<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>nurulnoer.com &#187; My Marriage</title>
	<atom:link href="http://www.nurulnoer.com/category/my-marriage/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.nurulnoer.com</link>
	<description>It's truth, it's whole truth, and nothing but the truth. Written by me as a woman, a spouse, and a mom.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Jun 2010 15:22:30 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>God Bless You, My Dear &#8230;</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2009/12/god-bless-you-my-dear/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2009/12/god-bless-you-my-dear/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 19:19:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Husband]]></category>
		<category><![CDATA[My Marriage]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nurulnoer.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[Tepat pukul 1 dinihari saat aku menulis catatan ini. Badan lumayan segar, setelah tidur selama beberapa jam tadi. Mumpung ada ide, tak apalah bilasan kutinggal sebentar. Sebelum idenya mabur entah ke mana. 
Sebelum Maghrib tadi aku menelpon Mas. Berharap ia tak berlama-lama di kantor karena badanku tak kuat lagi. Lelah. Akumulasi dari kekurangan tidur sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tepat pukul 1 dinihari saat aku menulis catatan ini. Badan lumayan segar, setelah tidur selama beberapa jam tadi. Mumpung ada ide, tak apalah bilasan kutinggal sebentar. Sebelum idenya mabur entah ke mana. </p>
<p>Sebelum Maghrib tadi aku menelpon Mas. Berharap ia tak berlama-lama di kantor karena badanku tak kuat lagi. Lelah. Akumulasi dari kekurangan tidur sejak kemarin. Nuri bangun tiap ditaro tapi tertidur pulas bila digendong. Barusan menangis kejer saat kutinggal Ashar sebentar saja. Ashar di penghujung waktu. Telfonku tak terjawab. Ternyata semenit kemudian mobilnya tiba di depan pagar. </p>
<p>Aku langsung ‘menyerahterimakan’ Nuri ke gendongannya. Baru teringat bahwa aku belum makan. Padahal tangki perlu diisi karena aku harus memberi ASI.. Sambil memaksa mata terus terbuka, aku menyuapi anak-anak makan malam setelah sebelumnya agak memaksa mereka bangun. Jadwal tidur mereka kacau karena susah menyuruh mereka untuk tidur siang. Akhirnya mereka tidur sore karena kelelahan. </p>
<p>Sekitar setengah tujuh aku pergi ke pulau kasur. Toh, ada bapaknya anak-anak yang bersedia stand-by. Jam sembilan aku baru bangun. Mata masih terbuka setengah. Belum poll rasanya. Tapi aku tahu Mas sudah kelelahan. Nuri ditaro dan langsung beranjak ke atas ke ruang kerjanya. Jam dinasnya usai. Sekarang giliranku. Sudah waktunya aku bangun. Sebenarnya kasihan juga dia. Setelah lelah di kantor seharian, pulang-pulang masih harus menjalankan ‘peran domestik’. Tapi kan memang seharusnya begitu. Saling bahu-membahu satu sama lain. Lantas aku menambah tidur 1 jam lagi sebelum benar-benar merasa segar, sambil mengeloni Nuri yang tertidur di sampingku. </p>
<p>Berputar-putar saja ceritaku. Sebenarnya yang ingin aku tekankan adalah, aku bersyukur punya suami yang begitu baik yang bersedia ringan tangan membantu tugas istrinya. Tak peduli sehebat apapun jabatan seorang lelaki di luar sana, ia haruslah dinilai dari bagaimana cara ia memperlakukan keluarganya. Istri dan anak-anaknya. Banyak lelaki yang kelihatannya hebat, tapi tak tahu bagaimana cara mengenakkan istrinya. Boro-boro membantu, memuji saja irit. Lebih parah lagi yang mentally abusive, menggerogoti mental istri dengan celaan dan cemoohan yang menjatuhkan harga diri. Mungkin suami macam itu lupa betapa beratnya tugas sebagai seorang istri sekaligus ibu. Bukannya membantu, justru membebani pikiran dan perasaannya. Ini bukan soal KDRT. Sudah parah kalau suami memperlakukan istri kasar secara fisik. </p>
<p>Alhamdulillah, beratnya tugasku diperingan oleh kesediaan suamiku untuk membantu.<br />
Kata Nabi SAW: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” </p>
<p>God bless you, Mas… </p>
<p>Saturday, November 21, 2009, 01.00<br />
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/07/my-new-bike/" title="My New Bike">My New Bike</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/04/wed-march-162005-1737/" title="Wed, March 16,2005, 17.37">Wed, March 16,2005, 17.37</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/08/cerita-lama-tentang-aku-dan-dia/" title="Cerita Lama tentang Aku dan Dia">Cerita Lama tentang Aku dan Dia</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/01/tentang-usia-sekolah-part-ii/" title="Tentang Usia Sekolah (Part II)">Tentang Usia Sekolah (Part II)</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2010/01/cita-cita-yang-tak-pernah-padam/" title="Cita-cita yang Tak Pernah Padam">Cita-cita yang Tak Pernah Padam</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2009/12/god-bless-you-my-dear/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Santai Minggu Pagi</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2009/05/jalan-santai-minggu-pagi/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2009/05/jalan-santai-minggu-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 May 2009 20:40:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Family]]></category>
		<category><![CDATA[My Marriage]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nurulnoer.com/?p=433</guid>
		<description><![CDATA[Hari Minggu pagi aku dan Mas jalan santai  berdua saja. Mumpung ada ayah ibuku yang tengah bertandang ke sini yang bisa menjaga anak-anak. Ternyata begitu menyegarkannya aktivitas sederhana itu. Menyegarkan badan, menyegarkan jiwa, menyegarkan pikiran, juga menyegarkan hubungan kami berdua.
Setiap orang yang sudah berumah tangga pasti sesekali merasakan  kejenuhan dalam hubungan mereka, anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Minggu pagi aku dan Mas jalan santai  berdua saja. Mumpung ada ayah ibuku yang tengah bertandang ke sini yang bisa menjaga anak-anak. Ternyata begitu menyegarkannya aktivitas sederhana itu. Menyegarkan badan, menyegarkan jiwa, menyegarkan pikiran, juga menyegarkan hubungan kami berdua.</p>
<p>Setiap orang yang sudah berumah tangga pasti sesekali merasakan  kejenuhan dalam hubungan mereka, anak kadang menyita seluruh fokus dalam kehidupan sehingga kita lalu kehilangan waktu untuk pribadi, kehilangan waktu sebagai pribadi.</p>
<p>Pagi itu, dengan santai kami membicarakan rencana-rencana kami ke depan. Apa yang Mas ingin lakukan, bagaimana kira-kira cara mewujudkan rencana itu. Apa yang ingin kulakukan dan suamiku lantas memberi masukan bagaimana melakukannya. Yang mengejutkan adalah, di luar kebiasaan, kami sama sekali tidak memperbincangkan soal anak. Hanya tentang diri kami sendiri. And we not feel sorry about that. Bahkan merasa harus melakukannya secara berkala, artinya melepaskan topik tentang anak dari hidup kami sesekali. Dan kurasa itu bukanlah sifat egois. Bagaimanapun orang tua adalah pribadi yang harus bertumbuh secara utuh, terlepas dari peran mereka sebagai ‘ayah’ dan ‘ibu’. </p>
<p>Salah satu cara orang tua mengayomi dan membuat anak merasa aman adalah dengan menunjukkan hubungan kasih sayang yang kuat di antara mereka. Tapi kadang kesibukan menggerus sedikit demi sedikit hubungan itu. Seolah ‘aku’ dan ‘kamu’ tiada dan harus selalu melebur menjadi ‘kita’.</p>
<p>Sungguh menyegarkan bicara hati ke hati seperti ini. Menukik ke dalam jiwa. Karena seringkali yang kami perbincangkan hanya soal keseharian yang bersifat permukaan saja. Seperti, “Apa kegiatan di kantor hari ini?” atau “Bagaimana anak-anak hari ini?”, “Mau jalan-jalan kemana kita weekend besok?” Dan banyak lagi soal keseharian lainnya. Itu masih bagus karena berarti masih terbangun komunikasi dalam rumah tangga dan tidak saling cuek satu sama lain, tapi kurasa sesekali, kita harus menukik lebih dalam dari itu.</p>
<p><em>Written: Monday, May 24, 2009, 02.46</em> </p>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/09/7-september-8-tahun-lalu/" title="7 September, 8 Tahun Lalu">7 September, 8 Tahun Lalu</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/07/mantan-sufi/" title="Mantan Sufi">Mantan Sufi</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/06/ah-masku-tersayang/" title="&#8220;Ah, Masku Tersayang&#8230;&#8221;">&#8220;Ah, Masku Tersayang&#8230;&#8221;</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/04/aslams-birth-2/" title="Aslam&#8217;s Birth">Aslam&#8217;s Birth</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/05/pembantu-juga-manusia/" title="Pembantu Juga Manusia">Pembantu Juga Manusia</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2009/05/jalan-santai-minggu-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta dan Pernikahan</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2009/04/cinta-dan-pernikahan/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2009/04/cinta-dan-pernikahan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 04:33:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Marriage]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nurulnoer.com/?p=418</guid>
		<description><![CDATA[Kiranya, cinta seperti apa yang dapat meyakinkan kita untuk melangkah hidup bersama? Sepanjang hidup, mungkin tak hanya sekali kita jatuh cinta. Kita bisa jatuh cinta berkali-kali, pada orang yang berbeda-beda. Namun akhirnya, pada siapakah kita akan menambatkan hati? Mengikat janji setia sehidup semati?
