Author Archive

28 Mei 2007 Pembantu Juga Manusia
 |  Category: Serba-serbi  | 8 Comments

Sunday, May 27, 2007, 17.24 (revised May 29, 2007, 09.32)

Ada suatu scene dalam film Ada Apa dengan Cinta yang kerap kali tergambar di kepala saya terutama kalau lagi agak-agak bete sama ‘asisten’ di rumah. Saya membahasakannya sebagai: tuntutan peran PRT versi Rangga dan Cinta. Saya mencoba menuliskannya dalam bentuk dialog yang mungkin tidak tepat benar redaksinya.

Rangga : “Di rumah pasti semua-muanya pembantu yang ngerjain ya?”

Cinta   : “ Ya enggak sih…, tapi kalo ada pembantu kenapa nggak dikasih kerjaan..?”

Rangga : “ Ya kalo bisa dikerjain sendiri kenapa mesti nyuruh pembantu?”

Cinta   : “ Kalau ada pembantu kenapa mesti dikerjain sendiri?”

Pembantu juga manusia. Kalimat itu yang berulangkali saya tanam di kepala kalau sedang ‘panas’ karena tidak puas dengan kerjaan mbak di rumah.

Kalau sedang baik hati dan good mood, biasanya saya mengambil posisi seperti Rangga. Yang utama mengerjakan semuanya adalah saya, lalu tugas pembantu memang benar-benar hanya membantu. Tapi kalau lagi rajin gini nih, biasanya si setan yang ga pernah suka kalau kita berbuat baik bisikin begini: “Bego lu, ngapain capek-capek ngerjain itu sendiri. Kan lu bayar orang emang untuk ngerjain kerjaan itu, lagipula dia emang bersedia kok. Tinggal nyuruh aja lagi.”

Tapi sisi kanan saya lantas berujar: “Kalo semua yang ngerjain pembantu, mana dong pahala untuk diri kamu sendiri? Allah kan ga pernah keliru masukin pahala ke rekening akhirat masing-masing kita. Dalam setiap keringat dan susah payah mesti ada ganjarannya loh.” Akhirnya aku kembali bekerja dengan happy.

Tapi syetan rupanya ga tinggal diam, selalu ngomporin hati ini biar panas. Apalagi kalo akunya lagi sibuk ngerjain kerjaan rumah yang lumayan berat, sementara si mbak lagi nyuapin anak-anak, sambil gendong si baby, sambil nonton tivi. Kerjaan yang kelihatannya sepele, padahal sebenernya enggak juga. Wuih rasanya geregetaan banget (ni mulut ampe gatel pengen nyuruh, padahal kalo lagi adem aku sadar juga bahwa itu sebenernya kerjaan juga, bayangkan kalo ga ada si mbak, nyuapin 2 anak 3 kali sehari berarti 6 kali, ditambah ga bisa ngerjain apa-apa kalo babyku nangis yang berarti harus digendong terus. Apa ga kiamat kalo gitu? Boro-boro ngenet. Kagak bakal sempet dah!).Seringnya sih si setan yang menang. Akhirnya itu kerjaan kukerjain dengan beres tapi dengan hati dongkol. “Huh, harusnya bukan gue nih yang ngerjain, tapi pembantu!” Naudzubillah min dzalik. Udah capek ga berpahala pula.

Tulisan ini saya buat pas lagi adem, lagi ada secercah kesadaran. Buat ibu-ibu yang suka kesel sama asisten di rumah, coba deh trik berikut. Sekali waktu coba sisihkan waktu untuk terjun langsung turun tangan ngerjain kerjaan rumah sendirian, mungkin dengan merasakan kepayahan yang dirasakan pembantu, membuat kita lebih mudah memaklumi bila ada kerjaannya yang kurang beres atau ga sesuai dengan standar kita. There’a a lot to do di balik terhidangkannya semangkuk opor ayam di meja makan kita. Buat ibu-ibu yang suka masak pasti ‘ngeh’ deh, sama yang saya omongin. Coba di list (sekalian biar bapak-bapak yang baca tulisan ini lebih menghargai istrinya). Beli ayam, cuci ayam, blender kelapa, peras santannya, kupas bawang merahnya, kupas bawang putihnya, siapin bumbu lainnya, lalu diblender, nyalain kompor, panasin minyak goreng, tumis bumbunya, aduk-aduk sampai harum, tuang santannya, terus aduk biar santannya ga pecah, deelel, deelel (nulisnya aja capek, apalagi ngerjainnya).

