06 Sep 2007 7 September, 8 Tahun Lalu
 |  Category: My Husband, My Marriage, My Self

Seingatku hari itu Selasa, 7 September 1999. Aku baru hendak masuk ke kelas Bahasa Indonesia yang akan dimulai pukul 2, ketika ia menyodorkan sebuah surat bersampul coklat kepadaku. ‘Buat Sahabatku Nurul Halida’.
‘Apa ini?’ tanyaku.
‘Baca aja sendiri’
Aku lantas bergegas ke Gedung B, di mana kelasku berada. Setelah mendapat tempat duduk di belakang di kelas besar itu, dengan rasa tak sabar yang meluap-luap aku segera merobek sampul surat itu dan membaca isinya. Dan ternyata dugaanku tak meleset! Meski tak ingin merasa GR duluan, tapi aku punya feeling akan ke arah sanalah isi surat ini menuju.


    Setelah merenung sekian lama, aku berkesimpulan bahwa aku harus menyegerakan pernikahan. Semakin lama aku menundanya, semakin besar peluangku untuk jatuh dalam kemaksiatan. Aku ingin menjaga kehormatan diriku melalui pernikahan.
    Akhirnya aku sadar hal itu perlu persiapan yang matang. Banyak hal yang harus dilakukan sebelumnya. Dan aku juga sadar, untuk beberapa hal aku belum punya persiapan. Namun, aku yakin, jika apa-apa yang kulakukan demi mencapai keridhoan Allah, pasti Allah akan membantu.
    Dan semenjak aku mengenal Nurul, ada perasaan mungkin Nurul adalah orang yang tepat bagiku. Nurul dalam pandanganku adalah seorang wanita yang selalu berusaha menjaga kehormatan diri, seseorang yang berusaha mematuhi perintah Tuhannya. Seorang wanita yang mau meluangkan waktu untuk memahami Islam dengan lebih baik, dan menjadikan dakwah sebagai salah satu tugas utama.

    Aku ingin memilih Nurul untuk menjadi pendidik bagi anak-anakku kelak. Aku ingin menjadikan Nurul sebagai tempatku berkeluh kesah saat ditimpa kesulitan, menjadi penasehat kala aku kebingungan, menjadi penghiburku ketika bersedih, memberiku semangat ketika motivasi untuk melakukan sesuatu tak kunjung datang, dan menjadi penyejuk pandangan ketika hati ini gundah gulana.
    Mungkin angan-anganku tentang sebuah keluarga terlalu berlebihan. Tapi yang pasti, setiap orang berhak punya cita-cita. Dan tak ada yang mustahil jika kita mau berusaha. Semoga Allah memberiku surga di dunia berupa keluarga yang sakinah.

    Aku tak tahu pasti apakah aku tergesa-gesa ingin menikah ataukah ingin menyegerakannya. Mudah-mudahan aku termasuk orang yang ingin menyegerakan.
    Jika Nurul yakin dan memberiku kepercayaan, insya Allah aku akan menjaga amanah yang diberikan kepadaku. Jika Nurul tidak cukup yakin dan masih ragu-ragu, mungkin kita bisa berta’aruf untuk lebih mengenal. Dan jika Nurul menolak, mungkin kita bisa menjadi sahabat yang baik dengan saling nasihat menasihati. Apapun jawaban Nurul, aku akan berusaha untuk menerimanya dengan lapang dada.
    Seandainya Nurul menerima ajakanku ini, kita bisa segera mempersiapkan diri sejak awal menuju pernikahan. Mungkin akan memakan waktu yang lama. Tapi yakinlah, persiapan yang matang jauh lebih baik daripada ketergesa-gesaan.

Begitulah penggalan surat 5 lembar yang sontak membuatku bingung itu. Reaksi spontanku waktu itu adalah kaget dan terharu berkaca-kaca. "Waduh gimana nih caranya bilang ke ortu.  Baru  18 udah ada yang ngajakin nikah". Akhirnya surat itu kuberitahu ibuku seminggu setelahnya.  Ibuku pun kaget seolah tak percaya sambil setengah meledek anaknya yang masih bau kencur ini.

