Author Archive

14 Jan 2010 Masalahku adalah Jalan Rejeki Bagi Orang Lain
 |  Category: My Self, Refleksi, Serba-serbi  | Leave a Comment

Sabtu minggu lalu, mesin cuci kami rusak. Penyebabnya sepele saja. Paginya aku mencuci keset biru tebal berserabut. Karena sekarang musim penghujan, maka menurut perkiraanku keset tebal itu akan lama kering bila dicuci manual saja tanpa pengering. Ternyata tanpa disangka, kerontokan serabutnya sangat parah. Terbukti dari air bilasan penuh bulu yang keluar. Benar saja, setelah mesin berhenti ternyata air masih menggenang di dalam. Pasti ada saluran yang mampat. Siang itu, kami memanggil tukang servis langganan yang sudah kami percaya. Bapak ini tampaknya penjual jasa yang jujur. Tidak mengatakan rusak apa-apa yang memang tidak rusak. Karena ada sebagian teknisi yang nakal, ‘memanfaatkan’ ketidakmengertian customer soal mesin dengan menggonta ganti spare part yang sebenarnya tidak perlu diganti.

Aku jadi berpikir, betapa sempurnanya Allah mengatur pembagian rejeki makhluk-Nya. Jalannya sangat bermacam dan berliku. Siapa yang menggerakkan hatiku untuk mencuci keset pagi itu kalau bukan Allah?
Instead of ngomel karena rusaknya mesin merepotkan kerjaku, aku mencoba melihat dari perspektif lain bahwa itu adalah jalan rejeki bagi orang lain. Sejumlah uang mungkin tak seberapa artinya bagi kita, tapi bisa jadi itu adalah uang makan beberapa hari bagi orang lain.

Maka kini aku belajar untuk tidak mengeluh. Bila suatu saat kacamataku bengkok karena dimainkan anak-anak. Bila suatu saat sendalku putus di tengah jalan. Bila rumput di halamanku tumbuh sangat subur dalam waktu cepat. Bila suatu saat hariku kacau dan aku butuh bantuan orang lain. Aku harus selalu ingat bahwa masalahku adalah jalan rejeki bagi orang lain.

Sunday, January 3, 2010, 17.45

14 Jan 2010 Happy Mother’s Day
 |  Category: My Family, My Kids, My Self  | Leave a Comment

Life is so full of surprices especially when you are a mom, taking a snap of nap and leaving your toddler alone. Here’s my today story. Sebelum tidur siang sebentar aku membuatkan susu untuk dua balitaku, Aslam dan Halim. “Bunda, tidur sebentar ya Nak. Kalo pipis siram yang banyak ya. Jangan berantem terus ya.”

Dan ketika baru saja bangun, selalu ada saja ‘kejutan’ yang kudapati. Hari ini adalah bongkahan p*p yang tersebar di beberapa tempat. Kalau aku kilas balik kejadian yang dulu-dulu, kejutannya bisa beraneka macam. Pernah aku mendapati sofa yang penuh berlumur debu dan tanah, serbuk minuman yang berserakan lengket karena tercampur dengan air seni, atau bak mandi yang putih butek (bukan bening) karena dituangi hampir sebotol bedak, dan lain sebagainya.

It’s never been easy of becoming a mom. Tapi dalam kebanyakan kasus itu, karena tubuhku sudah segar sehabis istirahat, maka aku bisa membereskan semuanya dengan tenang. Yang membuat uring-uringan adalah ketika aku lelah misal karena keasyikan terlalu lama duduk di depan komputer. Too much of doing something can surely makes your life imbalance.

Aku menulis ini dalam rangka merayakan Hari Ibu yang tepat jatuh tanggal 22 Desember. Selamat Hari Ibu, semua. Selamat menikmati suka duka menjalani peran mulia ini…

Surabaya, Tuesday, Dec 22, 2009, 12.35

05 Jan 2010 Cita-cita yang Tak Pernah Padam
 |  Category: My Self  | 3 Comments

Cita-citaku yang tak pernah padam adalah aku ingin sekali menjadi penulis dengan karya yang diterbitkan. Aku tak pernah berniat menjadi pedagang seperti yang sementara ini sibuk kulakoni. Aku tak pernah berniat jadi guru seperti yang pernah kujalani beberapa tahun yang lalu. Setelah kucermati benar-benar, aku hanya ingin menjadi penulis.

