03 Jun 2008 Reason of Living
 |  Category: My Husband

Aku tak pernah berani mengintip sejenak untuk melihat isi dalam ‘sarang’ orang lain. Yang satu ini terpikir karena kata-kata anakku.

"Bunda, rumahnya Mas Anu berantakan banget. Baju berserakan di mana-mana. Rumahnya kotor banget."  Anak-anak memang kerap bebas lepas bertandang untuk bermain bersama. Dan kepolosannya membuatnya tak sungkan membeberkan laporan pandangan mata atas apa yang dilihatnya.

Lantas ini membuatku terpikir. Dasar melankolis sejati, tak pernah melewatkan sesuatu tanpa memikirkannya dalam-dalam. Andai aku dia, mungkin aku pun demikian. Keluarga ini terpecah karena Sang Bapak memilih hidup bersama wanita lain. Anak pertama ikut dengan Bapaknya karena Sang Ibu  tak mampu membiayai. Tinggallah si bungsu yang menemani ibunda.

"Dia ini semangat saya, Mba…"katanya padaku suatu kali, menunjuk pada si anak. "Kalau ga ada dia, ga tau gimana saya…" Bahkan di puncak depresinya, pernah tercetus keinginan untuk mengakhiri hidup.

Aku mengandaikan seperti dia. Bukan tragedinya yang miris, tapi menempatkan diri seolah kehilangan orang terkasih. Pasti semangat hidupku akan menurun drastis. Bahkan ditinggal beberapa waktu saja, semisal untuk tugas, ada suatu atmosfir beda terhirup. Jadi (agak) malas masak, (agak) malas bersih-bersih. Seolah semua kulakukan demi dia. Maka ketika dia tiada, seakan tak ada alasan untuk melakukan itu.

He’s my reason of living.

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

3 Responses

  1. 1
    Poppie 

    Memang pikiran begitu suka datang kalo kita yang udah hidup ber-tahun2 kemudian ditinggalkan. Tetapi waktu itu saya ingat bahwa mengakhiri hidup itu gak boleh, maka sekarang saya isi hidup ini dengan kesibukan. Dibuat sedemikian, yang tadinya kita sibuk hidup demi suami dan anak2, sekarang kalo bisa untuk sebanyak mungkin orang lain…….

  2. 2
    nurulnoer 

    Jujur saja, tulisan ini agak unappropriate ya. Kesannya ga bergantung pada Allah semata. Tadinya mau ku-delete, tapi sayang. Kuubah status jadi ‘draft’ tapi ga bisa.
    NaudzubiLlahi min dzalik, jangan sampe deh Bu Pop kepikiran begitu. Dan insya Allah mudah-mudahan aku ga akan begitu.
    Cuma merasakan sepinya dunia tetanggaku itu.
    Maap kalo terlalu hiperbolik.

  3. Tulisan ini ungkapan hati semua perempuan kok Nurul,….tak apa-apa.Sudah kodratnya kita begitu,merasa memiliki apa yang kita cintai.ITulah ujian keimanan kita ya?Semoga cinta kita kepada suami kita malah menguatkan cinta kita pada-Nya…

Leave a Reply » Log in