<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>nurulnoer.com &#187; Oprah Show</title>
	<atom:link href="http://www.nurulnoer.com/category/oprah-show/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.nurulnoer.com</link>
	<description>It's truth, it's whole truth, and nothing but the truth. Written by me as a woman, a spouse, and a mom.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Jun 2010 15:22:30 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Life Plan</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2009/07/personal-life-plan/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2009/07/personal-life-plan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 19:16:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Self]]></category>
		<category><![CDATA[Oprah Show]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nurulnoer.com/?p=454</guid>
		<description><![CDATA[Ketika seorang teman mengatakan bahwa ia telah membuat rencana pribadi bagi dirinya untuk 10 tahun ke depan, aku lalu bertanya-tanya sendiri rencana pribadi yang bagaimana yang kuinginkan untuk diriku sendiri.
Pernah juga seorang teman menanyakan apakah aku masih berkeinginan untuk kuliah lagi. Dan kujawab bahwa sampai saat ini belum tercetus keinginan untuk itu. Keadaan sekarang memang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika seorang teman mengatakan bahwa ia telah membuat rencana pribadi bagi dirinya untuk 10 tahun ke depan, aku lalu bertanya-tanya sendiri rencana pribadi yang bagaimana yang kuinginkan untuk diriku sendiri.</p>
<p>Pernah juga seorang teman menanyakan apakah aku masih berkeinginan untuk kuliah lagi. Dan kujawab bahwa sampai saat ini belum tercetus keinginan untuk itu. Keadaan sekarang memang belum memungkinkan untuk itu. Aku mempunyai anak yang masih kecil-kecil. Tapi andaipun mereka sudah agak besar, aku juga tidak dapat memikirkan ide lain -setidaknya sampai saat ini- kecuali bahwa kemungkinan aku akan menambah anak lagi sampai usia produktifku usai. <em>Let say 40 years may be. So, college may be out of option. </em>Tapi alasan terutama bukan itu. Bukan karena aku <em>saklek </em>terlampau antusias menambah jumlah anak. Aku hanya belum menemukan minat pada suatu bidang yang begitu kuat yang bisa menarikku kembali ke bangku sekolah. </p>
<p>My passion is in writing. Personal writing. Dan rasanya aku tak perlu terdaftar dalam kelas jurnalistik manapun untuk sekedar mampu menuangkan isi kepala dan hatiku. <em>Just write what I want to write. </em></p>
<p>Sampai saat ini belum terpikir mau dan akan mengikuti  kelas-kelas informal yang dapat menambah skill tapi bukan menjadi minatku, seperti kursus memasak, membuat kue, atau menjahit. Mungkin suatu saat kelak. Tapi lagi-lagi aku tak punya timeline untuk itu.</p>
<p>Sebenarnya aku dalam posisi yang nyaman sekali untuk memulai suatu rencana yang besar. Insya Allah anak keempatku akan lahir ketika usiaku belum lagi menginjak 29. Aku rasa belum terlambat  untuk memulai merintis mimpi ketika usiaku memasuki 30. Empat adalah jumlah yang cukup untuk menyemarakkan suasana rumah. Just stop right there. Focusing only on raising them, tanpa menambah anak lagi, dan mulai meluangkan waktu untuk pengembangan pribadiku. Lagipun rasanya suamiku sangat supportif untuk mendukung apapun rencanaku baik secara mental maupun finansial. Tapi lagi-lagi, sampai saat ini aku tidak terpikirkan hal lain selain berada bersama anak-anak. Dan pelajaran tentang bagaimana mendampingi anak-anak dengan baik adalah pelajaran yang bisa didapat secara informal dari sumber manapun dan melalui pengalaman pribadi sehari-hari.</p>
<p>Modal paling penting untuk mendampingi anak-anak adalah kesabaran. Andai ada sekolah sabar, aku pasti ingin terdaftar ke dalam situ. Karena yang kuinginkan adalah aku bisa lebih sabar menghadapi dan melayani anak-anakku. Memperlakukan mereka selayaknya harta yang paling berharga dalam hidupku. Tapi masalahnya, sabar tidak ada sekolahnya. Kecuali mungkin ada teorinya dalam acara rohani atau pengajian yang kita ikuti. Tapi sabar adalah sesuatu yang harus dijalani secara nyata dalam penggemblengan hidup sehari-sehari.</p>
<p>Jadi sampai saat ini belum ada kesimpulan tentang kemana sebenarnya arah rencana hidupku (personal life plan). <em>I just go with the flow. </em>Menjalani hariku sebegini adanya. Berusaha memupuk dan menambah kesabaran setiap hari. <em>Sometimes I succeed, sometimes I failed.</em> Jatuh bangun dalam perjuangan itu setiap hari.</p>
<p>Mungkin peranku di luar tidak banyak. Sumbanganku ke masyarakat tidak nyata. Tapi setidaknya kehadiranku besar bagi anak-anakku sendiri. Barangkali melalui peranku sebagai ibu anakku kelak bisa memberi kontribusi peran yang lebih nyata ke dunia luar. Semoga.</p>
<p>Kemarin pagi baru saja kudengar Oprah berkata. Ada banyak orang-orang besar yang namanya tercantum dalam sejarah. Tapi ada lebih banyak lagi orang besar dengan peran besar yang namanya bahkan tak tercantum dalam buku sejarah manapun. Aku ingin termasuk ke dalam situ.</p>
<p>Mudah-mudahan tulisan singkat ini bisa memberi sedikit arti bagi sejarah keberadaanku.</p>
<p><em>Saturday, July 04, 2009, 00.48</em><br />
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/12/happy-mothers-day/" title="Happy Mother&#8217;s Day">Happy Mother&#8217;s Day</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/05/dosa-ga-benjol/" title="Dosa Ga Benjol">Dosa Ga Benjol</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/09/being-with-you/" title="Being With You">Being With You</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/04/apalah-arti-sebuah-nama/" title="Apalah Arti Sebuah Nama">Apalah Arti Sebuah Nama</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/03/a-tiny-little-thing-about-us/" title="A Tiny Little Thing About Us">A Tiny Little Thing About Us</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2009/07/personal-life-plan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>NOVA, Bu Rieny, dan Konsultasi Psikologi</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2009/04/nova-bu-rieny-dan-konsultasi-psikologi/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2009/04/nova-bu-rieny-dan-konsultasi-psikologi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 17:54:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oprah Show]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nurulnoer.com/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[Siapa bilang wanita tak butuh berita? Itulah tag line dari tabloid wanita mingguan NOVA. Seingatku sejak SD aku sudah mulai akrab dengan tabloid ini. Aku suka nimbrung membacanya kalau kebetulan ibu membelinya. Ibu memang tidak berlangganan secara khusus.
