Author Archive

28 Jun 2009 Have You Comb Your Hair Today?
 |  Category: My Self  | One Comment

Have you comb your hair today? May be this is just a simple question. Sudahkah Anda menyisir rambut hari ini? Tapi coba tanyakan ini pada ibu rumah tangga yang tidak harus keluar rumah setiap hari. I bet, tidak semuanya akan menjawab ‘sudah’. Dan aku mengaku termasuk satu di antaranya. I don’t know, is this just me as a lazzy stay-at-home mom yang –sayangnya- tidak begitu memperhatikan penampilan, ataukah ada ibu-ibu lain yang juga mengalami hal demikian? Yang kutahu ibuku seringkali begitu. Membiarkan rambutnya kusut tak tersentuh sisir dan hanya mengikatnya seadanya saja. Dan pernah seseorang yang kukenal juga berkata: “Nyisir aja ga sempet…” So I guess, I’m not alone in this.

Yang ideal tentu saja setiap hari menyambut suami dengan penampilan terbaik. Wajah kinclong, bermake-up bila perlu, rambut tertata rapi, tubuh segar dan wangi sehingga enak didekati dan dipeluk mesra (though my husband still did this eventhough I’m rather ‘smelly’, hahaha. Thank you, Honey…). Entahlah, meski tahu yang ideal seperti apa, kadang rutinitas seolah membuat terlupa. Atau mungkin ini hanya sekedar masalah habbit, dan fokus perhatian yang memang tidak ke arah situ (buktinya, toh, aku masih sempat facebooking, hehe).

Tapi mungkin akan datang masanya aku memang benar-benar tak sempat untuk sekedar berkaca di depan cermin. Contohnya mungkin kelak dengan hadirnya my upcoming baby. Pasti sempat sebenarnya menyisir rambut yang notabene cuma menghabiskan waktu beberapa menit saja. Hanya saja, karena itu seringkali berada di luar prioritas, maka seringkali terlupa atau terlewatkan begitu saja.

Memang kadang tidak mudah menyeimbangkan peran sebagai ibu, istri dan diri sendiri. Diri sendiri seringkali be put behind everything else. Jadi prioritas yang melulu belakangan, bahkan kadang tak masuk daftar prioritas. Too shame to admit.

Jadi jangan ditanya ya, kapan terakhir kali aku ke salon (bahkan ingat kapan pun aku tidak). Karena rambutku tersentuh sisir pun sudah untung.

So, ladies especially mommies, have you comb your hair today?

Sunday, June 28, 2009, 09.14

24 Jun 2009 Istimewa
 |  Category: My Self, Refleksi  | Leave a Comment

Hati bisa demikian cepat berbolak-balik. Sesaat merasa sedemikian kering, tapi kemudian terasa sejuk bagai disirami hujan. Ini kejadian berharga yang kualami hari ini.

Tadi sore, seperti biasa, aku berhadapan dengan serangkaian tugas dan pekerjaan rumah. Kondisi badan cukup segar, karena baru saja beristirahat siang. Hanya secara emosi memang merasa agak rapuh karena sedang bosan dengan rutinitas yang ada. Kadang merasa bahwa semua yang kulakukan tiap hari tanpa henti bagai tak ada sambungannya ke ‘atas sana.’ Life is just a bunch of routines. Meski secara teoritis kita pasti tahu bahwa ini semua harus dilakukan karena Allah. Tapi tetap saja aku tidak bisa memakan teori itu untuk menekan kekeringan yang tengah terasa. Kita bisa ‘tahu’ tanpa bisa ‘merasa’. Padahal ‘rasa’ itulah yang penting.

Puncaknya terasa saat aku yang baru saja usai sholat Ashar mendengar anak-anak- Aslam dan Halim- berantem seperti yang biasa mereka lakukan. Lumrah, namanya juga anak-anak. Halim menangis kencang, padahal ia tengan minum susu. Dan seperti kebiasaannya, ia seringkali muntah kalau menangis kencang. Akhirnya memang itulah yang terjadi. Lantas kumandikan ia dan abangnya sekaligus. Di dalam kamar mandi mereka berdamai. Saling mengelus, berjabat tangan dan tertawa kembali. Pemandangan yang indah.

Usai itu aku membersihkan muntahan dan mengepel. Tiba-tiba ada rasa sesak yang mendesak. Haru yang entah datang dari mana. Rasanya ingin menangis saja. Feel so emotionally drained. Lelah. Tapi tidak secara fisik.

Tidak, jangan sarankan aku untuk lantas memperkerjakan asisten rumah tangga. Secara fisik aku insya Allah masih kuat. Justru aku merasa lebih attached ke anak-anak dengan menjadi single fighter seperti ini. Bukan itu sebabnya. Hanya saja emotional drain ini terjadi karena aku gagal menemukan ‘sambungan ke atas’. Disorientasi, ringkasnya.

