Author Archive

09 Des 2009 In What Should We Compete In?
 |  Category: My Self, Refleksi  | Leave a Comment

Aku ingat betul saat anak-anakku masih bayi, aku selalu mencatat rinci berat badan mereka tiap kali ke klinik atau posyandu untuk imunisasi. Bila berada bersama ibu-ibu lain, ada rasa bangga menyelinap ketika membandingkan bahwa anakku kelihatan lebih montok dibandingkan bayi-bayi lain. Ketika mereka beranjak besar, urusan berat badan nampaknya tak penting lagi.

Ketika aku sekolah dulu, urusan ranking dan pencapaian nilai akademis rasanya penting sekali buatku pribadi. Terus terang aku jarang belajar, tidak cinta belajar dan mengakui bukan seorang pembelajar. Belajarku rasanya hanya sekedar mengejar nilai. Tidak sampai ke esensi belajar itu sendiri. Hanya sekedar hapalan untuk mengisi kertas ulangan.
Dan ketika sudah ‘lulus’ seperti sekarang ini, urusan ranking yang dulu dikejar setengah mati, sekarang nampaknya tak penting lagi.

Sekarang apa lagi yang diperlombakan? AlQur’an menyitir bahwa manusia senantiasa berlomba-lomba dalam hal banyaknya harta dan anak. Bahasa gaulnya: “Oh ya, gue udah punya ini, ini, dan ini. Lo punya apa?” Atau: “Anak gue segini segitu , yang satu udah jadi ini, yang satu lagi jadi entu, yang satu lagi jadi anu.” Weleh, weleh… cappee deh… ga ada habisnya.

So, in what do we have to compete in? Fastabiqul khoiroot, bahasa Qur’annya. Berlomba-lomba dalam kebaikan (aku ga punya cukup ilmu untuk mengelaborasi makna sebenarnya dari kata ‘khoiir’).

Kata Nabi SAW: “Orang yang cerdik adalah orang mampu menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Orang yang lemah adalah orang yang menuruti hawa nafsunya dan berangan-angan muluk kepada Allah.” (HR. Abu Daud).

Sesungguhnya, segala pencapaian di dunia tak ada artinya bila itu tak dapat menjadi bekal untuk kehidupan akhirat.

Thursday, December 03, 2009, 02.18

09 Des 2009 God Bless You, My Dear …
 |  Category: My Husband, My Marriage  | Leave a Comment

Tepat pukul 1 dinihari saat aku menulis catatan ini. Badan lumayan segar, setelah tidur selama beberapa jam tadi. Mumpung ada ide, tak apalah bilasan kutinggal sebentar. Sebelum idenya mabur entah ke mana.

Sebelum Maghrib tadi aku menelpon Mas. Berharap ia tak berlama-lama di kantor karena badanku tak kuat lagi. Lelah. Akumulasi dari kekurangan tidur sejak kemarin. Nuri bangun tiap ditaro tapi tertidur pulas bila digendong. Barusan menangis kejer saat kutinggal Ashar sebentar saja. Ashar di penghujung waktu. Telfonku tak terjawab. Ternyata semenit kemudian mobilnya tiba di depan pagar.

Aku langsung ‘menyerahterimakan’ Nuri ke gendongannya. Baru teringat bahwa aku belum makan. Padahal tangki perlu diisi karena aku harus memberi ASI.. Sambil memaksa mata terus terbuka, aku menyuapi anak-anak makan malam setelah sebelumnya agak memaksa mereka bangun. Jadwal tidur mereka kacau karena susah menyuruh mereka untuk tidur siang. Akhirnya mereka tidur sore karena kelelahan.

Sekitar setengah tujuh aku pergi ke pulau kasur. Toh, ada bapaknya anak-anak yang bersedia stand-by. Jam sembilan aku baru bangun. Mata masih terbuka setengah. Belum poll rasanya. Tapi aku tahu Mas sudah kelelahan. Nuri ditaro dan langsung beranjak ke atas ke ruang kerjanya. Jam dinasnya usai. Sekarang giliranku. Sudah waktunya aku bangun. Sebenarnya kasihan juga dia. Setelah lelah di kantor seharian, pulang-pulang masih harus menjalankan ‘peran domestik’. Tapi kan memang seharusnya begitu. Saling bahu-membahu satu sama lain. Lantas aku menambah tidur 1 jam lagi sebelum benar-benar merasa segar, sambil mengeloni Nuri yang tertidur di sampingku.

