Author Archive

14 Feb 2009 Surat-Surat Itu… (1)
 |  Category: My Husband, My Marriage, My Self  | 2 Comments

Tak banyak orang tahu, betapapun mulus tampaknya proses pernikahanku, pergolakan batin di balik itu sungguh menguras emosi dan pikiranku. Keputusanku untuk memilih Mas sebagai pendamping hidup, bukanlah keputusan ringan yang bisa kuambil dalam tempo semalam. Beberapa orang yang kunilai cukup dekat dengannya dan bisa memberi pertimbangan secara fair dan jujur mulai kumintai informasi dan pendapat. Tentu saja, dalam perkara yang maha penting seperti ini, aku tak mau salah langkah dalam memilih.

Setelah surat lamaran yang Mas ajukan, aku mulai ‘mendekati’ beberapa orang yang kurasa layak menjadi nara sumberku. Aku sampai mengesampingkan rasa maluku sebagai gadis yang dikenal sangat pendiam, untuk mencari tahu secara pribadi baik secara lisan ataupun tulisan, mengenai pribadi calon suamiku secara lebih mendalam.

Kalau dihitung-hitung, kira-kira 8 bulan waktu yang kubutuhkan sejak ia mem-propose ku, hingga aku akhirnya memberi kata putusan untuk dengan rela dan ikhlas menerimanya sebagai suamiku. Mungkin terlalu lama bagi sebagian orang yang berpendapat bahwa proses pernikahan haruslah berjalan cepat untuk menghindari fitnah. Tapi apa mau dikata, memang begitulah jalan hidupku berlaku, aku tidak pernah merancangnya agar menjadi demikian, tapi tidak pernah sekali-kali juga aku menyesalinya. Aku menerimanya sepenuh hatiku. Semuanya itu dihadirkan dalam hidupku pasti atas izin Allah Ta’ala.

Figur Mas yang menurut sebagian orang cukup kontroversial memang memusingkanku sebagai seorang gadis yang warna hidupnya kental dengan nuansa pergerakan. Ia unik dengan gayanya sendiri. Yang menurutku agak susah untuk dikategorikan dalam golongan tertentu. Surat di bawah ini baru awalan. Sebaiknya teman-teman tidak men-judge apa-apa sebelum membaca respon balasanku di surat selanjutnya. Untuk melindungi nara sumber, namanya tak kucantumkan di sini. Mohon maaf bila ada pihak-pihak yang tersinggung. Aku sungguh tak bermaksud menyinggung siapapun di sini. Ini adalah cerita masa lalu. Yang terpenting sekarang adalah Mas telah menjadi Imam yang kuhormati dalam rumah tanggaku yang telah terbangun selama kurun waktu 8 tahun ini.

Depok, 7 Mei 2000

BismiLlahirrahmaanirrohim

Assalamualaikum warohmatuLlohi wa barokaatuh

Segala puji bagi Allah, robb semesta alam yang telah melimpahkan ni’matnya berupa iman dan Islam yang tiada taranya ini serta ni’mat hidayat yang tidak semua orang mendapatkannya. Sholawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kita, qudwah ummat manusia sedunia Rasululloh SAW beserta keluarga, shohabat, serta pengikutnya yang mengikutinya hingga akhir zaman.

Pada ukhti Nurul, semoga Allah selalu membimbing anti ke jalan-Nya, sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena pada hari Ahad lalu (7/5/2K) tidak dapat menelepon anti, ada amanah yang tidak dapat saya tinggalkan serta terima kasih, syukron jazakallah kepada **** yang telah menyampaikan pesan saya sama anti.

Ukhti Nurul yang dicintai Allah, dalam surat ini saya ingin memberikan sedikit informasi mengenai permasalahan yang anti hadapi, juga (afwan) tausiyah bagi diri saya sendiri khususnya dan sebagai bahan pertimbangan bagi anti dalam bersikap.