Pembantu juga manusia. Punya cara kerja sendiri yang khas dan unik. Punya rasa bosan dan malas sesekali. Punya hati yang akan terluka bila disakiti.

So ibu-ibu, mari lebih hargai pembantu kita di rumah.

*mudahmudahanmbakkubetahdansabarmenghadapimajikannyayangkadangsukajutekini.amiin

27 Mei 2007 Ask Me to Write, Not to Speak
 |  Category: My Self  | 4 Comments

Sunday, May 27, 2007, 22.05

Buat teman-teman yang pernah bertemu muka langsung dengan saya pasti berpendapat bahwa saya ini pendiem banget. Waktu SD, ada sekelompok temen-temen cowok yang sekongkol menjauhi saya. Padahal dalam hatinya mungkin mereka naksir saya juga (ini baru ketahuan setelah saya mondok di pesantren, dari surat yang dikirim oleh mantan temen SD yang cewek yang se-SMP dengan mereka).

Waktu SMA, seingat saya, ga satupun temen cowok yang berani ngajak ngobrol duluan atau bahkan sekedar say ‘hi’. Mungkin karena segan pada saya yang kelewat pendiam. Sampai-sampai ortu sempat khawatir, ‘apakah anak gadisnya ini akan ‘laku’ lantaran kalau jalan saja selalu menunduk.

Waktu kuliah, yang berani ngajak ngobrol itulah yang sekarang jadi suami.

Saya dan teman2 wanita di Rohis SMA pernah menginap (mabit) bersama dan membuat sebuah game yang tujuannya untuk lebih mengenal satu sama lain. Kami duduk melingkar dan menuliskan kesan, pesan, nasihat dan/atau uneg-uneg apapun kepada masing-masing tanpa mencantumkan nama. Dan seperti bisa ditebak, kesan dan pesan terhadap saya hampir seragam. Saya terlalu pendiam. Padahal teman-teman beranggapan saya punya potensi besar yang belum tergali.

Entah kenapa, saya memang merasa lebih nyaman untuk menulis ketimbang berbicara. Dan ini baru benar-benar saya rasakan belakangan ini, bahwa menulis bukan sekedar pelepasan ekspresi bagi saya, melainkan juga makanan jiwa yang menyegarkan. Yang tanpanya saya merasa kehausan dan kelaparan secara intelektual. Kram otak.

Kalau ngobrol sama orang, saya kerapkali ‘mati topik’ dan merasa diri bukan teman ngobrol yang menyenangkan. Tapi kalau menulis surat, berlembar-lembarpun oke lah.

Alhasil, teman-teman yang mengerti saya lewat ngobrol sangatlah sedikit dan bisa dihitung dengan sebelah jari tangan.

So, my dear friends, please ask me to write, not to speak…

27 Mei 2007 Humble (Secuplik Tentang Dia)
 |  Category: My Husband  | One Comment

Sunday, May 27, 2007, 20.00

Lucky me to have a very humble husband. Sederhana, bersahaja, dan ga pernah neko-neko menyangkut soal penampilan luar dan barang-barang pribadi (ex: HP, baju, sepatu, wristwatch, dll). Ga berlebihan. Seadanya. Belum akan ganti kalo belum rusak. Dan beli barang bukan karena gaya dan gengsi melainkan benar-benar karena fungsinya. Contohnya HP. Meskipun sebetulnya si bapak ini can afford to buy HP yang ‘wah’, tapi tentengannya selama beberapa tahun belakangan ini tetep Siemens jaman jebot yang casingnya aja udah ga jelas (baru-baru aja ganti ke O2  seken karena emang perlu fungsi PDAnya). Itu ‘orang besar’ sesungguhnya menurutku. Harga dirinya tidak tergantung dari barang apa yang dia pake. Dia sudah besar dengan sendirinya karena percaya diri bahwa ‘nilai intrinsik’ dirinya jauh melebihi nilai barang-barang yang dia kenakan. Ini tentu tanpa bermaksud sama sekali mengacuhkan dan mengecilkan arti penampilan. Pokoknya asal rapi dan bersih, tetep pede lah datang ke acara-acara resmi seperti kondangan dengan baju lama. Tidak harus selalu baru.