Amat jarang rasanya orang yang bisa menikah dengan cinta pertamanya. Kebanyakan cinta pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kiranya, cinta seperti apa yang dapat meyakinkan kita untuk melangkah hidup bersama? Sepanjang hidup, mungkin tak hanya sekali kita jatuh cinta. Kita bisa jatuh cinta berkali-kali, pada orang yang berbeda-beda. Namun akhirnya, pada siapakah kita akan menambatkan hati? Mengikat janji setia sehidup semati?</p>
<p>Amat jarang rasanya orang yang bisa menikah dengan cinta pertamanya. Kebanyakan cinta pertama adalah cinta monyet. Cinta dari luapan hormon remaja yang tengah meledak-ledak. Banyak yang hanya sekedar coba-coba. Meski ada juga yang benar-benar serius dan membawa kesan mendalam dalam hidup. </p>
<p>Cetusan ide tulisan ini adalah ketika berulang kali melihat tayangan rekaman prosesi pernikahan Dewi Sandra dan Glenn Fredly di Pulau Dewata yang belakangan sering diputar di infotainment.</p>
<p>Keduanya tampak jelas tengah mabuk kepayang dilanda cinta. Ada senyum merekah, wajah berseri dan mata berbinar kala berjanji setia mengucap ikrar pernikahan. Siapa nyana kalau akhirnya pernikahan itu akan berakhir dalam waktu yang terbilang singkat. Hanya 3 tahun saja.</p>
<p>Entah mengapa, tiba-tiba mendadak timbul suatu kekhawatiran di hati ini. Bukan, sama sekali bukan berkaitan dengan pernikahanku. Hanya sekelebatan menangkap ide bahwa, betapa pernikahan ibarat <strong>gambling </strong>terbesar dalam hidup. <em>You can get a good result sometimes, but there’s a possibility to loose either</em>. You can trapped with the wrong person. Or even the very wrong person. Seseorang yang akhirnya kita putuskan untuk tidak dapat meneruskan hidup bersama lagi. Berpisah untuk kemudian masih dapat berteman baik mungkin masih wajar, tapi tak jarang ia kemudian berbalik menjadi seseorang yang sangat kita benci. Seolah terlupa kenangan bahwa kita pernah berbagi ranjang bersama dengannya. Berbagi mimpi dan harapan hidup bersama.</p>
<p>Kadang cinta yang begitu besar dan membara di awal pernikahan, tidak dapat menjadi pengikat lagi manakala madu pernikahan telah habis di reguk. Apakah cinta bisa sedemikian mudahnya luntur?</p>
<p>Jadi berpikir, Duh Allah, andaikata aku belum bersuami, akankah aku gentar memasuki gerbang pernikahan manakala melihat banyaknya fenomena perceraian terpampang di depan mata. Seolah yang terlihat hanya pahit getirnya pernikahan saja. Seolah mempertahankan pernikahan adalah sesuatu yang sangat sulit dan berat.</p>
<p>Lantas jadi merasa sangat beruntung sekali dengan rejeki jodoh yang Allah turunkan kepadaku. Dalam usia yang relatif muda. Dengan pemikiran yang belum begitu rumit dan ruwet. Dengan jodoh yang begitu baik, melebihi bayanganku sebelumnya. Rasanya pernikahanku ringan saja kujalani. Jauh lebih banyak suka ketimbang duka.</p>
<p>Soal perjalanan cinta, pengalamanku memang teramat pendek. Jadi sebenarnya kurang bisa menceritakan <em>based on experi</em>ence tentang kebimbangan yang dihadapi seseorang ketika akan menikah. Belum banyak makan asam garam sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Bukankah banyak yang mempertanyakan tentang: <em>“Bagaimana kita bisa yakin bahwa si dia adalah orang yang tepat untuk kita nikahi?”<br />
“Bagaimana untuk bisa yakin bahwa mahligai pernikahan yang kita jalani ini nantinya akan berjalan langgeng dan bahagia?”<br />
“Akankah cinta bisa mengatasi semua masalah dalam pernikahan?”</em>Bukankah itu semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang kerap muncul sebelum memutuskan untuk menikah.</p>
<p>Aku memang <em>cinta</em> padamu. Tapi tidak <em>sebegitunya cinta </em>untuk rela menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Karena cinta dan pernikahan sungguh suatu hal yang sangat berbeda. Cinta menuntut kesempurnaan. Sementara dalam pernikahan, akan sangat banyak kita jumpai ketidaksempurnaan. Cinta hanya berhenti sebatas perasaan hati berbunga-bunga ketika mendengarkan kekasih mengucap selamat tidur dan mimpi indah lewat telefon. Tapi menikah berarti bersedia untuk mendengarkan dengkurannya sepanjang malam. </p>
<p>Cinta mungkin berarti berjalan berdua berbagi tawa sambil makan es krim bersama. Dunia serasa milik berdua. Sementara pernikahan berarti bagaimana kekompakan berdua diuji menghadapi kerewelan anak yang tiba-tiba meledak di pusat perbelanjaan.</p>
<p>Rasanya sampai di sini tulisan ini sama sekali belum menjawab pertanyaan awal:<br />
Kiranya, cinta seperti apa yang dapat meyakinkan kita untuk melangkah hidup bersama? <em>God, honestly, I don’t know the exact answer too…</em></p>
<p>Set a criteria first? Tapi kadang hati tidak bisa memilih pada siapa ia jatuh cinta&#8230;<br />
Tapi tak apalah selama pilihan itu masih tolerable dan bukan menyangkut hal yang  prinsipil. Meski idealnya, rasionalitas tetap harus dipertahankan kala mencintai.<br />
Percaya dan ikhlas saja, serahkan semua pada Allah, soal cinta urusan belakangan, toh ia akan tumbuh dengan sendirinya? Ini yang ideal, tapi tak semua bisa dengan mudah menerima pendekatan ini.</p>
<p>Jadi bagaimana? Menurutku pribadi, tanyakan saja pada hatimu, bermohon yang terbaik pada Allah Ta’ala. Ambil keputusan yang terbaik per saat itu. Jangan karena keterpaksaan, misalnya karena desakan umur atau malu dengan karib kerabat. Tak usah terlalu risau dan khawatir tentang bagaimana masa depan, karena itu dapat menyurutkan langkah. Membawa pada penantian yang tak berujung. <em>(Dalam sebuah scene di film The Lakehouse, ada percakapan Sandra Bullock yang berperan sebagai seorang dokter dengan seorang gadis kecil pasien di rumah sakitnya.<br />
Gadis itu bercerita bahwa ibunya tidak jadi menikahi pacarnya yang berkepala botak. Alasannya: “Because there’s always something better comes around….”<br />
And Sandra replied: “Be careful. She could spend her whole life waiting…”).</em></p>
<p>Sangat mungkin bila karena satu dan lain hal, kita akhirnya tak berjodoh panjang dengan pasangan kita. Tapi toh, itu sudah takdir dan nasib yang digariskan oleh-Nya. Dan dalam batas tertentu, manusia memang tidak bisa memilih nasib.</p>
<p>Friday, April 03, 2009, 18.00<br />
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/04/friday-march-42005-0315/" title="Friday, March 4,2005, 03.15">Friday, March 4,2005, 03.15</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/05/misteri-jodoh/" title="Misteri Jodoh">Misteri Jodoh</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/12/in-what-should-we-compete-in/" title="In What Should We Compete In?">In What Should We Compete In?</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/07/happiness/" title="Happiness">Happiness</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2010/03/plin-plan/" title="Plin Plan">Plin Plan</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2009/04/cinta-dan-pernikahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Pertama setelah Pernikahan</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2009/03/catatan-pertama-setelah-pernikahan/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2009/03/catatan-pertama-setelah-pernikahan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 05:32:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Husband]]></category>
		<category><![CDATA[My Marriage]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nurulnoer.com/?p=410</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini genap 8 tahun kebersamaan kami. Sebagai sebuah perayaan kecil, kuposting catatan harian yang kubuat tak lama setelah pernikahan kami. Semoga dapat menjadi pengingat yang manis dalam kehidupan pernikahan kami.
03 Mei 2001
Ini tulisan pertama sejak pernikahan kami.
Duhai Robbi, rupanya beginilah akhir lika-liku itu.