Saya selama ini mencoba mencari informasi mengenai bagaimana sebenarnya fikroh dari saudaraku M. Noer setelah beberapa minggu yang lalu, anti mencoba menceritakan permasalahan yang anti hadapi kepada saya. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman dekatnya, (afwan) M. Noer memang memiliki kecenderungan ke arah Syi’ah walaupun tidak secara utuh dia ke Syi’ah namun kecenderungan itu dominan sekali. Beberapa bukti pernah saya ceritakan langsung sama ukhti di mesjid beberapa waktu lalu, termasuk usahanya menyebarkan/mengedarkan poster mengenai hari Asy-Syuro yang merupakan salah satu ritualitas dari golongan Syi’ah. Satu hal mungkin perlu saya ulangi, bahwa Syi’ah telah menyimpang dari aqidah ahlusunnah wal jama’ah, yang begitu mengagung-agungkan Ali ra. hingga berada pada suatu kesimpulan bahwa yang menjadi Nabi/Rasul itu seharusnya Imam Ali. Jibril as, telah melakukan kesalahan dalam menyampaikan wahyu-Nya. Dan sederet bid’ah-bid’ah yang mungkin tidak dapat saya sebutkan di sini.

Ukhti Nurul, semoga Allah merohmatimu, akhirlah sampailah saya pada suatu kesimpulan bahwa kecenderungan Syi’ah memang ada pada diri saudaraku M. Noer walaupun bisa saja hal tersebut tidak benar, tetapi realita yang ada menunjukkan hal demikian. Saya beristighfar, memohon ampun kepada Allah jika saya salah dalam menilainya karena saya adalah manusia biasa yang tidak bisa lepas dari kesalahan. Segala kebenaran itu datangnya hanya dari Allah dan kesalahan adalah dari diri kita sendiri sebagai insan yang dhoif.

Ukhti Nurul yang dicintai Allah (insya Allah), ketika seorang manusia bersyahadat, maka ibaratkan Islam itu adalah suatu bangunan rumah yang kokoh, syahadat adalah pintu untuk memasuki rumah tersebut. Kita ini ibarat tamu di rumah tersebut dan harus mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan di rumah yang bernama Islam tersebut.

Ukhti fillah, jika kita menengok kembali ke masa Rosululloh SAW, kita kenal Sa’ad bin Abi Waqosh, kita tahu Mus’ab bin Umair, kita dengar kebesaran Khalid bin Walid. Bagaimana mungkin Sa’ad bin Abi Waqosh yang telah bersyahadat berani berkata kepada ibunya, “Seandainya ibu memiliki 100 (seratus) nyawa dan keluar satu per satu dari tubuh ibu, niscaya tidak akan menghalangiku untuk memegang teguh dien yang haq ini.” jika tidak semua itu dilandasi oleh kecintaannya kepada Allah. Generasi-generasi itu telah menjual diri dan harta mereka kepada Allah (At-Taubah: 110).

Saya terkesan dengan perkataan Imam Asy-syahid Hasan Al-Banna, “Kami bangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka.” Kata-kata itu menunjukkan suatu makna yang implisit, cukuplah Allah dan Rosulnya bagi kami. Hal itu menunjukkan betapa kuan syahadat itu menghunjam dalam dada mereka.

Ukhti fillah, pernikahan adalah suatu jenjang yang akan dilewati oleh manusia (jika Allah menghendaki). Mitsaqon Gholizho, istilah itulah yang dipakai Allah untuk menggambarkan betapa sakralnya ikatan perkawinan itu. Bahkan istilah itu hanya tercantum tiga kali di Al-Qur’an yang salah satunya adalah masalah ikatan perkawinan tersebut.

Ukhti fillah. Marilah kita coba berpikir ke depan kepada generasi-generasi penerus kita/ anak-anak kita nanti. Da’wah di negeri ini adalah suatu proses yang amat panjang yang tidak cukup diselesaikan oleh generasi kita. Anak-anak kita nanti yang akan mengambil tongkat estafet da’wah dari kita begitu seterusnya. Ukhti, anti sebagai orang yang paham akan Islam diharapkan akan melahirkan jundi-jundi baru yang akan meneruskan tongkat estafet generasi kita saat ini, yang akan melahirkan Sa’ad bin Abi Waqosh2 baru, Mus’ab bin Umair2 baru, Khalid bin Abi Walid2 baru, ataupun Hasan Al-Banna2 baru. Karena itu diperlukan aqidah yang bersih dan lurus dari orang tuanya. Saya tidak bisa menjamin apakah anti mampu mempertahankan aqidah anti yang lurus ketika pendamping anti ternyata telah melenceng dari aqidah yang lurus itu. Bagaimana pula dengan anak-anak anti nanti? Mampukah mereka survive dari fikrah-fikrah yang menyimpang itu? Hidayah itu mahal harganya, Ukhti! Pertahankanlah dengan segenap daya dan upaya yang anti miliki.

