17 Apr 2020 Umat Pertengahan
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas Matrikulasi Grup WhatsApp Nouman Ali Khan Indonesia

Dalam video ini Ustadz Nouman membahas tentang Surah Al-Baqoroh ayat 143.

Dan demikian itu Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu….”

Predikat istimewa yang disematkan Allah kepada umat Islam sebagai umat pertengahan membawa konsekuensi dan tanggung jawab yang berat yaitu menjadi saksi bagi seluruh umat manusia. Kita harus menjadi duta Islam bagi seluruh umat manusia. Kita membawa nama Islam ketika berbicara, membawa nama Islam ketika berprilaku, membawa nama Islam ketika berbisnis dan bergaul dengan orang lain. Kita terus menjadi saksi atas kemanusiaan bahwa seperti inilah umat Islam itu.

Konsekuensi menjadi saksi itu berat. Di Hari Pengadilan nanti orang di sekitar kita yang berinteraksi dengan kita akan bersaksi yang memberatkan bila kita tidak menjadi duta Islam yang baik. Jadi pilihannya antara dua: kita yang menjadi saksi atas mereka atau mereka yang menjadi saksi atas kita.

Selanjutnya dalam ayat itu juga disebutkan: ‘agar Rasul jadi saksi atas kamu sekalian’. Ini juga hal yang berat. Rasulullah di penghujung ayatnya meminta kita semua menjadi saksi. Beliau bertanya pada umat Islam: “Bukankah sudah aku sampaikan risalahku? Bukankah aku sudah melaksanakan tugasku sebagai Rasul?” Dan kita menjawab: “Ya, engkau telah menunaikan amanahmu dan engkau telah menasihati ummat.” Rasul menjawab: “Siapapun yang hadir hendaknya menyampaikan kepada yang tidak hadir.”

Kita harus menjadi saksi yang baik atas umat manusia karena kalau tidak Rasul akan berhujjah atas kita di hari kiamat.

12 Apr 2020 Perpecahan Umat
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas Matrikulasi Grup WhatsApp Nouman Ali Khan Indonesia

Ceramah ini disampaikan Ustadz Nouman Ali Khan pada tahun 2013.

Ustadz Nouman membahas tentang Surah Asy Syuura (42) ayat 14.

“Dan mereka tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya ilmu karena kedengkian antara mereka. Kalau tidaklah karena ketetapan yang telah terdahulu dari Rabbmu sampai waktu yang telah ditentukan, pasti mereka sudah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang mewarisi kitab sesudah mereka benar-benar dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu.”

Allah berfirman dalam ayat ini tentang umat beragama yang berpecah belah satu sama lain. Mereka tidak berpecah-belah kecuali setelah turun ilmu pengetahuan kepada mereka.

Orang yang berilmu pengetahuan disebut ulama. Ulama semestinya menyatukan ummat. Tapi ada ulama yang justru menggunakan ilmunya tidak untuk menyatukan ummat. Mengapa demikian? Karena ‘baghyan bainahum’ atau karena kedengkian di antara mereka.

Ustadz Nouman berpendapat arti yang paling mendekati dari kata ‘baghyan’ adalah dorongan untuk mendominasi orang lain (urge to dominate the others). Ada rasa ego, rasa bangga diri, merasa diri paling penting yang bertujuan menaklukan atau mengalahkan orang lain.

Di sisi lain, perbedaan pendapat itu bisa menunjukkan kesombongan atau arogansi. Yaitu mereka yang meributkan suatu perkara karena egoisme bukan karena mencari kebenaran atas perkara itu sendiri. Bisa jadi sumber dalilnya sama-sama Al-Qur’an Dan Hadits tapi tujuannya bukan tulus mencari kebenaran melainkan membuktikan bahwa ‘saya benar’ dan ‘anda salah’. Hal inilah yang sangat perlu kita waspadai sebagai ummat.

Tujuan kita mengoreksi orang lain bukanlah untuk menjatuhkan mereka, bukan untuk menunjukkan betapa benarnya kita dan betapa salahnya mereka, melainkan karena kepedulian dan kasih sayang. Untuk itu koreksi seharusnya disampaikan dengan penuh kerendahhatian dan cinta.

