Author Archive

30 Mar 2009 Catatan Pertama setelah Pernikahan
 |  Category: My Husband, My Marriage  | 5 Comments

Hari ini genap 8 tahun kebersamaan kami. Sebagai sebuah perayaan kecil, kuposting catatan harian yang kubuat tak lama setelah pernikahan kami. Semoga dapat menjadi pengingat yang manis dalam kehidupan pernikahan kami.

03 Mei 2001

Ini tulisan pertama sejak pernikahan kami.
Duhai Robbi, rupanya beginilah akhir lika-liku itu.
Nasibku bertaut dengan nasibnya. Sedihku kini jadi sedihnya juga. Sedihnya kini, harus kutanggung juga. Gembiraku, gembiranya. Dan gembiranya pasti jadi gembiraku juga.

Hari-hariku kini penuh aktivitas baru. Capek iya, tapi senang juga iya. Kucoba mencari keikhlasan di sana. Tapi susah sekali, ya Allah. Karena bukan perkara kecil untuk terus-menerus berada pada kesadaran. Kesadaran tentang-Mu semata.

Berat ya Allah, untuk senantiasa bisa berlapang dada di keseharian, untuk bisa menerima dengan ridho segala sesuatu yang tak sesuai dengan harapan, untuk senantiasa punya kata maaf sebesar apapun kesalahannya…

Aku menyayanginya ya Allah. Aku mencintainya. Dan kata orang cinta adalah modal besar untuk berjalan bersama.

Pertautan nasib kami adalah karena kehendak-Mu semata ya Allah. Terimalah apa yang baik dari kami dan ampunilah segala yang salah dan lalai dari kami. Hisablah kami dengan Kemurahan-Mu, jangan Kau hisab kami dengan Keadilan-Mu. Izinkan kami berjalan di atas jalan-Mu yang lurus.

Wednesday, March 11, 2009 at 12:23pm

30 Mar 2009 A Tiny Little Thing About Us
 |  Category: My Husband, My Marriage  | Leave a Comment

It’s two o’clock in the morning when we begin this conversation.

” Besok Mas ada presentasi.”

” Udah siap bahannya belum”? Tanyaku.

” Belum. Tapi outline yang mau Mas omongin udah ada di kepala.”

” Mas bisa tenang ya kalo soal yang beginian…?”

” Iya, ketenangan itu penting loh Bunda biar ga ngalamin yang namanya pembajakan emosi.”

And so on, lantas dia bercerita tentang sedikit masalah psikologi, memberi tips bagaimana memaknai proses belajar agar selalu teringat, diselingi becanda ringan menertawakan kebodohanku masa silam. Saat dia mereview aku segera setelah belajar PSAK. ” Jadi judulnya apa yang tadi dipelajari? ” Dan aku hanya melongo tak dapat mengingat judul bab yang tiga baris panjangnya itu. “Judulnya aja lupa apalagi isinya ya?” Hahaha, sindiran yang dalam, tapi toh aku tak tersinggung. Malah menertawakan cerita masa lalu itu bersama-sama. Ditambah sweet little gestures aku menendang kakinya mesra.

Obrolan berlanjut diselingi nasehatnya tentang bagaimana cara dan waktu yang tepat memarahi anak. Menyinggung soal kejadian yang beberapa jam sebelumnya terjadi saat aku ‘memarahi’ Halim yang memainkan kunci rumah hingga terselip entah di mana. Mengajariku untuk memisahkan kemarahan sesuai dengan kadar kesalahannya. Sesuatu yang bila ia lakukan saat kejadian itu baru berlangsung pasti akan kutolak karena hati masih panas. Dia mengajariku dengan cara dan timing yang pas sesuai pembawaanku.

Dia menasehati, tapi aku tak merasa dinasehati.

Dia mengajari, tapi aku tak merasa digurui.