Ukhti fillah, satu pertanyaan yang ingin saya ajukan sama anti dan jawablah dari hati nurani anti yang paling dalam dan cukup jawaban itu hanya anti yang mengetahui. Jika ternyata ia pada akhirnya tidak menjadi suami anti, ikhlaskah anti, Ukhti? Hanya anti yang tahu jawabannya. Jikalau anti tidak bisa menerima hal itu, maka sudah pasti nafsu telah menyelimuti hati anti. Percayalah kepada skenario Allah, insya Allah itu adalah yang terbaik. Pada akhirnya kebenaran itu datangnya hanya dari Allah. Percayakan segala keputusan kepada Allah dengan Sholat Istikhoroh. Sholat Istikhoroh ini tidak cukup hanya sekali saja, tapi dengan istimroriyah (continue) hingga Allah memberikan/ memberitahukan keputusan-Nya kepada anti, baik itu lewat kemantapan hati, mimpi, perantaraan teman, dsb. Insya Allah informasi dari Allahlah yang dapat kita percaya, yang dapat anti percaya daripada saya atau teman-teman yang lain.

Segala keputusan di dunia ini akhirnya anti lah yang harus memilih. Afwan sebelumnya, tolong berhati-hatilah dalam mengambil keputusan. Pertimbangkanlah secara matang, bagaimana aqidah anti nantinya (hidayah itu mahal harganya dan susah untuk mendapatkannya), bagaimana nasib anak-anak anti nantinya. Ingatlah bahwa dunia ini adalah kenikmatan yang semu. Mata saya selalu berkaca-kaca ketika membaca ni’matnya pertemuan dengan Allah di syurga. Menatap langsung Wajah Yang Agung. Mungkinkah saya juga akan merasakannya? Rasanya jauh sekali saya dari orang-orang yang mendapat kenikmatan itu. Tapi saya sangat yakin bahwa fikrah yang saya pegang sekarang ini adalah yang lurus, fikrah yang anti pegang sekarang ini adalah yang lurus, dan insya Allah akan memepertemukan kita dengan Allah, menatap Wajah-Nya Yang Agung.

Jika engkau bertanya tentang hari di mana ahli syurga mendapat kenikmatan tambahan, dengarlah saat terdengar suara penyeru, “Wahai ahli syurga, sesungguhnya Allah masih mempunyai janji yang akan ditepati-Nya kepada kalian hari ini.“ Mereka bertanya, “Apa janji-Nya? Bukankah Dia telah memutihkan wajah-wajah kami, memberatkan timbangan-timbangan kami, memasukkan ke dalam syurga dan menghindarkan kami dari neraka?” Di saat mereka bertanya-tanya demikian itu, tiba-tiba muncul di hadapan mereka yang cahaya menerangi seluruh kawasan syurga. Mereka menengadahkan wajah-wajahnya, dan Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Suci Nama-nama-Nya telah berada di atas mereka dan berfirman, “Wahai ahli syurga, salamun ’alaikum!” (Kesejahteraan untuk kalian). Tidak ada ucapan yang lebih baik untuk menjawab salam ini selain ucapan, “Allahumma antassalaam wa minkassalaam tabaarokta ya dzal jalaali wal ikraam.” Kemudian Allah berfirman, “Mana hamba-hamba-Ku yang taat kepada-Ku padahal mereka tidak melihat-Ku?” Inilah hari di mana mereka mendapat kenikmatan tambahan, mereka bersatu dalam 1 ucapan, “Kami telah ridha, maka ridhailah kami.” Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, jika Aku tidak ridha kepada kalian, maka tidaklah Aku masukkan kalian ke dalam syurga-Ku. Inilah hari tambahan kenikmatan, maka mintalah kepada-Ku!” Mereka pun bersatu dalam keinginan yang sama, “Wahai Tuhan kami, tunjukkan kepada kami Wajah-Mu hingga kami bisa melihat-Nya!” Maka Allah pun membuka tabir dan menunjukkan Wajah-Nya kepada mereka, dan mereka pun terpesona dengan cahaya-Nya, yang apabila Allah Azza wa Jalla tidak mentakdirkan mereka untuk kuat melihat-Nya, tentulah mereka akan terbakar. Maka tiada seorang pun dalam tempat itu, kecuali benar-benar telah barhadapan langsung dengan Tuhan mereka. Betapa nikmat pertemuan dengan Allah sedemikian rupa, betapa berserinya bola mata manusia di saat melihat kepada Wajah Yang Maha Mulia di akhirat. Mungkinkah kita akan mendapatkannya ukhti? Semua itu kembali kepada aqidah yang lurus, yang bersih dari segala noda dan nafsu manusia. Insya Allah, fikrah yang kita yakini saat ini, aqidah yang kita pegang teguh ini, akan mampu menghantarkan kita ke syurga-Nya, asal kita istiqomah dalam keyakinan itu.