Cara yang arogan dalam mengoreksi orang lain justru membuat argumen kita tertolak. Tidak ada orang yang senang merasa terkalahkan.

Ulama terdahulu memiliki adab yang mulia dalam berbeda pendapat. Pertama mereka mendoakan orang yang berbeda pendapat menyebut dengan kata ‘rahimahuLlah’ atau ‘yang dirahmati Allah’, lalu menyampaikan: “Saya berbeda pendapat dalam hal ini dan itu, saya berpendapat demikian.” Diakhiri dengan kata ‘waLlahu a’lam’ atau Allah Yang Paling Tahu kebenarannya.

Kalau cara kita salah mengoreksi orang lain, bukan kebaikan yang akan kita dapat, justru perpecahan dalam tubuh ummat.

Allah amat murka pada perpecahan ummat. Kalau tidaklah karena ketetapan yang telah ditetapkan terdahulu, Allah pasti akan menghukum ummat yang terpecah-belah.

Konsekuensi dari berpecah-belah ini ditanggung oleh generasi selanjutnya. Lafii syakkin minhu muriib. Syakk adalah keraguan yang menghapus kayakinan. Mereka akan ragu-ragu pada agamanya. Muriib adalah keraguan yang menghambat orang melakukan sesuatu.

Orang-orang muda yang melihat perpecahan ummat akan lari dari agama ini karena melihat orang yang dituakan saling menyalahkan satu sama lain. Anak-anak akan lari dari Mesjid. Karena bingung dan ragu-ragu, mereka meninggalkan agama keseluruhannya. Itulah konsekuensi dari perpecahan umat. Karena kita seringkali meributkan hal yang remeh, kita melupakan prioritas yang penting yaitu generasi muda kita. Mereka butuh teman untuk bicara.

Jadi jangan abaikan bahaya perpecahan dalam tubuh ummat. Prioritaskan generasi muda agar mereka tetap yakin pada agamanya.

05 Apr 2020 Reconnect With Qur’an
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi persyaratan Matrikulasi Grup WhatsApp Nouman Ali Khan Indonesia

Ceramah ini disampaikan Ustadz Nouman Ali Khan di Mesjid Istiqlal, Jakarta pada 6 Mei 2018.

Ustadz Nouman memulai ceramahnya dengan menceritakan kisah perjalanan Nabi Ibrahim as yang dari Surah Asy- Syu’araa. Kisah Nabi Ibrahim dimulai dari ayat 69.

Nabi Ibrahim hidup dalam masyarakat yang tidak beriman pada Allah. Mereka adalah penyembah berhala, termasuk ayahnya sendiri yang justru adalah pembuat berhala. Jadi dia satu-satunya yang menyembah Allah. Sampai akhirnya Nabi Ibrahim menyatakan ia berlepas diri dari kaumnya. Ketika pergi, dia berkata pada Allah.

Nabi Ibrahim berbeda dari Nabi yang lain dalam Qur’an. Kita akan mendapati lebih banyak doa dari Beliau ketimbang dari Nabi-nabi lain. Itulah sebabnya Islam juga disebut sebagai millati Ibrahim. Doa adalah pokok penting dari agama ini.

Dalam Asy-Syu’araa disebutkan Ibrahim berkata:
Ayat 78: “(yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku.”

Ayat 79: “Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku.”

Ayat 80: “dan apabila aku sakit, Dia yang menyembuhkanku.”

Allah menciptakan kita. Tapi manusia sering lalai dan menganggap penciptaannya hanyalah main-main saja sehingga ditegur Allah dalam Surah Al-Mu’minuun ayat 115: “Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main saja,dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”

Ibrahim as mengerti bahwa Allah tidak hanya menciptakannya, terpenting lagi, Allah memberinya petunjuk dalam hidup ini. Dan ini disebutkannya lebih dulu daripada Allah sebagai pemberi makan dan minum yang adalah kebutuhan pokok. Ini berarti hidayah Allah adalah lebih penting daripada kebutuhan makan dan minum. Kita tak butuh makan dan minum setiap saat. Tapi kita butuh hidayah Allah setiap saat.