Nasibku bertaut dengan nasibnya. Sedihku kini jadi sedihnya juga. Sedihnya kini, harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini genap 8 tahun kebersamaan kami. Sebagai sebuah perayaan kecil, kuposting catatan harian yang kubuat tak lama setelah pernikahan kami. Semoga dapat menjadi pengingat yang manis dalam kehidupan pernikahan kami.</p>
<p>03 Mei 2001</p>
<p>Ini tulisan pertama sejak pernikahan kami.<br />
Duhai Robbi, rupanya beginilah akhir lika-liku itu.<br />
Nasibku bertaut dengan nasibnya. Sedihku kini jadi sedihnya juga. Sedihnya kini, harus kutanggung juga. Gembiraku, gembiranya. Dan gembiranya pasti jadi gembiraku juga.</p>
<p>Hari-hariku kini penuh aktivitas baru. Capek iya, tapi senang juga iya. Kucoba mencari keikhlasan di sana. Tapi susah sekali, ya Allah. Karena bukan perkara kecil untuk terus-menerus berada pada kesadaran. Kesadaran tentang-Mu semata.</p>
<p>Berat ya Allah, untuk senantiasa bisa berlapang dada di keseharian, untuk bisa menerima dengan ridho segala sesuatu yang tak sesuai dengan harapan, untuk senantiasa punya kata maaf sebesar apapun kesalahannya…</p>
<p>Aku menyayanginya ya Allah. Aku mencintainya. Dan kata orang cinta adalah modal besar untuk berjalan bersama.</p>
<p>Pertautan nasib kami adalah karena kehendak-Mu semata ya Allah. Terimalah apa yang baik dari kami dan ampunilah segala yang salah dan lalai dari kami. Hisablah kami dengan Kemurahan-Mu, jangan Kau hisab kami dengan Keadilan-Mu. Izinkan kami berjalan di atas jalan-Mu yang lurus.</p>
<p>Wednesday, March 11, 2009 at 12:23pm<br />
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/08/aku-tak-mengapa-tuhanku/" title="Aku Tak Mengapa Tuhanku">Aku Tak Mengapa Tuhanku</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/06/tragedi-kunci-antara-cikarang-dan-srengseng/" title="Tragedi Kunci (Antara Cikarang dan Srengseng)">Tragedi Kunci (Antara Cikarang dan Srengseng)</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/05/bosan/" title="Bosan">Bosan</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/02/mencari-indah-dalam-hidup/" title="Mencari Indah dalam Hidup">Mencari Indah dalam Hidup</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/06/miris/" title="Miris">Miris</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2009/03/catatan-pertama-setelah-pernikahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Tiny Little Thing About Us</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2009/03/a-tiny-little-thing-about-us/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2009/03/a-tiny-little-thing-about-us/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 05:17:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Husband]]></category>
		<category><![CDATA[My Marriage]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nurulnoer.com/?p=407</guid>
		<description><![CDATA[It&#8217;s two o&#8217;clock in the morning when we begin this conversation.
&#8221; Besok Mas ada presentasi.&#8221;
&#8221; Udah siap bahannya belum&#8221;? Tanyaku.
&#8221; Belum. Tapi outline yang mau Mas omongin udah ada di kepala.&#8221;
&#8221; Mas bisa tenang ya kalo soal yang beginian&#8230;?&#8221;
&#8221; Iya, ketenangan itu penting loh Bunda biar ga ngalamin yang namanya pembajakan emosi.&#8221;
And so on, lantas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>It&#8217;s two o&#8217;clock in the morning when we begin this conversation.</p>
<p>&#8221; Besok Mas ada presentasi.&#8221;</p>
<p>&#8221; Udah siap bahannya belum&#8221;? Tanyaku.</p>
<p>&#8221; Belum. Tapi outline yang mau Mas omongin udah ada di kepala.&#8221;</p>
<p>&#8221; Mas bisa tenang ya kalo soal yang beginian&#8230;?&#8221;</p>
<p>&#8221; Iya, ketenangan itu penting loh Bunda biar ga ngalamin yang namanya pembajakan emosi.&#8221;</p>
<p>And so on, lantas dia bercerita tentang sedikit masalah psikologi, memberi tips bagaimana memaknai proses belajar agar selalu teringat, diselingi becanda ringan menertawakan kebodohanku masa silam. Saat dia mereview aku segera setelah belajar PSAK. &#8221; Jadi judulnya apa yang tadi dipelajari? &#8221; Dan aku hanya melongo tak dapat mengingat judul bab yang tiga baris panjangnya itu. &#8220;Judulnya aja lupa apalagi isinya ya?&#8221; Hahaha, sindiran yang dalam, tapi toh aku tak tersinggung. Malah menertawakan cerita masa lalu itu bersama-sama. Ditambah sweet little gestures aku menendang kakinya mesra.</p>
<p>Obrolan berlanjut diselingi nasehatnya tentang bagaimana cara dan waktu yang tepat memarahi anak. Menyinggung soal kejadian yang beberapa jam sebelumnya terjadi saat aku &#8216;memarahi&#8217; Halim yang memainkan kunci rumah hingga terselip entah di mana. Mengajariku untuk memisahkan kemarahan sesuai dengan kadar kesalahannya. Sesuatu yang bila ia lakukan saat kejadian itu baru berlangsung pasti akan kutolak karena hati masih panas. Dia mengajariku dengan cara dan timing yang pas sesuai pembawaanku.</p>
<p>Dia menasehati, tapi aku tak merasa dinasehati.</p>
<p>Dia mengajari, tapi aku tak merasa digurui.</p>
<p>I love the tiny little thing that happen between us&#8230;</p>
<p>Wednesday, February 25, 2009 at 4:45pm<br />
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/03/25-random-things-about-me/" title="25 Random Things About Me">25 Random Things About Me</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2010/03/own-the-now/" title="OWN The NOW">OWN The NOW</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/06/syalom-in-the-home/" title="Syalom in The Home">Syalom in The Home</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/02/mencari-indah-dalam-hidup/" title="Mencari Indah dalam Hidup">Mencari Indah dalam Hidup</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/05/penurunan-iq-ibu-benarkah/" title="Penurunan IQ Ibu, Benarkah?">Penurunan IQ Ibu, Benarkah?</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2009/03/a-tiny-little-thing-about-us/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat-Surat Itu… (3)</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2009/03/surat-surat-itu%e2%80%a6-3/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2009/03/surat-surat-itu%e2%80%a6-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 13:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Husband]]></category>
		<category><![CDATA[My Marriage]]></category>
		<category><![CDATA[My Self]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nurulnoer.com/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
Dan teman tadi pun mengirimkan balasannya kembali. Intinya menyerahkan kembali segala putusan akhir ke tanganku.
&#160;
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaikum wr wb
Alhamdulillah, puji syukur pada Allah, Rabb semesta alam yang telah melimpahkan ni’mat berupa iman dan Islam yang tiada taranya ini. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Ukhti fillah, 
Waktu terus berjalan, tak terasa hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#160;</p>
<p>Dan teman tadi pun mengirimkan balasannya kembali. Intinya menyerahkan kembali segala putusan akhir ke tanganku.</p>
<p>&#160;</p>
<blockquote><p>Bismillahirrohmanirrohim</p>
<p>Assalamu’alaikum wr wb</p>
<p>Alhamdulillah, puji syukur pada Allah, Rabb semesta alam yang telah melimpahkan ni’mat berupa iman dan Islam yang tiada taranya ini. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Ukhti fillah, </p>
<p>Waktu terus berjalan, tak terasa hari berlalu begitu cepat. Waktu untuk berpikir, merenung atau menentukan pilihan tentang masa depan anti tinggal beberapa hari lagi. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk-Nya ketika anti menentukan keputusan nanti.</p>
<p>Ukhti fillah,</p>
<p>Sebelumnya afwan, mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam surat saya kemarin terkesan menggurui. Saya percaya bahwa anti sudah paham/ tahu semua yang saya saya sampaikan pada kesempatan kemarin. Melihat, membaca surat yang anti tulis, saya tahu anti seorang yang sangat cerdas dan berpengetahuan luas, lebih pantas kalau anti menjadi ‘mentor’/ ‘murobbi’ saya.</p>
<p>Ukhti fillah,</p>
<p>Afwan kalau selama ini saya dan teman-teman (yang memberikan informasi) telah berlaku yang tidak berkenan di hati anti. Saya dan teman-teman hanya bisa berdoa semoga Allah selalu memberikan petunjuk-Nya kepada anti. Sekali lagi afwan, saya tidak bermaksud menggurui, Cuma mau menegaskan bahwa fikroh yang kita pegang saat ini adalah fikroh yang lurus. Percayalah akan hal itu, Ukhti!</p>
<p>Mungkin semua ini adalah cobaan dari Allah SWT, dan Allah tidak akan memberikan cobaan yang kita tidak mampu mengatasinya. Jagalah diri anti baik-baik, seringlah bertaqarrub kepada Allah. Jika anti membutuhkan bantuan, insya Allah, kami (saya dan teman-teman) akan membantu dengan segenap kemampuan yang kami miliki.</p>
<p>Semoga Allah selalu membimbing anti…</p>
<p>Wallahu a’lam bishshowwab, kebenaran hanya milik Allah, dan kesalahan dari saya sendiri.</p>
<p>Wassalamu’alaikum wr wb</p>
<p>Saudaramu,</p>
<p>Fulan</p>
<p><i>*I received this on 17<sup>th</sup> May, 2000.</i></p>
</blockquote>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/05/dosa-ga-benjol/" title="Dosa Ga Benjol">Dosa Ga Benjol</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/08/triple-the-happiness/" title="Triple The Happiness">Triple The Happiness</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/05/seprai/" title="Seprai">Seprai</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/04/wednesday-june-29-2005-0148/" title="Wednesday, June 29, 2005. 01.48">Wednesday, June 29, 2005. 01.48</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/03/how-happy-are-you/" title="How Happy Are You?">How Happy Are You?</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2009/03/surat-surat-itu%e2%80%a6-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat-Surat Itu&#8230; (2)</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2009/03/surat-surat-itu-2/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2009/03/surat-surat-itu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 01:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Husband]]></category>
		<category><![CDATA[My Marriage]]></category>
		<category><![CDATA[My Self]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nurulnoer.com/?p=394</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
Tiga hari kemudian, aku mengirimkan balasannya…
&#160;
Bismillahirrahmanirrahim
Depok, 10 Mei 2000
Untuk akhi fillah
Assalamualaikum wr wb
Segala puji hanya bagi Allah, Rabb Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Rabb Yang Mengetahui segala isi hati, dan membuat sebenar-benar perhitungan atas itu semua.
Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada qudwah hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#160;</p>
<p>Tiga hari kemudian, aku mengirimkan balasannya…</p>
<p>&#160;</p>
<blockquote><p>Bismillahirrahmanirrahim</p>
<p>Depok, 10 Mei 2000</p>
<p>Untuk akhi fillah</p>
<p>Assalamualaikum wr wb</p>
<p>Segala puji hanya bagi Allah, Rabb Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Rabb Yang Mengetahui segala isi hati, dan membuat sebenar-benar perhitungan atas itu semua.</p>
<p>Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada qudwah hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan umatnya yang tetap setia hingga akhir zaman.</p>
<p>Sebelumnya saya ucapkan jazakallah khoiron katsiron kepada akhi yang bersedia mencurahkan sedikit perhatian dan waktu untuk ikut memikirkan masalah saya. Semoga segala upaya antum dibalasi oleh Allah dengan ganjaran yang berlipat ganda. Masukan dari antum, sungguh merupakan bahan pertimbangan yang berharga dalam pengambilan keputusan saya.</p>
<p>Saya saat ini sungguh berada dalam keadaan yang sangat berat. Saya harus mengambil keputusan yang konsekuensinya harus saya tanggung seumur hidup -bahkan di yaumil akhir nanti- dalam 2 minggu ini. Noer memberi saya batas waktu sampai 19 Mei ini untuk memberi jawaban yang pasti, yang tidak akan berubah-ubah lagi. Ini entah untuk keberapa kalinya dia memberi saya kesempatan, dan ini adalah kesempatan terakhir. Bila setelah ini saya masih menunjukkan ketidakpercayaan padanya, maka itu suatu pertanda bahwa memang ada ketidakcocokan antara kami.</p>
<p>Seorang akhwat sahabat saya berkata, ”Nggak ada gunanya kamu menanyakan tentang Noer pada orang lain. Nggak ada yang mengenal dia lebih daripada kamu mengenalnya.” Ternyata akhwat itu benar sekali. Setelah saya menanyakan pada beberapa orang, saya baru yakin akan hal itu. Praktis tidak ada hal baru yang saya dapati dari perbincangan-perbincangan itu. Noer telah menceritakan semua tentang dirinya secara gamblang dan jujur. Saya tahu semua tokoh tanpa nama yang antum ceritakan di MUI dulu (teman debatnya masalah filsafat, akhwat yang suka ngobrol dengannya). Dia tidak pernah menyembunyikan apapun pikiran atau pendapatnya yang bertentangan dengan saya. Saya tahu pendapat-pendapatnya yang kontroversial, misalnya tentang nikah mut’ah yang dia tidak menolaknya asal dengan persyaratan-persyaratan khusus (dalam keadaan perang dan tidak semata-mata hawa nafsu tanpa tanggung jawab. Dia sendiri meyakinkan saya tidak akan melakukan itu). Saya yakin dia tidak akan bertaqiyah. Suatu ajaran Syi’ah yang membolehkan bohong demi menyelamatkan diri.</p>
<p>Ada suatu kasus yang memberi pelajaran pada saya. Saya bertemu kebetulan dengan seorang ikhwan FE yang memang pembawaannya bersemangat/ berapi-api. Dengan gaya provokatifnya dia bilang bahwa ada makar, rekayasa, dan skenario besar dari pihak Syi’ah yang berkenaan dengan Noer. Karena kami waktu itu berada di tempat dan waktu yang tidak tepat (di halte FE ketika ramai), maka pembicaraan itu terputus begitu saja dengan sebuah janji bahwa ia akan menceritakan bukti dari asumsinya itu kepada kami (saya dan seorang akhwat lain). Saya menyimpan pertanyaan dan kekhawatiran yang begitu besar ketika itu. Saya membayangkan Noer memang menyembunyikan sesuatu dari saya. Hilang semua kepercayaan saya pada Noer. Keesokan harinya saya mencecarnya dengan semua tuduhan itu dalam surat tanpa memperoleh kejelasan terlebih dahulu dari akh tadi.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, alhamdulillah kami bertiga berhasil bicara meskipun akh tadi adalah orang yang supersibuk. Dia bilang buku-buku Noer kebanyakan adalah buku-buku Syi’ah, sholatnya lurus, berdoanya dengan doa Kumail, dia suka ikut acara pengajian-pengajian Syi’ah, dia berusaha untuk menjadi tokoh di FE dengan aktif berbicara di acara pelatihan FSI &amp; ISTI ’99 dengan tujuan menyebarkan Syi’ah.</p>
<p>Ketika saya tanya apakah dia pernah membaca / tahu isi doa Kumail (doa yang diajarkan Imam Ali ra. kepada Kumail bin Ziyad), dia bilang belum. Padahal doa itu sangat bagus dan tidak ada satu hal pun yang salah padanya.</p>
<p>Mengenai keaktifan Noer bertanya dalam forum-forum itu, saya rasa sangat berlebihan bila di-<i>judge</i> sebagai usaha untuk meng-<i>establish</i>kan dirinya supaya bisa menjadi tokoh. Padahal sebelumnya Noer pernah bilang bahwa keaktifannya itu adalah untuk mendorong peserta lain agar ikut aktif juga dan untuk menghidupkan suasana. Saya khawatir tuduhan yang jauh itu akan tergolong dalam perbuatan fitnah.</p>
<p>Mengenai fakta-fakta lainnya, ternyata itu sudah saya ketahui semua sebelumnya. Kasus itu suatu pelajaran berharga bagi saya untuk tidak langsung mempercayai perkataan apapun tentang Noer sebelum saya bertabayyun langsung padanya.</p>
<p>Pandangan orang tentang Noer begitu beragam. Ada yang mempermasalahkan posisi tangannya ketika sholat. Ada yang tidak mempermasalahkan itu, tapi menunjuk keikutsertaan Noer dalam peringatan ‘Asy-Syuro sebagai indikator kesyiahannya. Ada ikhwah lain yang jelas-jelas Sunni tidak mempermasalahkan, bahkan ikut serta juga dalam acara ‘Asy-Syuro itu. Tapi beliau lebih melihat kecenderungan Noer dari cara sholatnya. Bahkan ada anggota Majelis Syuro yang secara pribadi tidak keberatan sama sekali dengan Noer dan fikrohnya, tapi bermasalah dengan itu dalam konteks dia sebagai anggota MS.</p>
<p>Mengenai Syi’ah sendiri, insya Allah saya sudah membaca beberapa buku tentang ajaran itu. Memang banyak sekali bid’ah dalam Syi’ah. Tapi, seperti yang rasanya pernah saya bilang pada antum, saya perlu membedakan antara ajaran Syi’ah sesungguhnya, dengan ajaran Syi’ah yang memang dipegang oleh Noer. Sebagian orang Syi’ah mungkin mengkafirkan Abu Bakar ra. dan Umar ra., tapi Noer tidak. Sebagian orang Syi’ah mungkin punya pandangan aneh seperti antum bilang (bahwa Jibril as. telah salah alamat), tapi saya yakin Noer tidak memegang ajaran itu. Sebagian orang Syi’ah mungkin tidak sholat Jum’at, tapi Noer sholat Jum’at. Saya pikir pembedaan ini penting sekali karena yang akan menikahi saya adalah Noer, bukan orang-orang Syi’ah itu. Yang ingin Noer ambil dari Syi’ah adalah kecintaan mereka kepada keluarga Nabi, keunggulan mereka dalam filsafat, logika dan argumentasi. Yang kerapkali saya khawatirkan adalah sifat inklusivitasnya yang tidak bisa menolak ajaran Syi’ah di FE. Baginya itu adalah hak mereka juga. Sunni dan Syiah sama-sama berusaha menyebarkan fikroh mereka. Dalam hal ini saya punya pendapat lain. Ajaran Syi’ah yang tersebar pastinya adalah ajaran yang dipegang para aktivis Syi’ah. Kalau seseorang sudah tershibghoh ajaran itu maka hampir dapat dipastikan dia akan menjalankan praktek keagamaan sebagaimana yang diajarkan para da’i itu. Seperti meninggalkan Sholat Jum’at, mengejarkan sholat wajib dengan menjamak tanpa alasan, mengkafirkan shohabat, dll. Saya bilang pada Noer bahwa mereka –para objek dakwah itu- tidak cukup punya pengetahuan tentang Syi’ah seperti halnya dia, jadi saya sangat mendukung FSI yang mengambil langkah-langkah kebijakan untuk membatasi penyebaran Syi’ah. Di sinilah sikap Noer yang tidak saya setujui. Saya lalu merasa, secara politis kami berada di kubu yang berbeda. Saya juga khawatir dengan konsep kebenaran relatifnya. Baginya, suatu golongan sama sekali tidak berhak memonopoli kebenaran. Menurutnya, kita seharusnya tidak menutup diri dan berusaha mencari kebaikan dari golongan manapun, termasuk Syi’ah. Dia selalu memegang ucapan Imam Ali ra.: <i>“Hikmah itu adalah kepunyaan mukmin yang tercecer maka ambillah ia walaupun dari orang-orang munafik.” </i>Inilah sikap Noer yang cenderung tidak bisa menyalahkan siapapun dengan tindakan apapun asal punya dalil yang, menurut dia, jelas.</p>