Rubrik yang kusuka dari dulu sampai sekarang adalah Rubrik Psikologi asuhan Dra. Rieny Hassan. Walaupun dulu aku masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Siapa bilang wanita tak butuh berita?</em> Itulah tag line dari tabloid wanita mingguan NOVA. Seingatku sejak SD aku sudah mulai akrab dengan tabloid ini. Aku suka nimbrung membacanya kalau kebetulan ibu membelinya. Ibu memang tidak berlangganan secara khusus.</p>
<p>Rubrik yang kusuka dari dulu sampai sekarang adalah Rubrik Psikologi asuhan Dra. Rieny Hassan. Walaupun dulu aku masih anak-anak, tapi aku sudah cukup mengerti persoalan yang dibahas dan sangat menikmati pula cara Bu Rieny memaparkan solusi atas permasalahan yang diajukan. Ulasannya begitu pas dan mengena. Sangat mencerahkan.</p>
<p>Setelah menikah kini, aku sesekali saja suka membeli NOVA. Karena terus terang aku agak kecewa dengan tampilan NOVA sekarang. Terlalu banyak iklan. Dalam hal berita dan peristiwa juga menurutku agak basi dan ketinggalan dibanding yang lain. Yang lebih mengecewakan lagi adalah bila, setelah membelinya, aku baru tahu bahwa pada edisi kali itu tidak ada rubrik Tanya Jawab Psikologi favoritku.</p>
<p>Sekarang kekecewaanku terobati karena aku tinggal meng-klik <a href="http://www.tabloidnova.com">www.tabloidnova.com </a>untuk mengakses tulisan-tulisan Bu Rieny. Gratis dan praktis <img src='http://www.nurulnoer.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </p>
<p>Beberapa hari lalu aku puas membaca beberapa problema keluarga dan rumah tangga yang ada di NOVA online. Rupanya begitu beragam masalah yang dihadapi orang-orang dalam kehidupan mereka. Ada yang kewalahan dengan sikap suami yang keras dan pelit, ada yang mengalami ketidakcocokan dengan ipar dan mertua, ada pula masalah remaja yang hamil di luar nikah, sampai masalah mereka yang terjebak dalam drama perselingkuhan. Tampaknya setiap keluarga pasti memiliki masalahnya sendiri-sendiri. Meski dengan berbagai tingkatan intensitas, dari ringan sampai berat. <em>We never know what happen behind the closed door.</em> Begitu kata-kata yang sering disitir Oprah.</p>
<p>Banyak keluarga yang dari luar kelihatan sangat bahagia dan baik-baik saja, namun nyatanya menyimpan segudang permasalahan yang teramat  pelik. Yaa…namanya hidup, masalah tentu niscaya ada. Yang sangat disayangkan adalah bila masalah itu timbul dari sikap kita yang salah dan menyimpang.</p>
<p>Misalnya masalah anak atau orang tua yang mengidap penyakit tertentu. Kita bisa bilang bahwa ‘masalah’ itu datang dari-Nya sebagai ujian dan cobaan untuk kita. Tapi bila ada anak remaja yang hamil di luar nikah, atau rumah tangga yang berantakan karena tragedi perselingkuhan, maka bisa dibilang bahwa itu masalah yang ‘dicari sendiri’ atau diada-adakan. Kalau kita menjalani hidup dengan lurus-lurus saja, niscaya malapetaka itu bisa terhindarkan atau diminimalisir.</p>
<p>Mungkin sekali dua kali kita tergoda untuk menyimpang, tapi mudah-mudahan kita selalu ingat bahwa keluarga adalah yang utama. </p>
<p>Kembali ke masalah konsultasi psikologi. Sepertinya itu bukan hal yang aneh lagi di Barat (US) sana. Bahkan mungkin sudah termasuk ke dalam kebutuhan pokok. Seiring dengan tekanan hidup yang makin tinggi, stress yang dialami juga makin meningkat. Lantas orang butuh pelepasan untuk menyalurkan perasaannya, orang butuh orang lain yang bersedia untuk mendengarkan segala masalahnya. Bila tidak ada yang sukarela mau mendengar, maka terpaksa harus membayar jasa konsultan psikolog secara professional. Seingatku Oprah pernah bilang kata-kata yang intinya begini: “Alasan aku tidak membutuhkan untuk pergi ke psikolog adalah karena hampir tiap malam aku menceritakan semuanya kepada Gayle…” Gayle King is her best friend. Jadi, tiap orang pasti butuh seseorang atau sesuatu (misalnya hobi) untuk menyalurkan perasaannya.</p>
<p>Kalau  di Indonesia, sepertinya masih agak jarang ada orang yang mau mendatangi jasa psikolog. Alasannya adalah karena orang masih susah dengan <em>basic needs</em>, boro-boro memenuhi kebutuhan psikologis seperti itu yang mana termasuk <em>next level of needs</em>. Alasan lainnya, masih ada anggapan bahwa yang mendatangi psikolog hanyalah mereka yang punya masalah serius atau sakit jiwa<em>.(*Padahal pada hakikatnya, bukankah kita semua ini adalah orang yang jiwanya masih sakit?*)</em><br />
Kadang memang, kalau mengadu pada orang yang tidak tepat, bukannya masalah terselesaikan dengan baik, malah justru aib diri tersebar kemana-mana. Lagipun memang, ada orang-orang tertentu yang masukannya sangat pas dan enak didengar, sebaliknya banyak pula orang yang sebaiknya tidak kita mintai pendapat. <em>(*Lagi-lagi berkaitan dengan bakat diri*)</em>. Dan Bu Rieny menurutku adalah orang yang sangat mumpuni di bidang itu. Mungkin banyak orang bergelar Psikolog, tapi tidak banyak yang masukannya sangat mencerahkan. Seperti yang kudapat setiap membaca solusi dari Bu Rieny.</p>
<p>Maaf bila tulisan ini tidak fokus dan melebar kemana-mana. <em>It’s been soooo long since I done my last writing… </em> <img src='http://www.nurulnoer.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/04/am-i-a-good-mother/" title="Am I a Good Mother?">Am I a Good Mother?</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/11/focusing-on-what-important/" title="Focusing on What Important">Focusing on What Important</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/04/adaptadaptadapt/" title="Adapt&#8230;Adapt&#8230;Adapt&#8230;">Adapt&#8230;Adapt&#8230;Adapt&#8230;</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/03/catatan-pertama-setelah-pernikahan/" title="Catatan Pertama setelah Pernikahan">Catatan Pertama setelah Pernikahan</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/12/in-what-should-we-compete-in/" title="In What Should We Compete In?">In What Should We Compete In?</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2009/04/nova-bu-rieny-dan-konsultasi-psikologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Delapan Detik di Lift</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2008/07/delapan-detik-di-lift/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2008/07/delapan-detik-di-lift/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 18:52:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oprah Show]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansinurul.blog.friendster.com/2008/07/delapan-detik-di-lift/</guid>
		<description><![CDATA[&#34;Bahkan ketika aku menaiki sebuah lift di New York, ada sebuah TV di sana. Mengerikan sekali, betapa manusia takut akan dirinya sendiri, bahkan untuk waktu 8 detik sekali pun.&#34; Ini perkataan Elizabeth Gilbert yang sangat menyentilku yang kulihat untuk ketiga kalinya pagi ini di Oprah. Ia adalah pengarang Best Seller Book &#34;Eat, Pray, Love&#34;.