I love the tiny little thing that happen between us…

Wednesday, February 25, 2009 at 4:45pm

30 Mar 2009 25 Random Things About Me
 |  Category: My Self  | 3 Comments

1. Being the first and only daughter in my family. Have 3 siblings.

2. A very plain simple girl. Gak pernah neko-neko. Lurus-lurus aja. Meskipun suka badung-badung dikit. Seperti sering sholat di kamar waktu mondok. Which is itu termasuk ‘dosa besar’ kalo di pesantren.

3. A very quiet girl. Have only few close friends that I can talk to freely and openly.

4. Hobi berantem sama adek waktu kecil. Yang terparah waktu menimpuk adekku dengan sepatu sampe hidungnya berdarah hebat dan dia pun sukses membalas menonjok mataku hingga biru.Hiks…

5. Selalu menang adu panco lawan adek yang beda cuma 1,5 tahun. Baru kalah ketika dia masuk SMP.

6. 5 weeks pregnant when writing this. Alhamdulillah…

7. Glad to have 3 boys. Karena gw jadi ga perlu ngajarin cooking, baking, gardening, decorating, sewing, yang gw sendiripun ga bisa. Haha…
Tapi kalo sekarang dikasih anak cewek pun alhamdulillah…Kuterima dengan syukur dan senang hati. Mudah-mudahan secantik dan sesholihah ibundanya. Ahakk..ahakk…*narsis.com*

8. Love writing. Bisa stress kalo ada cetusan ide di kepala mandeg ga tertuang lewat tulisan.

9. Sebaliknya, kalo lagi ga ada ide, mo dipaksa sebagaimanapun ga akan bisa nulis.

10. Rajin menulis diary sejak SMA. Beberapa di antaranya dengan bahasa sandi karena takut dibaca ortu yang suka rese’ baca2in diary anaknya.

10. Spend most of my time in SMA dan kuliah dengan menulis diary, cerpen, surat ke teman, surat ke calon suami. Sampe lupa belajar.

11. Punya daya ingat yang kuat, terutama berkaitan dengan kejadian dan kenangan masa lalu. Anything, but accounting matters…Haha…I hate it!

12. Nikah di usia 20 lewat 2 hari. Belum siap sebenernya, tapi yakin aja karena merasa punya calon suami yang siap dan mantap nikah. Istri mah ngikuuut ajaaaahh…

13. Pernah jadi juara 2 MTQ tingkat RW. Haha…Baru tingkat RW aja bangga, Neng…

14.Sederhana. Bisa diajak hidup susah. Tapi ga nolak juga kalo jadi orang kaya. Haha…

15. Manja. Alias mandi jarang. Apalagi kalo pas lagi di rumah aja ga kemana-mana. Pasti mandinya cuma sekali sebelum Sholat Dzuhur doank.

16. Ga pernah bermake-up/ dandan.

17. Masih nyambung no.16. Not even owning a single lipstic.

18. Mending ngabisin waktu untuk chatting daripada nyalon.

19. Perangkat kosmetik yang gw punya cuma serangkaian produk Pond’s/ Vaseline/Citra/Dove yang suka dikasih gratisan dari kantor. Kalo ga dikasih juga ga akan punya alias ga akan beli sendiri. Itu aja yang ada jarang dipake.

20. Kalo ditanya mo punya anak berapa seringnya jawab: minimal 5. Hehe…

21. Beda umur sama Mas persis 1 tahun 4 bulan. Karena kita sama-sama lahir tanggal 9.

23. Ga kreatif dan ga nyeni banget. Paling bingung kalo disuruh gambar, mewarnai, bentuk2 plastisin (lilin mainan) ataupun lego.

24. Suka sama lagu-lagu Bon Jovi, Boyzone, Dido, MLTR, Bryan Adams, nasyid, dan some oldies karena ketularan Mas. Kesukaan Mas yang ga bisa aku nikmatin adalah Lagu-lagu India dan Malaysia.