<p>Membaca pertanyaan antum, saya jadi bertanya pada diri sendiri. Kalau saya akhirnya menerimanya, apakah itu suatu tanda ketidakikhlasan? Pun sebaliknya, bila saya menolaknya, apakah itu suatu tanda keikhlasan? Itulah yang jadi kebimbangan saya akhir-akhir ini. Saya khawatir keputusan saya untuk menerimanya sudah terkotori oleh hawa nafsu.</p>
<p>Saya telah memikirkan ini berulang-ulang. Saya tidak bisa menafikan ‘kekurangan-kekurangan’ Noer di atas. Tapi saya juga tidak bisa menafikan kebaikan-kebaikannya yang menurut saya jauh lebih banyak. Saya sering bertanya dalam hati, kalau saya menolaknya, apakah tidak akan berbuntut penyesalan di kemudian hari untuk menolak seorang yang akhlaknya begitu baik? Apakah keputusan yang tepat untuk menolak seorang yang berusaha menjaga kesucian dirinya dengan menyegerakan pernikahan, yang berusaha keras untuk mewujudkan itu, dan tidak sekadar berangan-angan kosong belaka? Idealisme pemuda seperti itulah yang kemudian membuat saya simpati padanya. Belum lagi kebaikan-kebaikannya yang lain. Dia adalah seorang yang punya semangat belajar yang tinggi, punya kepedulian pada orang lain, punya kecerdsan emosional dan konsep diri yang terinternalisasi dengan baik, punya kemampuan sosialisasi dan komunikasi yang baik, punya kepedulian pada dakwah ini juga meski mungkin dengan cara yang berbeda dengan kita. Dia ingin memberi sebesar-besar kemanfaatan dirinya bagi orang lain.</p>
<p>Saya kemudian bertanya lagi pada diri sendiri. Ya Allah, apakah cinta buta yang membuat saya bisa melihat kebaikan-kebaikannya dan menutup mata dari keburukan-keburukannya? Saya khawatir penilaian itu datang dari hawa nafsu saya. Maka datang lagi kebimbangan itu. Saya lalu berpikir untuk menolaknya. Lalu terlontar pertanyaan yang tadi kembali. Apakah tepat untuk menolak seorang yang berakhlak baik? Terus begitu lintasan pemikiran yang berkelebat dalam benak saya secara bergantian. </p>
<p>Saya sadar sekali, pada akhirnya memang keputusan ada di tangan saya karena saya sendirilah yang akan menjalaninya. Dan hakim yang paling adil adalah Allah. Saya berlindung pada-Nya dari kezaliman diri sendiri. Sesungguhnya saya tidak menginginkan kecuali seorang pendamping hidup yang dapat meluruskan dan meneguhkan saya di jalan Allah.</p>
<p>Saya akan menggunakan sisa-sisa hari ini untuk memikirkan dengan sungguh-sungguh jawaban yang akan saya berikan pada Noer nanti. Bila saya menjawab ‘ya’, maka proses selanjutnya akan segera kami lakukan. Bila ada hambatan dari orang tua, insya Allah saya akan menyikapinya sebagai ketentuan dari Allah yang banyak kebaikan di dalamnya. Mungkin itulah cara Allah memperingatkan saya. Bila Allah memberi kemudahan, maka saya mohon kebaikan pula dalam perkara itu dan mohon perlindungan dari segala kejelekannya. Bila saya akhirnya berkecenderungan untuk menolak Noer, maka semoga itulah ilham yang dimasukkan Allah dalam hati saya dan semoga Allah menggantinya dengan seorang yang jauh lebih baik. Bila tidak di dunia, semoga kelak di akhirat.</p>
<p>Informasi tentang Noer rasanya sudah cukup. Kini tinggal saya memutuskan apakah bisa menerima dia apa adanya ataukah memilih untuk meninggalkannya karena tidak bisa menerima perbedaan-perbedaan itu.</p>
<p>Surat ini boleh akhi balas atau tidak. Sekali lagi syukron jazakallah khoiron katsiron atas tausyiah yang akhi berikan. Semoga Allah mencatatnya sebagai pahala yang memberatkan timbangan kebaikan antum di hari kiamat nanti. Mohon maaf atas segala kesalahan yang tidak berkenan di hati. Wallahu a’lam bishshowab.</p>
<p>Wassalamu’alaikum wr wb</p>
<p>Ukhtuka fillah,</p>
<p>Nurul Halida</p>
</blockquote>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2010/03/siklus/" title="Siklus">Siklus</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/09/working-mom-vs-stay-at-home-mom/" title="Working Mom vs Stay-at-Home Mom">Working Mom vs Stay-at-Home Mom</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/04/friday-june-24-2005-2005/" title="Friday, June 24, 2005, 20.05">Friday, June 24, 2005, 20.05</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/04/cinta-dan-pernikahan/" title="Cinta dan Pernikahan">Cinta dan Pernikahan</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/06/syalom-in-the-home/" title="Syalom in The Home">Syalom in The Home</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2009/03/surat-surat-itu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat-Surat Itu&#8230; (1)</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2009/02/surat-surat-itu-1/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2009/02/surat-surat-itu-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 08:30:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Husband]]></category>
		<category><![CDATA[My Marriage]]></category>
		<category><![CDATA[My Self]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nurulnoer.com/?p=393</guid>
		<description><![CDATA[Tak banyak orang tahu, betapapun mulus tampaknya proses pernikahanku, pergolakan batin di balik itu sungguh menguras emosi dan pikiranku. Keputusanku untuk memilih Mas sebagai pendamping hidup, bukanlah keputusan ringan yang bisa kuambil dalam tempo semalam. Beberapa orang yang kunilai cukup dekat dengannya dan bisa memberi pertimbangan secara fair dan jujur mulai kumintai informasi dan pendapat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak banyak orang tahu, betapapun mulus tampaknya proses pernikahanku, pergolakan batin di balik itu sungguh menguras emosi dan pikiranku. Keputusanku untuk memilih Mas sebagai pendamping hidup, bukanlah keputusan ringan yang bisa kuambil dalam tempo semalam. Beberapa orang yang kunilai cukup dekat dengannya dan bisa memberi pertimbangan secara fair dan jujur mulai kumintai informasi dan pendapat. Tentu saja, dalam perkara yang maha penting seperti ini, aku tak mau salah langkah dalam memilih.</p>
<p>Setelah <a href="http://www.nurulnoer.com/2007/09/7-september-8-tahun-lalu/" target="_blank">surat lamaran</a> yang Mas ajukan, aku mulai ‘mendekati’ beberapa orang yang kurasa layak menjadi nara sumberku. Aku sampai mengesampingkan rasa maluku sebagai gadis yang dikenal sangat pendiam, untuk mencari tahu secara pribadi baik secara lisan ataupun tulisan, mengenai pribadi calon suamiku secara lebih mendalam.</p>
<p>Kalau dihitung-hitung, kira-kira 8 bulan waktu yang kubutuhkan sejak ia mem-<em>propose </em>ku, hingga aku akhirnya memberi kata putusan untuk dengan rela dan ikhlas menerimanya sebagai suamiku. Mungkin terlalu lama bagi sebagian orang yang berpendapat bahwa proses pernikahan haruslah berjalan cepat untuk menghindari fitnah. Tapi apa mau dikata, memang begitulah jalan hidupku berlaku, aku tidak pernah merancangnya agar menjadi demikian, tapi tidak pernah sekali-kali juga aku menyesalinya. Aku menerimanya sepenuh hatiku. Semuanya itu dihadirkan dalam hidupku pasti atas izin Allah Ta’ala.</p>
<p>Figur Mas yang menurut sebagian orang cukup kontroversial memang memusingkanku sebagai seorang gadis yang warna hidupnya kental dengan nuansa pergerakan. Ia unik dengan gayanya sendiri. Yang menurutku agak susah untuk dikategorikan dalam golongan tertentu. Surat di bawah ini baru awalan. Sebaiknya teman-teman tidak men-judge apa-apa sebelum membaca respon balasanku di surat selanjutnya. Untuk melindungi nara sumber, namanya tak kucantumkan di sini. Mohon maaf bila ada pihak-pihak yang tersinggung. Aku sungguh tak bermaksud menyinggung siapapun di sini. Ini adalah cerita masa lalu. Yang terpenting sekarang adalah Mas telah menjadi Imam yang kuhormati dalam rumah tanggaku yang telah terbangun selama kurun waktu 8 tahun ini.</p>
<blockquote><p>Depok, 7 Mei 2000</p>
<p>BismiLlahirrahmaanirrohim</p>
<p>Assalamualaikum warohmatuLlohi wa barokaatuh</p>
