Author Archive

05 Sep 2007 Working Mom vs Stay-at-Home Mom
 |  Category: Oprah Show  | 7 Comments

Ini nih perdebatan yang kagak ada matinye. Minggu lalu aku nonton ini di Oprah. Can women have  it all?

Dalam polling di Oprah.com ada 15.000 ibu bekerja dan IRT ikut berpartisipasi. Hasilnya : Dua pertiga ibu bekerja sebenarnya ingin tinggal di rumah seandainya keadaan memungkinkan. Lebih dari 90% working women ini mengatakan alasan mereka bekerja karena financial reasons.

Sebaliknya, sepertiga stay-at-home moms wished they worked outside the home.

Yang didedel kali ini adalah kisahnya Elizabeth Vargas, yang stepping down dari posisinya sebagai anchor dalam World News Tonight di ABC News. Padahal posisi bergengsi yang jadi incaran semua orang itu diraihnya dengan merintis karir selama 20 tahun. Keputusan ini diambil setelah dipikirkan masak-masak sejak kehamilan anak keduanya (anak pertama sudah berusia 4 tahun).

Biarpun nongol di TV cuma sebentar tapi ternyata there’s a lot of efforts di baliknya. Ngantor jam 08.00 am- 08.00 pm untuk nyiapin berita adalah sesuatu yang mutlak dan ga bisa ditawar-tawar lagi.

Sekarang dia megang acara mingguan 20/20 di ABC yang jam kerjanya lebih fleksibel.

Again, can women have it all? Kalo kata Mpok Oprah sih bisa, but not at the same time. Meanwhile kalo kata sejawatnya Dr. Robin, untuk bisa dapetin kedua-duanya mah cuma ilusi. Ya tentu donk, dalam hidup ini kan semua harus ada trade off-nya. Mau ga mau, bagi ibu yang bekerja akan kehilangan beberapa moment berharga dalam perkembangan anaknya. Sementara untuk IRT, mungkin ada aspek self-development yang harus dikesampingkan dulu demi mendahulukan anak.

Kalo kata DR. Robin sih, masalah yang begini ini ga bisa dipukul rata dan dilihat secara hitam putih. Pada dasarnya kan, semua ibu ingin yang terbaik untuk anak-anak dan keluarganya. Biarpun si ibu bekerja, yang penting kan mereka tetap attuned alias connected dengan anak-anaknya. ‘Stay connect’ itu kata yang menjadi kunci.

Ada juga pengakuan ibu-ibu yang menyesali pilihan hidupnya yang lalu. Yang bekerja menyesal karena kehilangan banyak momen berharga bersama anaknya (seperti melihat anaknya berjalan ato berbicara untuk pertama kali). Dia merasa tidak menjadi ibu yang baik dan menganjurkan anak gadisnya untuk di rumah saja setelah menikah. Yang ternyata saran ini ditolak mentah-mentah oleh anaknya yang merasa dia ga pernah merasa kekurangan cinta meski si ibu bekerja. Yang di rumah saja juga menyesal karena meskipun anak-anaknya menganggap dia super mom, tapi dia pribadi merasa kepentingannya selalu harus dikorbankan demi suami dan anak-anak.

Kalo menurut gw sih emang semuanya tergantung pribadi si ibu masing-masing, mana yang cocok untuk diri dia pribadi dan keluarganya. Kondisi orang kan beda-beda. Kalo gaji suami ga mencukupi untuk hidup layak sesuai standar yang diinginkan, ya mau ga mau si istri ikut kerja juga. Kalo suaminya sudah mencukupi tapi si istri tipe yang jutek dan sumpek kalo di rumah mulu dan bawaannya pingin ngomel terus ke anak-anak, ya mungkin sebaiknya dia mending kerja aja meski secara finansial sebenernya udah berlebih. Iya toh, daripada di rumah tapi anak jadi korban kekesalan doank karena si ibu menyimpan slow-burn anger dalam dirinya.

Kalo si ibu kerja tapi pikirannya di rumah mulu inget anak, ya mungkin lebih baik memilih di rumah aja biar punya banyak waktu bersama dengan anak.

As for me, alhamdulillah suami udah bisa mencukupi. Biarpun aku ga kerja, yang penting kan bisa hidup seadanya. Mo shopping ada (uangnya), mo nyalon ada, mo rekreasi ada. Mo arisan ada. Hehe… enak banget ya??! (Boonk denk,belum semakmur ini kok, yang belanja ga pake mikir karena udah kebanyakan duit). *Kami masih penganut setia tight money policy kok*

Besides, mau kerja ga dibolehin sama anak (baca: Alfath). Mungkin dia seperti diriku dulu, yang nyaman mendapati ibunya ada di rumah sepulang sekolah.

So. ibu-ibu sekaliyan, apa pilihan hidup anda masing-masing?

Apapun itu, nikmatilah dan jangan pernah menyesalinya!

05 Sep 2007 Si Kriwil
 |  Category: My Kids  | One Comment

Anakku yang rambutnya lain sendiri ya si Aslam. Rambutnya halus dan agak berombak.  Rambut kriwil, begitu kami menyebutnya. Setelah digundul barengan Halim waktu Aqiqah kira-kira 5 bulan lalu, rambutnya udah mulai gondrong dan ga rapi.