25. Favorite actors: Bruce Willis the most, Keanu Reeves, Tom Hanks, Denzel Washington, Pierce Brosnan, dan Robbin Williams

11 Mar 2009 Surat-Surat Itu… (3)
 |  Category: My Husband, My Marriage, My Self  | Leave a Comment

 

Dan teman tadi pun mengirimkan balasannya kembali. Intinya menyerahkan kembali segala putusan akhir ke tanganku.

 

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu’alaikum wr wb

Alhamdulillah, puji syukur pada Allah, Rabb semesta alam yang telah melimpahkan ni’mat berupa iman dan Islam yang tiada taranya ini. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Ukhti fillah,

Waktu terus berjalan, tak terasa hari berlalu begitu cepat. Waktu untuk berpikir, merenung atau menentukan pilihan tentang masa depan anti tinggal beberapa hari lagi. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk-Nya ketika anti menentukan keputusan nanti.

Ukhti fillah,

Sebelumnya afwan, mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam surat saya kemarin terkesan menggurui. Saya percaya bahwa anti sudah paham/ tahu semua yang saya saya sampaikan pada kesempatan kemarin. Melihat, membaca surat yang anti tulis, saya tahu anti seorang yang sangat cerdas dan berpengetahuan luas, lebih pantas kalau anti menjadi ‘mentor’/ ‘murobbi’ saya.

Ukhti fillah,

Afwan kalau selama ini saya dan teman-teman (yang memberikan informasi) telah berlaku yang tidak berkenan di hati anti. Saya dan teman-teman hanya bisa berdoa semoga Allah selalu memberikan petunjuk-Nya kepada anti. Sekali lagi afwan, saya tidak bermaksud menggurui, Cuma mau menegaskan bahwa fikroh yang kita pegang saat ini adalah fikroh yang lurus. Percayalah akan hal itu, Ukhti!

Mungkin semua ini adalah cobaan dari Allah SWT, dan Allah tidak akan memberikan cobaan yang kita tidak mampu mengatasinya. Jagalah diri anti baik-baik, seringlah bertaqarrub kepada Allah. Jika anti membutuhkan bantuan, insya Allah, kami (saya dan teman-teman) akan membantu dengan segenap kemampuan yang kami miliki.

Semoga Allah selalu membimbing anti…

Wallahu a’lam bishshowwab, kebenaran hanya milik Allah, dan kesalahan dari saya sendiri.

Wassalamu’alaikum wr wb

Saudaramu,

Fulan

*I received this on 17th May, 2000.

02 Mar 2009 Surat-Surat Itu… (2)
 |  Category: My Husband, My Marriage, My Self  | 2 Comments

 

Tiga hari kemudian, aku mengirimkan balasannya…

 

Bismillahirrahmanirrahim

Depok, 10 Mei 2000

Untuk akhi fillah

Assalamualaikum wr wb

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Rabb Yang Mengetahui segala isi hati, dan membuat sebenar-benar perhitungan atas itu semua.

Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada qudwah hasanah kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan umatnya yang tetap setia hingga akhir zaman.

Sebelumnya saya ucapkan jazakallah khoiron katsiron kepada akhi yang bersedia mencurahkan sedikit perhatian dan waktu untuk ikut memikirkan masalah saya. Semoga segala upaya antum dibalasi oleh Allah dengan ganjaran yang berlipat ganda. Masukan dari antum, sungguh merupakan bahan pertimbangan yang berharga dalam pengambilan keputusan saya.

Saya saat ini sungguh berada dalam keadaan yang sangat berat. Saya harus mengambil keputusan yang konsekuensinya harus saya tanggung seumur hidup -bahkan di yaumil akhir nanti- dalam 2 minggu ini. Noer memberi saya batas waktu sampai 19 Mei ini untuk memberi jawaban yang pasti, yang tidak akan berubah-ubah lagi. Ini entah untuk keberapa kalinya dia memberi saya kesempatan, dan ini adalah kesempatan terakhir. Bila setelah ini saya masih menunjukkan ketidakpercayaan padanya, maka itu suatu pertanda bahwa memang ada ketidakcocokan antara kami.

