Author Archive

06 Agu 2008 Cerita Lama tentang Aku dan Dia
 |  Category: My Husband, My Marriage, My Self  | 9 Comments

Waduh, orang melankolis ekstrim kayak aku gini memang paling suka meretas jalan kenangan. Kenangannya cuma sepanjang jalan itu, tapi diudek-udek terus dihilir-mudiki bolak-balik. Entah kenapa, ada perasaan hangat menjalari setiap mengingatinya. Yang ini masih cerita lama. Tadi kok iseng baca-baca, dan sepertinya lumayan menarik untuk ditulis di blog. Daripada hilang ketika diary nya lapuk dimakan usia atau dimakan rayap. Yang ini bener-bener ditulis seada-adanya. An uncut version.

Tadi gue ketemu ma’ Firman dan Imam. Gue ceritain aja masalah gue (Nggak tau deh seharusnya boleh apa nggak?)

Pusing deh ih pusing! Gimana kelanjutannya hubungan gue sama Noer. Susah juga kalo the trouble maker temen sekampus. Temen satu profesi, pula!

Dia sih kayaknya nyantai-nyantai aja. Gue sendiri kali yang kelimpungan. Perasaan kanan-kiri salah. Kalo gue keseringan ngobrol pasti bakal dicap ada apa-apanya. Dan ini bakal jadi preseden buruk bagi FSI. Lho, anak FSI kok pacaran?

Kalo nggak, kok ya gue merasa sayang banget gitu. Kayaknya banyak banget yang bisa gue dapet dari pertemanan gue dengan Noer. Gue bisa meniru dan belajar banyak hal ttg keoptimisannya dia, tentang rencana-rencana ajaibnya, tentang tips-tips belajarnya, tentang pemikiran-pemikirannya yang terkadang agak ‘aneh’ dan melangit, tentang macam-macam pengetahuannya dari hasil pengeksplorasian berbagai buku, termasuk juga tentang kepeduliannya untuk membagi Islam ini pada semua. Gue akan merasa sangat kehilangan ini semua kalo menjauh darinya. Tapi gue juga mafhum benar akan rentannya hati ini dari serbuan penyakit yang dapat melalaikan. Sementara gue anggap ngobrol sama dia membawa kebaikan, padahal ternyata Allah benci banget sama perbuatan ini. Jangan-jangan alasan-alasan di atas sekedar pelegitimasian dari pengumbaran hawa nafsu yg nggak terkekang?

So, what could be the best solution?

Gue udah mesti sholat istikhoroh nggak ya?

Noer pernah bilang langsung ke gue kalo dia udah siap dan lagi nyari akhwat yg siap. He asked my opinion about getting marry. Sesuatu yang tadinya begitu jauh dari pikiran gue tapi sekarang sering jadi hal yang gue jajaki kemungkinan terjadinya. Dia bilang tinggal nyari kerjaan. Dia tanya, menurut Nurul gimana? Ya, gue jawab aja pake teori di buku: harus disegerakan tapi jangan tergesa-gesa. Kesulitan mungkin ada tapi jangan disulit-sulitkan. Nungguin gelar termasuk menyulit-nyulitkan nggak,ya? NURUL HALIDA, SE. Wisuda lalu bekerja. Suatu bayangan cerah orang tua akan masa depan anak. Apa mesti begitu? Apa kaya dan bahagia cuma bisa didapat lewat jalur itu? Tak bisakah misalnya, kami berjuang sama-sama dalam naungan ridho Allah krn ikatan yg syah, lalu memulai segala-galanya dari bawah? Entah kenapa gue merasa dia somehow akan berhasil karena keoptimisannya, karena tekad kuatnya, dan karena kelurusan niatnya.

Dia berniat menyegerakan untuk menjaga diri bukan, ya Allah? Hatiku terkesan karena itu. Ia mau bekerja keras dan menabung demi menyegerakan niat baiknya.

Aku baru 18. Belum cukup umur kata orang. Meski sebenarnya kedewasaan tidak semata-mata ditentukan dari umur.

Selasa, 24 Agustus 1999

Background

Ini nulisnya waktu Mas belum menyatakan terang-terangan nih. Udah mulai pdkt tapi belum eksplisit bilang. Jadi masih meraba-raba maksud dia dan ga mau ke GR an duluan. (See posting: 7 September, 8 Tahun Lalu).

