Author Archive

22 Jan 2009 Tentang Usia Sekolah (Part I)
 |  Category: My Kids  | One Comment

Kapan usia tepat anak mulai sekolah? Aku tak akan menulis tentang segala teori pendidikan yang rumit, yang jujur saja, memang tak begitu kukuasai. Hanya ingin menulis berdasarkan pengalaman yang kualami dan amati sendiri.

Anak pertamaku Alfath mulai menjajal sekolah ketika usianya 2,5 tahun. Kebetulan ada sebuah Play Group kecil yang baru berdiri tak jauh dari rumah kami. Mungkin karena baru, uang pendaftarannya pun teramat murah. Hanya 10 ribu kalau tak salah. Dan dengan iuran 15 ribu untuk 3 kali jadwal masuk seminggu.

Awal masuk anakku tampak tak terlalu antusias. Setelah beberapa kali masuk pun tampaknya dia belum terlalu berbaur dengan teman sebayanya. Kalau anak-anak yang lain bisa dengan tertib mengikuti gerakan senam sebelum jam masuk kelas dimulai, ia lebih memilih main papan seluncur mini yang ada di sekolah. Tidak, ia bukannya tak mengerti apa suruhan, perintah dan omongan gurunya. Ia anak yang cerdas. Lancar berbicara apa saja ketika berumur 20 bulan dan dengan sukses membuatku terharu kala dengan setengah berteriak mengatakan: “I love you, Bunda….” seraya melambaikan tangan padaku yang akan berangkat mengajar. Waktu itu umurnya sekitar 27 bulan.

Seingatku ia kerapkali merasa terpaksa tiap kali sekolah. Tentu saja ini tak bisa dipukul rata. Karena dari beberapa cerita orang tua ada juga anak mereka yang bahkan menanyakan kapan harus sekolah lagi ketika hari libur tiba. Kurasa anakku tidak termasuk tipe yang itu.

Puncaknya adalah setelah libur agak panjang setelah Hari Raya Idul Fithri. Anakku tambah enggan dan mogok sekolah. Ia suka ngambek tanpa alasan yang jelas. Kertas tugas yang disodorkan Bu Guru dikuwel-kuwel dan dicampakkannya dengan kasar.

Akhirnya aku dan ayahnya memutuskan untuk tidak memaksanya sekolah lagi. Pun tak lama kemudian, kami memang akan pindah rumah.

Di rumah baru selalu kutanya: “Alfath, mau sekolah lagi, nggak?” Yang selalu dijawabnya dengan ‘tidak’.

Umur 4 kurang sedikit ia kudaftarkan ke TPA di masjid komplek perumahan. Kebetulan ada anak tetangga yang lebih dulu masuk. Ada cerita sedikit mengenai anak tetangga ini. Ia lebih kecil dari Alfath. Selisih 2 tahun kira-kira. Mulai mengaji TPA ketika usianya 2,5 kurang. Yang aku tahu kemudian adalah anak ini setelah sekian bulan tak beranjak dari Iqro’ 1 halaman 2. Hampir seluruh catatan di kartu prestasi mengajinya tertulis ‘ULANG’. Mengapa demikian? Karena tiap mengaji ia belum bisa konsentrasi dan selalu tengok kiri kanan. Apakah anak ini bodoh? Kurasa gadis kecil itu tidak bodoh. Hanya umurnya saja belum memungkinnya untuk bisa berkonsentrasi mengaji dengan tekun. Rentang perhatiannya masih pendek.

Awal mengaji memang Alfath berteriak-teriak dan menangis histeris. Mungkin ia belum terbiasa dan belum merasa aman dan nyaman dengan lingkungan barunya. Tapi tak lama perkembangannya terlihat nyata. Maju sedikit demi sedikit dengan meyakinkan. Pelan tapi pasti.