Sudah sejak lama sekali aku menulis. Mulai dari diary kecil-kecilan sejak SD. Lalu diary berisi roman picisan ketika memasuki saat puber ketika Tsanawiyah (SMP). Lalu diary tentang segala pernak-pernik kehidupan dan pencarian jati diri di SMA. Di SMA juga aku mulai aktif menulis di Sie Penerbitan ROHIS yang menerbitkan bulletin Islam. Seingatku, dulu aku nyaris tak pernah belajar kecuali menyendiri mengutak-atik kata untuk tulisan yang akan diterbitkan sebulan sekali.

Masuk jenjang kuliah pun kurang lebih sama. Aku bergabung menjadi bagian redaksi di sebuah bulletin bernafaskan Islam bernama Filosofia, yang digagas oleh seorang teman yang akhirnya menjadi suamiku sekarang. Bulletin itu dicetak terbatas untuk kalangan mahasiswa UI waktu itu.

Ketika menikah aku sempat vakum menulis diary. Baru ketika memasuki 2004 aku mulai menulis lagi. Kali ini medianya berpindah. Tidak lagi menulis di buku, tapi langsung di komputer.

Aku menemukan bahwa menulis bisa menjadi terapi yang luar biasa efektif bagiku. It’s just like my own little sanctuary. Tempatku berteduh sejenak dari hiruk pikuk dunia yang meletihkan. Kepenatan dan kesusahan dalam hidup bisa mendadak menguap begitu aku terhanyut dalam menulis. Aku bisa terkikik sendiri bak orang sinting atau malah menangis berderai air mata saat menulis.

Tahun 2007 aku mulai terhubung dengan dunia internet. Waktu itu yang tengah marak adalah Friendster. Maka aku mulai mempublish satu persatu tulisanku diblog Friendster. Tak dinyana sambutannya positif. Beberapa teman menyarankan untuk dibukukan. Setiap kali ada yang mengatakan bahwa tulisanku bagus, or at least it means something to them, semangatku untuk membuat buku langsung terbakar. Tapi mungkin aku kurang gigih dan berkeras hati untuk serius mewujudkan itu. Kesibukan dan rutinitas sehari-hari seringkali mengubur mimpi itu.

Tahun 2008 aku akhirnya mengirimkan naskah ke sebuah penerbit yang gencar menerbitkan buku-buku Islam. Tapi responnya nihil. Mungkin naskahku cuma menjadi onggokan kertas di atas meja mereka (atau mungkin malah sudah berakhir di tempat sampah?) Akhirnya mimpi itu terkubur lagi.

Baru-baru ini ada beberapa teman lagi yang menyemangatiku. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah pembaca setia tulisanku dan lagi-lagi menyarankan agar aku membukukan tulisanku. Duh, tersanjung rasanya. Tanpa maksud bangga diri dan besar kepala, tapi aku berangan seandainya tulisanku ini diterbitkan dan dibaca oleh lebih banyak orang, mungkin ada yang merasa terinspirasi dengan cerita keseharianku sebagai diri pribadi, wanita, istri dan ibu. As simple as that.

Belakangan aku mulai mensearching tentang percetakan indie. Yang membantu menerbitkan buku secara independen. Tapi sejauh ini belum ada respon jelas. Sebenarnya aku sangat ingin serius menggarap proyek buku ini. Sebelum niat ini kembali redup dan padam. Tapi tampaknya saat ini aku belum bisa berharap banyak. Suamiku punya rencana dan mimpi sendiri yang tak tega kuganggu gugat. Aku pun tenggelam dalam kesibukan mengurus keempat anak kami yang masih kecil. Sebenarnya aku sangat berharap 2010 ini bisa menjadi tahun di mana aku berhasil mewujudkan mimpiku. Hanya Allah tempatku berharap. As a wise man says: “Jangan pernah berhenti berharap! Mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari…”

Tuesday, January 05, 2010, 04.05

27 Des 2009 Happy Mother’s Day
 |  Category: My Family, My Self  | Leave a Comment

Life is so full of surprices especially when you are a mom, taking a snap of nap and leaving your toddler alone. Here’s my today story. Sebelum tidur siang sebentar aku membuatkan susu untuk dua balitaku, Aslam dan Halim. “Bunda, tidur sebentar ya Nak. Kalo pipis siram yang banyak ya. Jangan berantem terus ya.”

Dan ketika baru saja bangun, selalu ada saja ‘kejutan’ yang kudapati. Hari ini adalah bongkahan p*p yang tersebar di beberapa tempat. Kalau aku kilas balik kejadian yang dulu-dulu, kejutannya bisa beraneka macam. Pernah aku mendapati sofa yang penuh berlumur debu dan tanah, serbuk minuman yang berserakan lengket karena tercampur dengan air seni, atau bak mandi yang putih butek (bukan bening) karena dituangi hampir sebotol bedak, dan lain sebagainya.