Btw, karena sebaya, dulu aku manggil dia by his name only. Tanpa "MAS". Beberapa bulan sebelum nikah he insist me to call him Mas Noer. Tapi aku ga bisa. Bener-bener kagok. Kayaknya kerongkongan seperti tercekat. Kupikir ketika sudah sah sebagai istri nanti pasti otomatis langsung bisa. Kedua kalinya dia nyuruh pas mamanya datang. Seingatku bulan Desember 2000. Tapi tetep belum bisa. Kadang-kadang bisa sesekali, tapi keseringan lupa nya. Intinya masih sungkan banget lah. Jadi tetep bandel dan ngeyel tuh manggil namanya aja. Bukan maksud hati untuk nantang. Tapi memang ga bisa karena ga biasa. Ternyata sodara-sodara, di suatu malam di rumah teman ketika kita lagi merancang undangan nikah berdua, dia serius bicara dengan tampang yang tegas dan galak: "Jangan panggil Noer, panggil nya  Mas!!!" Oalah, langsung pias deh aku diseriusin dengan bentakan dan diultimatum gitu. Ga pernah-pernahnya aku liat wajahnya sesyerem itu. Mungkin karena dia udah geregetan juga kali ya, ni anak udah dibilangin beberapa kali kok ga ngerti-ngerti juga. Udah nyaris banget mo nikah (sekitar Jan 2001) masih manggil calon suami dengan namanya thok. Kesannya kurang berwibawa dan kurang respek. Setelah itu aku langsung diam dan ga banyak omong lagi. Ajaibnya, setelah dishock therapy gitu, baru deh besokannya lancar manggil Mas Noer :))

04 Agu 2008 Tanpa TK
 |  Category: My Kids  | Leave a Comment

Gambar_apat_1_1 Gambar_apat_2_2 These what we had in our living room. Hasil karya Gambar_apat_3_2 mewarnai Alfath di kelas TK A dulu. Karena menurutku bagus dan sayang bila hanya tertumpuk di lemari buku, maka kurobek beberapa halaman di buku gambarnya, lalu kubingkai dan kujadikan hiasan.

Alfath memang punya passion tersendiri dalam menggambar dan mewarnai beberapa tahun belakangan ini. Aku yang tidak pernah mengajarinya, jadi amazed sendiri dengan perkembangannya. Pertama kali aku ‘ngeh’ dengan kemampuannya adalah ketika ustadzahnya di TK A mengabarkan bahwa Alfath akan diikutsertakan dalam lomba mewarnai mewakili sekolah.

Ternyata meskipun anakku ini doyan ngobrol di kelas, tapi dia tetap bertanggung jawab menyelesaikan tugasnya. Jadi biarpun kelar paling belakangan karena mengerjakan dengan santai dan diselingi banyak ngobrol, tapi hasil kerjaannya boleh dikata bagus dan rapi.

Contrary to him, ibunya ini justru paling benci dan ga suka sama yang namanya gambar dan mewarnai. Entah kenapa. Sampai-sampai aku berpikir, apakah ini disebabkan kurang optimalnya stimulasi otak kananku di usia prasekolah, ataukah memang pada dasarnya aku ga berbakat seni? I’m a very plain person. Sama sekali ga nyeni.

Aku tak pernah terdaftar menjadi murid TK. Karena bisa membaca di usia 4, aku didaftarkan ibu di SD Negeri saat usiaku 5 tahun 3 bulan. Karena belum cukup umur aku ditolak. Akhirnya ibu mendaftarkanku di MI. Tadinya hampir tertolak juga. Tapi karena ibuku beralasan ke Kepsek untuk sekedar mencoba saja, dan boleh mengeluarkanku bila dalam 1 bulan tidak bisa mengikuti pelajaran, akhirnya aku diterima juga. Ternyata lanjuut terus. Naik kelas 2 MI, aku pindah ke kelas siang karena paginya sekolah di kelas 1 SDN.

Waktu sekolah dulu, nilai kesenianku paling top adalah 7. Malah seringkali hanya mentok di angka 6. Kesenian terutama menggambar adalah pelajaran yang paling tak kusuka selain olah raga.

Soal ini jugalah yang sering jadi bahan ledekan Alfath. Kalau sedang marah, ngambek, atau jutek kata-kata andalannya adalah: "Halah…Bunda ga bisa gambar aja…" Mau marahnya soal apa kek, ujung-ujungnya pasti ini yang jadi kartu truff nya. Aku langsung mati kutu. Memang begitu kenyataannya.