Usia 4,5 kami daftarkan di TK Islam dekat rumah untuk tingkat TK A. Sekolahnya ini punya kebijakan ketat berkenaan kehadiran orang tua menemani anak di sekolah. Anak hanya boleh didampingi orang tua paling lama 1 minggu dalam masa adaptasi. Hari pertama tentu saja hampir semua orangtua menemani anaknya sampai kelas usai. Hari kedua orangtua sudah diminta pulang atau menunggu di luar sekolah. Kebetulan sekolahnya menempati lahan yang sempit dan terbatas. Hanya seukuran rumah.

Anakku termasuk yang merasa berat berpisah dengan ibunya dan menuntut agar aku selalu tampak di matanya. Ia menjerit hebat -dan parahnya disertai dengan mengata-ngatai guru- kala aku ‘dipaksa’ atau diminta dengan sangat oleh Bu Guru untuk menunggu di luar sekolah. “Biar saja Bu, biar kami yang tangani. Sudah biasa anak begini. Masa penyesuaian. Harus dididik untuk berani.” Demikian kira-kira ucapan Bu Guru. Memang benar. Tak lama ia jadi berani dan telah merasa nyaman dengan kelas dan teman-temannya.

Prestasi belajarnya termasuk papan tengah. Di sekolah ini, untuk tingkatan TK A belum diajari tulis baca, hanya sekedar pengenalan huruf. Persis seperti yang kami inginkan. Sekolah yang tidak memburu-buru anak dengan calistung. Karena toh, masih ada kesempatan lagi untuk belajar membaca di TK B.

Sayangnya, setelah satu semester dijalani, kami harus pindah rumah lagi mengikuti kepindahan tugas ayahnya ke Surabaya. Lagi-lagi Alfath kami daftarkan ke TK di sekitar rumah saja. Dibanding sekolah lama, rasanya TK yang ini kunilai lebih santai. Hampir tiap minggu ada jam pelajaran yang terpotong karena ada perayaan ulang tahun anak-anak di sekolah. Rasanya sudah tradisi anak-anak merayakan ulang tahun di sekolah. Meskipun acaranya biasanya hanya untuk teman sekelas. Dalam hal hafalan doa-doa dan surat-surat pendek, sekolah ini agak jauh tertinggal dibanding sekolah Alfath yang lama. Tapi ternyata, walau tampak santai, banyak juga pelajaran yang didapat di sekolah ini. Ini kuketahui setelah pada waktu pembagian ijazah dibagikan buku tugas yang selama ini dikerjakan di sekolah.

Up to this point, ketika lulus TK, Alfath sudah bisa membaca walaupun belum lancar benar. Ia masuk SD usia 6,5 tahun. Umur yang cukup matang dan pas untuk duduk di Sekolah Dasar. Ini terbukti kurasakan benar pada anakku. Tak lama, ia dapat membaca dengan lancar. Hampir tidak mengalami kesuliatan berarti dalam tiap mata pelajaran. Aku pun tidak begitu susah payah mengajarinya. Terakhir, ini yang memicuku untuk menulis ini, nilainya cemerlang dalam Ujian Akhir Semester Ganjil. Minimal dapat 88, yang lain di atas 90. Padahal aku merasa hanya menemaninya belajar seadanya saja. He’s far beyond my expectation. Alhamdulillah…

31 Des 2008 Refleksi Tahun Baru
 |  Category: Refleksi  | One Comment

Bagaimana teman-teman memaknai tahun baru? Apakah hanya sekedar hura-hura, melakukan counting down dan bersiap-siap meniup terompet keras-keras ketika jam menunjuk pukul 00.00? Ataukah ada yang lebih dalam dari sekedar itu?

Alhamdulillah diberi umur sampai penghujung 2008 yang kira-kira tinggal 4 jam ini. Mudah-mudahan sampai ke permulaan 2009 nanti. Mudah-mudahan 2009 bisa diisi dengan kebajikan yang lebih, dengan perbaikan atas kekurangan 2008 di sana-sini.

Setelah 00.00 lewat, sedetik kemudian, kira-kira apa rasa yang mungkin timbul? Mungkin biasa saja. Toh, detik demi detik berjalan seperti biasa. Kecuali bahwa mulai detik itu kita akan menuliskan 2009 ketika mencantumkan tahun. Atau sebaliknya, justru merasa luar biasa bagaikan ada energi baru yang mengaliri darah, ada tekad baru untuk menjadikan hari ke depan menjadi lebih baik.

