Archive for the Category ◊ Refleksi ◊

12 May 2016 Doa Musa
 |  Category: My Self, Refleksi  | Leave a Comment

Aku ingin berdoa seperti Musa.

“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat membutuhkan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.

“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat membutuhkan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.

“Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat membutuhkan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.

“Robbiy inniy limaa anzalta ilayya min khoirin faqiir”

20 May 2015 Tuhan (8)
 |  Category: My Self, Refleksi  | Leave a Comment

Rabu, 20 Mei 2015, 22.50

Melihat dunia dengan keunikan diri sendiri. Aku ingin menjadi penyuara bagi suara hatiku sendiri. Mungkin dengan begitu benih jiwaku bisa tumbuh subur bersemi. Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Pasti ada satu titik di semesta ini yang tersedia hanya untukku dan untukku saja.

Ingin menemukan seutas benang pengikat antara aku dan Dia. Tali pengikat yang dipegang dalang di atas ubun-ubun wayangnya. Aku milik-Mu walau gerak-kata-laguku kacau. Sesekali aku menengadah ke langit mencari jawaban. Walau lebih seringnya aku jatuh tersungkur terjerembab di atas tanah asal penciptaanku.

Tuhan…tolonglah diriku…letakkan aku di suatu sudut sepi tempat kubercakap pada-Mu. Mengadukan pada-Mu tentang diriku yang selalu salah dan selalu jatuh.

26 Apr 2013 The Grocer and The Parrot
 |  Category: Refleksi, Serba-serbi  | Leave a Comment

Just another random thought. Orang suka melihat/ menilai/ mengukur sesuatu berdasarkan keadaan dirinya atau berdasarkan apa yang menjadi interest-nya. Misalnya kalau aku sedang hamil, maka sepertinya sering sekali ketemu perempuan yang tengah hamil. Kalau punya mobil merk X, maka yang jadi sering nampak kelihatan di jalan adalah mobil merk X.

Dulu waktu masih anak-anak suka mikir: “Apa ada yang mau beli roti semahal itu?”, waktu lihat Sari Roti seharga beberapa ribuan, karena waktu itu aku cuma mampu beli roti coklat harga gopek di warung. Tapi ketika keadaan ekonomi sudah lebih mampu, ukuran mahal menjadi berbeda. Kalau sekarang ini masih tak habis pikir, kok ada ya orang yang mau beli tas seharga puluhan juta, apa ga merasa sayang. Mungkin bagi mereka uang puluhan juta sudah seperti recehan saja.

Apa yang menjadi interest kita tampaknya itu yang akan jadi semesta kita. Hal lain sekedar perkara tambahan. Misalnya suatu kali ada teman menulis suatu status tentang ‘ibu rumah tangga’, pasti yang punya interest soal ‘ibu rumah tangga’ akan langsung menaruh perhatian pada status itu. Atau tentang ‘clodi’ atau tentang ‘blogging’, pasti yang punya interest akan langsung berdiri kupingnya saat membaca atau mendengar tentang kata itu. Dan pasti Anda takkan mengerti maksud kata ‘status’ di atas berarti apa kalau Anda tak kenal sama sekali dengan yang namanya facebook.

Ada sebuah cerita dari Matsnawi Jalaluddin Rumi yang kutulis kembali secara bebas saja. Ada seorang pedagang yang mempunyai seekor kakatua yang amat pandai bicara. Keberadaan Kakatua ini amat menghibur pembeli dan pengunjung toko. Suatu kali Sang Pedagang pergi keluar untuk suatu keperluan. Si Kakatua ini terbang ke sekeliling toko dan tanpa sengaja memecahkan sebotol besar minyak mawar. Minyak mawar pun bercipratan kemana-mana dan keadaan toko jadi berantakan. Sekembalinya ke toko, Si Pedagang menjadi marah dan tanpa sengaja memukul kepala Kakatua peliharaannya. Kakatua itu menjadi sedih dan amat kecewa. Ia langsung mogok bicara dan tak lama kemudian bulu-bulunya yang indah pun mulai berguguran. Burung itu menjadi botak.

