Lewat di berandaku berita tentang perceraian seorang motivator bisnis dengan istrinya akibat poligami diam-diam. Aku yang tak tahu menahu tiba-tiba tergelitik untuk mencari tahu. Di FB istrinya terpampang status yang menyatakan bahwa Beliau telah resmi bercerai dengan baik-baik dengan suaminya dan tetap akan mengurus anak-anak bersama-sama. Pasangan ini dikaruniai 2 orang putri. Publik terhenyak. Status Sang Istri ini disukai ribuan orang dan dikomentari ribuan orang yang memberi dukungan buat istri. Motivator ini dikenal suka memuji istrinya dan menyebutnya sebagai ‘Bidadari.’ Otomatis aku tergerak untuk mencari tahu tentang suaminya. Menonton satu dua video yang ada di dunia maya. Lelaki itu kelihatannya sholeh, pintar dan amat dermawan. Awalnya aku terpancing ikutan gemas seperti orang kebanyakan, sampai kemudian aku tersadar, apa hakku menilai orang. Di lain sisi, aku juga tidak bisa menyalahkan istrinya yang meminta pisah karena merasa terluka. Sudah menemani berjuang dari bawah tapi kemudian suami menikah lagi secara diam-diam. Aku sudah merasakan sendiri bahwa poligami itu bukan hal yang mudah. Aku lantas berpikir. “Ya Allah sungguh syariat poligami ini berat diterima kalau bukan karena iman.” Lantas di situ aku berhenti memilih sisi. Siapa benar siapa salah. Aku orang luar yang tak tahu apa-apa. Jangan salah sangka, tidak ada sama sekali terlintas dalam benakku bahwa wanita yang memilih pisah karena alasan poligami adalah seseorang yang kurang imannya. Sama sekali tidak. Tapi aku juga tidak bisa menilai suami yang berpoligami secara diam-diam sebagai orang yang tercela. Ah, jadi pusying. Sudahlah, lebih baik aku berlepas diri dan mengurus urusanku sendiri.
Author Archive
Hatiku tercabik-cabik, tapi aku harus menjunjung petunjuk di atas kepala.
Allah… Aku melangkah dalam ketidaktahuan. Berusaha meraba kegaiban masa depan.
Allah…Aku limbung. Terhuyung dalam langkah yang entah ke mana. Mencoba membaca takdir yang gelap gulita. Tak punya pegangan selain Engkau.
Allah…Aku sakit. Pedih perih kurasa. Bagai luka menganga tersiram cuka. Berharap penyembuhnya hanya dari Engkau.
Allah…Aku…
Wahai Diri! Jadikan semua kejadian sebagai momen reflektif. Kesalahan diistighfari. Masukan diterima. Bersyukur atas semua cermin diri yang Allah hadirkan. Tak perlu menuding ke luar. Cukup melihat ke dalam diri. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali atas izin Allah. Menangislah jika kau butuh menangis. Adukan semua pada Allah. Semua hadir untuk pendidikan dan pembersihan jiwa. Tidak perlu mencari pembenaran atau justifikasi di mata manusia. Segala penilaian biar menjadi hak Allah Yang Maha Adil. Bersangka baiklah dalam segala sesuatu. Ya Allah, izinkanlah aku kembali kepada-Mu dengan qolbun salim.
Dalam Shubuhku tadi pagi Allah mengilhamiku. Kamu menyerahkan yang kamu cintai itu kepada Allah, jadi transaksinya sama Allah. Jangan berharap apapun dari makhluk. Tanggung jawabmu adalah atas apa yang kamu perbuat, bukan yang lain.