Afwan jika ada kesalahan dalam diri saya, ataupun kata-kata yang kurang berkenan di hati anti, Ukhti. Kebenaran datangnya dari Allah dan kesalahan dari diri saya sendiri sebagai manusia biasa yang memiliki banyak kelemahan. Wallahu a’lam bish showab.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Dari saudaramu

**********

NB: Sekali lagi afwan jika saya telah lancang dalam berkata-kata dalam surat ini. Syukron jazakallah!

11 Feb 2009 Welcome to nurulnoer.com
 |  Category: My Self  | 2 Comments

 

Namaku Nurul Halida. This blog is a briefcase of my life story. Seorang Nurul, setitik noktah dalam semesta yang diizinkan-Nya hadir di dunia ini untuk menjadi entah apa. Hanya mencoba menulis dan menulis, karena rasanya hanya itu yang mampu kulakukan.

Terlahir di Jakarta pada 9 Maret 1981, tanggal yang menurutku unik because you can simply put it down as 32-31-34. Alias tiga dikalikan tiga adalah sembilan dan sembilan di kalikan sembilan adalah delapan puluh satu. Di bawah naungan zodiac Pisces dan Shio Ayam. Sebagai sulung dan satu-satunya wanita dari empat bersaudara, membuatku merasa istimewa di keluarga. Panggilanku di kalangan orang rumah adalah ‘Kakak’.

Dalam suatu perbincangan dengan seorang teman ia mengatakan bahwa hidupku tampaknya ‘more than smooth’. Mungkin memang begitu kelihatannya. Dan dia tak salah. Menurutku hidupku memang biasa-biasa saja, kalau tidak bisa disebut sebagai membosankan. Bukan membosankan dalam konotasi negatif, hanya saja hidupku memang terasa lurus-lurus saja. I’m just a very plain girl, or, woman. Tidak bergejolak sedemikian rupa dan tiap tahapannya kurasa masih termasuk ke dalam ‘kurva normal’. Not so challenging may be, that’s why I called a little bit boring.

Bisa membaca pada umur 4 dan sangat ingat pengalaman membaca tulisan UMUM di sebuah truk tangki minyak yang lewat di depan rumah dengan lafal UM-UM. Pengalaman masa kecil lain yang masih teringat dengan baik adalah menjadi anak kecil cerewet yang selalu menanyakan siapa nama penyanyi yang tengah tampil di acara Aneka Ria Safari yang kesohor di TVRI. Yang lantas mungkin dijawab asal saja dan kadang bohong oleh ibuku karena aku terus mendesak dan tak pernah berhenti bertanya sebelum diberi jawaban (hmmm…bakat menjadi seorang yang very curious yang terbaca sejak kecil dan terbawa hingga sekarang). Sambil kemudian berceloteh riang menyanyikan theme song acara itu secara asal-asalan saja. Kadang: “Eta eti etu, cappalii, cappalii…” .”Atau eca eci ecu cappalii…cappalii…”. Haha…masa kecil yang lucu dan menggemaskan.