Kenapa buku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&quot;Bahkan ketika aku menaiki sebuah lift di New York, ada sebuah TV di sana. Mengerikan sekali, betapa manusia takut akan dirinya sendiri, bahkan untuk waktu 8 detik sekali pun.&quot; Ini perkataan Elizabeth Gilbert yang sangat menyentilku yang kulihat untuk ketiga kalinya pagi ini di Oprah. Ia adalah pengarang Best Seller Book &quot;Eat, Pray, Love&quot;.</p>
<p>Kenapa buku itu bisa jadi Best Seller? Menurutku, karena buku itu jujur menohok <strong></strong><strong>aspek <strong>dalam</strong> </strong>manusia. Buku itu bicara tentang pengalaman pribadi pengarangnya, tentang segala proses pencarian jati dirinya, tapi sejatinya&nbsp; juga bicara tentang diri kita masing-masing. Makhluk bernama manusia. Yang rindu pengetahuan akan eksistensi diri setiap kita di dunia ini. Siapa kita? Apa tujuan keberadaan kita? Untuk apa kita ada? Serentet pertanyaan primordial yang selalu menjadi tanda tanya para filsuf besar semacam Plato, Aristoteles. Suatu pertanyaan mendasar yang nampaknya sederhana namun sama sekali tidak sederhana.</p>
<p>Turning point bagi Elizabeth adalah saat di mana dia merasa gelisah. Menangis di kamar mandi jam 3 pagi, merenungi apa yang hilang dari hidupnya yang tampaknya sempurna. Hidup mapan dan punya pasangan hidup yang sangat baik. Lalu dalam keputusasaannya dia berdoa. Dan sebuah suara -yang dia enggan membahasakannya sebagai Suara Tuhan-menjawabnya. &quot;Just go back to sleep&quot;, kata suara itu. Dan di malam-malam berikutnya dia kembali lagi mempertanyakan tentang hidupnya.</p>
<p>Aku sedang tidak ingin membahas detil kisahnya. Hanya ingin menulis point yang menarik bagiku saja. Untuk lengkapnya silakan nonton. Atau baca buku aslinya sekalian.</p>
<p>Apakah Elizabeth telah sampai pada pencariannya? Kuyakin belum. Bahkan ketika ia tuntas menuliskan kisahnya sekalipun. Itu pertanyaan seumur hidup yang butuh jawaban seumur hidup. Everyday is a struggle, bukankah begitu? Ia mungkin kini menjalani hidupnya dengan cara lain, seperti 3 tips yang ia tuliskan: tanyakan pada diri sendiri <em>what do you really-really-really want, </em>tulis jurnal kebersyukuran, dan menanamkan mantra positif pada diri. Tapi tetap saja, hidup adalah perjuangan setiap harinya. </p>
<p>Kembali ke perkataan Elizabeth tadi. Memang mengerikan ya, ketika manusia sibuk sekali dengan apa yang berada di luar dirinya. Bahkan seakan enggan terasing dengan dirinya sendiri, hanya untuk waktu 8 detik!!!</p>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/04/friday-march-42005-0315/" title="Friday, March 4,2005, 03.15">Friday, March 4,2005, 03.15</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/01/tentang-usia-sekolah-part-i/" title="Tentang Usia Sekolah (Part I)">Tentang Usia Sekolah (Part I)</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/05/my-worry/" title="My Worry">My Worry</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/07/our-very-first-home/" title="Our Very First Home">Our Very First Home</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/03/catatan-pertama-setelah-pernikahan/" title="Catatan Pertama setelah Pernikahan">Catatan Pertama setelah Pernikahan</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2008/07/delapan-detik-di-lift/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>How Happy Are You?</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2008/03/how-happy-are-you/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2008/03/how-happy-are-you/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Mar 2008 23:41:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oprah Show]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansinurul.blog.friendster.com/2008/03/how-happy-are-you/</guid>
		<description><![CDATA[Satisfaction with Life Scale
Quiz developed by Ed Diener at the
University
 of 
Illinois


From the show How Happy Are You?


How satisfied are you? To find out, read the following five statements. Then, use the 1–7 scale to rate your level of agreement and add your answers together.
