Archive for the Category ◊ Refleksi ◊

12 Jan 2012 Insan Bermanfaat
 |  Category: Refleksi  | Leave a Comment

Menyendiri dapat membuka diskusi intens dengan pikiran kita sendiri. Aku duduk sendiri tanpa teman di bus umum pagi ini. Melihat Pak Sopir di belakang kemudi tiba-tiba terbersit pertanyaan: “Apa ia pernah bercita-cita menjadi sopir sewaktu kecil?” Pertanyaan kemudian berlanjut : “Akan jadi apakah anak-anakku nantinya?”

Lalu bus melintasi sebuah gedung yang sedang dibangun dan terlihat beberapa pekerja berkulit hitam legam. Atas tenaga dan kerja keras merekalah gedung-gedung megah ini berdiri. Sungguh Allah menyiptakan berlainan keadaan kita agar kita dapat saling mempergunakan satu sama lain.

Sopir, pekerja bangunan, mungkin tak seberapa penghasilan mereka. Aku pun tak bisa menerka akan menjadi apa anakku nantinya. Yang pasti doaku adalah, mereka jadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Tidak penting seberapa penghasilan mereka nantinya, yang penting adalah kehadiran mereka membawa manfaat bagi orang lain.

Seperti manfaat yang kurasakan dari jasa Pak Sopir yang memungkinkan aku untuk sampai ke sekolah anakku pagi ini.

04 Dec 2011 Mengapa Ibu yang Wafat saat Melahirkan mendapat Syahid
 |  Category: Refleksi  | Leave a Comment

Semua wanita yang pernah merasakan sendiri pengalaman melahirkan pasti tahu beratnya perjuangan mempertaruhkan nyawa demi kelahiran sesosok jiwa ke alam dunia ini. Tapi poin utama status ‘mati syahid’ yang hendak kutulis di sini tak hanya karena itu.

Bayangkan bahwa tiap detik dalam hidup kita dapat diisi dengan berjuta kemungkinan aktivitas atau keadaan yang secara merdeka dapat kita pilih. Kita dapat memilih untuk tidur, makan, menulis, atau bahkan melamun saja. Dalam semua keadaan itu, bila perangkat hati kita belum sedemikian bersih, maka kita tidak tahu apakah yang kita pilih itu bersesuaian betul dengan Kehendak Allah per saat itu.

Life is a series of gambling. Amal baik belum tentu amal sholih. Dosa adalah segala sesuatu yang tidak disukai Allah. Setiap waktu ada amalnya dan setiap amal ada waktunya. Dalam kekelaman hati yang belum bisa membaca Kehendak-Nya, maka kita betul-betul dalam keadaan menebak dan meraba apa amal sholih yang dituntut per saat ini. Per detik ini.

Nah, keadaan sakit mulas yang luar biasa saat melahirkan adalah sesuatu yang alami datang tanpa diundang (well, sepertinya kukecualikan dulu ya persalinan dengan bantuan atau C-Section). Si bayi lahir ke fase alam dunia dengan Titah Sang Maha Kuasa: ‘Kun Fayakun’. So it’s just like hitting the centre point of a Russian Dart when it all happens: ‘Bull’s Eye!’ Per detik itu memang itulah yang menjadi Kehendak-Nya. Maka seorang Ibu yang wafat pada saat itu –dan tentu saja ikhlas menjalaninya- benar-benar dalam keadaan (state) menemui Dia Ta’ala dalam menjalani Kehendak-Nya per saat itu. Did you see my point? Dan karena kesesuaian yang sempurna antara makhluk-Kholiq itulah maka ia mendapat syahid.

Mungkin ada yang bisa melengkapi dengan dalil?

Just my two cents!

(37w4d — sedikit hari saja menjelang kehadiranmu)

Chiltern Park, Friday, Dec 2,2011, 02.39

02 Mar 2010 Freed
 |  Category: My Self, Refleksi  | One Comment

Ini bukan merk mobil, hanya sebuah pernyataan pembebasan diri. Bukan juga kata perpisahan, hanya pengasingan diri sementara waktu. Aku mulai lelah bergaul di dunia maya. Banyak yang harus dibenahi. Sekarang saatnya ‘turun mesin’, overhauled, semadhi or whatever you wanna call. Menarik diri, berkontemplasi, memunguti apa yang terserak.

Lebih hangat di hati bermain bersama anak-anak. Berjalan-jalan, menemani bermain, membacakan buku dan bercerita. Waktu bagai berlari. Bertemu Senin tiba-tiba sampai ke Minggu. Anak bungsuku tak terasa sudah 4 bulan usianya. Aku tak mau kehilangan momen-momen berharga itu. Aku akan berusaha sebisa mungkin mengaktifkan dan menguatkan myelin mereka dengan pendampingan yang aktif. Apa guna seorang ibu berada di rumah kalau tidak hadir jiwa, raga dan pikiran?