Seorang akhwat sahabat saya berkata, ”Nggak ada gunanya kamu menanyakan tentang Noer pada orang lain. Nggak ada yang mengenal dia lebih daripada kamu mengenalnya.” Ternyata akhwat itu benar sekali. Setelah saya menanyakan pada beberapa orang, saya baru yakin akan hal itu. Praktis tidak ada hal baru yang saya dapati dari perbincangan-perbincangan itu. Noer telah menceritakan semua tentang dirinya secara gamblang dan jujur. Saya tahu semua tokoh tanpa nama yang antum ceritakan di MUI dulu (teman debatnya masalah filsafat, akhwat yang suka ngobrol dengannya). Dia tidak pernah menyembunyikan apapun pikiran atau pendapatnya yang bertentangan dengan saya. Saya tahu pendapat-pendapatnya yang kontroversial, misalnya tentang nikah mut’ah yang dia tidak menolaknya asal dengan persyaratan-persyaratan khusus (dalam keadaan perang dan tidak semata-mata hawa nafsu tanpa tanggung jawab. Dia sendiri meyakinkan saya tidak akan melakukan itu). Saya yakin dia tidak akan bertaqiyah. Suatu ajaran Syi’ah yang membolehkan bohong demi menyelamatkan diri.

Ada suatu kasus yang memberi pelajaran pada saya. Saya bertemu kebetulan dengan seorang ikhwan FE yang memang pembawaannya bersemangat/ berapi-api. Dengan gaya provokatifnya dia bilang bahwa ada makar, rekayasa, dan skenario besar dari pihak Syi’ah yang berkenaan dengan Noer. Karena kami waktu itu berada di tempat dan waktu yang tidak tepat (di halte FE ketika ramai), maka pembicaraan itu terputus begitu saja dengan sebuah janji bahwa ia akan menceritakan bukti dari asumsinya itu kepada kami (saya dan seorang akhwat lain). Saya menyimpan pertanyaan dan kekhawatiran yang begitu besar ketika itu. Saya membayangkan Noer memang menyembunyikan sesuatu dari saya. Hilang semua kepercayaan saya pada Noer. Keesokan harinya saya mencecarnya dengan semua tuduhan itu dalam surat tanpa memperoleh kejelasan terlebih dahulu dari akh tadi.

Beberapa hari kemudian, alhamdulillah kami bertiga berhasil bicara meskipun akh tadi adalah orang yang supersibuk. Dia bilang buku-buku Noer kebanyakan adalah buku-buku Syi’ah, sholatnya lurus, berdoanya dengan doa Kumail, dia suka ikut acara pengajian-pengajian Syi’ah, dia berusaha untuk menjadi tokoh di FE dengan aktif berbicara di acara pelatihan FSI & ISTI ’99 dengan tujuan menyebarkan Syi’ah.

Ketika saya tanya apakah dia pernah membaca / tahu isi doa Kumail (doa yang diajarkan Imam Ali ra. kepada Kumail bin Ziyad), dia bilang belum. Padahal doa itu sangat bagus dan tidak ada satu hal pun yang salah padanya.

Mengenai keaktifan Noer bertanya dalam forum-forum itu, saya rasa sangat berlebihan bila di-judge sebagai usaha untuk meng-establishkan dirinya supaya bisa menjadi tokoh. Padahal sebelumnya Noer pernah bilang bahwa keaktifannya itu adalah untuk mendorong peserta lain agar ikut aktif juga dan untuk menghidupkan suasana. Saya khawatir tuduhan yang jauh itu akan tergolong dalam perbuatan fitnah.

Mengenai fakta-fakta lainnya, ternyata itu sudah saya ketahui semua sebelumnya. Kasus itu suatu pelajaran berharga bagi saya untuk tidak langsung mempercayai perkataan apapun tentang Noer sebelum saya bertabayyun langsung padanya.

