15 Jun 2020 Menulis
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Menulis adalah memasuki gua-gua kesunyian. Berpikir, merenung dan berbicara pada diri sendiri. Menemukan mata air jernih yang menyegarkan diri.
Ayo Diri, asingkan dirimu dari dunia! Cari Suara Tuhanmu dalam kesunyian itu.

06 Jun 2020 Sholat
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Sebuah jumpa temu Robb dan hamba-Nya
Hamba berdiri dengan hati pasrah jiwa berserah
Segala puji bagi Engkau ya Allah
Ya Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Pada-Mu kami menyembah dan memohon pertolongan

Tuhan menyambut dengan tangan terbuka
Hambaku, kau datang berjalan Aku datang berlari
Pintalah semua, akan Kuberi
Akulah Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Berdiri, ruku, dan sujudlah demi Keagungan-Ku.

17 Apr 2020 Umat Pertengahan
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas Matrikulasi Grup WhatsApp Nouman Ali Khan Indonesia

Dalam video ini Ustadz Nouman membahas tentang Surah Al-Baqoroh ayat 143.

Dan demikian itu Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu….”

Predikat istimewa yang disematkan Allah kepada umat Islam sebagai umat pertengahan membawa konsekuensi dan tanggung jawab yang berat yaitu menjadi saksi bagi seluruh umat manusia. Kita harus menjadi duta Islam bagi seluruh umat manusia. Kita membawa nama Islam ketika berbicara, membawa nama Islam ketika berprilaku, membawa nama Islam ketika berbisnis dan bergaul dengan orang lain. Kita terus menjadi saksi atas kemanusiaan bahwa seperti inilah umat Islam itu.

Konsekuensi menjadi saksi itu berat. Di Hari Pengadilan nanti orang di sekitar kita yang berinteraksi dengan kita akan bersaksi yang memberatkan bila kita tidak menjadi duta Islam yang baik. Jadi pilihannya antara dua: kita yang menjadi saksi atas mereka atau mereka yang menjadi saksi atas kita.

Selanjutnya dalam ayat itu juga disebutkan: ‘agar Rasul jadi saksi atas kamu sekalian’. Ini juga hal yang berat. Rasulullah di penghujung ayatnya meminta kita semua menjadi saksi. Beliau bertanya pada umat Islam: “Bukankah sudah aku sampaikan risalahku? Bukankah aku sudah melaksanakan tugasku sebagai Rasul?” Dan kita menjawab: “Ya, engkau telah menunaikan amanahmu dan engkau telah menasihati ummat.” Rasul menjawab: “Siapapun yang hadir hendaknya menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

Kita harus menjadi saksi yang baik atas umat manusia karena kalau tidak Rasul akan berhujjah atas kita di hari kiamat.

12 Apr 2020 Perpecahan Umat
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas Matrikulasi Grup WhatsApp Nouman Ali Khan Indonesia

Ceramah ini disampaikan Ustadz Nouman Ali Khan pada tahun 2013.

Ustadz Nouman membahas tentang Surah Asy Syuura (42) ayat 14.

“Dan mereka tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya ilmu karena kedengkian antara mereka. Kalau tidaklah karena ketetapan yang telah terdahulu dari Rabbmu sampai waktu yang telah ditentukan, pasti mereka sudah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang mewarisi kitab sesudah mereka benar-benar dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu.”

Allah berfirman dalam ayat ini tentang umat beragama yang berpecah belah satu sama lain. Mereka tidak berpecah-belah kecuali setelah turun ilmu pengetahuan kepada mereka.

Orang yang berilmu pengetahuan disebut ulama. Ulama semestinya menyatukan ummat. Tapi ada ulama yang justru menggunakan ilmunya tidak untuk menyatukan ummat. Mengapa demikian? Karena ‘baghyan bainahum’ atau karena kedengkian di antara mereka.

Ustadz Nouman berpendapat arti yang paling mendekati dari kata ‘baghyan’ adalah dorongan untuk mendominasi orang lain (urge to dominate the others). Ada rasa ego, rasa bangga diri, merasa diri paling penting yang bertujuan menaklukan atau mengalahkan orang lain.