Aku mencermati bahwa anak-anak tak butuh mainan mahal. Mereka bahagia selama ada orang tua yang menemani dan mencurahkan seluruh perhatian. Tidak asik sendiri dengan aneka gadget super canggih sementara anak terdiam melongo tanpa ditemani. Mudah-mudahan Allah mangampuni kesalahanku yang lalu. Semoga DIA Ta’ala berkenan mengajari dan membimbingku dalam mendidik anak-anakku. Sungguh mereka adalah anugrah yang tak layak disia-siakan dan dirawat ’seadanya’. Rasanya aku sudah berusaha semaksimal mungkin selama ini. Aku hanya harus memilah lagi mana yang seharusnya menjadi prioritas, dan mana yang hanya selingan saja. Dan tentu saja, urusan anak bukan sesuatu yang pantas jadi sekadar selingan. Keluarga harus selalu jadi prioritas.

So, this is not goodbye. You can poke me or just stopping by to say hi when you want to hear from me, my dear friends…

Ditulis di Sidoarjo, Thursday, February 11, 2010, 05.15-06.00, tepat ketika Nuri ulang bulan ke-4.

02 Mar 2010 Siklus
 |  Category: My Family, My Kids, My Self, Refleksi  | One Comment

Kesibukan yang luar biasa kadang membuat kita lupa untuk menikmati hidup. Tadi pagi aku berjalan santai bersama anak-anak setelah, seingatku, nyaris 2 bulan lebih kami banyak berdiam diri di rumah dan hanya keluar ketika akhir pekan.

Hangat rasanya diterpa mentari jam 10 pagi yang kebetulan tak bersinar terlalu garang. Kami berjalan santai sambil bercerita. Tentang daun dan rumput. Tentang tanah dan kupu-kupu. Tentang matahari dan bunga. Sepertinya aku yang mengajari mereka, malaikat-malaikat kecilku: Aslam, Halim dan Nuri yang tengah tenang dalam buaian. Tapi nyatanya justru aku yang banyak belajar. Aku bercerita tentang warna daun yang hijau, yang di sela-selanya ada daun yang telah kuning menua. Dan ada pula daun yang telah gugur ke atas tanah: rapuh, coklat, mengering. Tanpa sadar aku telah belajar tentang siklus hidup itu sendiri. Bagaimana kita kanak-kanak, remaja, dewasa, menua, hingga akhirnya ajal pun tiba.

Dadaku menghangat. Mataku berkaca. Aku terharu. Betapa Allah menaburkan tamsil pada segala sesuatu yang hadir di dunia ini. Kisah hidup daun itu sejatinya adalah kisah hidup kita juga.

Kita hidup dalam masa yang amat singkat: lahir, dewasa, menua. Tamsil itu telah nyata ada dalam Kitab-Nya, tapi amat sedikit orang yang mau mengambil pelajaran darinya.

Lumayan juga ‘oleh-oleh’ hasil jalan santai kami siang ini. Selain beberapa cemilan ringan dan minuman dingin, sedikit bekalan ajaran tauhid untuk anak-anak, aku juga membawa pulang segenggam pelajaran hidup.

Friday, February 05, 2010, 23.03

02 Mar 2010 OWN The NOW
 |  Category: My Self, Refleksi  | Leave a Comment

Salah satu kebijaksanaan terbesar dalam pembelajaran kehidupan adalah bagaimana menjadi ‘manusia hari ini’. Sepemahamanku per saat ini, itu berarti menjadi total dan fokus pada segala apa yang dihadirkan Allah pada saat ini. Menjalani itu sungguh bukan hal yang mudah. Pikiran senantiasa berlari dengan betikan ide yang berganti demikian cepat, switching in nano seconds perhaps. Sehingga kadang kita lupa pada ‘sekarang’ dan terus-menerus mengejar ‘nanti’. Belum apa-apa sudah mencemaskan yang terjadi esok sehingga melemahkan upaya kita untuk berbuat yang terbaik hari ini. Belum apa-apa sudah kuatir ini itu sehingga luput mensyukuri segala nikmat hari ini.

Kearifan ajaran Nabi SAW sebenarnya mengajarkan tentang ini semua. Bagaimana untuk sholat yang khusyu’ dengan pikiran hanya tertumpu pada Allah semata (tidak sepertiku yang dalam sholat masih berpikir sehabis ini mau berbuat apa). Nabi mencontohkan bagaimana menghadapkan seluruh tubuh dan wajah ketika berbicara dengan orang lain sehingga lawan bicara sampai-sampai merasa bahwa dialah orang yang paling dicintai Nabi. Tidak sepertiku yang sering ‘menyambi’ anak dengan keasikan pada aktivitasku sendiri. Sering abai menyimak obrolan mereka dengan seksama dan tidak menghadirkan diriku utuh saat tengah bermain bersama mereka. Suka lupa bagaimana really enjoying time with them without worrying other stuff. Suka lupa memasang wajah ceria dan penuh senyum pada anak-anak karena ruwet dengan segudang urusan hari ini.

Nabi mengajarkan untuk tidak berpanjang angan-angan karena manusia yang hidup pagi ini tidak sedikitpun boleh merasa aman bahwa ia akan tetap hidup nanti sore. Absurd memang bagaimana kita mencemaskan tingginya biaya pendidikan perguruan tinggi anak-anak kita sementara mereka masuk TK saja belum. Akhirnya kita tak pernah lepas dari kekhawatiran akan nasib masa depan dan sulit untuk menikmati karunia hidup saat ini.

Ini PR sekolah kehidupan yang tak pernah usai selama nyawa masih dikandung badan: how to live your precious life with a self consciousness.

Sunday, January 31, 2010, 01.47