Aku ingat waktu umur Alfath sekitar 3 tahun. Kalo dia menggambar yang aneh-aneh, maksudnya yang keren yang aku ga nyangka dia bisa gambar begitu, aku langsung tanya : "Loh Apat bisa gambar gini siapa yang ajarin? Idenya darimana?" Dengan cerdasnya dia menjawab: " Ya dari otak Apat sendiri donk…" Duh, belagu deh, mentang-mentang Bundanya ga pernah ngajarin… 😛

30 Jul 2008 My New Bike
 |  Category: My Kids  | One Comment

My_new_bike Kali ini tentang soal yang remeh temeh dan ga penting. Cuma mau nulis aja buat pengingat bahwa pada Sabtu malam, 26 Juli 2008 kami sukses membuat Aslam kegirangan dengan membelikannya sepeda mini baru. Ini dibela-belain setelah beberapa hari sebelumnya  Aslam ngiler liat sepeda berjejer di Hypermart Cito sampe-sampe merengek sama ayahnya: "Ayaah, plis deeeh…."

Hehe…gw baru denger nih Aslam bisa ngomong gini…

Tapi emang dia udah lama kepingin sih setelah sepeda bayinya merotol botak ga karuan. Heran deh, satu demi satu partsnya copot sampe akhirnya dengan sukses ketabrak motor (atau mobil?) sehingga ga bisa berjalan dengan lancar lagi.

Sepeda_lama Sepeda_lama_2

Kalo udah begini keadaannya, kayaknya udah ga layak lungsur lagi buat Halim ya…?!

Padahal dulu mereka berdua hobi berebutan main sepeda bersejarah ini lho… Dsc04732edit

Dasar bocah, hobi main sepeda dalem rumah…

28 Jul 2008 Our Very First Home
 |  Category: My Family  | 3 Comments

Home is where your heart belongs to. Nice quotes. Entah aku lupa pernah baca di FS nya siapa. Hayo…yang ngerasa boleh ngaku. Aku emang nyontek kok.

Kalo home seperti makna di atas insya Allah sudah aku punyai sejak lama. In my little happy family. Maksudku sekarang adalah home secara fisik loh.

Setelah selama ini setia menjadi kontraktor, akhirnya kami memutuskan -dan alhamdulillah diberi kemampuan- untuk memiliki rumah sendiri (finally!). Setelah melalui beberapa proses yang agak berbelit, akhirnya terlaksanalah akad kredit pada 23 April 2008. Jadi sejauh ini berarti kami sudah mencicil sebanyak 3 kali. Tinggal 117 bulan lagi sisa cicilan (waks, ini mah banyakan yg belum ya…Still a long way to go 😀 ). Baru lunas pas anakku remaja nanti. Ya…mudah-mudahan kalo ada rejeki bisa dipercepat pelunasannya. Aamiin…

So, tanpa banyak kata lagi, inilah potonya sodara-sodara….

Rumah_edit_2 Rmh_edit_2

Sebuah rumah yang mungil saja. Aslinya tipe 36/91. Tapi oleh yang empunya dulu sudah ditutup belakang dan ditingkat dengan tambahan 2 kamar di atas dan sebuah kamar mandi. Ini rumah seken yang masih terbilang baru. Bangunan tahun 2005. Harganya sih banyak yang bilang termasuk murah. Dengan renovasi seperti itu loh. Masih di bawah 200 lah. Jadi total ada 3+1 kamar tidur dan 2 kamar mandi. Ya…sementara ini cukup memadai lah untuk keluarga kecil kami.

Tapi rumah ini sampai sekarang belum kami tempati. Masih perlu dirapikan di sana sini. Contohnya ini nih. Tangganya belum dipasangi railing oleh yg empunya dulu.Dsc04842edit

Gak safe banget kan buat anak-anak. Jadilah kita nempa railing dulu. Elah dalah ternyata setelah jadi, hasilnya tidak seperti harapan. Masih nyelos banget jerujinya. Sama juga boonk. Dasar! Siapa sih nih yang milih model…?! (padaal gw sendiri, wakaka…Dasar dodol).

Tangga_1_edit Dsc05147_edit

Asli deh, pas baru liat waktu belum kepasang, langsung berasa ilfil. Soalnya setelah dites dengan nyuruh Alfath mencoba lewat, langsung nyeplos aja tuh. Apalagi buat 2 krucil yang masih imut-imut. Langsung deh ilang napsu mengingat uang 3 juta lenyap tanpa sesuai harapan. Waduh, nasi dah jadi bubur, mo nempa yang baru ga mungkin kan. Emang kebanyakan duit apa. Tapi alhamdulillah, ternyata tukang nya terima complainan kita dan masih nerima perbaikan. Akhirnya dibetulin deh. dan yang paling penting: Free of Charge. Emang paling enak dapet gratisan. Jadilah hasilnya seperti ini, ga keliatan seperti tambelan kan…?!