Sebetulnya detik yang berharga itu tak hanya pada detik pergantian tahun baru, di mana kita mengadakan counting down di hotel, tempat-tempat hiburan, dengan konvoi di jalan, atau bahkan sekedar berkumpul dengan keluarga di rumah saja. Tiap detik adalah berharga.

Ada sebuah perkataan bijak yang pernah saya dengar. Allah menciptakan waktu selalu baru. Tiap detik adalah fragmenyang terpisah satu sama lain. Jangan terberati oleh masa lalu. Jangan dipusingkan dengan masa depan. Sekarang adalah sekarang, yang ada di depan mata kita. The Power of Now, demikian tulis Eckhart Tolle. Bertobatlah jika ingin bertobat. Tak pernah ada kata terlambat. Menjadi baiklah, tak usah dipusingkan kita ini dulunya apa dan bagaimana.

 Akhir kata:

 

Selamat Tahun Baru 1430 Hijriyah

 

Selamat Tahun Baru 2009

 

*should be posted at 20.00 yesterday. But again, connection error.

28 Agu 2008 Beli Suasana
 |  Category: My Self  | 2 Comments

Sby, August 28, 2008, 16.11

Kok mendadak kepingin sneak out ke warnet walaupun di rumah tersedia internet acces dengan mudah dan gratis (maksudnya suami yang bayar gitchu…)

Yaaa sejam dua jam tak apalah. Di dekat rumah ada dengan tarif 3000 rupiah/ jam.

Kenapa begitu? Bukankah mubazir saja mencari di luaran apa yang sudah tersedia di dalam rumah.Tak lain tak bukan adalah tak efektifnya dudukku di depan komputer ini yang walaupun kelihatannya berjam-jam tapi sungguh banyak sekali interupsi di tengah jalan.

Sedikit-sedikit Halim minta pangku. Minta mimi. Minta naik-naik ke atas meja komputer. Kadang-kadang Aslam ikut-ikutan. Kadang-kadang dua-duanya berebutan. Pfiuuhhh…..!

Begitu Alfath pulang, gantian dia yang pingin main game.

Belum habis buka dan baca sesuatu diusik lagi dengan segala tetek bengek keperluan. Aslam minta susu lah, mau pipis lah, lengkap dengen rengekannya yang otomatis bikin spanning meninggi.

Baru duduk sebentar ada lagi yang mesti kukerjakan.

Kalau malam ayahnya yang butuh perhatian. Agaknya seperti ga tau diri masih membuka komputer katika suami pulang. Habis gimana? Kadang-kadang baru malam itu lah keadaan agak tenang.

Kemarin dulu aku suka sesekali ke warnet ketika komputer lagi ngadat. Tapi sekarang aku sedang mempertimbangkan, mungkin sesekali juga tak mengapa ke warnet walopun komputer di rumah sedang sehat wal afiat. Karena sesungguhnya, yang kubeli di warnet adalah suasana, bukan sekedar akses internet.

26 Agu 2008 Cita-cita : Menikahi Cowok Pintar!
 |  Category: My Husband, My Self  | 7 Comments

Yup, benar! Itu memang cita-citaku. Never clearly stated tapi setelah kupikir-pikir sepertinya itu yang terinternalisasi dan mengendap jauh di dalam diri. Yang pasti, kriteria ini yang terutama dibanding kebagusan rupa. Apalagi kalau kulihat list ‘para pencuri hatiku’ dulu.

Terus terang aku sangat awam masalah lelaki. Tak cukup punya banyak pengalaman hasil trial and error. Jadi jujur saja, daftarku teramat pendek. Only few selected person. Tapi yang jelas, my husband is not my first love.

Apa indikator pintar jaman sekolah dulu? RANKING. Itu menurut pikiran polos naifku. Namanya juga cinta monyet toh. Cinta anak ingusan. Maklum saja kalau masih berpikiran begitu sempit. Lupakan saja dulu tentang: sholih, dewasa, bertanggung jawab, deelel.