Aku juga bisa mengingat dengan baik dan sudah mengerti benar berita tentang tewasnya 7 awak pesawat ulang-alik Challenger (1986), agak bisa samar mengingat peristiwa tangan tuhan-nya Maradona (Piala Dunia 1986). Dan mulai menjadi penonton setia FIFA World Cup sejak 1990, meski sebenarnya tak terlalu suka dengan sepak bola. Sampai puncaknya pada World Cup 1998, saat tak bisa tidur semalaman di pondok pesantren lantaran memikirkan final Brazil-Italia yang tak bisa kutonton. Aaaaarrrggghhhh…..!

I wish there was a TV in my room!!!

Paginya baru tahu kesuksesan Brazil dengan tetracampeoes-nya. Idolaku masa itu adalah Bebeto dan Gabriel Omar Batigol Batistuta. Bukan karena mereka jago, just simply because they handsome and cute. Haha…

Rahasia masa kecil yang ‘agak memalukan’ adalah diam-diam menjadi penggemar Yulius Sitanggang yang dulu heboh dengan hits ‘Maria’ nya, sampai-sampai menulis surat rahasia untuknya. Juga menjadi fans New Kids on The Block dan kerap berkhayal bahwa Jordan Knight kelak menjadi muallaf dan lalu menjadi suamiku. Haha….can’t stop laughing while writing this… 😀

Mulai bersekolah sejak umur 5 di Madrasah Ibtidaiyyah Nurul Muta’allimin yang berlokasi di tengah pasar Tulodong Atas, Senayan. Yang sumpe deh, setiap hari harus menghirup udara tak sedap karena berdekatan dengan Tempat Pembuangan Sampah pedagang sepasar. Tadinya mau masuk SD umum tapi ditolak dengan alasan belum cukup umur. Akhirnya masuk SD pada umur 6 tahun 3 bulan, dan pindah jam masuk madrasah ke siang hari. Dan sejak itu menjadi langganan murid yang selalu terlambat karena double shift itu.

Mempunyai prestasi bagus di masa sekolah. Always Top Three. Tapi juga punya kebiasaan buruk untuk selalu otomatis naksir –meski diam-diam – dengan rival cowok di kelas. Benar-benar aneh, hanya bisa takluk dan jatuh hati pada cowok yang bisa mengalahkanku secara akademis. Haha…seakan cinta tidak buta dan bisa memilih.

Big fans of The Oprah Winfrey Show, yang beberapa acaranya yang menarik akan kutulis juga di blog ini.

Menikah pada usia relatif muda: 20 tahun lebih 2 hari. Saat duduk di semester 6 FEUI. Dengan teman kuliah yang agak ‘controversial’ di kampus. Liku-liku kisah cintaku hingga akhirnya menikah akan banyak juga tersebar diblog ini. Juga kisahku setelah resmi menjadi Mrs. Muhammad Noer. Beberapa refleksi tentang kehidupan pernikahan kami. Tentang kejadian sehari-hari, dan tentu saja cerita tentang peranku sebagai ibu dari 3 buah hati kami: Muhammad Fajar Alfath (25 Jan 2002), Aslam Nur Hidayat (18 September 2005) dan Muhammad Gunawan Halim (8 Maret 2007).

Silakan disimak dan diikuti. Mudah-mudahan bisa dinikmati dan diambil pelajaran.

Thursday, February 12, 2009, 03.00

22 Jan 2009 Awas Mitos Selingkuh!
 |  Category: Serba-serbi  | Leave a Comment

Setiap buka internet explorer. Pasti otomatis kebuka www.yahoo.com. Iseng-iseng kubuka salah satu link tentang dating tips. Tapi yang ini bukan exactly tentang dating, tapi topic mengenai affairs alias selingkuh bahasa populernya. Mmm…menarik juga,ngasih insight baru. Yang mau lihat silakan intip di: http://dating.personals.yahoo.com/singles/relationships/24187/dating-101-everything-you-know-about-affairs-is-wrong. Gw terjemahin bebas ya buat yang males baca Inggrisnya.

