26 Apr 2013 The Grocer and The Parrot
 |  Category: Refleksi, Serba-serbi

Just another random thought. Orang suka melihat/ menilai/ mengukur sesuatu berdasarkan keadaan dirinya atau berdasarkan apa yang menjadi interest-nya. Misalnya kalau aku sedang hamil, maka sepertinya sering sekali ketemu perempuan yang tengah hamil. Kalau punya mobil merk X, maka yang jadi sering nampak kelihatan di jalan adalah mobil merk X.

Dulu waktu masih anak-anak suka mikir: “Apa ada yang mau beli roti semahal itu?”, waktu lihat Sari Roti seharga beberapa ribuan, karena waktu itu aku cuma mampu beli roti coklat harga gopek di warung. Tapi ketika keadaan ekonomi sudah lebih mampu, ukuran mahal menjadi berbeda. Kalau sekarang ini masih tak habis pikir, kok ada ya orang yang mau beli tas seharga puluhan juta, apa ga merasa sayang. Mungkin bagi mereka uang puluhan juta sudah seperti recehan saja.

Apa yang menjadi interest kita tampaknya itu yang akan jadi semesta kita. Hal lain sekedar perkara tambahan. Misalnya suatu kali ada teman menulis suatu status tentang ‘ibu rumah tangga’, pasti yang punya interest soal ‘ibu rumah tangga’ akan langsung menaruh perhatian pada status itu. Atau tentang ‘clodi’ atau tentang ‘blogging’, pasti yang punya interest akan langsung berdiri kupingnya saat membaca atau mendengar tentang kata itu. Dan pasti Anda takkan mengerti maksud kata ‘status’ di atas berarti apa kalau Anda tak kenal sama sekali dengan yang namanya facebook.

Ada sebuah cerita dari Matsnawi Jalaluddin Rumi yang kutulis kembali secara bebas saja. Ada seorang pedagang yang mempunyai seekor kakatua yang amat pandai bicara. Keberadaan Kakatua ini amat menghibur pembeli dan pengunjung toko. Suatu kali Sang Pedagang pergi keluar untuk suatu keperluan. Si Kakatua ini terbang ke sekeliling toko dan tanpa sengaja memecahkan sebotol besar minyak mawar. Minyak mawar pun bercipratan kemana-mana dan keadaan toko jadi berantakan. Sekembalinya ke toko, Si Pedagang menjadi marah dan tanpa sengaja memukul kepala Kakatua peliharaannya. Kakatua itu menjadi sedih dan amat kecewa. Ia langsung mogok bicara dan tak lama kemudian bulu-bulunya yang indah pun mulai berguguran. Burung itu menjadi botak.

Sadar akan kekeliruannya, Si Pedagang amat menyesali dirinya. Dia berbuat baik kepada orang miskin dengan harapan agar kebaikannya dapat menarik Kakatua itu supaya bisa berbicara kembali. Tapi ternyata nihil, tak sepatah kata pun keluar darinya. Tiga hari tiga malam burung itu diam membisu. Sampai tiba-tiba, ada seorang bikhsu masuk ke dalam ke tokonya. Tiba-tiba saja Kakatua itu berteriak dengan antusias: “Hai Botak, lihat aku! Kamu menumpahkan minyak mawar juga ya?”

Spontan pengunjung toko lainnya tertawa mendengar celoteh Si Kakatua. Rupanya ia menyangka Sang Bikhsu yang botak karena alasan keagamaan, menjadi botak karena menumpahkan minyak mawar juga seperti dirinya.

Nah kan, Si Kakatua telah menilai Sang Bikhsu dengan ukuran dirinya…

PS: Bingung ngasih judul apa, jadi nyontek judul di buku Rumi aja

Serangoon, April 26, 2013, around 2.30 AM.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply » Log in