Yo wis, alhamdulillah, cocok banget sama aku kalo gitu. Ga suka dandan dan ga suka tampil heboh dan menonjol. Biasa ajalah. (Believe it or not, bedak aja aku ga punya lantaran ni muka berasa panas kalo bedakan. Apalagi lipstik dan segala tetek bengek kosmetik lainnya).

“Jadi aja diri sendiri dan jangan pusing sama apa pendapat orang. Capek loh kalo ngikutin apa kata orang.” Begitu katanya tadi di resepsi khitanan anak tetangga kami yang amat mewah yang digelar sejak pagi sampai malam ini.

Lagi-lagi, seperti berulang kali sebelumnya, aku merasa sangat beruntung dapat pelajaran hidup yang berharga dari Masku tersayang. The most mature man I know.

Love you honey. Forever and ever…

15 Mei 2007 Dosa Ga Benjol
 |  Category: Serba-serbi  | Leave a Comment

Tuesday, May 15, 2007, 20.13

Barusan lihat berita tentang Widjanarko Puspoyo (mantan Dirut Bulog) di Metro TV.  Jadi membatin dalam hati, apakah ga ada perasaan bersalah yang hinggap di dirinya menilep uang rakyat milyaran rupiah? Tambah geregetan setelah ingat berita di Jawa Pos yang dirilis tanggal 24 Maret silam. Tim penyidik menemukan satu koper dan tiga ember penuh berisi uang tunai di kamar mandi ruang tidur pribadi Widjan. Jumlahnya diperkirakan ratusan juta rupiah.

Apakah nuraninya sudah begitu tumpul sehingga kebas dengan segala kisah penderitaan rakyat yang hampir setiap hari diekspos di media? Mungkin tidak tepat lagi jika disebut nurani, melainkan zulmani (meminjam istilah Prof. Nurcholish Madjid), karena sang hati telah kehilangan pendar cahayanya. Mungkin karena dosa ga benjol, jadi orang merasa bebas berbuat sekehendak hatinya.

Jadi ingat kisah yang pernah kubaca di sebuah buku. Konon dulu, sewaktu zaman Nabi SAW, kalau ada orang yang berghibah, bau busuk serupa bangkai akan langsung tercium sebagai manifestasi ayat yang memgumpamakan ghibah sebagai memakan bangkai saudara sendiri. Tapi sekarang, walaupun orang berghibah di mana-mana, kok ga tercium ya bau bangkainya? Buku itu menjawab demikian. Ambillah ibarat orang yang sehari-hari bergumul dengan sampah. Tentu bau sampah yang amat busuk itu tidak lagi begitu menyengat baginya karena sudah saking terbiasanya terhirup sehari-hari. Mungkin demikian juga yang berlaku pada kita saat ini. Di dunia yang makin edan ini, yang waras justru yang dianggap aneh.

15 Mei 2007 Muqollibal quluub
 |  Category: My Self  | 2 Comments

Saturday, July 09, 2005, 22.13

Hatiku sedang lembut saat ini, (sepertinya) sedang menghadap kepada-Nya. Meskipun manusia diberi freewill tapi aku yakin bahwa hati manusia adalah berada di antara dua Jari Ar-Rahman. Allah Maha Berkehendak. Dapat dibolak-balik-Nya hati manusia kapanpun Dia Berkehendak. Kalau sedang ada secercah kesadaran seperti ini yang kupinta adalah Dia berkenan mengampuniku sebesar apapun dosaku, berkenan menunjukiku sejauh manapun aku tersesat. Semoga Dia Ta’ala berkenan menerimaku dengan Segala Shifat Kepemurahan-Nya. Semoga aku kelak menemui ajalku dalam husnul khotimah, dalam keadaan taubat dan berserah diri. Amiin ya Robbal ‘aalamiin…