“Sekali pengkhianat tetap pengkhianat…” (Apa bahasa yang enak untuk menyebut ‘cheater’? Penipu? Peselingkuh? Kok masih agak ganjil kedengarannya)

“Orang berselingkuh ketika mereka tidak bahagia di rumah.”

“Jika pasanganmu berselingkuh, kau pasti akan mengetahuinya.”

Itu anggapan yang umum terjadi, dan itu terasa menetramkan, dengan caranya yang aneh. Tapi anggapan itu semuanya salah, kata para ahli yang mempelajari tentang ketidak setiaan (infidelity). Mempercayai mitos ini berbahaya, karena mempengaruhi cara kita mencegah, melacak, dan pulih dari luka perselingkuhan (ya, pulih -bertentangan dengan anggapan umum- selingkuh tidak harus selalu menghancurkan suatu hubungan). Kami mengungkap riset mutakhir supaya Anda bisa melindungi hubungan anda berdasar fakta-fakta tersebut. more…

22 Jan 2009 Tentang Usia Sekolah (Part II)
 |  Category: My Kids  | 2 Comments

Sekarang soal Aslam anak keduaku. Ia lahir bulan September 2005. Teringat percakapanku dengan Mas pada bulan Juli 2008 awal tahun ajaran ini. Saat umur Aslam belum lagi genap 3 tahun.

Aku      : “Aslam kita sekolahin aja ya Mas di Play Group?”

Mas     : “Loh, memangnya umurnya udah cukup?”

Aku      : “September ini udah 3 tahun sih. Gapapa deh Mas, kan untuk sosialisasi…”

Mas     : “Sosialisasi itu untuk anak yang di rumahnya ga ada temennya. Ini kan udah banyak temennya. Punya abang, punya adik, punya teman sebaya di sekitar rumah. Kalo masuk Play Group sekarang mau masuk SD umur berapa hayo…?”

Aku      : “Mmmm….kalo kuitung-itung kalo masuk PG sekarang berarti Aslam masuk SD umur 6 kurang. Kalo tetep mau masuk SD umur 7 kurang, berarti PG nya 2 tahun.”

Mas     : “Apa ga kelamaan masuk PG 2 tahun? Belum lagi TK nya nanti 2 tahun lagi. Nanti anaknya keburu bosen sekolah…”

Aku      : “PG kan isinya main aja Mas…”

Mas     : “Kalo main aja di rumah juga bisa. Di rumah juga banyak temennya. Bukan gitu Bunda, walopun PG banyak mainnya kan tetap aja yang namanya sekolah itu sifatnya formal. Anak mesti masuk di jam tertentu. Mesti ikut aturan tertentu. Sudah ada rutinitas yang harus dijalani. Kalo lagi males gimana? Sekarang apa untungnya coba masukin anak cepat-cepat. Ga usah ikutan orang lain yang masukin anak sekolah cepat-cepat. Kita kan udah punya konsep pendidikan sendiri. Apa untungnya anak lebih cepat membaca? Apa itu menjamin anak akan cinta membaca?”

Aku      : (sambil mikir, aku bisa baca umur 4 tahun, tapi kayaknya emang ga gitu cinta membaca…)

Mas     : “Masa belajar seseorang dalam hidup itu panjang. Buat apa diburu-buru.  SD aja 6 tahun. SMP 3 tahun. SMA 3 tahun. Trus kuliah lagi. Buat apa dimulai lebih awal. Puasin main selagi bisa bermain sepuasnya. Kalo sudah waktunya belajar serius ya serius. Kalo SD kan sudah serius, kasian kalo anak belum cukup umur. Apalagi sekarang SD bebannya tambah berat. Masuk SD udah mesti pinter baca.”

*Mungkin istilah Betawinya: lu kagak bakalan abis dah, makan bangku sekolahan seumur-umur*

Aku      : “Kan ada golden age Mas, sejak lahir sampe umur 3 tahun…?”