1 = Not at all true4 = Moderately True7 = Absolutely [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" align="center"><span>Satisfaction with Life Scale</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>Quiz developed by Ed Diener at the
<p>University</p>
<p> of </p>
<p>Illinois</p>
<p></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" align="center"><span>From the show </span><a href="http://www.oprah.com/tows/pastshows/200704/tows_past_20070411.jhtml"><em><span>How Happy Are You?</span></em></a></p>
<p class="MsoNormal">
<p><span></span></p>
<p><span>How satisfied are you? To find out, read the following five statements. Then, use the 1–7 scale to rate your level of agreement and add your answers together.</p>
<p>1 = Not at all true<br />4 = Moderately True<br />7 = Absolutely True<span>
</p>
<p></span></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>·</span><span><span>&nbsp; </span>In most ways, my life is close to ideal.<br /> 1  2  3  4  5  6  7</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>·</span><span><span>&nbsp; </span>The conditions of my life are excellent.<br /> 1  2  3  4  5  6  7</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>·</span><span><span>&nbsp; </span>I am satisfied with my life.<br /> 1  2  3  4  5  6  7</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>·</span><span><span>&nbsp; </span>So far I have gotten the important things I want in life.<br /> 1  2  3  4  5  6  7</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>·</span><span><span>&nbsp; </span>If I could live my life over, I would change almost nothing.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>Kalo gw menjawab dengan jujur tes yang gw download dari Oprah di atas, kayaknya NGGAK or mungkin lebih tepatnya BELUM deh. Mungkin score gw moderate kali ya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Gw rasanya belum sampai ke <strong>ultimate happiness</strong>. Banyak hal dalam hidup gw yang ga ingin gw ubah, tapi banyak juga yang pingin gw ubah or I wish if they would be different. Berapa banyak sih orang-orang yang mengidamkan apa yang sekarang ini gw miliki. Suami yang sangat baik dan anak-anak yang very gorgeous. Tapi di lain sisi, gw merasa ada yang belum lengkap di hidup gw.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>Gw kurang bahagia bukan karena iri sama orang atau berharap untuk memiliki apa yang orang lain miliki. Gw kurang bahagia karena merasa belum memaksimalkan potensi yang ada di dalam diri. Merasa belum berada in the right path of what I’ve should become. Merasa belum bring out all of my potentials.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Merasa belum berada di jalur kejatian diri yang benar. Meanwhile, I even don’t know exactly what do I really want.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Gw ngerasa sumbangan gw ke masyarakat dan lingkungan sosial nihil. Belum exist lah intinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Barusan gw nonton Oprah. There’s two things of the expert DR. Robert Holden said that strucked me. Sebenernya ini udah sering dibahas di pengajian sih. Intinya sama persis, meskipun pembahasaannya berbeda. Check this out!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dr. Holden says the key to being happy is overcoming<strong> &quot;destination addiction</strong>,&quot; which he defines as </span><strong><span>&quot;living in the not-now.&quot;</p>
<p>&quot;It&#8217;s always about tomorrow, so you&#8217;re chasing &#8216;more,&#8217; &#8216;next&#8217; and &#8216;there,&#8217;&quot; he says. &quot;You promise yourself that when you get there, you&#8217;ll be happy. And I promise you, you won&#8217;t, because you&#8217;ll always set another destination to go for.&quot;
</p>
<p></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>
<p><span> </span></p>
<p></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Many times, KZ my mentor said<strong>, Jadi Manusia Hari Ini! </strong>As I<span>&nbsp; </span>wrote of what I’ve<span>&nbsp; </span>ever read: Happiness is a journey, not a destination.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p><span> </span></p>
</p>
<p class="MsoNormal"><span>And the second is: Dr. Holden says that <em><strong>chronic complainers</strong></em> like Reggie, Oprah&#8217;s make up artist, actually live in fear of happiness. <strong>Their condition—which he dubs &quot;happy-chondria&quot;—is based on a belief that any happiness carries an eventual fall and price.</strong></p>
<p><strong>&quot;Rather than have everything be perfect and full, I&#8217;ll have it be quite good and complain,&quot; he says. &quot;Reggie&#8217;s got to dare to let life be great, and trust that happiness can happen and that it can last.&quot;
</p>
<p></strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>
<p><span> </span></p>
<p></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Wah, gw banget tuh! Karena gw percaya bahwa hidup ini adalah siklus yang turun naik. Maka gw kerap khawatir untuk naik, karena pasti akan ada kejatuhan yang mengikuti setelahnya. Kadang gw lupa, bahwa sebenernya setelah kejatuhan itu pasti akan ada kebangkitan kembali. Ini nih yang bikin gw kerapkali jadi orang yang pessimistic rather than optimistic.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span>I need a major breaktrough!</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>
<p><span> </span></p>
<p></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong></p>
<p></strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p><span> </span></p>
</p>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/05/a-mothers-controversial-confession/" title="A Mother&#8217;s Controversial Confession">A Mother&#8217;s Controversial Confession</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/07/delapan-detik-di-lift/" title="Delapan Detik di Lift">Delapan Detik di Lift</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/02/mencari-indah-dalam-hidup/" title="Mencari Indah dalam Hidup">Mencari Indah dalam Hidup</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/06/ah-masku-tersayang/" title="&#8220;Ah, Masku Tersayang&#8230;&#8221;">&#8220;Ah, Masku Tersayang&#8230;&#8221;</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2010/06/teman-hidup/" title="Teman Hidup">Teman Hidup</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2008/03/how-happy-are-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Working Mom vs Stay-at-Home Mom</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2007/09/working-mom-vs-stay-at-home-mom/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2007/09/working-mom-vs-stay-at-home-mom/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Sep 2007 03:20:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oprah Show]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansinurul.blog.friendster.com/2007/09/working-mom-vs-stay-at-home-mom/</guid>
		<description><![CDATA[Ini nih perdebatan yang kagak ada matinye. Minggu lalu aku nonton ini di Oprah. Can women have&#160; it all?