Pandangan orang tentang Noer begitu beragam. Ada yang mempermasalahkan posisi tangannya ketika sholat. Ada yang tidak mempermasalahkan itu, tapi menunjuk keikutsertaan Noer dalam peringatan ‘Asy-Syuro sebagai indikator kesyiahannya. Ada ikhwah lain yang jelas-jelas Sunni tidak mempermasalahkan, bahkan ikut serta juga dalam acara ‘Asy-Syuro itu. Tapi beliau lebih melihat kecenderungan Noer dari cara sholatnya. Bahkan ada anggota Majelis Syuro yang secara pribadi tidak keberatan sama sekali dengan Noer dan fikrohnya, tapi bermasalah dengan itu dalam konteks dia sebagai anggota MS.

Mengenai Syi’ah sendiri, insya Allah saya sudah membaca beberapa buku tentang ajaran itu. Memang banyak sekali bid’ah dalam Syi’ah. Tapi, seperti yang rasanya pernah saya bilang pada antum, saya perlu membedakan antara ajaran Syi’ah sesungguhnya, dengan ajaran Syi’ah yang memang dipegang oleh Noer. Sebagian orang Syi’ah mungkin mengkafirkan Abu Bakar ra. dan Umar ra., tapi Noer tidak. Sebagian orang Syi’ah mungkin punya pandangan aneh seperti antum bilang (bahwa Jibril as. telah salah alamat), tapi saya yakin Noer tidak memegang ajaran itu. Sebagian orang Syi’ah mungkin tidak sholat Jum’at, tapi Noer sholat Jum’at. Saya pikir pembedaan ini penting sekali karena yang akan menikahi saya adalah Noer, bukan orang-orang Syi’ah itu. Yang ingin Noer ambil dari Syi’ah adalah kecintaan mereka kepada keluarga Nabi, keunggulan mereka dalam filsafat, logika dan argumentasi. Yang kerapkali saya khawatirkan adalah sifat inklusivitasnya yang tidak bisa menolak ajaran Syi’ah di FE. Baginya itu adalah hak mereka juga. Sunni dan Syiah sama-sama berusaha menyebarkan fikroh mereka. Dalam hal ini saya punya pendapat lain. Ajaran Syi’ah yang tersebar pastinya adalah ajaran yang dipegang para aktivis Syi’ah. Kalau seseorang sudah tershibghoh ajaran itu maka hampir dapat dipastikan dia akan menjalankan praktek keagamaan sebagaimana yang diajarkan para da’i itu. Seperti meninggalkan Sholat Jum’at, mengejarkan sholat wajib dengan menjamak tanpa alasan, mengkafirkan shohabat, dll. Saya bilang pada Noer bahwa mereka –para objek dakwah itu- tidak cukup punya pengetahuan tentang Syi’ah seperti halnya dia, jadi saya sangat mendukung FSI yang mengambil langkah-langkah kebijakan untuk membatasi penyebaran Syi’ah. Di sinilah sikap Noer yang tidak saya setujui. Saya lalu merasa, secara politis kami berada di kubu yang berbeda. Saya juga khawatir dengan konsep kebenaran relatifnya. Baginya, suatu golongan sama sekali tidak berhak memonopoli kebenaran. Menurutnya, kita seharusnya tidak menutup diri dan berusaha mencari kebaikan dari golongan manapun, termasuk Syi’ah. Dia selalu memegang ucapan Imam Ali ra.: “Hikmah itu adalah kepunyaan mukmin yang tercecer maka ambillah ia walaupun dari orang-orang munafik.” Inilah sikap Noer yang cenderung tidak bisa menyalahkan siapapun dengan tindakan apapun asal punya dalil yang, menurut dia, jelas.

Membaca pertanyaan antum, saya jadi bertanya pada diri sendiri. Kalau saya akhirnya menerimanya, apakah itu suatu tanda ketidakikhlasan? Pun sebaliknya, bila saya menolaknya, apakah itu suatu tanda keikhlasan? Itulah yang jadi kebimbangan saya akhir-akhir ini. Saya khawatir keputusan saya untuk menerimanya sudah terkotori oleh hawa nafsu.

