21 Jan 2022 Sabtu Kelabu
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Sabtu adalah hari terakhir kebersamaanku dengan suami dalam seminggu. Besok jadwalnya berpindah rumah.

Saat asik berselancar di sosial media, aku menemukan foto suamiku dengan istrinya yang bukan diriku. Itu bukan foto pertama, tapi sepertinya pertahanan diriku sedang lemah saat itu.

Kejadian selanjutnya bisa ditebak, aku menangis berjam-jam bahkan hingga malam harinya. Mataku sampai bengul, tulang rahangku sakit dan kepalaku pusing bukan kepalang. Aku berkali-kali bilang ingin lari dari pernikahan ini. Aku ingin menyudahi semua kepedihan ini.

Aku sempat mengirim pesan pribadi ke maduku, mengatakan bahwa aku memang mengizinkan dia menikah dengan suamiku tapi tolong bertenggang rasa tak perlu memamerkan kemesraan karena aku sesungguhnya juga sakit.

Suamiku hanya bereaksi dengan mengelus-elusku, memijitiku. Dia paham, tiada kata yang bisa meredakan kepedihan ini. Aku bilang padanya jangan pernah lagi foto berdua dengan mesra karena itu hanya akan menyakitiku. Aku juga berencana menutup albumku dengannya.

Ahadnya aku masih berat saat suamiku harus pergi. Keesokan Seninnya pun aku masih berat. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain banyak-banyak berdoa agar Allah melapangkan dadaku.

Tiba-tiba aku diberi keinginan untuk menulis di blog setelah maduku meresponku di WAG kami bertiga walaupun tak tuntas. Aku tuangkan semua yang ada di kepala dan hatiku. Alhamdulillah setelah menulis tiba-tiba hatiku plong sekali. Allah yang Maha Pembolak-balik hati telah memberiku ketenangan.

Aku berusaha mendudukkan persoalan pada porsinya. Asal muasal masalah adalah aku menjadi marah karena melihat, maka sekarang aku tak mau lagi melihat. Sebagai istri sebenarnya aku paham dia berhak melakukan itu. Jadi daripada meminta pihak lain untuk ‘bermurah hati’ tidak melakukan sesuatu yang kupandang menyakiti, lebih baik membentengi hati sendiri dengan tidak melihat ke luar pagar.

Juga opsi lain agar aku tidak berfoto lagi dengan suami akhirnya kunilai sebagai pilihan yang bodoh. Buat apa mengorbankan kebiasaan kami hanya demi orang lain. Aku bisa membuat pagar agar halaman rumahku juga tidak dilihat orang luar.

I choose my own battle. Ajaibnya, setelah memutuskan demikian, serasa ada beban berton-ton yang diangkat dari dadaku. Mungkin sebelumnya ada terselip niat memanas-manasi agar membuat cemburu. Sehingga setelah itu hilang, dadaku jadi ringan. Aku seperti kembali pada masa sebelum berpoligami saat aku bisa posting sesukaku tanpa berniat ini itu. Hanya ingin menyimpan kenangan indah bersama keluarga.

Aku juga jadi mengerti bahwa tidak bijaksana membatasi kebahagiaan orang lain hanya karena aku merasa berat. Biarlah dia bahagia dengan caranya. Toh, aku sudah jauh lebih lama merasakan kebahagiaan itu.

What doesn’t kill you makes you stronger. Terima kasih ya atas gesekan-gesekan ini yang sejatinya menjadikan hatiku lebih kuat. Mudah-mudahan semua jadi bisa didudukkan sesuai porsi masing-masing. Yaitu suami bisa berlaku adil dan berkasih sayang yang sama pada kedua istrinya.

Kebahagiaan orang lain itu sejatinya tidak mengurangi kebahagianmu kok bila hatimu bersih. Tak usah lihat kiri kanan, fokus saja pada kebahagiaanmu sendiri. Kamu punya banyak hal yang harus disyukuri.

Selasa, 18 Januari 2022. Finished 13.23.

17 Jan 2022 Istri Kedua
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Ini minggu ketiga aku ikut kelas menulis. Kok rasanya enak ya menulis terus. Jadi aku menuliskan apa yang ada di kepalaku.

Aku mau mencoba menempatkan diriku sebagai istri kedua. Kata orang, mencoba menempatkan diri di ‘sepatu’ orang lain akan membuat kita lebih berempati.

