05 Mar 2022 Fade
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

β€œIn a relationship, when communication starts to fade, everything else follows.”

Well…look who’s talking ? 🙄🤔😲

22 Feb 2022 I Love You
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Kata orang, banyak penyesalan yang dirasakan seseorang di penghujung usianya adalah, ia tidak cukup banyak mengungkapkan rasa cinta dan sayangnya kepada orang-orang terkasihnya.

Rasa cinta dan sayang itu ada demikian besar, tapi tidak ternyatakan dalam kata sehingga kurang terasa.

Malam ini aku merenungi perjalanan panjang kisah hidup kita berdua. Yang kemudian terjadi adalah aku tak dapat menahan airmata mengingat kebaikan-kebaikanmu sebagai pasangan hidupku selama ini.

“Aku makin mencintaimu saat ini.” Katamu beberapa hari yang lalu. Kata-kata yang tak kuragukan kebenarannya karena demikian dalam terasa.

Pembuktiannya sudah kau tunjukkan selama bertahun-tahun kita menikah. Betapa kau adalah suami yang sangat sabar membimbingku dan anak-anak. Betapa kau banyak menahan diri dari sikapku yang kadang kurang berkenan. You know me better than anyone else. Kau adalah sahabatku. Tidak ada yang lain lagi.

Maaf bila pelayananku kurang selama mendampingimu. Maaf bila sikap ngeyel dan kerasku terasa menjengkelkanmu. Maaf bila kata maaf susah terucap dari mulutku.

Aku berharap kebersamaan kita tidak berhenti sampai dunia ini saja, tapi berlanjut di syurganya Allah nanti. Karena keterpisahan dengan Kekasih Hati adalah nerakanya Pencinta Sejati.

I love you, Mas…

09 Feb 2022 Memorabilia
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Senin kemarin aku merasakan Sholat Dhuha yang indah sekali. Ada pemahaman bahwa dalam beramal yang penting adalah timbangan haqqnya. Amal yang tampak kecil di mata manusia, bila memang haqq untuk dilakukan, akan besar nilainya dalam pandangan Allah.

Dalam setiap takdir kehidupan manusia, ada Tangan-Nya yang bekerja di situ. Allah Ta’ala yang menempatkan kita secara spesifik di tempat itu. Ada perasaan hangat di dada ketika menyadari bahwa aku ini hamba yang sedang diatur Allah Ta’ala. Segala takdirku adalah kehendak Dia Ta’ala. Tak penting apa dan bagaimana takdirku yang terpenting adalah siapa yang merancangnya. Aku menangis dalam Dhuhaku seraya berulang kali membatin: “Ya Allah, semua demi Engkau, demi Wajah-Mu. Semoga Engkau berkenan menerimaku dalam keadaan ridho.”

Barang-barang memorabilia yang dilelang di Balai Lelang Christie’s misalnya, adalah bukti bahwa seringkali yang penting siapa, bukan apa-nya. Kaos jersey yang sama, akan beda nilainya bila dipakai oleh Christiano Ronaldo, misalnya. Justru bau keringatnya pemain legendaris itu yang berharga. Bahkan saputangan yang merupakan barang yang amat biasa, bisa jadi berlipat harganya hanya karena dipunyai oleh seorang yang legendaris.

Jadi aku terima semua yang datang dari-Mu, Tuhanku.

08 Feb 2022 Proyeksi Diri
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Ada suatu cerita menarik yang pernah aku tonton. Cerita ini sebenarnya adalah salah satu riddle atau teka-teki yang dulu pernah disenangi anak-anakku.

Jadi ceritanya ada 2 orang anak yang sedang bermain bersama. Mereka bermain di loteng. Yang satu wajahnya kotor berdebu, yang lainnya bersih. Tapi ternyata anak yang wajahnya bersih justru yang mengusap-usap wajahnya. Mengapa demikian?

Jawabannya adalah, karena ia melihat wajah temannya kotor, ia merasa wajahnya pun kotor sehingga ia berusaha membersihkannya. Hal sebaiknya berlaku pada temannya. Ia melihat wajah temannya bersih, sehingga ia tidak merasa bahwa wajahnya kotor.

Sebenarnya senada dengan cerita ini. Jadi orang bisa berpikir, berlaku, berbuat apapun kepadamu, yang harus kamu perhatikan adalah dirimu sendiri. Terimalah bahwa kadang sebagian perlakuan orang terhadapmu adalah proyeksi mereka atas diri mereka sendiri.

07 Feb 2022 Selasa Petang
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Aku menikmati Selasa petang saat Hilya berlari menyambut ayahnya. “Ayaaahh….”, katanya riang nyaring menggemaskan. Seraya lari menghambur ke pelukan ayahnya. Sahla pun demikian. Dia belum bicara. Hanya raut wajahnya yang menunjukkan kegembiraan. Lantas mereka berdua digendong ayahnya.

Aku sungguh bahagia dengan hadirnya dua anak terkecilku ini. Kusangka anakku akan berhenti di angka 5. Ternyata Hilya lahir dengan jarak 7 tahun dari kakaknya. Sahla pun lahir 2 tahun kemudian. Lagi-lagi, tanpa kurencanakan.

Dulu sebelum kelahiran mereka, aku sempat kesepian saat semua berangkat ke sekolah. Kesibukanku adalah senam dan yoga. Bisa 3-4 kali dalam seminggu. Setelah hamil mereka, otomatis semua berhenti.

Hadirnya Hilya Sahla benar-benar mewarnai hidupku. They are truly God’s gift s to me. Alhamdulillah πŸ™‚