Ada hal lain yang penting diperhatikan mengenai makanan. Karena Allah berfirman: “Dan hendaklah manusia memperhatikan makanannya.” (Surah ‘Abasa: 24). Ada perjalanan panjang dari sebuah makanan hingga tersaji di meja kita. Ambil contoh saja buah-buahan. Allah menumbuhkannya dari benih, menyiraminya dengan air hujan sehingga tumbuh besar menjadi pohon hingga bertahun-tahun lamanya, baru menghasilkan buah. Buah dipetik petani, dijual pedagang, lalu baru sampai pada kita sebagai pembeli. Sungguh panjang perjalanan dari sebuah makanan. Kita sepatutnya bersyukur atas setiap makanan yang telah Allah berikan pada kita.

Bayangkan bahwa Nabi Ibrahim as mengatakan ini dalam keadaan seorang diri, terasing dari kaumnya, tapi ia punya keyakinan penuh pada Allah. Ini yang seharusnya kita contoh. Untuk terus punya keyakinan penuh pada Allah sesulit apapun keadaan kita. Itulah sejatinya yang dapat dikatakan mengikut kepada millah Ibrahim.

Surah Asy-Syu’araa ayat 81: “dan Yang akan mematikanku Dan menghidupkanku (kembali).” Artinya mati dan hidup ada di tangan Allah. Ketika kita hidup saat ini, terlahir dalam agama apapun, kita diberikan Allah makanan, oksigen untuk bernafas dan diberikan kesempatan untuk mencari petunjuk Allah. Tetapi ketika kita mati nanti dan dibangkitkan kembali, yang terpenting adalah hidayah itu! Kita tidak dapat kesempatan kedua untuk mendapat hidayah saat dibangkitkan kembali.

Selaras dengan ayat selanjutnya, ayat ke- 82: “dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” Nabi Ibrahim tidak memikirkan kesalahan kaumnya atas dirinya, ia berfokus pada kesalahan dirinya sendiri.

Ayat 83: “Ya Tuhanku, berikan kepadaku hikmah dan masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang sholeh.” Ini artinya setelah mendapat petunjuk, Nabi Ibrahim meminta hikmah atau kekuatan untuk dapat melaksanakan petunjuk itu. Dan ia meminta dikumpulkan dengan orang sholih yang lain karena ia tahu butuh dukungan orang lain dalam menggenggam keimanan.

Ayat 84: “dan jadikan aku buah tutur kata yang baik bagi orang yang datang kemudian.” Nabi Ibrahim berdoa agar ia menjadi contoh di masa datang dengan adanya seseorang yang menceritakan kisah sebenarnya tentang dirinya. Ia berharap orang bisa belajar dan mendapat petunjuk dari kisah tentang ujian kehidupan yang dilaluinya dan bagaimana berpegang teguh pada keimanan. Ribuan tahun kemudian Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Hadirlah Rasulullah SAW yang menceritakan kisah Nabi Ibharim melalui Qur’an.

Ayat 85: “dan jadikan aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan.”

Ayat 86: “dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia termasuk orang yang sesat.”

Nabi Ibrahim tidak mau mewarisi dari bapaknya karena bapaknya termasuk golongan mereka yang sesat. Nabi Ibrahim hanya berharap mewarisi surga dari Allah.

Ayat 87: “dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.”

Nabi Ibrahim memohon agar tidak dihinakan pada hari kiamat karena kekufuran bapaknya.

Ayat 88: “yaitu hari di mana harta dan anak-anak lelaki tidak berguna.”

Ayat 89: “kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Hanya satu hal yang bernilai pada hari pengadilan, yaitu qolbun saliim atau hati yang selamat. Harta dan anak tak akan berguna.

28 Mar 2020 Islam itu Mudah, Kita yang Mempersulitnya
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi persyaratan Matrikulasi Grup WhatsApp Nouman Ali Khan Indonesia

Ayat utama dalam ceramah yang dibahas Ustadz Nouman pada konvensi tahunan MAS-ICNA ke-13 ini adalah Surat An-Nahl ayat 125:

“Serulah ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk.”