It’s never been easy of becoming a mom. Tapi dalam kebanyakan kasus itu, karena tubuhku sudah segar sehabis istirahat, maka aku bisa membereskan semuanya dengan tenang. Yang membuat uring-uringan adalah ketika aku lelah misal karena keasyikan terlalu lama duduk di depan komputer. Too much of doing something can surely makes your life imbalance.

Aku menulis ini dalam rangka merayakan Hari Ibu yang tepat jatuh tanggal 22 Desember. Selamat Hari Ibu, semua. Selamat menikmati suka duka menjalani peran mulia ini…

Surabaya, Tuesday, Dec 22, 2009, 12.35

27 Des 2009 Alirkan Apa Yang Kau Punya
 |  Category: My Self, Serba-serbi  | 2 Comments

Aku sedang berusaha mencermati bisikan-bisikan yang datang ketika ingin sedikit berbagi pada orang lain. Setan seperti tak pernah rela kita berbuat secuil kebajikan. Seolah ada 1001 alasan yang membenarkan/meligitimasi kita untuk urung melaksanakan niat baik itu.

Berikut contoh-contoh dalil setan yang terdengar jelas membisik di hatiku:

•“Jangan kasih yang itu, itu masih bagus” –> Akhirnya kita jadi hanya memberi suatu barang yang kita sendiri pun memicingkan mata padanya (ayatnya di Qur’an surat berapa ya? Ada yang mau melengkapi)

•“Jangan kasih itu, kamu mungkin membutuhkannya sewaktu-waktu –> Padahal barang itu sudah mengonggok lama di lemari, diingat pun tidak, tapi begitu mau diberikan ke orang, kok sepertinya sayang ya…(Hmm…dahsyat bener bisikan setan).

•“Jangan kasih yang itu, harganya mahal loh…” –> Akhirnya kita cuma rela ngasih barang yang murahan.

•“Ngasih segitu kebanyakan, segini aja juga sudah cukup…” –> Akhirnya kita jadi ngasih secuil, padahal punya seabrek.

•“Kamu sendiri masih kekurangan, kok sok-sok belagu ngasih orang lain” –> Kalo nunggu sampe kaya banget, lantas kapan mau berbagi sama orang lain? Padahal sekaya apapun, bisikan itu pasti akan selalu datang.

•“Jangan ngasih terus-terusan, ntar jadi manja dan ngandelin loh” –> Padahal itu urusan dan tanggung jawab orang yang bersangkutan. Urusan kita hanya semata dengan Allah. {(Bagaimana dengan para pengemis yang terorganisir dan seperti memanfaatkan kebaikan kita? Kalo ngomongin ini jadi panjang, soal ini dikecualikan dulu ya). Tapi aku percaya bahwa memang ada ‘ilmu memberi’: (bagaimana memberi yang tepat sasaran, memberi kail dan bukan ikan, tidak memberi dengan alasan mendidik, etc). Lagi-lagi karena takut terlalu panjang dan melebar, tentang ini sebaiknya dikecualikan dulu}

•Atau malah sebaliknya. Bisikan itu mengencourage untuk memberi banyak dengan niat ingin dipuji, riya, bangga diri. Wadow…susah bener ya jadi orang ikhlas.

Padahal kita telah diajari bahwa:

•Allah sebaik-baik Pemberi Rezeki, yang menanggung rezeki semua makhluk-Nya.

•Allah sebaik-baik Pemberi Ganjaran, yang membalas kebaikan hamba-Nya dengan berkali-kali lipat banyaknya.

•Apa yang di Sisi Allah itu akan kekal, sementara apa yang ada di tangan kita akan rusak binasa.

Tips of the day: lawan segala bisikan itu!

•Kalau dibilang ‘nanti’ berarti ‘sekarang aja!’

•Kalau dia bilang ’segini aja’, jawab: ‘segitu aja deh….’

•Kalau dia bilang ‘nanti kamu butuh…’ Jawab aja: ‘Nanti insya Allah diganti sama Allah dengan yang lebih baik.

You give it and don’t ever look back.

Saya juga masih belajar. Amalkan apa-apa yang kamu ketahui, Allah akan mengajari apa-apa yang tidak kamu ketahui.

Thursday, December 17, 2009, 06.40