Dan berdasarkan ranking, di 12 tahun sekolah formalku dulu (tidak termasuk kuliah) ternyata hanya 2 orang cowok saja yang kuakui keunggulannya di atasku. And guess what, 2 orang itulah yang sukses menjadi (ehemm- ehemm) my so-called love-list.

Daftar ini begitu pendek, karena di jaman hormon puber tengah meledak-ledak, alias masa-masa SMP, aku berada di penangkaran khusus wanita alias boarding school. Jadi ga ada sasaran empuk yang bisa ditaksir.

Kalau diinget-inget sekarang lucu ga sih, naksir cowok karena NEM nya beberapa poin di atasku. Atau kepincut sama juara kelas sementara aku terpaksa takluk di posisi runner-up. Lah wong, apa korelasi seseorang bisa jadi suami yang baik berdasarkan nilai NEM dan ranking. Hahahaha….

Tapi Allah Yang Maha Baik memang senantiasa mendengar doa hamba-hamba Nya. Terutama yang melantunkan doa tulus saat sedang sekarat dalam derita cinta. Dia memberi yang jauh lebih baik.

Ini contohnya. Kecenganku dulu mengantongi NEM 45. Yaaa…lumayan lah ketimbang aku yang jeblok di 37,66 (salahkan boarding school? Soalnya segitu udah termasuk tinggi di sana). AlhamduliLlah masih masuk di SMA Negeri walau dengan peringkat buntut (312? Sungguh nyarisss…). Meski kemudian aku sukses meraup 7 piagam juara kelas di SMA. Tapi aku ternyata berjodoh dengan suamiku yang kemudian kutahu NEMnya 52. Haha…terkabul kan cita-citaku? In terms of PINTAR menurut versi jadulku.

Allah Yang Maha Baik memang selalu mengikuti persangkaan hamba-Nya. Even better….

12 Agu 2008 Bukan Sulap Bukan Sihir
 |  Category: My Self  | 2 Comments

Memang ajaib ya seorang ibu itu. Makhluk bertangan (hanya) dua yang mampu menyelesaikan seabrek tugas dan setumpuk pekerjaan.

Suatu kali aku berkunjung ke rumah bibiku. Seorang full-time mom dengan 3 orang anak yang masih kecil-kecil. Karena keterbatasan ekonomi dia tidak memperkerjakan ART dan malah mengambil pekerjaan serabutan yang bisa dikerjakan di rumah. Pekerjaannya sejenis handcrafting, yaitu membuat aksesoris dan pernak-pernik yang sedang in. Misalnya bikin kalung, gelang, ikat rambut, sarung HP, deelel. Pokoknya apa saja yang lagi musim. Dia mengambil kerjaan borongan itu di tetangganya dan dibayar tergantung berapa banyak dia bisa menyelesaikan. Pekerjaan yang sungguh honornya tidak seberapa. Yaa…itung-itung membantu suami dan untuk uang jajan anak-anak.

Jujur saja, rumahnya yang sederhana itu bak kapal pecah ketika kusambangi. Baju kotor berserakan di mana-mana. Bahan kain dan retsluiting untuk membuat sarung HP juga bertebaran tak karuan. Anak-anak masih cemen dan rebek karena belum mandi. Sampai-sampai aku berpikir: "Apa suaminya (aka pamanku) ga marah dan pusing ya kalo pulang kerja lihat rumah berantakan kayak gini?"

Singkat cerita aku main ke rumah bibiku yang lain yang tinggalnya sangat berdekatan. Mungkin hanya setengah jam aku ngobrol dan duduk-duduk di situ. Sampai akhirnya bibiku yang tadi itu menghampiriku sambil menggendong dan menyuapi anaknya yang sudah rapi bersih. Tak lama aku berpamitan pulang. Dan aku terkesima dengan rumahnya yang kini bersih dan kinclong. Semuanya tertata rapi dan enak dipandang. Sangat berbeda dengan keadaan setengah jam yang lalu. Seingatku waktu itu aku lantas berpikir begini: "Ck…ck…ck…How marvelous is what a mother can do…"