Dalam Bahasa Inggris kata ud’uu diartikan sebagai ‘invite’ atau ‘undanglah’. Ketika kita mengundang seseorang berarti kita mempunyai hubungan yang baik dan bersahabat dengan orang yang akan kita undang. Kita tak mungkin mengundang dengan cara yang galak, menghakimi dan merendahkan.

Poin selanjutnya ada pada kata ‘sabiili Robbik’ atau jalan Tuhanmu. Normalnya kita mengajak seseorang ke sebuah tujuan (destinasi) tapi di ayat ini justru ajakan itu adalah ke jalan (Tuhanmu). Artinya Allah tidak menilai seorang hamba dari sampai tidaknya ia kepada kesempurnaan iman, tapi dari usahanya menempuh jalan menuju-Nya. Ada yang sudah berjalan jauh, ada yang baru berjalan, tapi semua tak masalah selama masih berada di jalan Allah. Orang memasuki Islam dan mempelajari Islam dengan cara-cara yang berbeda. Ada yang cepat belajar ada yang lambat. Tapi semua itu dikatakan sukses jika masih berada di jalan Allah.

Sahabat Rasulullah yang merupakan ummat/generasi yang terbaik pun dilarang Allah untuk meminum khamar dalam beberapa tahapan, tidak sekaligus. Tapi ironisnya, kita kadang mengharap perubahan instan ketika berdakwah. Padahal bukan usaha kita yang bisa merubah seseorang, hanya Allahlah yang merubah. Ketika kita terlalu keras mengajarkan agama kepada seseorang, orang itu bisa patah semangat. Permudahlah, jangan persulit. Kita harus bersabar dan terus semangat dalam mengingatkan, karena kita tidak pernah tahu dari nasihat yang mana mereka akan berubah. Kita tak pernah tahu ‘benih’ nasihat mana yang akan tumbuh. Dan Allah pun menegaskan pada akhir ayat An-Nahl 125: Dia yang lebih mengetahui siapa yang sesat dan siapa yang mendapat petunjuk.

Jadi inilah masalah pertama, kita mengharapkan perubahan yang terlalu cepat dan terlalu keras dalam berdakwah. Masalah kedua, kita sering tanpa sadar memusnahkan harapan orang untuk masuk surga. Seakan surga hanya layak dimasuki oleh orang yang sangat baik dan alim, yang punya ilmu, pengetahuan dan amal yang amat banyak. Orang awam jadi merasa terintimidasi dengan banyaknya tuntutan sebagai prasyarat ke surga.

Ustadz Nouman mengisahkan tentang para pemuda Kahfi yang masuk surga hanya karena tidak mau menyembah kepada selain Allah. Itu saja. Tapi lantas kita yang membuatnya jadi rumit. Padahal hal yang pokok dan mendasar adalah bagaimana seseorang mengenal Rabbnya. Itu saja.

Ketiga, kita suka membuatnya terdengar seperti hanya orang terbaik saja yang bisa masuk ke surga. Padahal Allah membuka pintu surga lebar-lebar. Allah berfirman dalam Surat Al-Hadiid ayat 21: “Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah karena Allah diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

Ustadz Nouman mengecam praktek keseharian ibu-ibu yang seringkali mengancam anaknya dengan ancaman neraka atau ‘nanti Allah marah’. Ini bisa menanamkan anggapan salah semenjak kecil bahwa masuk neraka itu mudah tapi masuk surga itu amat sulit. Bagaimana Anda mengharapkan anak itu punya prasangka baik kepada Allah ketika dewasa? Punya harapan baik kepada Allah?

Keempat. Dalam Surat An-Nahl ayat 116 Allah berfirman “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan atas nama Allah.”

Kita mudah sekali menjatuhkan vonis haram atas segala hal. Hingga timbul anggapan ‘semua haram hingga terbukti halal’ padahal yang berlaku justru sebaliknya. Versi haram Anda, seringkali bukanlah versi haram Allah. Ketika kita berpikiran sempit maka penafsiran atas firman Allah dan ajaran Nabi menjadi sempit.