Tapi proses selanjutnya tidak semulus yang orang kira. Begitu banyak pergolakan batin dan pikiran yang berkecamuk dalam diriku. Yang terutama adalah perbedaan pola pikir (fikroh) antara kami. Aku yang sebenarnya amat pemalu kepada lawan jenis ini, sampai nekat mengorek-ngorek informasi dari orang-orang yang kunilai cukup dekat dengan si dia ini. Mulai dari teman satu asrama, sampai kakak kelas yang sering jadi teman diskusinya. Saking seriusnya, pake surat-suratan segala lagi dengan sang nara sumber.

Karena begitu banyak keragu-raguan, hubungan kami jadi sempat tarik ulur antara iya dan tidak. Sampai akhirnya dia memberi ultimatum tanggal 13 Mei 2000. Kalau aku menjawab tidak, maka dia akan memulai proses dengan seseorang yang lain demi mencapai niat tulusnya untuk menyegerakan pernikahan.

Alhamdulillah, saat itu aku menjawab iya. Dan kusadari kini bahwa itu adalah keputusan yang paling tepat sepanjang hidupku. He’s the best thing ever happenned to me.

Ternyata segala kecemasan, kekhawatiran dan ketakutanku dulu sama sekali tak terbukti. Malah kalau aku flash back lagi sekarang, aku merasa konyol dengan segala paranoia ku yang berlebihan dulu.

He’s everything I can hope for and more…

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

7 Responses

  1. 1
    ess 

    Selamat mengenang masa lalu yang sangat penting dalam kehidupan Nurul ya… Syukur Allah menunjukkan jalanNya….

    Tapi emang bener tuh, kalau ada yang serius, meski kita seneng, harus ditanya2 dulu kiri kanan gimana dia… *kalau sekarang lebih enak kali, ya, tanyain, punya FS gak??” hehehe

  2. 2
    Poppie 

    Selamat ya Nurul! Menikahnya kapan? Berapa lama sejak kata ‘ya’ terus nikah??
    he he he….pertanyaannya kayak polisi aja ya

  3. 3
    nurulnoer 

    Mba Etty bisa ajah! FS kan juga bisa menipu, kalo yang ditulis yang bae2 aja.
    Alhamdulillah,akhirnya aku ga salah pilih.

    Nikahnya 11 Maret 2001 Bu Pop.
    Setahun setelah kata ‘iya’.
    Seminggu setelah nikah,langsung Ujian Tengah Semester. Asik kan Bu, honey moon nya di ruang ujian. Haha…

  4. Sebagai salah satu pembaca surat itu juga, jadi ikut terharu….gak terasa udah 8 tahun ya Nuy?

  5. 5
    Muhammad 

    Buat istriku tercinta, terima kasih telah memberiku kepercayaan. Semoga Allah mengekalkan cinta kita untuk saling membantu dalam memperbaiki diri, menjadi sepasang merpati yang terbang tinggi.

    Mohon maaf kalau dulu harus sampai memberi ultimatum segala karena diriku harus segera memutuskan. Tentunya apa yang terjadi sekarang juga bagian dari rahasia-Nya. Semoga apapun yang terjadi hari ini atau esok akan senantiasa menjadi penguat dalam keberserahdirian.

  6. Wow,
    that’s great….
    Aku bersyukur menjadikan keluarga kalian sebagai sahabat keluarga kami…
    Semoga bisa saling mengisi…

  7. 7
    nurulnoer 

    Kamu baca juga ya Sof? Waa,sampe ga inget siapa-siapa aja yang dulu sempet baca. Jangan-jangan hampir semua akhwat FEUI ’98. Jadi mo malu..surat cinta diobral-obral.. 😀

    Bapake Apat, kalo ga jadi sama aku, who will be your next candidates?
    Love u always, honey!

    Madaff, baru tau kan, the story behind the scene?
    Allah memang Pembuat Skenario
    terbaik.
    Thank You Allah, for giving him as the answer of my pray…

Leave a Reply » Log in