Sadar akan kekeliruannya, Si Pedagang amat menyesali dirinya. Dia berbuat baik kepada orang miskin dengan harapan agar kebaikannya dapat menarik Kakatua itu supaya bisa berbicara kembali. Tapi ternyata nihil, tak sepatah kata pun keluar darinya. Tiga hari tiga malam burung itu diam membisu. Sampai tiba-tiba, ada seorang bikhsu masuk ke dalam ke tokonya. Tiba-tiba saja Kakatua itu berteriak dengan antusias: “Hai Botak, lihat aku! Kamu menumpahkan minyak mawar juga ya?”

Spontan pengunjung toko lainnya tertawa mendengar celoteh Si Kakatua. Rupanya ia menyangka Sang Bikhsu yang botak karena alasan keagamaan, menjadi botak karena menumpahkan minyak mawar juga seperti dirinya.

Nah kan, Si Kakatua telah menilai Sang Bikhsu dengan ukuran dirinya…

PS: Bingung ngasih judul apa, jadi nyontek judul di buku Rumi aja

Serangoon, April 26, 2013, around 2.30 AM.

24 Apr 2013 Tindakan Nyata
 |  Category: My Kids, My Self, Refleksi  | Leave a Comment

Just came back from G5 PYP Exhibition at Abang’s school. Tema besarnya tentang ‘Sharing The Planet’. Tentu saja dengan begitu globalnya tema ini hampir semua topik bisa dihubung-hubungkan ke sini. Anakku mengambil tema ‘Game Addiction’. Rekan sekelasnya yang lain memilih tema bullying, global warming, stay green (highlighting about deforestation), and poverty.
Amazed dengan anak-anak di sekolah internasional ini. Begitu berani, aktif dan outspoken. Tapi bukan ini yang hendak kubahas.

Setiap tema pasti diawali dengan penjelasan mengenai pengertiannya. Lalu dijabarkan solusinya. We must….we should….we have to…bla bla bla. “Let’s reduce, reuse, recycle to keep our planet green.”
“Let’s help the poor.” Or “Stop bullying!” And suddenly I think… Kayaknya teori seperti ini kita semua sudah faseh ya. Sudah tahu betul kan ‘yang seharusnya’ itu seperti apa. Semua orang tahu korupsi itu dosa, memiskinkan orang lain. Hidup harus jujur. Jangan malas. Bantulah orang tak mampu. Jangan buang sampah sembarangan. Tapi seberapa dari ajaran itu yang terimplemetasi di hidup kita sendiri. Hehe…sebenernya yang nulis tulisan ini juga masih amat sangat banyak ga benernya sih. Tapi ga perlu lah kan ya mengumbar aib diri sendiri *grin*

Alangkah aman damai sejahteranya dunia ini kalau setiap kita mengamalkan kebaikan yang kita tahu.

23 Feb 2013 Buih
 |  Category: My Self, Refleksi  | Leave a Comment

Buih adalah sesuatu yang ringan, kerap bergerombol, tidak berisi dan mudah menghilang. Lenyapnya tidak meninggalkan jejak, tiada yang tahu atau ingat bahwa ia pernah ada.

Aku kerap mempertanyakan hidupku. Mempertanyakan makna keberadaanku. Apakah akhirnya hanya seumpama buih yang hilang lenyap tanpa bekas begitu saja?

Kata-kata terucap ringan tanpa nilai… tanpa bekas tanpa jejak yang terekam. Ocehan tak bermakna yang hanya melintas saja dalam linimasa… Ketika aku mati, maka apa yang akan tinggal? Apakah semua akan seperti buih yang tak bernilai hilang terhempas angin? Adakah suatu pati yang menetap yang bisa kubawa ke hadapan-Nya?

Aku tak tahu. Aku sungguh tidak tahu.

Serangoon, Feb 23, 2013, 00.37