Dsc05223edit Dsc05225edit

Alhamdulillah….sekarang aman deh.

Sementara itu, tukang cet yang satu ini agaknya sudah menyerah dan meninggalkan pekerjaan untuk diselesaikan oleh yang expert alias tukang bangunan aseli. Capek bo, udah bolak-balik tapi ga kelar-kelar. Kalo misua sih udah nyerah dari kapan tau. Katanya ga worthed banget ngecat sendiri, yang ada waktu luang untuk main bersama anak-anak di waktu libur jadi kebuang.

Kalo yang mau liat hasil cat an ku ini nih. Sayang cuma dikit gambarnya. Soalnya males banget harus resize gambar mulu. Gini nih punya kamera kecanggihan dengan spek melebihi kebutuhan. Pixelnya rapet banget shg filenya jadi besar dan susah di-upload. Makanya udah lama banget ga pernah upload foto yang sebenernya bejibun di komputer.

Dsc05074edit  Ini yg warnanya norak banget adalah kamar Apat and the gank. Abisnya dia sendiri yang milih. Kupilihin yg lebih soft ga mau.

Dsc05133edit_1 Ini kamar orang tua yang agak norak dikit. Ceritanya mau eksperimen dengan kamar yang bukan putih seperti kebiasaan sebelumnya.

Ruang_tamu_edit_1 Untuk ruang tamu, ga berani eksperimen macem-macem dah. Cukup dengan Light Ivory Catylac ajah.Ntar mau warna macem-macem malah kebanting karena ruangannya cuma seiprit.

Ya lumayanlah untuk rumah pertama di daerah yang rencananya adalah (bukan) persinggahan terakhir.

*Masih merasa bahwa Jakarta lah rumahku.

16 Jul 2008 Delapan Detik di Lift
 |  Category: Oprah Show  | Leave a Comment

"Bahkan ketika aku menaiki sebuah lift di New York, ada sebuah TV di sana. Mengerikan sekali, betapa manusia takut akan dirinya sendiri, bahkan untuk waktu 8 detik sekali pun." Ini perkataan Elizabeth Gilbert yang sangat menyentilku yang kulihat untuk ketiga kalinya pagi ini di Oprah. Ia adalah pengarang Best Seller Book "Eat, Pray, Love".

Kenapa buku itu bisa jadi Best Seller? Menurutku, karena buku itu jujur menohok aspek dalam manusia. Buku itu bicara tentang pengalaman pribadi pengarangnya, tentang segala proses pencarian jati dirinya, tapi sejatinya  juga bicara tentang diri kita masing-masing. Makhluk bernama manusia. Yang rindu pengetahuan akan eksistensi diri setiap kita di dunia ini. Siapa kita? Apa tujuan keberadaan kita? Untuk apa kita ada? Serentet pertanyaan primordial yang selalu menjadi tanda tanya para filsuf besar semacam Plato, Aristoteles. Suatu pertanyaan mendasar yang nampaknya sederhana namun sama sekali tidak sederhana.

Turning point bagi Elizabeth adalah saat di mana dia merasa gelisah. Menangis di kamar mandi jam 3 pagi, merenungi apa yang hilang dari hidupnya yang tampaknya sempurna. Hidup mapan dan punya pasangan hidup yang sangat baik. Lalu dalam keputusasaannya dia berdoa. Dan sebuah suara -yang dia enggan membahasakannya sebagai Suara Tuhan-menjawabnya. "Just go back to sleep", kata suara itu. Dan di malam-malam berikutnya dia kembali lagi mempertanyakan tentang hidupnya.

Aku sedang tidak ingin membahas detil kisahnya. Hanya ingin menulis point yang menarik bagiku saja. Untuk lengkapnya silakan nonton. Atau baca buku aslinya sekalian.

Apakah Elizabeth telah sampai pada pencariannya? Kuyakin belum. Bahkan ketika ia tuntas menuliskan kisahnya sekalipun. Itu pertanyaan seumur hidup yang butuh jawaban seumur hidup. Everyday is a struggle, bukankah begitu? Ia mungkin kini menjalani hidupnya dengan cara lain, seperti 3 tips yang ia tuliskan: tanyakan pada diri sendiri what do you really-really-really want, tulis jurnal kebersyukuran, dan menanamkan mantra positif pada diri. Tapi tetap saja, hidup adalah perjuangan setiap harinya.

Kembali ke perkataan Elizabeth tadi. Memang mengerikan ya, ketika manusia sibuk sekali dengan apa yang berada di luar dirinya. Bahkan seakan enggan terasing dengan dirinya sendiri, hanya untuk waktu 8 detik!!!