Dalam polling di Oprah.com ada 15.000 ibu bekerja dan IRT ikut berpartisipasi. Hasilnya : Dua pertiga ibu bekerja sebenarnya ingin tinggal di rumah seandainya keadaan memungkinkan. Lebih dari 90% working women ini mengatakan alasan mereka bekerja karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini nih perdebatan yang kagak ada matinye. Minggu lalu aku nonton ini di Oprah. Can women have&nbsp; it all?</p>
<p>Dalam polling di Oprah.com ada 15.000 ibu bekerja dan IRT ikut berpartisipasi. Hasilnya : Dua pertiga ibu bekerja sebenarnya ingin tinggal di rumah seandainya keadaan memungkinkan. Lebih dari 90% working women ini mengatakan alasan mereka bekerja karena financial reasons.</p>
<p>Sebaliknya, sepertiga stay-at-home moms wished they worked outside the home.</p>
<p>Yang didedel kali ini adalah kisahnya Elizabeth Vargas, yang stepping down dari posisinya sebagai anchor dalam World News Tonight di ABC News. Padahal posisi bergengsi yang jadi incaran semua orang itu diraihnya dengan merintis karir selama 20 tahun. Keputusan ini diambil setelah dipikirkan masak-masak sejak kehamilan anak keduanya (anak pertama sudah berusia 4 tahun).</p>
<p>Biarpun nongol di TV cuma sebentar tapi ternyata there&#8217;s a lot of efforts di baliknya. Ngantor jam 08.00 am- 08.00 pm untuk nyiapin berita adalah sesuatu yang mutlak dan ga bisa ditawar-tawar lagi.</p>
<p>Sekarang dia megang acara mingguan 20/20 di ABC yang jam kerjanya lebih fleksibel.</p>
<p>Again, can women have it all? Kalo kata Mpok Oprah sih bisa, but not at the same time. Meanwhile kalo kata sejawatnya Dr. Robin, untuk bisa dapetin kedua-duanya mah cuma ilusi. Ya tentu donk, dalam hidup ini kan semua harus ada trade off-nya. Mau ga mau, bagi ibu yang bekerja akan kehilangan beberapa moment berharga dalam perkembangan anaknya. Sementara untuk IRT, mungkin ada aspek self-development yang harus dikesampingkan dulu demi mendahulukan anak. </p>
<p>Kalo kata DR. Robin sih, masalah yang begini ini ga bisa dipukul rata dan dilihat secara hitam putih. Pada dasarnya kan, semua ibu ingin yang terbaik untuk anak-anak dan keluarganya. Biarpun si ibu bekerja, yang penting kan mereka tetap attuned alias connected dengan anak-anaknya. &#8216;Stay connect&#8217; itu kata yang menjadi kunci.</p>
<p>Ada juga pengakuan ibu-ibu yang menyesali pilihan hidupnya yang lalu. Yang bekerja menyesal karena kehilangan banyak momen berharga bersama anaknya (seperti melihat anaknya berjalan ato berbicara untuk pertama kali). Dia merasa tidak menjadi ibu yang baik dan menganjurkan anak gadisnya untuk di rumah saja setelah menikah. Yang ternyata saran ini ditolak mentah-mentah oleh anaknya yang merasa dia ga pernah merasa kekurangan cinta meski si ibu bekerja. Yang di rumah saja juga menyesal karena meskipun anak-anaknya menganggap dia super mom, tapi dia pribadi merasa kepentingannya selalu harus dikorbankan demi suami dan anak-anak.</p>
<p>Kalo menurut gw sih emang semuanya tergantung pribadi si ibu masing-masing, mana yang cocok untuk diri dia pribadi dan keluarganya. Kondisi orang kan beda-beda. Kalo gaji suami ga mencukupi untuk hidup layak sesuai standar yang diinginkan, ya mau ga mau si istri ikut kerja juga. Kalo suaminya sudah mencukupi tapi si istri tipe yang jutek dan sumpek kalo di rumah mulu dan bawaannya pingin ngomel terus ke anak-anak, ya mungkin sebaiknya dia mending kerja aja meski secara finansial sebenernya udah berlebih. Iya toh, daripada di rumah tapi anak jadi korban kekesalan doank karena si ibu menyimpan slow-burn anger dalam dirinya.</p>
<p>Kalo si ibu kerja tapi pikirannya di rumah mulu inget anak, ya mungkin lebih baik memilih di rumah aja biar punya banyak waktu bersama dengan anak.</p>
<p>As for me, alhamdulillah suami udah bisa mencukupi. Biarpun aku ga kerja, yang penting kan bisa hidup seadanya. Mo shopping ada (uangnya), mo nyalon ada, mo rekreasi ada. Mo arisan ada. Hehe&#8230; enak banget ya??! (Boonk denk,belum semakmur ini kok, yang belanja ga pake mikir karena udah kebanyakan duit). *Kami masih penganut setia tight money policy kok* </p>
<p>Besides, mau kerja ga dibolehin sama anak (baca: Alfath). Mungkin dia seperti diriku dulu, yang nyaman mendapati ibunya ada di rumah sepulang sekolah.</p>
<p>So. ibu-ibu sekaliyan, apa pilihan hidup anda masing-masing?</p>
<p>Apapun itu, nikmatilah dan jangan pernah menyesalinya!</p>
</p>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/10/all-i-can-eat/" title="All I Can Eat?">All I Can Eat?</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/06/fitrah/" title="Fitrah">Fitrah</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/04/friday-march-42005-0315/" title="Friday, March 4,2005, 03.15">Friday, March 4,2005, 03.15</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/03/catatan-1/" title="Catatan 1">Catatan 1</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/08/triple-the-happiness/" title="Triple The Happiness">Triple The Happiness</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2007/09/working-mom-vs-stay-at-home-mom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syalom in The Home</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2007/06/syalom-in-the-home/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2007/06/syalom-in-the-home/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jun 2007 18:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oprah Show]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansinurul.blog.friendster.com/2007/06/syalom-in-the-home/</guid>
		<description><![CDATA[Monday, June 18, 2007, 13.15



 

Ini tajuk sebuah reality show di AS yang dibahas di Oprah.&#160;Acara ini dipandu oleh Rabi Schmuley (kalo aku ga salah eja), seorang rabi dengan 8 orang anak. Pakem acara ini adalah sang rabi selaku host, masuk dan mengintervensi langsung ke dalam sebuah rumah tangga Amerika untuk memberi solusi permasalahan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Monday, June 18, 2007, 13.15
</p>
<p></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="IN">
<p><span> </span></p>
<p></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Ini tajuk sebuah reality show di AS yang dibahas di Oprah.<em>&nbsp;</em>Acara ini dipandu oleh Rabi Schmuley (kalo aku ga salah eja), seorang rabi dengan 8 orang anak. Pakem acara ini adalah sang rabi selaku host, masuk dan mengintervensi langsung ke dalam sebuah rumah tangga Amerika untuk memberi solusi permasalahan yang tengah dihadapi keluarga itu.<span>&nbsp; </span>Ada beberapa pelajaran dan kata-katanya yang kuingat karena sangat berkesan.
</p>
<p></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Kasih sayang orang tua itu punya dua tangan. Tangan kanan adalah unconditional love. <span> </span>Cinta tanpa syarat. Love their kids for the reason of being, not for the reason of doing. Mencintai anak bukan karena apa-apa yang mereka lakukan, melainkan mencintai mereka karena mereka ada dan hadir memang untuk dicintai.
