16 Apr 2022 Mini Me
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Saat aku menanyakan sulung perempuanku apakah ia mau bergabung dalam acara buka puasa bersama angkatannya, ia menjawab ‘tidak’ dengan definitif. Tidak juga berubah pendiriannya setelah aku berulang kali membujuk bahwa itu adalah acara bukber terakhir di 6 tahun kebersamaannya di SD. Jawabannya singkat, tapi kupahami betul rasanya: “Aku ga punya teman, Bun.”

Aku pun sesungguhnya tidak punya seorang pun teman yang benar-benar selevel sahabat. Walaupun untuk acara-acara demikian aku cenderung hadir. Aku tahu betul rasanya seperti dia. Tak mudah untuk ‘fit in’ atau ‘blend in’ dengan teman-teman. Waktu masih sekolah dulu, teman-teman mengerubungiku sebatas kebutuhan mereka menyelesaikan tugas atau PR.

Tapi setelah aku pikir-pikir, ini bukan masalah. Memang pembawaan masing-masing orang yang berbeda. Tidak bisa dipaksakan. Sempat beberapa kali aku membincangkan ini dengan suami. Perihal anak-anak kami yang pendiam walaupun cerdas dan mempunyai prestasi baik di sekolah. Kesimpulannya, ya memang itu sudah pembawaan kami. Aku dan suamipun demikian. Mas pernah bilang bahwa teman dekatnya ya hanya aku. Sebaliknya, aku pun merasa demikian. Tidak ada yang ‘klik’ betul denganku kecuali pasangan hidupku. And I very grateful for that. At least, we can find comfort in each other companion.

Kembali lagi ke anakku. Setelah kutelisik, temannya yang cukup dekat adalah 2 teman main di lingkungan rumah. Cukup dekat tapi tidak teramat dekat. Kalau remaja seusia dia suka membuat konten Tiktok, anakku sangat anti bahkan untuk sekedar difoto. Dia hanya suka menonton. Kalau yang lain tergila-gila dan jadi K-Pop lover, anakku jelas-jelas tidak. Tapi menarik juga lanjutan perkataannya kemarin. “Aku dulu ga pendiem-pendiem banget, tapi terus jadi pendiem dan keterusan sampe sekarang. Nanti SMP aku ga mau pendiem dari awal ah.”

Mungkin baginya, yang sekarang sudahlah, toh, dia akan pindah ke sekolah baru tak lama lagi.

Anakku, jalan hidupmu masih panjang. Kelak kau akan tahu, yang terpenting adalah menjadi diri sendiri yang otentik. Orang mungkin tidak mengerti kita, it’s okay, as long as we true to ourselves. Jadilah saja dirimu sendiri, sebaik-baik dari dirimu sendiri.

13 Apr 2022 Work in Progress
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Sebuah hubungan yang melibatkan orang lain adalah sebuah work in progress. Berproses, tidak langsung sekali jadi. Butuh penyesuaian untuk dapat berada di posisi yang pas dan nyaman. Terlalu dekat, rawan gesekan. Terlalu jauh, terasa asing bagai bukan satu kesatuan.

Dalam masa menepi ini aku sedang menata hati. Berusaha selalu berdoa dan mendoakan kebaikan bagi semua. Bahagia rasanya saat hati sedang lapang. Hati menghangat bebas dari marah resah gelisah.

Seiring perjalanan, ada hal-hal yang kupelajari. Amat disayangkan saat-saat ketika hubungan berjarak, ada hal-hal yang menarik jadi urung dibincangkan. Ada momen-momen penting yang terlewat begitu saja. Sepi. Tanpa interaksi. Obrolan ringan tak ada. Apalagi percakapan mendalam.

Tentu saja aku ingin hal beranjak lebih baik dari sini. Dari titik ini. Dari saat ini. Karena sejatinya sebuah hubungan adalah sebuah work in progress. Akupun demikian, sebagai seorang pribadi yang masih dalam tahap work in progress.

06 Apr 2022 Doa
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Ya Allah, Engkau Rabbku.

Aku hamba-Mu.

Rabb Yang Maha Mengetahui segala yang nyata dan tersembunyi.

Ya Allah, aku menyerahkan diri pada-Mu. Pada pengaturan-Mu. Pada kebijaksanaan-Mu yang tak tergapai oleh akal kerdilku.