Kelima, tentang keikhlasan atau ketulusan. Tidak semua perbuatan baik yang dilakukan semata karena Allah saja yang mendapat ganjaran Allah. Perbuatan yang timbul dari perasaan belas kasih kepada sesama juga berpahala. Pekerjaan yang bersifat duniawi dengan tujuan mencari nafkah halal juga berpahala.

21 Mar 2020 Rediscovering Al-Fatihah
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi syarat Matrikulasi Grup WhatsApp Nouman Ali Khan Indonesia

Tulisan ini dibuat berdasarkan ceramah Ustadz Nouman Ali Khan di Suntec Singapore pada 7 September 2013.

Al-Fatihah adalah surah pertama yang turun secara lengkap kepada Nabi Muhammad SAW. Ada beberapa perbedaan pendapat tentang apa ayat pertama Fatihah. Sebagian berpendapat ayat ‘Bismillahirrahmanirrahiim’. Sebagian lagi mengatakan ‘alhamdulillahirobbil’aalamiin’ adalah ayat pertama. Ustadz Nouman sendiri mengambil pendapat yang kedua. Dalil yang diambil adalah Hadits Qudsy berikut ini.

Kata ‘hamd’ dalam bahasa Arab bisa berarti dua hal. Pertama, pujian (praise). Kedua, terima kasih (thanks). Dan keduanya adalah hal yang berbeda.
Kita bisa jadi memuji sesuatu tanpa berterima kasih padanya. Misalnya kita memuji mobil yang bagus. Kita memuji tapi tak berterima kasih padanya.

Rasa terima kasih kita ucapkan pada seseorang yang berjasa pada kita. Contohnya ungkapan terima kasih Nabi Musa as. kepada Fir’aun yang telah merawatnya waktu kecil. Nabi Musa berterima kasih tanpa memujinya. Dalam ayat lain juga Allah memerintahkan kita untuk berterima kasih (grateful) kepada kedua orang tua, tetapi kita tak boleh menaati orang tua bila mereka durhaka pada Allah.

Jadi alhamdu berarti almadhu (pujian) dan asysyukru (rasa syukur/ terima kasih) sekaligus. Pujian (madhu) kadangkala tidak tulus. Sementara rasa terima kasih (syukru) adalah ungkapan reaksi atas kebaikan seseorang. Jadi Allah menggunakan kata ‘hamd’ yang bermakna pujian tulus dan juga bukan kata yang merupakan reaksi atas sesuatu.

Alasan lain Allah menggunakan kata alhamdu adalah singkat dan jelas. Ada pepatah Arab mengatakan: “Khoirul kalaami maa qolla wa dalla” yang artinya “Sebaik-baiknya perkataan adalah yang singkat dan informatif (dapat menunjukkan)”.

Mengucap alhamdulillah diharapkan dapat membuat seorang muslim menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur dan memuji Allah dalam segala keadaan. Alhamdulillah membuat muslim jadi orang yang berpikiran positif.

Alhamd adalah kata dalam bentuk kata benda (noun), bukan kata kerja (verb), bermakna pujian pada Allah tak terikat pada waktu: dulu, kini, dan akan datang. Alasan kedua, kata kerja memerlukan subyek yang melakukan pekerjaan itu. Sementara kata benda dapat berdiri sendiri (independent). Allah ingin menegaskan bahwa Dia Ahad yang tak tergantung pada apapun dan siapapun.

Jadi dengan mengetahui makna alhamdulillah semoga menjadikan kita rendah hati dan optimis.

Alhamdu tidak dibuat dalam kata perintah (ihmaduLlah) karena perintah bisa dilakukan atau tidak. Allah tidak meletakkan ‘bola’nya di tangan hamba-Nya yang punya kemungkinan menolak atau menerima. Allah tak tergantung pada hamba.

Dalam Bahasa Arab suatu kata bisa bersifat informatif atau emosional.