</p>
<p></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Tangan kiri adalah yang bertugas mendisiplinkan, set boundaries for the kids. Memberi batasan dan limit untuk anak-anak. Yang harus dicamkan adalah, mencintai dan menyayangi anak bukan berarti memberikan apapun yang mereka minta. Over indulging can only spoilling the kids.
</p>
<p></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Orang tua yang kelewat sibuk bekerja di luar rumah, kerapkali merasa bersalah karena merasa tidak punya cukup waktu untuk anak-anak dan kemudian mengkompensasinya dengan memberikan apapun yang anak minta. Instead of giving themselves, mencurahkan dirinya untuk keluarga, parents tend to giving things to replace their absence. Efek lebih jauhnya, tindakan orangtua demikian yang menumbuhsuburkan budaya konsumerisme dan materialisme di generasi setelah mereka. Karena anak-anak lantas belajar mengisi kekosongan diri dengan barang.
</p>
<p></span></span></p>
<p><span lang="IN">Para ayah juga harus mendefinisikan ulang kesuksesan. Kesuksesan bukanlah semata pencapaian prestasi di luar rumah, melainkan juga kesuksesan dalam rumah tangga. <span>&nbsp; &nbsp;</span><span>&nbsp; </span></span></p>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/03/surat-surat-itu-2/" title="Surat-Surat Itu&hellip; (2)">Surat-Surat Itu&hellip; (2)</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/07/delapan-detik-di-lift/" title="Delapan Detik di Lift">Delapan Detik di Lift</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/07/personal-life-plan/" title="Life Plan">Life Plan</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/06/bunga-rumput/" title="Bunga Rumput">Bunga Rumput</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/10/tak-layak-berkata-lagi/" title="Tak Layak Berkata Lagi">Tak Layak Berkata Lagi</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2007/06/syalom-in-the-home/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fitrah</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2007/06/fitrah/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2007/06/fitrah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2007 01:45:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oprah Show]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansinurul.blog.friendster.com/2007/06/fitrah/</guid>
		<description><![CDATA[Monday, June 11, 2007, 21.43
Lagi ngantuk dan capek gendong si baby yang belum pulas kalo belum jam 11 ke atas. Mesti bangun kalo ditaro di kasur, tapi merem kalo digendong. Jadi inget ulasan masalah kesehatan oleh Dr. Mehmet Oz beberapa waktu lalu di Oprah. Katanya ada 4 kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan yang mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Monday, June 11, 2007, 21.43</p>
<p>Lagi ngantuk dan capek gendong si baby yang belum pulas kalo belum jam 11 ke atas. Mesti bangun kalo ditaro di kasur, tapi merem kalo digendong. Jadi inget ulasan masalah kesehatan oleh Dr. Mehmet Oz beberapa waktu lalu di Oprah. Katanya ada 4 kebutuhan dasar manusia yang tidak tergantikan yang mau ga mau harus dipenuhi: lapar, haus, ngantuk dan seks. Kalau lapar ya makan. Kalau haus ya minum. Kalau ngantuk ya tidur. Kalau berhasrat ya menikah. Dr. Oz sendiri menyarankan <em>healthy monogamy marriage</em> sebagai hubungan yang paling sehat.</p>
<p>Tiba-tiba click. I&#8217;ve got an idea. Jadi teringat tentang sebuah kisah di zaman Nabi Muhammad SAW. Ada 3 orang yang mencoba melampaui Nabi, yang berpikir bahwa apa yang mereka lakukan bisa menjadikan mereka lebih hebat daripada Nabi. </p>
<p>Orang pertama berpuasa terus-menerus tanpa berbuka.</p>
<p>Orang kedua beribadah terus menerus dengan terjaga tanpa tidur sedikitpun.</p>
<p>Orang ketiga memilih hidup selibat tanpa kawin.</p>
<p>Setelah hal ini dilaporkan kepada Nabi SAW, beliau marah. Beliau keluar seraya bersabda, yang artinya: <em>“Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu, sungguh demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”.</em> (HR: Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Makes me think: How marvellous Islam is. Begitu paripurna tanpa mengebiri fitrah.</p>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/06/suatu-sore-yang-cerah/" title="Suatu Sore yang Cerah">Suatu Sore yang Cerah</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/06/lost-tempered/" title="Lost Tempered">Lost Tempered</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/02/mencari-indah-dalam-hidup/" title="Mencari Indah dalam Hidup">Mencari Indah dalam Hidup</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/03/catatan-1/" title="Catatan 1">Catatan 1</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/10/tak-layak-berkata-lagi/" title="Tak Layak Berkata Lagi">Tak Layak Berkata Lagi</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2007/06/fitrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Life Seeking 2</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2007/06/life-seeking-2/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2007/06/life-seeking-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jun 2007 13:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oprah Show]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansinurul.blog.friendster.com/2007/06/life-seeking-2/</guid>
		<description><![CDATA[Monday, March 25, 2007, 02.42

Everyone search for something in their life. The reason for being in this world.&#160; When there’s no such fulfillment, emptiness and hollow grabbed you. Faking, shopping, gossiping is some way to make your self feel complete. Aku mendapati perspektif ini di Oprah Show. Sangat sufistik sekali. Jadi, siapapun kita, apapun status [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Monday, March 25, 2007, 02.42</span></span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Everyone search for something in their life. The reason for being in this world.<span>&nbsp; </span>When there’s no such fulfillment, emptiness and hollow grabbed you. Faking, shopping, gossiping is some way to make your self feel complete. Aku mendapati perspektif ini di Oprah Show. Sangat sufistik sekali. Jadi, siapapun kita, apapun status sosial, budaya dan sistem kepercayaan kita, pertanyaan<span>&nbsp; </span>tentang kejatian diri adalah pertanyaan mendasar dalam diri tiap manusia. Ada suatu kekosongan bila itu tidak terpenuhi.<span>&nbsp; </span>Lalu kita berusaha menutupinya dengan melakukan apapun yang dapat menyenangkan diri kita (meski sesaat), melakukan apapun yang kita kira dapat mendatangkan kebahagiaan sejati, apapun yang dapat membuat kita merasa utuh. </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>BAPAK merangkumnya dengan singkat: MISI HIDUP.</span></span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>You must know ‘who are you’ before you can ask ‘what you can get’ in this life. Jadilah diri sendiri dengan melakukan apapun yang kau suka. Oprah pernah ingin menjadi seperti Diana Ross. Lalu ingin seperti Barbara Walters. Dia tidak pernah benar-benar hebat sampai dia memutuskan untuk menjadi dirinya sendiri dengan mencari nafkah melakukan apa yang dia suka dengan cara yang dia suka.</span></span>
</p>
<p><span lang="IN">Para pejalan membahasakannya: manusia dimudahkan untuk apa dia diciptakan.</span></p>
</p>
</p>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/12/alirkan-apa-yang-kau-punya/" title="Alirkan Apa Yang Kau Punya">Alirkan Apa Yang Kau Punya</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/05/pembantu-juga-manusia/" title="Pembantu Juga Manusia">Pembantu Juga Manusia</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/07/our-very-first-home/" title="Our Very First Home">Our Very First Home</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2010/03/freed/" title="Freed">Freed</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/07/how-i-manage-my-routines/" title="How I Manage My Routines">How I Manage My Routines</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2007/06/life-seeking-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Mother&#8217;s Controversial Confession</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2007/05/a-mothers-controversial-confession/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2007/05/a-mothers-controversial-confession/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 May 2007 18:50:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Oprah Show]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansinurul.blog.friendster.com/2007/05/from-old-files-4/</guid>
		<description><![CDATA[Friday, June 9, 2006, 22.