<p>Segala puji bagi Allah, robb semesta alam yang telah melimpahkan ni’matnya berupa iman dan Islam yang tiada taranya ini serta ni’mat hidayat yang tidak semua orang mendapatkannya. Sholawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kita, qudwah ummat manusia sedunia Rasululloh SAW beserta keluarga, shohabat, serta pengikutnya yang mengikutinya hingga akhir zaman.</p>
<p>Pada ukhti Nurul, semoga Allah selalu membimbing anti ke jalan-Nya, sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena pada hari Ahad lalu (7/5/2K) tidak dapat menelepon anti, ada amanah yang tidak dapat saya tinggalkan serta terima kasih, syukron jazakallah kepada **** yang telah menyampaikan pesan saya sama anti.</p>
<p>Ukhti Nurul yang dicintai Allah, dalam surat ini saya ingin memberikan sedikit informasi mengenai permasalahan yang anti hadapi, juga (afwan) tausiyah bagi diri saya sendiri khususnya dan sebagai bahan pertimbangan bagi anti dalam bersikap.</p>
<p>Saya selama ini mencoba mencari informasi mengenai bagaimana sebenarnya fikroh dari saudaraku M. Noer setelah beberapa minggu yang lalu, anti mencoba menceritakan permasalahan yang anti hadapi kepada saya. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman dekatnya, (afwan) M. Noer memang memiliki kecenderungan ke arah Syi’ah walaupun tidak secara utuh dia ke Syi’ah namun kecenderungan itu dominan sekali. Beberapa bukti pernah saya ceritakan langsung sama ukhti di mesjid beberapa waktu lalu, termasuk usahanya menyebarkan/mengedarkan poster mengenai hari Asy-Syuro yang merupakan salah satu ritualitas dari golongan Syi’ah. Satu hal mungkin perlu saya ulangi, bahwa Syi’ah telah menyimpang dari aqidah ahlusunnah wal jama’ah, yang begitu mengagung-agungkan Ali ra. hingga berada pada suatu kesimpulan bahwa yang menjadi Nabi/Rasul itu seharusnya Imam Ali. Jibril as, telah melakukan kesalahan dalam menyampaikan wahyu-Nya. Dan sederet bid’ah-bid’ah yang mungkin tidak dapat saya sebutkan di sini.</p>
<p>Ukhti Nurul, semoga Allah merohmatimu, akhirlah sampailah saya pada suatu kesimpulan bahwa kecenderungan Syi’ah memang ada pada diri saudaraku M. Noer walaupun bisa saja hal tersebut tidak benar, tetapi realita yang ada menunjukkan hal demikian. Saya beristighfar, memohon ampun kepada Allah jika saya salah dalam menilainya karena saya adalah manusia biasa yang tidak bisa lepas dari kesalahan. Segala kebenaran itu datangnya hanya dari Allah dan kesalahan adalah dari diri kita sendiri sebagai insan yang dhoif.</p>
<p>Ukhti Nurul yang dicintai Allah (insya Allah), ketika seorang manusia bersyahadat, maka ibaratkan Islam itu adalah suatu bangunan rumah yang kokoh, syahadat adalah pintu untuk memasuki rumah tersebut. Kita ini ibarat tamu di rumah tersebut dan harus mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan di rumah yang bernama Islam tersebut.</p>
<p>Ukhti fillah, jika kita menengok kembali ke masa Rosululloh SAW, kita kenal Sa’ad bin Abi Waqosh, kita tahu Mus’ab bin Umair, kita dengar kebesaran Khalid bin Walid. Bagaimana mungkin Sa’ad bin Abi Waqosh yang telah bersyahadat berani berkata kepada ibunya, “Seandainya ibu memiliki 100 (seratus) nyawa dan keluar satu per satu dari tubuh ibu, niscaya tidak akan menghalangiku untuk memegang teguh dien yang haq ini.” jika tidak semua itu dilandasi oleh kecintaannya kepada Allah. Generasi-generasi itu telah menjual diri dan harta mereka kepada Allah (At-Taubah: 110).</p>
<p>Saya terkesan dengan perkataan Imam Asy-syahid Hasan Al-Banna, “Kami bangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka.” Kata-kata itu menunjukkan suatu makna yang implisit, cukuplah Allah dan Rosulnya bagi kami. Hal itu menunjukkan betapa kuan syahadat itu menghunjam dalam dada mereka.</p>
<p>Ukhti fillah, pernikahan adalah suatu jenjang yang akan dilewati oleh manusia (jika Allah menghendaki). Mitsaqon Gholizho, istilah itulah yang dipakai Allah untuk menggambarkan betapa sakralnya ikatan perkawinan itu. Bahkan istilah itu hanya tercantum tiga kali di Al-Qur’an yang salah satunya adalah masalah ikatan perkawinan tersebut.</p>
<p>Ukhti fillah. Marilah kita coba berpikir ke depan kepada generasi-generasi penerus kita/ anak-anak kita nanti. Da’wah di negeri ini adalah suatu proses yang amat panjang yang tidak cukup diselesaikan oleh generasi kita. Anak-anak kita nanti yang akan mengambil tongkat estafet da’wah dari kita begitu seterusnya. Ukhti, anti sebagai orang yang paham akan Islam diharapkan akan melahirkan jundi-jundi baru yang akan meneruskan tongkat estafet generasi kita saat ini, yang akan melahirkan Sa’ad bin Abi Waqosh2 baru, Mus’ab bin Umair2 baru, Khalid bin Abi Walid2 baru, ataupun Hasan Al-Banna2 baru. Karena itu diperlukan aqidah yang bersih dan lurus dari orang tuanya. Saya tidak bisa menjamin apakah anti mampu mempertahankan aqidah anti yang lurus ketika pendamping anti ternyata telah melenceng dari aqidah yang lurus itu. Bagaimana pula dengan anak-anak anti nanti? Mampukah mereka survive dari fikrah-fikrah yang menyimpang itu? Hidayah itu mahal harganya, Ukhti! Pertahankanlah dengan segenap daya dan upaya yang anti miliki.</p>
<p>Ukhti fillah, satu pertanyaan yang ingin saya ajukan sama anti dan jawablah dari hati nurani anti yang paling dalam dan cukup jawaban itu hanya anti yang mengetahui. Jika ternyata ia pada akhirnya tidak menjadi suami anti, ikhlaskah anti, Ukhti? Hanya anti yang tahu jawabannya. Jikalau anti tidak bisa menerima hal itu, maka sudah pasti nafsu telah menyelimuti hati anti. Percayalah kepada skenario Allah, insya Allah itu adalah yang terbaik. Pada akhirnya kebenaran itu datangnya hanya dari Allah. Percayakan segala keputusan kepada Allah dengan Sholat Istikhoroh. Sholat Istikhoroh ini tidak cukup hanya sekali saja, tapi dengan istimroriyah (continue) hingga Allah memberikan/ memberitahukan keputusan-Nya kepada anti, baik itu lewat kemantapan hati, mimpi, perantaraan teman, dsb. Insya Allah informasi dari Allahlah yang dapat kita percaya, yang dapat anti percaya daripada saya atau teman-teman yang lain.</p>
<p>Segala keputusan di dunia ini akhirnya anti lah yang harus memilih. Afwan sebelumnya, tolong berhati-hatilah dalam mengambil keputusan. Pertimbangkanlah secara matang, bagaimana aqidah anti nantinya (hidayah itu mahal harganya dan susah untuk mendapatkannya), bagaimana nasib anak-anak anti nantinya. Ingatlah bahwa dunia ini adalah kenikmatan yang semu. Mata saya selalu berkaca-kaca ketika membaca ni’matnya pertemuan dengan Allah di syurga. Menatap langsung Wajah Yang Agung. Mungkinkah saya juga akan merasakannya? Rasanya jauh sekali saya dari orang-orang yang mendapat kenikmatan itu. Tapi saya sangat yakin bahwa fikrah yang saya pegang sekarang ini adalah yang lurus, fikrah yang anti pegang sekarang ini adalah yang lurus, dan insya Allah akan memepertemukan kita dengan Allah, menatap Wajah-Nya Yang Agung.</p>
