23 May 2022 Hati yang Lapang
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Sabtu lalu, saat di mobil perjalanan pulang dari jalan-jalan ke taman, aku merasakan hati yang sangat lapang. Nyaman sekali. Semacam perasaan pemeliharaan Allah bahwa semua akan baik-baik saja. Seakan bagaimanapun keadaanku, apapun yang terjadi, ada tangan-Nya yang menangkapku. Seolah bila kujatuh, ada safety net yang menangkapku.

Hari Ahad, 22 Mei ini, aku bercerita kepada anakku yang 3 bulan lagi akan genap berusia 4 tahun. Menerangkan situasi dan kondisi Ayahnya dengan bahasa yang sesederhana mungkin. Bahwa Bunda adalah istri Ayah dan Ayah punya istri yang lain lagi. Aku sebutkan namanya. Dia tanpak mengerti. Jadi sekarang aku tak perlu ‘berbohong’ mengatakan Ayah sedang bekerja saat ia menanyakan ke mana ayahnya. Alhamdulillah 🙂

21 May 2022 Sabar dalam Amr
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Bagi seorang ibu, kesedihan seorang anak lebih memilukan daripada rasa sedihnya sendiri. Kata-kata polos anak yang diucapkan berulang kali: “Ayah kok kerjanya lama?” Atau “Ayah kok pulangnya lama.” Tak urung menimbulkan kesedihan di hati ibu.

Sabar ya Nak. Bersabar dalam amr Allah. Allah sebaik-baiknya penjaga. Akan dipenuhi-Nya nikmat untukmu lahir dan batin. Nabi Ismail as pun ditinggal hanya bersama ibunya di padang pasir tandus. Allah tidak menyia-nyiakan mereka. Bersabarlah dalam amr Allah.

16 May 2022 Communication After Polyginy
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Setelah menjalani pernikahan poligami selama beberapa waktu, ini yang dapat kusimpulkan sebagai istri dalam pernikahan poligami. Kurang intensnya komunikasi antar istri sekarang kupahami memang karena sulitnya posisi masing-masing, bukan karena salah satu pihak berniat buruk ingin memutus komunikasi. Maksudnya, by nature, posisi ini memang tidak mudah. Berikut beberapa alasannya:

  1. Tidak ingin mengganggu.
  2. Tidak ingin dicap ingin tahu urusan rumah tangga saudari madunya.
  3. Takut menyinggung perasaan. Kita tak pernah tahu bagaimana mood atau perasaan lawan bicara kita.
  4. Takut salah omong. Istri tidak pernah tahu bagaimana sikap suami kepada istri lainnya. Salah ucap bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman di salah satu pihak. Bukan tidak mungkin penyikapan suami beda dalam rumah tangganya dengan tiap istri. Tanpa sengaja bisa timbul rasa iri atau cemburu bila sikap suami berbeda.

Pada akhirnya aku menyimpulkan bahwa memang tiap RTT (Rumah Tangga Ta’addud) itu unik. Masing-masing punya caranya tersendiri yang nyaman untuk dijalani. Per saat ini aku memilih untuk menjalaninya masing-masing saja. Aku tidak menyimpan kemarahan tapi juga menjaga jarak aman agak tidak menyakiti dan tersakiti. I create my own space. I live my life as usual. Toh, suamiku tetap sama dulu dan sekarang. Ia hanya membagi sebagian waktunya dengan yang lain.

10 May 2022 Koko Putih
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Hari Raya kali ini aku harus mengambil alih tugas menyetrika asisten yang minta izin untuk memperpanjang liburnya karena ada keperluan ke luar kota. Aku berjibaku dengan bertumpuk-tumpuk pakaian yang belum disentuh berhari-hari. Sampai tiba ketika tanganku menyentuh sebuah koko putih yang warnanya berubah tak sebening dulu. Sudah putih keruh warnanya. Lalu terkilas tahun-tahun yang telah kami lalui bersama yang seolah menyadarkan: “Oh, telah sekian lama kami bersama…”

Betapa kenangan pada seseorang bisa bangkit begitu saja karena barang yang kita pegang, bau yang kita hirup, lagu yang kita dengar, foto yang kita lihat.

Ingatan itu lalu bercampur dengan endapan kesedihan kemarin malam. Membuat mata sedikit basah dan dada sedikit sesak.

Koko putih itu, dan banyak hal lainnya, adalah saksi perjalanan hidup kita bersama.

#cerita Jum’at lalu yang baru sempat kutulis#

10 May 2022 Roller Coaster
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Di taman hiburan, aku amat suka menaiki wahana yang menguji adrenaline. Rasanya seru walaupun ngeri. Kemarin kala menekuri perasaan yang naik turun seperti roller coaster aku berpikir, dengan safety belt atau pengamanan yang man-made saja aku bisa merasa aman jungkir balik dan terbolak-balik naik turun menaiki wahana. Bukankah sepatutnya aku merasa jauh lebih aman mempercayakan hidupku pada Yang Empunya jiwa manusia, yang menggenggam jiwa manusia dan mencengkram ubun-ubunnya? Sehingga walaupun hidupku terbolak-balik sedemikian rupa, aku tetap yakin bahwa ada Dia yang menjaga dan memeliharaku?