Mas     : “Iya, tapi kan yang namanya belajar itu ga mesti di sekolah. Bunda bacain cerita itu belajar, dia liat lingkungan sekitar itu belajar, main itu belajar. Mama kan guru SD  (ibu mertuaku Kepsek SD sekarang, dulunya masih guru), tapi Mas dulu dimasukin sekolah umur 7. Biar mateng katanya. Kalo umur kurang, mungkin aja sih secara akademis dia bisa ngikutin kalo anaknya cerdas, tapi secara mental dia belum matang. Belum lagi soal pergaulan, anak kan biasanya suka main dengan yang umurnya sebaya, kalo yang keliatan masih kecil suka dianggap ‘anak bawang’.”

Aku      : manggut-manggut aje, udah bingung mo ngomong ape.

Mas     : “Terus kalo anak itu kurang bisa menguasai pelajaran, bisa jadi dia merasa minder karena merasa bodoh,  padahal itu bukan kesalahan dia. Bisa jadi dia memang ga bisa karena memang belum waktunya untuk bisa, dia belum cukup umur untuk itu.

Yang sekolah kan anak-anak. Bukan kita. Jangan nurutin ego sebagai orang tua. Takut ketinggalan sama yang lain karena udah pada sekolahin anaknya.”

Aku      : “Iya Mas, kan sampe ada banyak tuh kelas toddler. Anak umur 1 tahun udah mulai sekolah.”

Mas     : “Ooo…Mas pribadi ga setuju kalo yang kayak gitu. Terserah orang kayak gimana.”

Aku      : “Mungkin itu untuk yang orang tuanya dua-duanya kerja ya, daripada anak di rumah sama pembantu aja…”

Mas     : “Kalo anak masuk sekolah usia matang, dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik, dewasa sesuai umurnya, udah punya rasa tanggung jawab. Perasaan ‘aku bisa’ itu bisa memupuk rasa percaya diri anak. Beneran loh Bunda, Mas ga mau sekolahin sekarang bukannya  karena ga mau keluar uang pendaftaran, tapi karena Mas merasa memang belum waktunya.”

Aku: (nyerah deh, gak bisa ngomong apa-apa lagi)

Lagipun ternyata, setelah aku iseng bertanya pada Aslam sendiri. “Aslam, udah mau sekolah belum?”

Jawabnya: “Sekolahnya nanti ajah!”

Deuu…kompakan nih anak sama ayahnya. Berarti emaknya ya yang kegatelan mau sekolahin anak buru-buru. Jadi gapapa ya Nak, Aslam masuk PG umur 3  tahun 10 bulan.

22 Jan 2009 Tentang Usia Sekolah (Part I)
 |  Category: My Kids  | One Comment

Kapan usia tepat anak mulai sekolah? Aku tak akan menulis tentang segala teori pendidikan yang rumit, yang jujur saja, memang tak begitu kukuasai. Hanya ingin menulis berdasarkan pengalaman yang kualami dan amati sendiri.

Anak pertamaku Alfath mulai menjajal sekolah ketika usianya 2,5 tahun. Kebetulan ada sebuah Play Group kecil yang baru berdiri tak jauh dari rumah kami. Mungkin karena baru, uang pendaftarannya pun teramat murah. Hanya 10 ribu kalau tak salah. Dan dengan iuran 15 ribu untuk 3 kali jadwal masuk seminggu.

Awal masuk anakku tampak tak terlalu antusias. Setelah beberapa kali masuk pun tampaknya dia belum terlalu berbaur dengan teman sebayanya. Kalau anak-anak yang lain bisa dengan tertib mengikuti gerakan senam sebelum jam masuk kelas dimulai, ia lebih memilih main papan seluncur mini yang ada di sekolah. Tidak, ia bukannya tak mengerti apa suruhan, perintah dan omongan gurunya. Ia anak yang cerdas. Lancar berbicara apa saja ketika berumur 20 bulan dan dengan sukses membuatku terharu kala dengan setengah berteriak mengatakan: “I love you, Bunda….” seraya melambaikan tangan padaku yang akan berangkat mengajar. Waktu itu umurnya sekitar 27 bulan.