Di sisi lain, perbedaan pendapat itu bisa menunjukkan kesombongan atau arogansi. Yaitu mereka yang meributkan suatu perkara karena egoisme bukan karena mencari kebenaran atas perkara itu sendiri. Bisa jadi sumber dalilnya sama-sama Al-Qur’an Dan Hadits tapi tujuannya bukan tulus mencari kebenaran melainkan membuktikan bahwa ‘saya benar’ dan ‘anda salah’. Hal inilah yang sangat perlu kita waspadai sebagai ummat.

Tujuan kita mengoreksi orang lain bukanlah untuk menjatuhkan mereka, bukan untuk menunjukkan betapa benarnya kita dan betapa salahnya mereka, melainkan karena kepedulian dan kasih sayang. Untuk itu koreksi seharusnya disampaikan dengan penuh kerendahhatian dan cinta.

Cara yang arogan dalam mengoreksi orang lain justru membuat argumen kita tertolak. Tidak ada orang yang senang merasa terkalahkan.

Ulama terdahulu memiliki adab yang mulia dalam berbeda pendapat. Pertama mereka mendoakan orang yang berbeda pendapat menyebut dengan kata ‘rahimahuLlah’ atau ‘yang dirahmati Allah’, lalu menyampaikan: “Saya berbeda pendapat dalam hal ini dan itu, saya berpendapat demikian.” Diakhiri dengan kata ‘waLlahu a’lam’ atau Allah Yang Paling Tahu kebenarannya.

Kalau cara kita salah mengoreksi orang lain, bukan kebaikan yang akan kita dapat, justru perpecahan dalam tubuh ummat.

Allah amat murka pada perpecahan ummat. Kalau tidaklah karena ketetapan yang telah ditetapkan terdahulu, Allah pasti akan menghukum ummat yang terpecah-belah.

Konsekuensi dari berpecah-belah ini ditanggung oleh generasi selanjutnya. Lafii syakkin minhu muriib. Syakk adalah keraguan yang menghapus kayakinan. Mereka akan ragu-ragu pada agamanya. Muriib adalah keraguan yang menghambat orang melakukan sesuatu.

Orang-orang muda yang melihat perpecahan ummat akan lari dari agama ini karena melihat orang yang dituakan saling menyalahkan satu sama lain. Anak-anak akan lari dari Mesjid. Karena bingung dan ragu-ragu, mereka meninggalkan agama keseluruhannya. Itulah konsekuensi dari perpecahan umat. Karena kita seringkali meributkan hal yang remeh, kita melupakan prioritas yang penting yaitu generasi muda kita. Mereka butuh teman untuk bicara.

Jadi jangan abaikan bahaya perpecahan dalam tubuh ummat. Prioritaskan generasi muda agar mereka tetap yakin pada agamanya.

05 Apr 2020 Reconnect With Qur’an
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi persyaratan Matrikulasi Grup WhatsApp Nouman Ali Khan Indonesia

Ceramah ini disampaikan Ustadz Nouman Ali Khan di Mesjid Istiqlal, Jakarta pada 6 Mei 2018.

Ustadz Nouman memulai ceramahnya dengan menceritakan kisah perjalanan Nabi Ibrahim as yang dari Surah Asy- Syu’araa. Kisah Nabi Ibrahim dimulai dari ayat 69.

Nabi Ibrahim hidup dalam masyarakat yang tidak beriman pada Allah. Mereka adalah penyembah berhala, termasuk ayahnya sendiri yang justru adalah pembuat berhala. Jadi dia satu-satunya yang menyembah Allah. Sampai akhirnya Nabi Ibrahim menyatakan ia berlepas diri dari kaumnya. Ketika pergi, dia berkata pada Allah.

Nabi Ibrahim berbeda dari Nabi yang lain dalam Qur’an. Kita akan mendapati lebih banyak doa dari Beliau ketimbang dari Nabi-nabi lain. Itulah sebabnya Islam juga disebut sebagai millati Ibrahim. Doa adalah pokok penting dari agama ini.

Dalam Asy-Syu’araa disebutkan Ibrahim berkata:
Ayat 78: “(yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku.”

Ayat 79: “Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku.”

Ayat 80: “dan apabila aku sakit, Dia yang menyembuhkanku.”