Berputar-putar saja ceritaku. Sebenarnya yang ingin aku tekankan adalah, aku bersyukur punya suami yang begitu baik yang bersedia ringan tangan membantu tugas istrinya. Tak peduli sehebat apapun jabatan seorang lelaki di luar sana, ia haruslah dinilai dari bagaimana cara ia memperlakukan keluarganya. Istri dan anak-anaknya. Banyak lelaki yang kelihatannya hebat, tapi tak tahu bagaimana cara mengenakkan istrinya. Boro-boro membantu, memuji saja irit. Lebih parah lagi yang mentally abusive, menggerogoti mental istri dengan celaan dan cemoohan yang menjatuhkan harga diri. Mungkin suami macam itu lupa betapa beratnya tugas sebagai seorang istri sekaligus ibu. Bukannya membantu, justru membebani pikiran dan perasaannya. Ini bukan soal KDRT. Sudah parah kalau suami memperlakukan istri kasar secara fisik.

Alhamdulillah, beratnya tugasku diperingan oleh kesediaan suamiku untuk membantu.
Kata Nabi SAW: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”

God bless you, Mas…

Saturday, November 21, 2009, 01.00

18 Nov 2009 What Is The Hardest Part of Having A Baby?
 |  Category: My Kids, My Self  | Leave a Comment

What is the hardest part of having a baby? Begitu pertanyaan dalam ruang pikiran yang tak henti berkelebatan. Susui bila haus lapar. Bersihkan badannya agar nyaman.Timang-timang bila menangis bosan. As simple as that. Sungguh aku takut terdengar sombong mengecilkan masalah. Karena setiap perkataan pasti diuji. Semua orang tahu beratnya jadi ibu. Pekerjaan yang tak mengenal kata libur dan cuti.

Tips of the day. Jangan pernah mencoba untuk sempurna. Kekecewaan itu timbul bila ada kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Cuek sedikit tak mengapa. Lupakanlah tentang rumah yang harus selalu bersih cemerlang. Aku mencermati bahwa aku selalu jadi kesal dan judes pada anak-anak bila kelelahan berulang kali menyapu tapi rumah kembali kotor lagi dan lagi. Hari ini moodku sedang bagus. I’am loosen up a little bit. Tetap tenang walau banyak barang berserakan tak pada tempatnya. Toh nanti ada waktunya juga semua kekacauan itu akan kubereskan.

Aku pernah menulis tentang how I manage my routines. Well, setelah kehadiran amanah baru, apa yang dulu rutin kujalani pastinya berubah sedikit banyak. Sekarang, kadang aku mengerjakan sesuatu hal single-handedly. Bukan kiasan tapi benar-benar single-handed karena tangan yang satu kugunakan untuk menggendong Nuri yang kebetulan bobot tubuhnya masih ringan. Menyapu dan mengepel mungkin saja bukan, dilakukan sambil menggendong?

Jadi, jangan risau dan stress Dear Mommies. You are not alone. Enjoy aja. Keep it simple. Jangan diperumit. Segala sesuatu itu terasa sulit kalau kita menjadikannya sulit. Kita pasti selalu punya cara untuk menghadapi apa yang ada di depan mata hari ini.

Wednesday, Nov 18, 2009, 11.00

15 Nov 2009 Jin Kura-kura
 |  Category: Refleksi  | 2 Comments

Aku ingin menulis tentang sedikit memoriku di waktu kecil. Di awal penayangannya dulu, aku dan adik-adik sangat antusias menantikan serial Dragon Ball yang ditayangkan setiap Minggu pagi. Lama-kelamaan, tentu saja kami menjadi bosan dengan ceritanya yang sangat panjang yang diputar kesana-kemari. Jadi semakin tak jelas juntrungannya.