<p>Jika engkau bertanya tentang hari di mana ahli syurga mendapat kenikmatan tambahan, dengarlah saat terdengar suara penyeru, “Wahai ahli syurga, sesungguhnya Allah masih mempunyai janji yang akan ditepati-Nya kepada kalian hari ini.“ Mereka bertanya, “Apa janji-Nya? Bukankah Dia telah memutihkan wajah-wajah kami, memberatkan timbangan-timbangan kami, memasukkan ke dalam syurga dan menghindarkan kami dari neraka?” Di saat mereka bertanya-tanya demikian itu, tiba-tiba muncul di hadapan mereka yang cahaya menerangi seluruh kawasan syurga. Mereka menengadahkan wajah-wajahnya, dan Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Suci Nama-nama-Nya telah berada di atas mereka dan berfirman, “Wahai ahli syurga, salamun ’alaikum!” (Kesejahteraan untuk kalian). Tidak ada ucapan yang lebih baik untuk menjawab salam ini selain ucapan, “Allahumma antassalaam wa minkassalaam tabaarokta ya dzal jalaali wal ikraam.” Kemudian Allah berfirman, “Mana hamba-hamba-Ku yang taat kepada-Ku padahal mereka tidak melihat-Ku?” Inilah hari di mana mereka mendapat kenikmatan tambahan, mereka bersatu dalam 1 ucapan, “Kami telah ridha, maka ridhailah kami.” Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, jika Aku tidak ridha kepada kalian, maka tidaklah Aku masukkan kalian ke dalam syurga-Ku. Inilah hari tambahan kenikmatan, maka mintalah kepada-Ku!” Mereka pun bersatu dalam keinginan yang sama, “Wahai Tuhan kami, tunjukkan kepada kami Wajah-Mu hingga kami bisa melihat-Nya!” Maka Allah pun membuka tabir dan menunjukkan Wajah-Nya kepada mereka, dan mereka pun terpesona dengan cahaya-Nya, yang apabila Allah Azza wa Jalla tidak mentakdirkan mereka untuk kuat melihat-Nya, tentulah mereka akan terbakar. Maka tiada seorang pun dalam tempat itu, kecuali benar-benar telah barhadapan langsung dengan Tuhan mereka. Betapa nikmat pertemuan dengan Allah sedemikian rupa, betapa berserinya bola mata manusia di saat melihat kepada Wajah Yang Maha Mulia di akhirat. Mungkinkah kita akan mendapatkannya ukhti? Semua itu kembali kepada aqidah yang lurus, yang bersih dari segala noda dan nafsu manusia. Insya Allah, fikrah yang kita yakini saat ini, aqidah yang kita pegang teguh ini, akan mampu menghantarkan kita ke syurga-Nya, asal kita istiqomah dalam keyakinan itu.</p>
<p>Afwan jika ada kesalahan dalam diri saya, ataupun kata-kata yang kurang berkenan di hati anti, Ukhti. Kebenaran datangnya dari Allah dan kesalahan dari diri saya sendiri sebagai manusia biasa yang memiliki banyak kelemahan. Wallahu a’lam bish showab.</p>
<p>Wassalamu’alaikum wr. wb.</p>
<p>Dari saudaramu</p>
<p>**********</p>
<p>NB: Sekali lagi afwan jika saya telah lancang dalam berkata-kata dalam surat ini. Syukron jazakallah!</p></blockquote>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/05/tragic-story-sebuah-rekaan-based-on-a-true-story/" title="Tragic Story: Sebuah Rekaan based on A True Story">Tragic Story: Sebuah Rekaan based on A True Story</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/03/how-happy-are-you/" title="How Happy Are You?">How Happy Are You?</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/05/pembantu-juga-manusia/" title="Pembantu Juga Manusia">Pembantu Juga Manusia</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/03/infotainment/" title="Infotainment">Infotainment</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/02/mencari-indah-dalam-hidup/" title="Mencari Indah dalam Hidup">Mencari Indah dalam Hidup</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2009/02/surat-surat-itu-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Lama tentang Aku dan Dia</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2008/08/cerita-lama-tentang-aku-dan-dia/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2008/08/cerita-lama-tentang-aku-dan-dia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 05:49:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Husband]]></category>
		<category><![CDATA[My Marriage]]></category>
		<category><![CDATA[My Self]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansinurul.blog.friendster.com/2008/08/cerita-lama-tentang-aku-dan-dia/</guid>
		<description><![CDATA[Waduh, orang melankolis ekstrim kayak aku gini memang paling suka meretas jalan kenangan. Kenangannya cuma sepanjang jalan itu, tapi diudek-udek terus dihilir-mudiki bolak-balik. Entah kenapa, ada perasaan hangat menjalari setiap mengingatinya. Yang ini masih cerita lama. Tadi kok iseng baca-baca, dan sepertinya lumayan menarik untuk ditulis di blog. Daripada hilang ketika diary nya lapuk dimakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waduh, orang melankolis ekstrim kayak aku gini memang paling suka meretas jalan kenangan. Kenangannya cuma sepanjang jalan itu, tapi diudek-udek terus dihilir-mudiki bolak-balik. Entah kenapa, ada perasaan hangat menjalari setiap mengingatinya. Yang ini masih cerita lama. Tadi kok iseng baca-baca, dan sepertinya lumayan menarik untuk ditulis di blog. Daripada hilang ketika diary nya lapuk dimakan usia atau dimakan rayap. Yang ini bener-bener ditulis seada-adanya. An uncut version.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr"><em><span style="color: #ff3399">Tadi gue ketemu ma&#8217; <a href="http://profiles.friendster.com/39207990">Firman</a> dan <a href="http://profiles.friendster.com/9644511">Imam</a>. Gue ceritain aja masalah gue (Nggak tau deh seharusnya boleh apa nggak?)</span></em></p>
<p dir="ltr"><em></em></p>
<p dir="ltr"><em><span style="color: #ff3399">Pusing deh ih pusing! Gimana kelanjutannya hubungan gue sama Noer. Susah juga kalo the trouble maker temen sekampus. Temen satu profesi, pula!</span></em></p>
<p dir="ltr"><em></em></p>
<p dir="ltr"><em><span style="color: #ff3399">Dia sih kayaknya nyantai-nyantai aja. Gue sendiri kali yang kelimpungan. Perasaan kanan-kiri salah. Kalo gue keseringan ngobrol pasti bakal dicap ada apa-apanya. Dan ini bakal jadi preseden buruk bagi FSI. Lho, anak FSI kok pacaran?</span></em></p>
<p dir="ltr"><em></em></p>
<p dir="ltr"><em><span style="color: #ff3399">Kalo nggak, kok ya gue merasa sayang banget gitu. Kayaknya banyak banget yang bisa gue dapet dari pertemanan gue dengan Noer. Gue bisa meniru dan belajar banyak hal ttg keoptimisannya dia, tentang rencana-rencana ajaibnya, tentang tips-tips belajarnya, tentang pemikiran-pemikirannya yang terkadang agak &#8216;aneh&#8217; dan melangit, tentang macam-macam pengetahuannya dari hasil pengeksplorasian berbagai buku, termasuk juga tentang kepeduliannya untuk membagi Islam ini pada semua. Gue akan merasa sangat kehilangan ini semua kalo menjauh darinya. Tapi gue juga mafhum benar akan rentannya hati ini dari serbuan penyakit yang dapat melalaikan. Sementara gue anggap ngobrol sama dia membawa kebaikan, padahal ternyata Allah benci banget sama perbuatan ini. Jangan-jangan alasan-alasan di atas sekedar pelegitimasian dari pengumbaran hawa nafsu yg nggak terkekang? </span></em></p>
<p dir="ltr"><em><span style="color: #ff3399">So, what could be the best solution?</span></em></p>
<p dir="ltr"><em></em></p>
<p dir="ltr"><em><span style="color: #ff3399">Gue udah mesti sholat istikhoroh nggak ya?</span></em></p>
<p dir="ltr"><em><span style="color: #ff3399">Noer pernah bilang langsung ke gue kalo dia udah siap dan lagi nyari akhwat yg siap. He asked my opinion about getting marry. Sesuatu yang tadinya begitu jauh dari pikiran gue tapi sekarang sering jadi hal yang gue jajaki kemungkinan terjadinya. Dia bilang tinggal nyari kerjaan. Dia tanya, menurut Nurul gimana? Ya, gue jawab aja pake teori di buku: harus disegerakan tapi jangan tergesa-gesa. Kesulitan mungkin ada tapi jangan disulit-sulitkan. Nungguin gelar termasuk menyulit-nyulitkan nggak,ya? NURUL HALIDA, SE. Wisuda lalu bekerja. Suatu bayangan cerah orang tua akan masa depan anak. Apa mesti begitu? Apa kaya dan bahagia cuma bisa didapat lewat jalur itu? Tak bisakah misalnya, kami berjuang sama-sama dalam naungan ridho Allah krn ikatan yg syah, lalu memulai segala-galanya dari bawah? Entah kenapa gue merasa dia somehow akan berhasil karena keoptimisannya, karena tekad kuatnya, dan karena kelurusan niatnya.</span></em></p>
<p dir="ltr"><em></em></p>
<p dir="ltr"><em><span style="color: #ff3399">Dia berniat menyegerakan untuk menjaga diri bukan, ya Allah? Hatiku terkesan karena itu. Ia mau bekerja keras dan menabung demi menyegerakan niat baiknya.</span></em></p>
<p dir="ltr"><em></em></p>
<p dir="ltr"><em><span style="color: #ff3399">Aku baru 18. Belum cukup umur kata orang. Meski sebenarnya kedewasaan tidak semata-mata ditentukan dari umur.</span></em></p>
<p dir="ltr"><em></em></p>
<p dir="ltr"><em>Selasa, 24 Agustus 1999</em></p>
<p dir="ltr"><u><strong>Background</strong></u></p>
<p dir="ltr">Ini nulisnya waktu Mas belum menyatakan terang-terangan nih. Udah mulai pdkt tapi belum eksplisit bilang. Jadi masih meraba-raba maksud dia dan ga mau ke GR an duluan. <a href="http://catatansinurul.blogs.friendster.com/my_blog/2007/09/7_september_8_t.html#comments">(See posting: 7 September, 8 Tahun Lalu)</a>.</p>