Allah menciptakan kita. Tapi manusia sering lalai dan menganggap penciptaannya hanyalah main-main saja sehingga ditegur Allah dalam Surah Al-Mu’minuun ayat 115: “Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main saja,dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”

Ibrahim as mengerti bahwa Allah tidak hanya menciptakannya, terpenting lagi, Allah memberinya petunjuk dalam hidup ini. Dan ini disebutkannya lebih dulu daripada Allah sebagai pemberi makan dan minum yang adalah kebutuhan pokok. Ini berarti hidayah Allah adalah lebih penting daripada kebutuhan makan dan minum. Kita tak butuh makan dan minum setiap saat. Tapi kita butuh hidayah Allah setiap saat.

Ada hal lain yang penting diperhatikan mengenai makanan. Karena Allah berfirman: “Dan hendaklah manusia memperhatikan makanannya.” (Surah ‘Abasa: 24). Ada perjalanan panjang dari sebuah makanan hingga tersaji di meja kita. Ambil contoh saja buah-buahan. Allah menumbuhkannya dari benih, menyiraminya dengan air hujan sehingga tumbuh besar menjadi pohon hingga bertahun-tahun lamanya, baru menghasilkan buah. Buah dipetik petani, dijual pedagang, lalu baru sampai pada kita sebagai pembeli. Sungguh panjang perjalanan dari sebuah makanan. Kita sepatutnya bersyukur atas setiap makanan yang telah Allah berikan pada kita.

Bayangkan bahwa Nabi Ibrahim as mengatakan ini dalam keadaan seorang diri, terasing dari kaumnya, tapi ia punya keyakinan penuh pada Allah. Ini yang seharusnya kita contoh. Untuk terus punya keyakinan penuh pada Allah sesulit apapun keadaan kita. Itulah sejatinya yang dapat dikatakan mengikut kepada millah Ibrahim.

Surah Asy-Syu’araa ayat 81: “dan Yang akan mematikanku Dan menghidupkanku (kembali).” Artinya mati dan hidup ada di tangan Allah. Ketika kita hidup saat ini, terlahir dalam agama apapun, kita diberikan Allah makanan, oksigen untuk bernafas dan diberikan kesempatan untuk mencari petunjuk Allah. Tetapi ketika kita mati nanti dan dibangkitkan kembali, yang terpenting adalah hidayah itu! Kita tidak dapat kesempatan kedua untuk mendapat hidayah saat dibangkitkan kembali.

Selaras dengan ayat selanjutnya, ayat ke- 82: “dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” Nabi Ibrahim tidak memikirkan kesalahan kaumnya atas dirinya, ia berfokus pada kesalahan dirinya sendiri.

Ayat 83: “Ya Tuhanku, berikan kepadaku hikmah dan masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang sholeh.” Ini artinya setelah mendapat petunjuk, Nabi Ibrahim meminta hikmah atau kekuatan untuk dapat melaksanakan petunjuk itu. Dan ia meminta dikumpulkan dengan orang sholih yang lain karena ia tahu butuh dukungan orang lain dalam menggenggam keimanan.

Ayat 84: “dan jadikan aku buah tutur kata yang baik bagi orang yang datang kemudian.” Nabi Ibrahim berdoa agar ia menjadi contoh di masa datang dengan adanya seseorang yang menceritakan kisah sebenarnya tentang dirinya. Ia berharap orang bisa belajar dan mendapat petunjuk dari kisah tentang ujian kehidupan yang dilaluinya dan bagaimana berpegang teguh pada keimanan. Ribuan tahun kemudian Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Hadirlah Rasulullah SAW yang menceritakan kisah Nabi Ibharim melalui Qur’an.

Ayat 85: “dan jadikan aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.”

Ayat 86: “dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia termasuk orang yang sesat.”

Nabi Ibrahim tidak mau mewarisi dari bapaknya karena bapaknya termasuk golongan mereka yang sesat. Nabi Ibrahim hanya berharap mewarisi surga dari Allah.

Ayat 87: “dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.”

Nabi Ibrahim memohon agar tidak dihinakan pada hari kiamat karena kekufuran bapaknya.

Ayat 88: “yaitu hari di mana harta dan anak-anak lelaki tidak berguna.”

Ayat 89: “kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Hanya satu hal yang bernilai pada hari pengadilan, yaitu qolbun saliim atau hati yang selamat. Harta dan anak tak akan berguna.