencatat every milestone yang dilalui putera puteri mereka hari demi hari. Rasanya bahagiaaa sekali menjadi seorang ibu. Children are their centre of universe.

Melihat senyum dan mendengar tawa renyah anak-anak memang bagai heaven on earth bagi seorang ibu.

Setelah melongok sejenak ke kehidupan orang lain melalui jendela blog, aku jadi seolah dipahamkan bahwa banyak sekali yang harus kusyukuri dalam hidup ini.

Meski kadang jenuh berada di rumah saja, tapi aku pun mungkin akan banyak mengeluh juga jika seharian harus berada di luar, jauh dari anak-anak.

Ketika akan memejamkan mata malam tadi aku menangis. Terharu memandangi wajah polos anak-anakku yang pulas di sampingku. Teringat betapa mereka adalah the most precious things in my whole life.

Jika seorang ibu bisa begitu bahagia dengan kehadiran seorang anak, maka tidakkah seharusnya aku jauh lebih bahagia dengan 3 buah hati yang dihadirkan-Nya untukku?

I should triple the happiness…

*dedicatedforAlfath,Aslam,Halim,theloveofmylife*

13 Aug 2007 Aslamku
 |  Category: My Kids  | 3 Comments

Aku paling nyess bgt kalo anakku yang satu ini sakitDsc01447_1 Dsc01446_1. Soalnya, dengan badannya yang super kecil itu, dia ga punya bantalan lemak sebagai buffer kalo lagi ga nafsu makan. Apalagi kalo lagi diare, wuih ngenes banget ngeliatnya. Layu banget. Di usianya yang 2 tahun kurang sebulan ini beratnya cuma 10 kg. Hampir setara dengan adiknya yang 8 kg di usia 5 bulan.

Herannya, ini anak sebenernya makannya gampang. Malahan lebih gampang daripada Alfath yang doyan ngemut. Tapi kok makanannya ga jadi daging ya? Udah dikasih obat cacing ga ngefek juga. Memang sih, pupnya tergolong banyak. Makanannya numpang lewat aja kali ya?

Saking kecilnya, Aslam muat di keranjang sepeda kalo ikutan nganter Masnya ke sekolah. Tapi sekarang ga boleh ikutan nganter lagi sama ayah, karena dinilai ga safe.

Ini fotonya Aslam di keranjang sepeda.

Baju-bajunya juga udah pada muat dipakein Halim. Pake celana bayi juga masih muat nih si Aslam mungilku.

Cepet gede dong, Dek!

18 Jun 2007 Master of Ceremony
 |  Category: My Kids  | 3 Comments

Monday, June 18, 2007, 01.34 (revised 11.20)

“Teman-teman dan para hadirin yang saya hormati, setelah kita dengarkan bacaan doa-doa harian yang dibaca oleh adik-adik Play Group, marilah kita saksikan Tari Sarapan Pagi yang dipersembahkan oleh anak-anak Kelompok A, dilanjutkan dengan pidato Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, yang ditampilkan oleh E*** dan A*****. Tepuk tangan para hadirin…”

That’s what I suppose to hear dari mulut anakku kemarin pagi di acara pelepasan siswa PG-TK tempatnya menuntut ilmu.

Semua anak dapat kesempatan tampil setidaknya sekali. Ada yang ikut pembacaan doa, marching band, menari, pidato, fashion show dan MC. Anaku kebagian yang disebut terakhir. Ia sudah giat berlatih menghafal di rumah sejak 2 minggu yang lalu.

Sudah sangat hapal sekali. Tapi anehnya, I have a bad hunch akan ada ‘sesuatu’ terjadi berkenaan penampilannya. Yang mulanya terpikir sih ia akan grogi dan kelupaan teks. 

Sebelum tiba gilirannya, ia berlarian kesana-kemari dan bercanda khas lelaki yang agak kasar. Hingga akhirnya terjatuh, menangis dan mengantuk. Acaranya juga ternyata berlangsung agak lama dan giliran Alfath ada di tengah-tengah.

Ternyata benarlah, mungkin karena agak mengantuk, bercampur juga dengan rasa takut dan grogi, anakku yang memang pada dasarnya gampang bete itu,  menolak tampil dan menangis sekencang-kencangnya ketika dibujuk naik panggung oleh ayah dan guru-gurunya (sementara aku duduk di bangku penonton bersama si baby).

Kecewa? Iya pastinya. Sementara orang tua  lain sibuk merekam atau memfoto anak-anak mereka ketika beraksi di panggung, kami kehilangan kesempatan itu.

Dan ini bukan kekecewaanku yang pertama. Dulu, kira-kira setahun yang lalu, ia pun menolak untuk mengikuti satu pun perlombaan  acara tujuhbelasan. Padahal sebelumnya aku sangat berharap ia bisa memenangkan lomba. Mengingat cerdas dan lincahnya ia di rumah. Tapi ternyata ikut pun tidak.

Sepulangnya kami menasehatinya untuk lebih berani dan bertanggung jawab di  waktu mendatang. Dan aku, rasanya lebih dari sekedar menasehati, setengah mengomel tepatnya. Dan sisa hari itu kujalani masih dengan sebuah ganjalan kekesalan dan kemarahan potensial yang untungnya masih agak bisa kutahan.

Singkat cerita, ayahnya mengajak Alfath sholat Maghrib di mesjid. Sepulang dari mesjid, melihatnya berpakaian koko rapi lengkap dengan pecinya jadi tiba-tiba tercetus ide untuk merekam Alfath beraksi sebagai MC.

Akhirnya jadilah ia 2 kali kurekam. Dia minta direkam lagi, tapi kubilang 2x cukuplah (yee..ni anak  kalo di rumah malah ketagihan!). Hehe…tak ada rotan akar pun jadilah. Tak dipanggung, di rumah pun jadilah. Lumayan, sedikit mengobati kekecewaan tadi siang.

Tengah malam, setelah lebih tenang dan dapat mengambil jarak dari masalah, aku mulai merenung.

Duhai anakku, bacaan Iqro’mu yang lembar demi lembar bertambah tiap hari adalah juga sebuah pencapaian.

Goresan pensil dan sketsamu adalah juga sebuah pencapaian.

Kata demi kata baru yang kau serap tiap hari adalah juga sebuah pencapaian.

Maafkan Bunda anakku, bila menuntut terlalu banyak darimu.