Author Archive

21 Mei 2022 Sabar dalam Amr
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Bagi seorang ibu, kesedihan seorang anak lebih memilukan daripada rasa sedihnya sendiri. Kata-kata polos anak yang diucapkan berulang kali: “Ayah kok kerjanya lama?” Atau “Ayah kok pulangnya lama.” Tak urung menimbulkan kesedihan di hati ibu.

Sabar ya Nak. Bersabar dalam amr Allah. Allah sebaik-baiknya penjaga. Akan dipenuhi-Nya nikmat untukmu lahir dan batin. Nabi Ismail as pun ditinggal hanya bersama ibunya di padang pasir tandus. Allah tidak menyia-nyiakan mereka. Bersabarlah dalam amr Allah.

16 Mei 2022 Communication After Polyginy
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Setelah menjalani pernikahan poligami selama beberapa waktu, ini yang dapat kusimpulkan sebagai istri dalam pernikahan poligami. Kurang intensnya komunikasi antar istri sekarang kupahami memang karena sulitnya posisi masing-masing, bukan karena salah satu pihak berniat buruk ingin memutus komunikasi. Maksudnya, by nature, posisi ini memang tidak mudah. Berikut beberapa alasannya:

  1. Tidak ingin mengganggu.
  2. Tidak ingin dicap ingin tahu urusan rumah tangga saudari madunya.
  3. Takut menyinggung perasaan. Kita tak pernah tahu bagaimana mood atau perasaan lawan bicara kita.
  4. Takut salah omong. Istri tidak pernah tahu bagaimana sikap suami kepada istri lainnya. Salah ucap bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman di salah satu pihak. Bukan tidak mungkin penyikapan suami beda dalam rumah tangganya dengan tiap istri. Tanpa sengaja bisa timbul rasa iri atau cemburu bila sikap suami berbeda.

Pada akhirnya aku menyimpulkan bahwa memang tiap RTT (Rumah Tangga Ta’addud) itu unik. Masing-masing punya caranya tersendiri yang nyaman untuk dijalani. Per saat ini aku memilih untuk menjalaninya masing-masing saja. Aku tidak menyimpan kemarahan tapi juga menjaga jarak aman agak tidak menyakiti dan tersakiti. I create my own space. I live my life as usual. Toh, suamiku tetap sama dulu dan sekarang. Ia hanya membagi sebagian waktunya dengan yang lain.

10 Mei 2022 Koko Putih
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Hari Raya kali ini aku harus mengambil alih tugas menyetrika asisten yang minta izin untuk memperpanjang liburnya karena ada keperluan ke luar kota. Aku berjibaku dengan bertumpuk-tumpuk pakaian yang belum disentuh berhari-hari. Sampai tiba ketika tanganku menyentuh sebuah koko putih yang warnanya berubah tak sebening dulu. Sudah putih keruh warnanya. Lalu terkilas tahun-tahun yang telah kami lalui bersama yang seolah menyadarkan: “Oh, telah sekian lama kami bersama…”

Betapa kenangan pada seseorang bisa bangkit begitu saja karena barang yang kita pegang, bau yang kita hirup, lagu yang kita dengar, foto yang kita lihat.

Ingatan itu lalu bercampur dengan endapan kesedihan kemarin malam. Membuat mata sedikit basah dan dada sedikit sesak.

Koko putih itu, dan banyak hal lainnya, adalah saksi perjalanan hidup kita bersama.

#cerita Jum’at lalu yang baru sempat kutulis#

10 Mei 2022 Roller Coaster
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Di taman hiburan, aku amat suka menaiki wahana yang menguji adrenaline. Rasanya seru walaupun ngeri. Kemarin kala menekuri perasaan yang naik turun seperti roller coaster aku berpikir, dengan safety belt atau pengamanan yang man-made saja aku bisa merasa aman jungkir balik dan terbolak-balik naik turun menaiki wahana. Bukankah sepatutnya aku merasa jauh lebih aman mempercayakan hidupku pada Yang Empunya jiwa manusia, yang menggenggam jiwa manusia dan mencengkram ubun-ubunnya? Sehingga walaupun hidupku terbolak-balik sedemikian rupa, aku tetap yakin bahwa ada Dia yang menjaga dan memeliharaku?

28 Apr 2022 Pilihan Hidup
 |  Category: Uncategorized  | Leave a Comment

Ada pepatah mengatakan: “Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.” Tepat sekali. Siapa yang tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Manusia itu makhluk yang complicated. Rumit. Tak tertebak. Terlalu banyak faktor yang mempengaruhi pilihan manusia atas suatu keputusan tertentu.

Contohnya pilihan hidup yang dipilih suamiku. Dulu ia sempat bilang tak akan melangkah lebih jauh tanpa izinku. Walaupun izin bukanlah syarat sah perkara itu. Tentu saja ada pergulatan batin yang sengit dalam diriku. Walaupun kebanyakan orang menyatakan keheranan atas pilihanku, tapi aku punya alasan sendiri. Bila aku tak mengizinkan, apa lantas hidupku jadi lebih tenang? Belum tentu. Mungkin saja pikiranku dipenuhi prasangka macam-macam ini itu. Bagaimana mereka di belakangku. Bagaimana kedudukanku sebenarnya di hatinya. Bagaimana perasaan suami saat aku menolak menerima petunjuk yang diterimanya. Aku membayangkan serangkaian what if dari sekian banyak kemungkinan pilihan. What if I chose this one instead of that one?

Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil posisi yang jelas bagi diriku. Setidaknya aku berproses untuk menerima dengan lapang karena semuanya terbuka dan atas seizinku. Aku belajar menerima dan merasa puas dengan apa yang memang jadi bagianku. Aku fokus dengan apa yang menjadi bagianku. Aku fokus dengan apa yang memang kumiliki. Ketimbang gamang dan terombang-ambing dalam ketidakjelasan status. Terjebak dalam prasangka dan ilusi liar yang kuciptakan sendiri.

Ketentuan Allah, tak ada yang dapat menolak. Justru aku mengharapkan banyak keberkahan karena taat pada ketentuan Allah. Sehingga bagaimanapun pandangan orang di luar sana, aku tetap merasakan kebahagiaan di dalam sini.