Tapi akhirnya, air mata itu tak jadi tumpah, meski walau tumpah pun mestinya tak apa. Pekerjaan terus berlanjut ke yang lain-lain. Cuci piring dan menyuapi anak-anak.

Usai Sholat Maghrib aku tadarusan sebentar. Dan terjadilah kejadian penting kedua. Bagai dibalasi jawaban langsung oleh Dia Ta’ala, yang lantas membuatku benar-benar tak bisa menahan tangis. Bahkan sampai kinipun saat menulis ini. Hadiah indah ini terasa saat aku sampai di Surat Shaad ayat 75: “Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang telah menghalangi kamu untuk sujud kepada yang telah Ku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu termasuk orang-orang yang lebih tinggi?”

Ah, aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya menangis. Secara instan aku merasa langsung menemukan sambunganku ke atas. Aku merasa istimewa. Karena aku manusia, yang Dia ciptakan dengan Kedua Tangan-Nya.

Terima kasih atas pelajaran indahmu hari ini ya Allah…

Wednesday, June 24, 2009, 18.25

19 Jun 2009 “Ah, Masku Tersayang…”
 |  Category: My Husband  | 3 Comments

“Pernah berantem ga selama menikah?” Pertanyaan ini sering sekali mampir di telingaku. Mungkin dikarenakan di antara teman-teman seangkatan aku termasuk yang paling dulu menikah, jadi mereka ingin belajar dengan menggali dari pengalamanku.

Dan selalu kujawab: “Pernah, tapi sangat jarang sekali.” Dan memang demikian adanya. Berantem yang agak besar pernah terjadi waktu kami baru-baru menikah dulu. Tak banyak. Mungkin hanya sehitungan sebelah jari tangan. Namanya saja berumah tangga. Sekali dua kali pasti ada toh saat suami istri tidak cocok dan berselisih paham. Dan kurasa itu memang perlu. Agar masing-masing pihak bisa lebih mengerti, memahami dan mendalami satu sama lain. Membongkar sifat dan tabiat jelek dari masing-masing dengan berkaca pada cermin pasangan yang jujur menampakkan apa adanya kita.

Dan sejauh delapan tahun lebih kebersamaan kami, tentu saja aku banyak belajar. Tidak, jangan anggap aku sebagai orang yang super sabar yang mampu menahan amarah dalam setiap situasi dan kondisi. Atau orang yang mampu menelan kemarahan dan menahan kekesalanku saat berhadapan dengan keadaan yang tidak menyenangkan. Tidak. Belum. Sayangnya aku belum sampai pada tahap itu dan masih harus banyak belajar.

Jujur saja, alasan kenapa kami jarang sekali berselisih adalah terutama karena suamiku yang amat pandai sekali menahan emosi. As many people know, dia punya kecerdasan emosional yang tinggi. There goes saying: “Takes two to tango” Benar bukan? Always takes two to start a fight.

Aku sungguh masih punya banyak sekali sifat keras kepala dalam diriku. And he knew that pretty well. Aku bukan tipe istri yang selalu “iya Mas” saat dia memberitahu dalam hal apapun. Selalu ada: “Tapi kan, begini….” Atau: “Gini juga bisa…” And I guess, dia sudah bisa menerima diriku yang begini ini sebagai nasib, yang berusaha dia ubah secara perlahan dengan cara yang halus.

He knows pretty well how to treat me. This is just a simple example. Kalau misalnya dia ingin dibuatkan teh saat tengah malam masih sibuk bekerja, dia tidak memintaku dengan ‘direct order’ yang pastinya akan terasa berat bagiku. Dia membahasakannya dengan sangat santun. “Bunda, cape nggak? Mas mau teh manis donk…” Duh, duh, istri mana yang bisa menolak diminta demikian.

Pernah suatu kali aku marah-marah padanya lewat SMS, waktu itu seingatku ia sedang pergi ke Jakarta selama 2 hari: “Mas, telfon kok ga bisa keluar, Mas lupa bayar tagihan ya? Mana internet ga bisa lagi. HPku mati baterenya abis, chargernya Mas bawa lagi. Gimana sih?”
Dan lucunya, respon balasan dia singkat saja: “Jangan mengeluh.”
Aku jadi geli membacanya (tentu setelah hati agak mendingin). Tapi bukan Nurul kan kalo tidak memberi respon balasan. “Iya, tapi kalo ada emergency gimana…” Dasar…dasar…istri berbudi yang pintar menjawab.

Dalam hal menghadapi anak juga Beliau sering menasehatiku dan memberi masukan. Tentang ini, insya Allah akan kutulis dalam posting terpisah lain kali.