A Mother’s Controversial Confession is one of a title on The Oprah Show that most relevant to me now. Seringkali wanita terjebak dalam sebuah ketidakseimbangan antara peran sebagai istri dan ibu. Naluri keibuan menjadikan mereka cenderung mengutamakan anak di atas suami. The children are their center of universe where all the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Friday, June 9, 2006, 22.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>A Mother’s Controversial Confession is one of a title on The Oprah Show that most relevant to me now. Seringkali wanita terjebak dalam sebuah ketidakseimbangan antara peran sebagai istri dan ibu. Naluri keibuan menjadikan mereka cenderung mengutamakan anak di atas suami. The children are their center of universe where all the romantic entanglement terpaut pada mereka while husbands are tend to be neglected.<span>&nbsp; </span>Lantas terjadi disconnection dalam sebuah pernikahan di mana hubungan suami istri lambat laun menjadi hambar. And it said that sex is one of the symptoms. Truly, sex before and after having a child is different! Istri seringkali merasa too exhausted to serve their husbands. Mereka menganggap itu semata merupakan duty atau bahkan burden yang melelahkan dan tidak bisa dinikmati. Sementara itu timbul anggapan salah bahwa keintiman dan kemesraan dengan suami bisa ditunda dan di-catch up nanti setelah anak-anak mulai dewasa dan bisa dilepas sendiri. Tapi sayangnya, bak kerupuk yang telah melempem, pernikahan itu telanjur menjadi hambar dan suami istri menjadi begitu berjarak dan asing satu sama lain. Pernikahan itu ibarat otot, bila tidak dilatih maka akan semakin melemah.</span></span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Salah satu cara orang tua mengayomi dan membuat anak merasa aman adalah dengan menunjukkan hubungan kasih sayang yang kuat di antara mereka.</span></span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>The fact is, istri mengganggap suaminya lebih seksi bila ia dapat berperan dengan baik sebagai ayah. Tetapi kadang istri tidak memberi cukup ruang bagi para suami untuk berperan lebih besar sebagai ayah dengan memonopoli anak. </span></span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Meanwhile ada kemarahan terpendam (slow burn anger) di lubuk hati para istri yang harus merelakan karir mereka demi mengurus rumah tangga dan anak-anak.</span></span>
</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"></span>
</p>
</p>
</p>
</p>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2008/07/my-new-bike/" title="My New Bike">My New Bike</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/07/personal-life-plan/" title="Life Plan">Life Plan</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/03/a-tiny-little-thing-about-us/" title="A Tiny Little Thing About Us">A Tiny Little Thing About Us</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/02/surat-surat-itu-1/" title="Surat-Surat Itu&#8230; (1)">Surat-Surat Itu&#8230; (1)</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2007/10/all-i-can-eat/" title="All I Can Eat?">All I Can Eat?</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2007/05/a-mothers-controversial-confession/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My Worry</title>
		<link>http://www.nurulnoer.com/2007/05/my-worry/</link>
		<comments>http://www.nurulnoer.com/2007/05/my-worry/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 09:33:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nurulnoer</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Kids]]></category>
		<category><![CDATA[Oprah Show]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catatansinurul.blog.friendster.com/2007/05/my-worry/</guid>
		<description><![CDATA[Young Boy Lured in to Porn. Another story in Oprah. Jason Berry, 13 years old, Head of Class, Honorable Student, lured into porrn, started from his own bedroom. Semua ini dimungkinkan dengan sebuah alat yang disebut webcam. For 5 years, his mother didn’t know his real activity in the internet world. Ia awalnya hanyalah bocah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Young Boy Lured in to Porn. </span></span><span lang="IN"><span>Another story in Oprah. Jason Berry, 13 years old, Head of Class, Honorable Student, lured into porrn, started from his own bedroom. Semua ini dimungkinkan dengan sebuah alat yang disebut webcam. For 5 years, his mother didn’t know his real activity in the internet world. Ia awalnya hanyalah bocah lugu yang kesepian yang mencoba mencari teman di dunia maya sebelum akhirya terpedaya oleh kaum pedofil yang cara kerjanya sudah sangat sistematis. Para predator anak itu rela membayar berapapun asal si korban rela menuruti apapun kemauan mereka. It’s all started so simple. Mulanya hanya percakapan ringan, yang beranjak pelan-pelan ke hal-hal yang makin sensual. Diawali hal biasa seperti membuka kaos, and then weeks after he started to take off his pants, strip naked. And then masturbating live in camera. And then coming to Vegas for a week attending the pedophile (I don’t know the spelling for sure) invitation to meet face to face dengan alasan menghadiri konferensi komputer bersama teman-temannya dan ibunya dengan mudah terkecoh begitu saja dengan alasan itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>What shocking is, setelah ditrace melalui perusahaan kartu kredit yang digunakan untuk mengirim uang ke rekening Justin, terungkap bahwa kaum pedofil ini di dunia nyata adalah orang-orang menduduki posisi terhormat seperti dokter, guru, anggota dewan, dan bahkan pengacara yang<span>  </span>sehari-hari menghadapi anak-anak yang dia wakili haknya. (Ehm, kita memang bisa jadi siapa saja di dunia maya, memakai topeng apapun yang kita suka).</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Ibu Justin sendiri bekerja sebagai konsultan untuk anak-anak korban pelecehan seksual. Tapi apa yang diketahuinya dari bidang yang digelutinya, seperti tanda-tanda anak yang mengalami pelecehan seksual, tidak membuatnya ‘ngeh’ selama 5 tahun, bahwa hal serupa- bahkan lebih parah- terjadi pada anaknya sendiri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Anak-anak memang pandai menyembunyikan sesuatu dari orang tua mereka.