Entah kenapa aku teringat pada Jin Kura-kura. Guru Sun Go Kong yang nyentrik dengan kacamatanya dan dikenal genit terhadap wanita. Di awal pengajarannya, Jin Kura-kura mempersyaratkan Go Kong membawa beban yang teramat berat di punggungnya. Mulanya Go Kong merasa sangat keberatan dan kepayahan. Untuk berjalan pun ia susah, apalagi berlatih jurus andalan.Tapi semakin hari Sang Guru terus menambah beban latihan muridnya itu. Lama-kelamaan Go Kong menjadi mahir berloncatan di atas pepohonan dengan membawa beban berat itu. Sampai tiba masanya Go Kong diperbolehkan melepas beban itu. Ajaib, ia langsung merasa tubuhnya ringan bagai angin. Ia bahkan mampu melompat setinggi langit dengan amat lincah. Tanpa sadar, kemampuannya telah meningkat berlipat ganda. Dengan diberi beban berat, ia ditempa menjadi kuat.

And there goes my story. Dulu, waktu baru punya 1 anak, aku merasa terikat tak bebas berbuat apa-apa. Repot sekali harus mengurus seorang anak bersamaan dengan menjalani kesibukan kuliah. Seringkali, anak kutitipkan ke orang tua kalau sedang ada quiz, ujian, atau tugas makalah. Lalu lahirlah anak kedua, ketiga, dan keempat yang baru lahir sebulan lalu. Memang repot dan melelahkan. Bohong kalau aku berkata mengurus 4 anak itu tidak repot. Melayani kebutuhan dan permintaan mereka yang seakan tak ada habisnya. But I survive anyway. Apa yang awalnya terasa amat berat, perlahan menjadi makin mahir kulakoni. Serupa Sun Go Kong dalam cerita di atas. Dengan diberi beban berat, aku ditempa semakin kuat. Alhamdulillah.

Sunday, November 15, 2009, 07.15

05 Nov 2009 Bagaimana Besok?
 |  Category: Refleksi  | 4 Comments

Aku mengalami ini tepat pada malam Senin, malam sebelum kepulangan orangtuaku ke Jakarta. Nuri terjaga agak lama. Wajar, dia sudah tertidur pulas seharian. Ia tidur bila kugendong, dan membelalak begitu dibaringkan. Tengah malam itu aku sudah sangat lelah. Berharap suamiku dapat bergantian menjaga. Tapi rupanya saat itupun dia sangat lelah dan tak mampu bangkit dari tidur. Lantas aku menggendong sambil duduk menangis, memohon kekuatan dari Dia Sang Maha Kuat.

Di ruang tivi, Aslam dan Halim tidur ditemani kakeknya. Halim yang memang manja kepada kakek neneknya rewel tak henti-henti. Tidurnya tak tenang. Minta ini dan itu. Minta ‘putih dingin’ alias air putih dingin. Minta garuk. Minta elus. Minta susu berulang kali. Aku saja sampai sebal mendengarnya. Tapi ayahku melayani sebisa mungkin dengan sabar.

Lantas terpikir: Bagaimana besok seandainya orangtuaku sudah tak ada? Rasanya tak sanggup kalau aku harus menjaga semuanya sendirian. Padahal hanya malamlah waktu istirahatku. Siang hari ada setumpuk pekerjaan menunggu. Terlebih, usai kepulangan orangtuaku, aku benar-benar jadi single fighter. Bagaimana besok seandainya…? Bagaimana besok sekiranya…? Tiba-tiba aku sadar telah berpanjang angan. Setan telah mempertakutiku dengan kekhawatiran akan masa depan. Aku telah tak berpijak pada kekinian. Mengapa harus menangisi kesusahan akan datang yang belum tentu terjadi? Lucu sekali aku ini. Lantas aku menghapus air mataku. Ketakutan akan hari esok kadang membuat kita menjalani ‘sekarang’ dengan kurang kebersyukuran.

Kenyataannya, keesokan malamnya, Halim tidak serewel yang aku kira. Ia hanya terbangun sesekali. Jauh dari yang sebelumnya aku khawatirkan. Alhamdulillah ya Allah, atas pelajaran hari ini.

Thursday, November 05, 2009, 17.34