Thank you for all, Honey…God bless you…

Written: Friday, June 19, 2009, 10.20

07 Jun 2009 Lost Tempered
 |  Category: My Family, My Kids, My Self  | One Comment

Anak-anakku bermain bagai tak ada lelahnya hari ini. Berulang kali aku gagal menyuruh mereka tidur siang seperti biasanya. Sampai masuk petang, mereka masih asik bermain bagai tak kenal kantuk. Main air di kamar mandi. Menceburkan lego ke dalam kloset dan bak mandi. Setelah kumarahi dan kuminta keluar, arena bermain pindah ke halaman berpasir. Kenakalan khas anak-anak sebenarnya, tapi entah kesambet setan mana, aku langsung keras membentak mereka: “Ayo tidur !! Dari tadi Bunda suruh tidur ga ada yang mau tidur…” Aku mulai bertanduk. Kemarahanku mengeskalasi begitu cepat. Aslam kurenggut keras dan kupaksa pipis, lalu kugendong ke atas kasur. Halim pun demikian. Ia menangis keras dan bergegas turun segera setelah kuangkat ke kasur. Tapi kuangkat lagi ke tempat tidur meski ia terus meronta. Alfath dengan ketakutan juga ikut naik tanpa dikomando. Mas yang sedang di ruang atas langsung turun demi mendengar kegaduhan itu. Ia segera berinisiatif mengambil alih anak-anak dan mengeloni mereka, sementara aku secepat kilat menyambar sapu dan membersihkan seluruh rumah. Benar saja, mungkin karena kelelahan, dalam lima menit semua langsung terlelap. Mas lalu berbaik hati turun tangan mencuci piring (mudah-mudahan bukan karena takut pada istri yang sedang panas, karena sungguh aku tak memintanya melakukan itu). Dalam sekejap semua beres karena aku bekerja bagai kesetanan. Menyapu lantas mengepel bersih semua. Setelah itu langsung Sholat Maghrib.

Dalam sholat aku menangis menyadari kekasaranku pada buah hatiku. Menyesali renggutan kasar dan bentakan yang tak sepantasnya mereka terima. Aku lantas mengunci pintu. Ingin menikmati tangisku sendiri dengan memandangi, mengelus dan menciumi mereka. Tak kubukakan pintu meski Mas mengetuk ingin masuk. Duh, wajah-wajah polos dan lugu itu…ampuni aku ya Allah, telah mengkhianati amanah yang Kau anugrahkan padaku. Zalim sekali diri ini.

Penyesalan memang selalu datang terlambat. Ya Allah… aku sungguh berdosa telah menyakiti hati mereka, telah menorehkan luka di jiwa bening mereka. Kata orang, penyesalan mendalam itu datang terutama ketika memandangi wajah damai anak-anak saat tertidur lelap. Dan itu juga yang kurasakan. Kupandangi wajah polos mereka satu persatu. Ya Allah…betapa jahatnya aku. Padahal jika mereka sakit, aku akan menangisinya dan bahkan rela bertukar tempat dan menanggung rasa sakit yang mereka derita. Tapi kenapa kini, justru aku yang menorehkan sakit yang meski tak tampak zhahirnya tapi pasti membekas dalam pada jiwa mereka. Allah…ampuni aku. Maafkan Bunda ya anak-anakku sayang. Mudah-mudahan lain kali, kasih sayang dan akal sehat Bunda akan mengalahkan kemarahan Bunda.

Saturday, June 06, 2009, 22.06

06 Jun 2009 Bunga Rumput
 |  Category: Serba-serbi  | Leave a Comment

Ada orang yang hidupnya kelihatan sangat biasa saja. Begitu datar dan tenang. Tak pernah menonjol di keramaian. Never been under the spotlight. Tak pernah jadi peran utama, hanya seperti figuran yang ada tiadanya tampaknya tidak terlalu berpengaruh. Pencapaian hidupnya biasa saja. Personifikasinya sangat umum tanpa ciri khusus. Kalau aku melihat beberapa teman yang seperti ini, aku sering menganalogikannya sebagai bunga rumput. Begitu simpel dan sederhana. Tidak seperti mawar yang merah merekah yang menarik perhatian setiap orang yang lewat. Tidak juga seperti melati yang memikat insan dengan harumnya. Hanya bunga rumput yang ringan dan mudah tertiup angin. Mungkin si empunya diri juga berpikir demikian.

Namun sejatinya tidak ada sesosok jiwapun yang kehadirannya tidak membawa arti. Kita hadir di dunia ini, must be for some reasons. Walaupun bagi orang kita biasa saja, tapi kita mesti memaknai kehidupan ini sebagai berkah. Menggali apa yang terbaik darinya. Mensyukuri dengan dalam adanya kita sebagai manusia.

Bunga rumput: dia seolah terlupa, tapi ada.

Written: Saturday, June 06, 2009, 03.31