Ya Allah anta As-Salaam. Dari-Mu As-Salaam. Dan pada-Mu kembalinya As-Salaam.

Ya Allah hamba-Mu ini hamba yang lemah. Hamba yang banyak sekali salah khilafnya. Hamba yang tenggelam dalam dosa. Ampuni hamba ya Allah dengan pengampunan-Mu yang Maha Luas. Rengkuh aku dalam rahmat kasih sayang-Mu yang luas dan tak terbatas. Engkau mengetahui segala doa walau tak terkata. Engkau mengetahui segala rasa walau hanya tersimpan di jiwa. Duhai Rabb, benar-benar aku hanya menyerahkan diriku pada-Mu.

05 Apr 2022 Penguasa Hati
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Saat hati tengah berat, ceritakan semua pada Sang Penguasa Hati. Minta diringankan, dikuatkan, dibersihkan sepanjang perjalanan di dunia ini. Masalah bisa luar biasa berat, tapi bila hatimu diberi kekuatan oleh Pemiliknya, ia akan mampu melampaui semua. Dan Pemiliknya yang paling tahu kadar kemampuan yang dapat ditanggung hamba-Nya.

Semua ujian di dunia ini adalah jalan untuk mengenal-Nya. Mengenal kebaikan-kebaikan-Nya. Beratnya masalah yang kau kembalikan pada-Nya lalu kemudian Dia beri kelapangan ibarat kenikmatan seorang musafir menemukan air pemuas dahaganya. Nikmaaat sekali. Kala pemahaman datang, semua yang dipelajari tidak lagi teori, tapi benar-benar sesuatu yang dijalani. Seperti pelajaran tentang sabar yang amat berat. Sometimes, things really get into your nerve. Aku masih harus sangat belajar banyak tentang kesabaran. Kesabaran yang indah. Fashobrun jamiil.

04 Apr 2022 My Blog My Right
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Sedari dulu, aku lebih nyaman mengeluarkan apa yang ada di benak dan pikiranku lewat tulisan. Aku seperti bermonolog dengan diriku sendiri. Menggali dalam-dalam apa yang ada di dalam. It’s my sanctuary. My comfort place. Jadi jangan heran kalau aku marah besar saat ada seseorang yang mengaturku apa yang harus kutulis, apa yang sebaiknya tidak kutulis. Kalau yang aku tulis memang sampah, ya biarkan sampahku itu keluar. Aku bukan menulis untuk menyenangkan orang lain. Bukan juga untuk menyinggung dan menyindir orang lain. Aku hanya mengeluarkan uneg-unegku. Keresahanku. Kesedihanku. Perasaanku. Kemarahanku. Makanya tanganku bergetar hebat saat harus membalas kata-kata yang mengusikku semalam. Ya Allah, apa hakmu teman? Ini daerahku. Jangan datangi kalau kau merasa nantinya akan merasa sakit. Aku juga sedang belajar menata hati. Menghadapi kesedihan-kesedihanku sendiri. Cara tiap orang berbeda.

Ini hari ketiga Ramadhan. Bulan suci. Bukannya aku mau memaki-maki. Justru aku mau masuk ke dalam diri. Kalau kau tergesek, jangan dekat-dekat. Tapi jangan halangi jalanku. Jangan ajari caraku. Kau punya cara lain, silakan gunakan caramu sendiri.

Selama beberapa waktu menjalani episode kehidupanku ini, aku belajar bahwa fokus ke kehidupan sendiri itu lebih baik. Jangan biarkan keadaan luar mengendalikanmu. Aku belajar menyambut dan melayani suami dengan baik saat ia berada di sisiku. Aku buat ia nyaman. Saat sedih aku menangis di pelukannya. Saat sedih kala sendiri saat dia tak ada, aku buat apapun yang membuatku nyaman. Aku main dengan anak, aku main game, aku menulis. Ya: menulis! Ini caraku. Sekali lagi, jangan ajari caraku!

Aku mohon ampun pada Allah atas segala salah dosaku. Maaf bila ada yang tersinggung dengan apa yang kutuliskan. Bila ada sampah-sampah emosi negatif dalam tulisanku, semoga dengan dituliskan bisa terbuang dan tersisa hikmah yang jernih sepeninggalnya.