Pastinya akan banyak yang mempertanyakan kenapa mau jadi istri kedua? Apakah istri pertama tidak marah? Apakah kamu merebut istri pertama? Kenapa tidak mencari seorang yang lajang atau duda?
Belum lagi pertanyaan dari luar, mungkin aku juga akan bergelut dengan issue dalam diriku sendiri. Bagaimana penerimaan anak-anakku, keluargaku, terhadap suamiku yang juga adalah suami orang lain. Bagaimana kedudukanku di hati suamiku. Apakah aku dicintainya sepenuh hati seperti istri pertamanya? Akankah pernikahan ini bertahan? Apakah tidak akan gagal seperti pernikahan sebelumnya?

Dan sederet pertanyaan lain yang tidak mudah dijawab. Yang kubaca di beberapa literatur, istri kedua itu punya semacam perasaan inferior yang manifestasinya bisa bermacam. Ada yang menjadi lebih galak pada istri pertama, ada yang show off seolah suami lebih sayang kepada yang baru daripada yang terdahulu. Tapi ada juga yang baik yang mencoba berlapang dada dalam banyak hal. Yang sadar diri bahwa dia masuk belakangan sehingga harus mengikuti kebiasaan yang ada. Toh idealnya rumah tangga poligami itu seharusnya bersinergi, bukan berkompetisi.

Kalau aku mengandai diri jadi istri kedua, sepertinya dari awal aku akan sadar bahwa suamiku bukan sepenuhnya milikku. Aku jadi tidak bergantung pada suami, karena dia bisa pergi kapan saja. Aku harus mandiri.

17 Jan 2022 Membalik Perspektif
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Belum lama ini ada kejadian yang menyesakkan dada. Tak perlu kutulis kejadiannya apa. Sering kali, di ujung kesedihan, saat yang kuandalkan hanyalah doa, Allah memberiku kelapangan dengan membalikkan perspektif atau cara pandangku.

Saat hatiku sakit, Allah meneguhkanku dengan perasaan berbeda dari sebelumnya. Bila sebelumnya ada cemburu, kadang-kadang beralih jadi rasa kasihan. Bila sebelumnya sebal, malah berbalik jadi perasaan ingin menjadi penyokong utama yang setia.

Sayang, apa ya yang berubah setelah poligami ini? Rasanya kau makin mencintaiku. Obrolan-obrolan kita tetap cair. Kita sering tertawa walau tanpa bercakap sepatah kata. I want to be your biggest supporter. Saat lelah di luar sana, kau menjumpaiku sebagai tempat bersandar. Saat pusing, kau menemukanku sebagai tempat menenangkan pikiran. Maaf kalau sekali waktu justru aku yang jadi sebab kepusinganmu. Aku ingin terus mendampingimu. Sesekali aku ingin lari, tapi lantas terpikir, nanti siapa yang temanimu? Nanti siapa yang bisa membaca pikiranmu walau tanpa berkata. Dan sebaliknya, bagi diriku pun begitu. Siapa yang mengenaliku sebaik dirimu.

Aku mestinya bersyukur mendapat suami yang taat amr. Aku semestinya mendukung ia berlaku adil. Walau kadang amat berat buatku. Tapi hey, hidup kan ga cuma di dunia.

Hey You! Yang pandai menyimpan cerita dan aib. Aku tahu tak selamanya hal mulus terjadi di sana. Leburkan kesusahanmu padaku. Tak perlu bercerita. Dekap saja aku.

Sudah hampir 21 tahun loh kita bersama. Kalau dikumpulkan foto kita berdua, entah akan menjadi berapa album. Masa’ aku jadi pelit siy memberi kesempatan tetangga sebelah yang baru saja memulai babak barunya. Mungkin dia baru bahagia sekarang? Masa’ siy orang ga boleh bahagia. Mudah-mudahan kikisan-kikisan ini bisa menjadikan hatiku bersih. Bisa berbahagia yang tulus atas kebahagiaan tetangga sebelah, eh, orang lain. Karena sejatinya kau kan tak pernah hilang dari sisiku ya.

Ayo kita bikin setan nyungsep karena bisikan-bisikannya yang gagal total. Setan kan kalau orang pacaran digoda untuk selalu bermaksiat bersama. Kalau orang sudah menikah, malah dikipas-kipas agar berpisah. Maaf ya setan, dengan kekuatan dari Allah, insya Allah kita tetap solid. You may come home empty-handed karena gagal membuat runyam hubungan kami sebagai suami istri.

16 Dec 2021 .
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Takdir Allah, kadang tidak kita mengerti mengapa. Tapi aku yakin Dia adalah penenun yang rapi atas jalan cerita kehidupan tiap hamba-Nya. Di akhir cerita nanti, kita mungkin akan takjub pada sempurnanya jalinan kisah yang terjadi. Dan berkesimpulan: “Semuanya memang harus terjadi seperti itu. Tidak bisa lain!”

07 Dec 2021 One Liner (15)
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Some things are better left unsaid.