<p dir="ltr">Btw, karena sebaya, dulu aku manggil dia by his name only. Tanpa &quot;MAS&quot;. Beberapa bulan sebelum nikah he insist me to call him Mas Noer. Tapi aku ga bisa. Bener-bener kagok. Kayaknya kerongkongan seperti tercekat. Kupikir ketika sudah sah sebagai istri nanti pasti otomatis langsung bisa. Kedua kalinya dia nyuruh pas mamanya datang. Seingatku bulan Desember 2000. Tapi tetep belum bisa. Kadang-kadang bisa sesekali, tapi keseringan lupa nya. Intinya masih sungkan banget lah. Jadi tetep bandel dan ngeyel tuh manggil namanya aja. Bukan maksud hati untuk nantang. Tapi memang ga bisa karena ga biasa. Ternyata sodara-sodara, di suatu malam di rumah teman ketika kita lagi merancang undangan nikah berdua, dia serius bicara dengan tampang yang tegas dan galak: &quot;Jangan panggil Noer, panggil nya&nbsp; Mas!!!&quot; Oalah, langsung pias deh aku diseriusin dengan bentakan dan diultimatum gitu. Ga pernah-pernahnya aku liat wajahnya sesyerem itu. Mungkin karena dia udah geregetan juga kali ya, ni anak udah dibilangin beberapa kali kok ga ngerti-ngerti juga. Udah nyaris banget mo nikah (sekitar Jan 2001) masih manggil calon suami dengan namanya thok. Kesannya kurang berwibawa dan kurang respek. Setelah itu aku langsung diam dan ga banyak omong lagi. Ajaibnya, setelah dishock therapy gitu, baru deh besokannya lancar manggil Mas Noer <img src='http://www.nurulnoer.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/05/dosa-ga-benjol/" title="Dosa Ga Benjol">Dosa Ga Benjol</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/06/lost-tempered/" title="Lost Tempered">Lost Tempered</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/06/master-of-ceremony/" title="Master of Ceremony">Master of Ceremony</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/01/tentang-usia-sekolah-part-ii/" title="Tentang Usia Sekolah (Part II)">Tentang Usia Sekolah (Part II)</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/11/melek-asi/" title="Melek ASI">Melek ASI</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2008/08/cerita-lama-tentang-aku-dan-dia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memulai dengan Sederhana</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2008/06/memulai-dengan-sederhana/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2008/06/memulai-dengan-sederhana/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jun 2008 05:34:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Husband]]></category>
		<category><![CDATA[My Marriage]]></category>
		<category><![CDATA[My Self]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansinurul.blog.friendster.com/2008/06/memulai-dengan-sederhana/</guid>
		<description><![CDATA[Di usia matang begini, hampir semua teman sebayaku telah menikah. Mungkin hanya satu dua saja yang belum menuntaskan masa lajang. Ada berbagai macam alasan yang dikemukakan, tapi mungkin yang terutama adalah belum menemukan pasangan yang pas untuk dijadikan teman seumur hidup. Aku mengerti akan hal ini dan sangat sepakat bahwa kita jangan sekali-kali memaksakan menikah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di usia matang begini, hampir semua teman sebayaku telah menikah. Mungkin hanya satu dua saja yang belum menuntaskan masa lajang. Ada berbagai macam alasan yang dikemukakan, tapi mungkin yang terutama adalah belum menemukan pasangan yang pas untuk dijadikan teman seumur hidup. Aku mengerti akan hal ini dan sangat sepakat bahwa kita jangan sekali-kali memaksakan menikah dengan seseorang yang belum sreg di hati hanya karena desakan umur. Salah memilih pasangan itu berujung penyesalan seumur hidup. Tapi bagi yang sudah menemukan pasangan hati, kenapa takut untuk menyegerakan pernikahan? Ada yang khawatir tidak dapat menafkahi keluarga dengan layak nantinya, ada pula yang dipusingkan dengan masalah yang lebih dekat yaitu penyelenggaraan pernikahan itu sendiri. </p>
<p>Aku kadang merasa beruntung memulai semua ini lebih awal. Saat belum punya apa-apa. Saat belum jadi apa-apa. Sehingga tidak punya gengsi yang harus dijaga karena memang tidak ada yang layak disombongkan. Kami menikah ala mahasiswa. Karena pionir, maka tidak ada benchmarkingnya. Kami masih kere tapi ya teman-teman juga ga kalah kere <img src='http://www.nurulnoer.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Malah kuingat ada yang memberi ucapan begini kira-kira: &quot;Sorry Noer, di dompet gue cuma ada duit segini-gininya, lumayan buat beli garem kan?&quot; Hihi&#8230;hayo <a href="http://profiles.friendster.com/sauta">siapa</a> yang ngerasa dulu nulis gini, kartu ucapannya masih gw simpen loh&#8230;*Emang cukup kok buat beli garem berkilo-kilo&#8230; <img src='http://www.nurulnoer.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ) *</p>
<p>Coba bandingkan dengan teman-teman yang nikah setelah kerjaan pada mapan semua. Pasti lebih banyak hal yang jadi pertimbangan kan? Kalo yang levelnya high standard pasti ga sreg dan ga cukup PD kalo ngadain pesta resepsi di rumah aja. Paling nggak nyewa gedung. Alhamdulillah kalo ortu orang berpunya, kalo nggak kan mesti nabung dulu tuh dari hasil kerja keras sendiri. Bisa makan waktu bertahun-tahun sampai akhirnya tabungan mencukupi buat biaya nikah. </p>
<p>Menurutku ada dua sudut pandang berkenaan masalah ini. Ada yang mikirnya gini: &quot;Ah, acaranya sederhana aja. Toh resepsi itu cuma acara sehari. Mending uangnya ditabung untuk kebutuhan setelah menikah.&quot; Tapi ada juga yang memandang sebaliknya: &quot; Ah, menikah itu kan sekali seumur hidup ya harus abis-abisan donk sampai puoollll&#8230;&quot; Again, it&#8217;s OK kalo memang kemampuannya ada. Yang repot kalo harus memaksakan diri apalagi sampe minjem kanan kiri. Kalo istilahnya orang Betawi Setu Babakan: <em>&quot;Biar Tekor Asal Kesohor&quot;. </em>Kalo perlu nanggep dangdut 3 hari 3 malem. Haha&#8230;</p>
<p>Namanya manusia, pasti punya hasrat untuk menilai dan membanding-bandingkan. Kalo yang mindsetnya people oriented bukan Allah oriented pasti gede gengsinya dan mau serba paling&nbsp; sendiri: pokoknya &#8216;paling wah&#8217;, &#8216;paling hebat&#8217;, &#8216;paling meriah&#8217;. Syukur-syukur kalo pernikahannya awet langgeng. Kalo cuma seumur jagung&#8230;? Wah, sayang betul&#8230;Betul-betul sayang&#8230;</p>
<p>Jadi buat teman-temanku yang belum atau akan menikah, jangan ditunda-tunda yah, hanya karena pusing masalah pestanya. Insya Allah kesederhanaan acara tidak mengurangi berkahnya.</p>
<p>I&#8217;d like to end this topic dengan ucapan penuh hikmah Baginda Nabi SAW kepada Ali ra<em><span style="color: #66cc00">:&quot; Hai Ali, ada tiga perkara yang jangan kamu tunda-tunda pelaksanaannnya, yaitu sholat apabila tiba waktunya, jenazah bila sudah siap penguburannya, dan wanita (gadis atau janda) bila telah menemukan laki-laki sepadan yang meminangnya.&quot; </span></em>(HR.Ahmad)</p>
<p>Dalam hadits lain<em><span style="color: #ff0000">:&quot;Sebaik-baik wanita adalah yang paling ringan mas kawinnya.&quot; </span></em>(HR. Athabrany)</p>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/03/catatan-1/" title="Catatan 1">Catatan 1</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/11/melek-asi/" title="Melek ASI">Melek ASI</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/10/premonition/" title="Premonition">Premonition</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/06/reason-of-living/" title="Reason of Living">Reason of Living</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2010/03/freed/" title="Freed">Freed</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2008/06/memulai-dengan-sederhana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