Saya telah memikirkan ini berulang-ulang. Saya tidak bisa menafikan ‘kekurangan-kekurangan’ Noer di atas. Tapi saya juga tidak bisa menafikan kebaikan-kebaikannya yang menurut saya jauh lebih banyak. Saya sering bertanya dalam hati, kalau saya menolaknya, apakah tidak akan berbuntut penyesalan di kemudian hari untuk menolak seorang yang akhlaknya begitu baik? Apakah keputusan yang tepat untuk menolak seorang yang berusaha menjaga kesucian dirinya dengan menyegerakan pernikahan, yang berusaha keras untuk mewujudkan itu, dan tidak sekadar berangan-angan kosong belaka? Idealisme pemuda seperti itulah yang kemudian membuat saya simpati padanya. Belum lagi kebaikan-kebaikannya yang lain. Dia adalah seorang yang punya semangat belajar yang tinggi, punya kepedulian pada orang lain, punya kecerdsan emosional dan konsep diri yang terinternalisasi dengan baik, punya kemampuan sosialisasi dan komunikasi yang baik, punya kepedulian pada dakwah ini juga meski mungkin dengan cara yang berbeda dengan kita. Dia ingin memberi sebesar-besar kemanfaatan dirinya bagi orang lain.

Saya kemudian bertanya lagi pada diri sendiri. Ya Allah, apakah cinta buta yang membuat saya bisa melihat kebaikan-kebaikannya dan menutup mata dari keburukan-keburukannya? Saya khawatir penilaian itu datang dari hawa nafsu saya. Maka datang lagi kebimbangan itu. Saya lalu berpikir untuk menolaknya. Lalu terlontar pertanyaan yang tadi kembali. Apakah tepat untuk menolak seorang yang berakhlak baik? Terus begitu lintasan pemikiran yang berkelebat dalam benak saya secara bergantian.

Saya sadar sekali, pada akhirnya memang keputusan ada di tangan saya karena saya sendirilah yang akan menjalaninya. Dan hakim yang paling adil adalah Allah. Saya berlindung pada-Nya dari kezaliman diri sendiri. Sesungguhnya saya tidak menginginkan kecuali seorang pendamping hidup yang dapat meluruskan dan meneguhkan saya di jalan Allah.

Saya akan menggunakan sisa-sisa hari ini untuk memikirkan dengan sungguh-sungguh jawaban yang akan saya berikan pada Noer nanti. Bila saya menjawab ‘ya’, maka proses selanjutnya akan segera kami lakukan. Bila ada hambatan dari orang tua, insya Allah saya akan menyikapinya sebagai ketentuan dari Allah yang banyak kebaikan di dalamnya. Mungkin itulah cara Allah memperingatkan saya. Bila Allah memberi kemudahan, maka saya mohon kebaikan pula dalam perkara itu dan mohon perlindungan dari segala kejelekannya. Bila saya akhirnya berkecenderungan untuk menolak Noer, maka semoga itulah ilham yang dimasukkan Allah dalam hati saya dan semoga Allah menggantinya dengan seorang yang jauh lebih baik. Bila tidak di dunia, semoga kelak di akhirat.

Informasi tentang Noer rasanya sudah cukup. Kini tinggal saya memutuskan apakah bisa menerima dia apa adanya ataukah memilih untuk meninggalkannya karena tidak bisa menerima perbedaan-perbedaan itu.

Surat ini boleh akhi balas atau tidak. Sekali lagi syukron jazakallah khoiron katsiron atas tausyiah yang akhi berikan. Semoga Allah mencatatnya sebagai pahala yang memberatkan timbangan kebaikan antum di hari kiamat nanti. Mohon maaf atas segala kesalahan yang tidak berkenan di hati. Wallahu a’lam bishshowab.

Wassalamu’alaikum wr wb

Ukhtuka fillah,

Nurul Halida