<span>  </span>Sebagaimana orangtua lain, ibu Justin juga memasang software pengaman untuk melindungi anaknya mengunjungi situs-situs berbahaya. Tapi katanya: “ By the time they were in 6th grade, kids are a lot smarter than their parents”. Software semacam itu dapat dengan sangat mudah dicrack oleh anak-anak yang pada seusia mereka memang sangat menggilai komputer.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>What about me? Tentu ini jadi kekhawatiranku juga sebagai ibu dari 3 putra. Di Indonesia mungkin hanya segelintir orang saja yang mempunyai alat itu. But problems were the same everywhere, meski mungkin mengambil bentuk yang berbeda. Recent news yang kudengar misalnya, 3 video mesum<span>  </span>yang direkam dengan HP beredar di Tegal yang dibintangi oleh pelajar SMP, SMA dan mahasiswa. Dan hampir setiap hari berita semacam itu- yang terjadi di mana-mana sampai ke pelosok Indonesia -ditayangkan tivi yang membuatku sangat eneg dan khawatir dengan masa depan anak-anakku. </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Kecerdasan- dan segala hal lainnya- memang bagai 2 sisi mata uang. Di satu sisi bila digunakan untuk hal yang positif, itu bisa menjadi daya dobrak yang luar biasa bagi kemajuan anak, tapi di<span>  </span>sisi lain dapat menjadi elemen perusak bila digunakan secara salah.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Aku mengkhawatirkan anak-anakku terutama si sulung dengan kecerdasan dan kecenderungan seksnya. Ia cepat mengerti dan mencerna segala hal. Saat ini ia belum mahir membaca. Ketika ia mulai bisa membaca nanti pasti semakin banyak informasi yang dapat diserapnya. Semakin dewasa lagi, ia mulai mahir menggunakan komputer dan mulai menjelajahi dunia internet, for better or for worse. Mungkin beberapa tahun lagi, ia akan jauh lebih pintar dariku dalam hal teknologi, sehingga tidak mungkin bagiku untuk mengontrolnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Fasilitas juga bagai 2 sisi mata uang.<span>  </span>Fasilitas yang kumaksud di sini seperti misalnya HP, mobil,<span>  </span>akses internet, uang, dll. Di satu sisi bisa sangat memudahkan anak melakukan kegiatan yang positif<span>  </span>bagi kemajuan dirinya. Di lain sisi bisa mempermudah juga akses untuk berbuat hal-hal yang negatif.<span>  </span>(You can’t go to the dugem’s world if you don’t have enough money!).</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Tapi mungkin sebaiknya aku juga tidak perlu terlalu khawatir. Everything is happened by slowly. Time by time. Step by step. Aku mungkin hanya melihat hasil dan bukan proses. Hanya melihat berita dan tidak latar belakang kejadiannya. Mungkin saja orang tua pelaku video mesum di atas adalah orang tua yang kurang perhatian, terlalu memanjakan tanpa membatasi, atau orang tua yang tidak sholat, makan uang korupsi atau bahkan lebih bobrok akhlaknya dari si anak. Well, we don’t know it for sure. Better not to judge.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>Kalau ternyata itu dilakukan anak yang orang tuanya<span>  </span>yang baik-baik -atau setidaknya berusaha jadi orang tua yang baik- ya itu musibah atau ujian kali ya untuk si ortu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>* What the hell in this world is happening?<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>* Kayaknya aku potensial jadi Marlin-typed parents deh (ini istilahku sendiri lho!). Orang tua yang mirip Marlin ayahnya Nemo yang takut anaknya begini-begitu mencoba hal baru dan karenanya jadi menghalangi anak untuk maju dan menjadi dirinya sendiri. I think I should overcome all my worries. Jadi orang yang optimistic rather than pesimistic. Bener loh, kayaknya belum apa-apa yang terpikir di otakku masalah demi masalah aja. <img src='http://www.nurulnoer.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> <span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>* Well, badai pasti berlalu. Matahari kan bersinar. Nantinya juga hormon remaja yang meletup-letup<span>  </span>itu akan mereda dan anak-anakku menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab pada dirinya sendiri melalui pengalaman hidup yang dijalaninya. Toh itu adalah suatu kemestian yang mau tidak mau, tidak bisa tidak, akan mereka lalui untuk menjadi dewasa.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"><span>* Banyak alasan untuk khawatir tapi banyak juga alasan untuk tidak khawatir. Manusia makhluk dinamis yang senantiasa bisa belajar dari kesalahannya. Allah Tuhan Maha Penyayang yang selalu menerima taubat hamba-hamba Nya. Kita punya doa sebagai senjata. Aku punya suami yang sabar, penyayang dan cerdas yang mampu menjadi panutan dan ayah yang hebat bagi anak-anaknya. Semoga.</span></span><span lang="IN"><span>J</span></span></p>
<div><span lang="IN"><span>Sunday, April 8, 2007, 01.53</span></span></div>
<h3>Tulisan Lainnya</h3>
<ul class="related_post">
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/02/surat-surat-itu-1/" title="Surat-Surat Itu&#8230; (1)">Surat-Surat Itu&#8230; (1)</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/08/aku-tak-mengapa-tuhanku/" title="Aku Tak Mengapa Tuhanku">Aku Tak Mengapa Tuhanku</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2009/01/tentang-usia-sekolah-part-ii/" title="Tentang Usia Sekolah (Part II)">Tentang Usia Sekolah (Part II)</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2010/01/part-of-my-2010-resolutions/" title="Part of My 2010 Resolutions">Part of My 2010 Resolutions</a></li>
<li><a href="http://www.nurulnoer.com/2010/01/cita-cita-yang-tak-pernah-padam/" title="Cita-cita yang Tak Pernah Padam">Cita-cita yang Tak Pernah Padam</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.nurulnoer.com/2007/05/my-worry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