Senin lalu (3/9) aku bawa ke tukang cukur. Tapi entah lantaran kepagian (jam 08.30) sehingga masih tutup,  atau karena memang kebetulan sedang tutup, kami akhirnya pulang lagi. Di rumah aku  iseng ga ngapa2in karena komputer lagi ngadat, akhirnya terpikir untuk botakin sendiri pas Aslam lagi bobo pagi (dia bobo siang 2x sehari: jam 9 an dan jam 2 an). Jadilah aku alih profesi sebagai tukang cukur. Kurang lebih 1 jam aku bergerilya pelan-pelan dengan silet cukur supaya dia ga terbangun, akhirnya alhamdulillah misiku sukses juga. Kepala anakku langsung botak plontos.

Kayaknya tanganku masih gatel juga untuk cari mangsa lain. Mengingat dulu Aslam Halim botaknya barengan, maka sekarang pun pingin kubotakin juga sekalian.
Jam 1 siang gantian Halim kubotakin sambil tidur dalam gendongan mbaknya. Alhamdulillah kali ini lebih cepat, 45 menit beres.

Hasilnya: luweechu buanget.  Halim langsung menjelma jadi Bo Bo Ho. Andaikan bisa kupajang di sini… Sayang kameranya lagi dibawa ayahnya.

24 Agu 2007 Triple The Happiness
 |  Category: My Kids  | One Comment

Aku banyak membaca blog yang dibuat oleh para mommy dedicated to their beloved children. Untuk melihat, mencatat dan mencermati pertumbuhan dan perkembangan Sang Buah Hati. Untuk mencatat every milestone yang dilalui putera puteri mereka hari demi hari. Rasanya bahagiaaa sekali menjadi seorang ibu. Children are their centre of universe.

Melihat senyum dan mendengar tawa renyah anak-anak memang bagai heaven on earth bagi seorang ibu.

Setelah melongok sejenak ke kehidupan orang lain melalui jendela blog, aku jadi seolah dipahamkan bahwa banyak sekali yang harus kusyukuri dalam hidup ini.

Meski kadang jenuh berada di rumah saja, tapi aku pun mungkin akan banyak mengeluh juga jika seharian harus berada di luar, jauh dari anak-anak.

Ketika akan memejamkan mata malam tadi aku menangis. Terharu memandangi wajah polos anak-anakku yang pulas di sampingku. Teringat betapa mereka adalah the most precious things in my whole life.

Jika seorang ibu bisa begitu bahagia dengan kehadiran seorang anak, maka tidakkah seharusnya aku jauh lebih bahagia dengan 3 buah hati yang dihadirkan-Nya untukku?

I should triple the happiness…

*dedicatedforAlfath,Aslam,Halim,theloveofmylife*

21 Agu 2007 Just The Two of Us
 |  Category: My Husband, My Marriage, My Self  | 7 Comments

Barusan Mas telfon. Jam 7 an malam gini memang Mas seringkali nelfon kalau belum pulang dari kantor. Entah menanyakan minta dibawakan apa nanti, mengabarkan sedang akan berkemas pulang, atau malah memberitahukan akan pulang agak malam karena banyak urusan.

Tumbennya, malam ini Mas mengajak keluar berdua saja. Tanpa anak-anak. Alfath yang sudah mengerti merengek minta ikut. Menuduh ayah bundanya jahat karena tak mau mengajak anak-anak. Dasar anak-anak. Belum mengerti bahwa orangtua kadang butuh waktu untuk berdua saja. Untuk sekedar ngobrol santai dari hati ke hati, lepas dari rutinitas hidup dan perkawinan yang lama kelamaan tak terasa istimewa karena terlalu biasa. Untuk sekedar melepas lelah sejenak dari kelelahan, mencari sebuah sanctuary untuk berteduh bersama. Untuk saling mendukung dan mengokohkan satu sama lain, agar menjadi orang tua yang kokoh menaungi anak-anak bersama.

Kadang-kadang, suami istri begitu asyik menjadi ayah dan bunda, sehingga lupa bahwa mereka adalah juga sepasang kekasih.

13 Agu 2007 Aslamku
 |  Category: My Kids  | 3 Comments

Aku paling nyess bgt kalo anakku yang satu ini sakitDsc01447_1 Dsc01446_1. Soalnya, dengan badannya yang super kecil itu, dia ga punya bantalan lemak sebagai buffer kalo lagi ga nafsu makan. Apalagi kalo lagi diare, wuih ngenes banget ngeliatnya. Layu banget. Di usianya yang 2 tahun kurang sebulan ini beratnya cuma 10 kg. Hampir setara dengan adiknya yang 8 kg di usia 5 bulan.

Herannya, ini anak sebenernya makannya gampang. Malahan lebih gampang daripada Alfath yang doyan ngemut. Tapi kok makanannya ga jadi daging ya? Udah dikasih obat cacing ga ngefek juga. Memang sih, pupnya tergolong banyak. Makanannya numpang lewat aja kali ya?

Saking kecilnya, Aslam muat di keranjang sepeda kalo ikutan nganter Masnya ke sekolah. Tapi sekarang ga boleh ikutan nganter lagi sama ayah, karena dinilai ga safe.

Ini fotonya Aslam di keranjang sepeda.

Baju-bajunya juga udah pada muat dipakein Halim. Pake celana bayi juga masih muat nih si Aslam mungilku.

Cepet gede dong, Dek!