Author Archive

26 Apr 2012 Titipan
 |  Category: My Family, My Kids, Refleksi  | Leave a Comment

Anak-anak itu telah Kau titipkan padaku, Tuhanku. Dengan segala kekuranganku kumenerima mereka titipan-Mu yang indah itu yang sering ku tak menyadari keindahannya.

Kau izinkan mereka tumbuh dalam rahimku dengan Ke-Rahim-an- Mu. Ajari aku Tuhanku bagaimana mendidik dan membimbing mereka.

Limpahkan kesabaran luar biasa yang tak terlupa meskipun badan dan ragaku tengah letih.

Betapa aku menyayangi mereka: anak-anakku. Anugerah terindah dalam hidupku.

Terima kasih Tuhanku atas titipan-Mu.

16 Jan 2012 Kembali Pulang
 |  Category: Uncategorized  | One Comment

I guess I have to write down my priority. Time is running so fast. Mau nangis rasanya melihat hidup yang begini kacau balau. Tak tahu bagaimana nilainya di hadapan Yang Mencipta Hidup.

Kadang terasa sangat sepi dan kosong makna. Jalannya hanya satu, kurasa. Mengembalikan semua kepada-Nya. Membenahi ibadah -membenahi statusku sebagai abdi-Nya. Membenahi hati -sebagai sarana komunikasi dengan-Nya. Tuhan…tunjukkan yang benar sebagai kebenaran dan berilah kekuatan untuk mengikutinya. Aku tak mau terhanyut dalam buih dunia yang kosong dan tanpa makna. Yang membuatku hanyut entah ke mana. Tersesat jauh dari tujuan Kau menciptakan aku.

Terima kasih atas secercah kesadaran yang Kau beri sore ini.

Sg, Monday, Jan 16, 2012

12 Jan 2012 Insan Bermanfaat
 |  Category: Refleksi  | Leave a Comment

Menyendiri dapat membuka diskusi intens dengan pikiran kita sendiri. Aku duduk sendiri tanpa teman di bus umum pagi ini. Melihat Pak Sopir di belakang kemudi tiba-tiba terbersit pertanyaan: “Apa ia pernah bercita-cita menjadi sopir sewaktu kecil?” Pertanyaan kemudian berlanjut : “Akan jadi apakah anak-anakku nantinya?”

Lalu bus melintasi sebuah gedung yang sedang dibangun dan terlihat beberapa pekerja berkulit hitam legam. Atas tenaga dan kerja keras merekalah gedung-gedung megah ini berdiri. Sungguh Allah menyiptakan berlainan keadaan kita agar kita dapat saling mempergunakan satu sama lain.

Sopir, pekerja bangunan, mungkin tak seberapa penghasilan mereka. Aku pun tak bisa menerka akan menjadi apa anakku nantinya. Yang pasti doaku adalah, mereka jadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Tidak penting seberapa penghasilan mereka nantinya, yang penting adalah kehadiran mereka membawa manfaat bagi orang lain.

Seperti manfaat yang kurasakan dari jasa Pak Sopir yang memungkinkan aku untuk sampai ke sekolah anakku pagi ini.

04 Des 2011 Mengapa Ibu yang Wafat saat Melahirkan mendapat Syahid
 |  Category: Refleksi  | Leave a Comment

Semua wanita yang pernah merasakan sendiri pengalaman melahirkan pasti tahu beratnya perjuangan mempertaruhkan nyawa demi kelahiran sesosok jiwa ke alam dunia ini. Tapi poin utama status ‘mati syahid’ yang hendak kutulis di sini tak hanya karena itu.

Bayangkan bahwa tiap detik dalam hidup kita dapat diisi dengan berjuta kemungkinan aktivitas atau keadaan yang secara merdeka dapat kita pilih. Kita dapat memilih untuk tidur, makan, menulis, atau bahkan melamun saja. Dalam semua keadaan itu, bila perangkat hati kita belum sedemikian bersih, maka kita tidak tahu apakah yang kita pilih itu bersesuaian betul dengan Kehendak Allah per saat itu.

Life is a series of gambling. Amal baik belum tentu amal sholih. Dosa adalah segala sesuatu yang tidak disukai Allah. Setiap waktu ada amalnya dan setiap amal ada waktunya. Dalam kekelaman hati yang belum bisa membaca Kehendak-Nya, maka kita betul-betul dalam keadaan menebak dan meraba apa amal sholih yang dituntut per saat ini. Per detik ini.

Nah, keadaan sakit mulas yang luar biasa saat melahirkan adalah sesuatu yang alami datang tanpa diundang (well, sepertinya kukecualikan dulu ya persalinan dengan bantuan atau C-Section). Si bayi lahir ke fase alam dunia dengan Titah Sang Maha Kuasa: ‘Kun Fayakun’. So it’s just like hitting the centre point of a Russian Dart when it all happens: ‘Bull’s Eye!’ Per detik itu memang itulah yang menjadi Kehendak-Nya. Maka seorang Ibu yang wafat pada saat itu –dan tentu saja ikhlas menjalaninya- benar-benar dalam keadaan (state) menemui Dia Ta’ala dalam menjalani Kehendak-Nya per saat itu. Did you see my point? Dan karena kesesuaian yang sempurna antara makhluk-Kholiq itulah maka ia mendapat syahid.

Mungkin ada yang bisa melengkapi dengan dalil?

Just my two cents!

(37w4d — sedikit hari saja menjelang kehadiranmu)

Chiltern Park, Friday, Dec 2,2011, 02.39

27 Jun 2010 Teman Hidup
 |  Category: My Husband  | 6 Comments

Saat aku menulis ini, teman hidupku tengah beratus kilometer jaraknya. Mengemban tugas mulia yang diamanahkan di pundaknya. Kami berkembang dan mengejar mimpi bersama. Membesarkan anak-anak sebaik yang kami mampu. Mengasihi mereka dengan segenap kasih yang kami punya. Memberi kenangan indah bermakna dalam lembaran album kehidupan mereka.

Agak sulit membayangkan bagaimana hidup sendiri tanpa separuh nyawaku. Sunyi. Sendiri. Sepi. Bagai dunia kehilangan separo warna cerianya.

Padamu Sayang, kuabdikan diriku utuh.