Seingatku ia kerapkali merasa terpaksa tiap kali sekolah. Tentu saja ini tak bisa dipukul rata. Karena dari beberapa cerita orang tua ada juga anak mereka yang bahkan menanyakan kapan harus sekolah lagi ketika hari libur tiba. Kurasa anakku tidak termasuk tipe yang itu.

Puncaknya adalah setelah libur agak panjang setelah Hari Raya Idul Fithri. Anakku tambah enggan dan mogok sekolah. Ia suka ngambek tanpa alasan yang jelas. Kertas tugas yang disodorkan Bu Guru dikuwel-kuwel dan dicampakkannya dengan kasar.

Akhirnya aku dan ayahnya memutuskan untuk tidak memaksanya sekolah lagi. Pun tak lama kemudian, kami memang akan pindah rumah.

Di rumah baru selalu kutanya: “Alfath, mau sekolah lagi, nggak?” Yang selalu dijawabnya dengan ‘tidak’.

Umur 4 kurang sedikit ia kudaftarkan ke TPA di masjid komplek perumahan. Kebetulan ada anak tetangga yang lebih dulu masuk. Ada cerita sedikit mengenai anak tetangga ini. Ia lebih kecil dari Alfath. Selisih 2 tahun kira-kira. Mulai mengaji TPA ketika usianya 2,5 kurang. Yang aku tahu kemudian adalah anak ini setelah sekian bulan tak beranjak dari Iqro’ 1 halaman 2. Hampir seluruh catatan di kartu prestasi mengajinya tertulis ‘ULANG’. Mengapa demikian? Karena tiap mengaji ia belum bisa konsentrasi dan selalu tengok kiri kanan. Apakah anak ini bodoh? Kurasa gadis kecil itu tidak bodoh. Hanya umurnya saja belum memungkinnya untuk bisa berkonsentrasi mengaji dengan tekun. Rentang perhatiannya masih pendek.

Awal mengaji memang Alfath berteriak-teriak dan menangis histeris. Mungkin ia belum terbiasa dan belum merasa aman dan nyaman dengan lingkungan barunya. Tapi tak lama perkembangannya terlihat nyata. Maju sedikit demi sedikit dengan meyakinkan. Pelan tapi pasti.

Usia 4,5 kami daftarkan di TK Islam dekat rumah untuk tingkat TK A. Sekolahnya ini punya kebijakan ketat berkenaan kehadiran orang tua menemani anak di sekolah. Anak hanya boleh didampingi orang tua paling lama 1 minggu dalam masa adaptasi. Hari pertama tentu saja hampir semua orangtua menemani anaknya sampai kelas usai. Hari kedua orangtua sudah diminta pulang atau menunggu di luar sekolah. Kebetulan sekolahnya menempati lahan yang sempit dan terbatas. Hanya seukuran rumah.

Anakku termasuk yang merasa berat berpisah dengan ibunya dan menuntut agar aku selalu tampak di matanya. Ia menjerit hebat -dan parahnya disertai dengan mengata-ngatai guru- kala aku ‘dipaksa’ atau diminta dengan sangat oleh Bu Guru untuk menunggu di luar sekolah. “Biar saja Bu, biar kami yang tangani. Sudah biasa anak begini. Masa penyesuaian. Harus dididik untuk berani.” Demikian kira-kira ucapan Bu Guru. Memang benar. Tak lama ia jadi berani dan telah merasa nyaman dengan kelas dan teman-temannya.

Prestasi belajarnya termasuk papan tengah. Di sekolah ini, untuk tingkatan TK A belum diajari tulis baca, hanya sekedar pengenalan huruf. Persis seperti yang kami inginkan. Sekolah yang tidak memburu-buru anak dengan calistung. Karena toh, masih ada kesempatan lagi untuk belajar membaca di TK B.

Sayangnya, setelah satu semester dijalani, kami harus pindah rumah lagi mengikuti kepindahan tugas ayahnya ke Surabaya. Lagi-lagi Alfath kami daftarkan ke TK di sekitar rumah saja. Dibanding sekolah lama, rasanya TK yang ini kunilai lebih santai. Hampir tiap minggu ada jam pelajaran yang terpotong karena ada perayaan ulang tahun anak-anak di sekolah. Rasanya sudah tradisi anak-anak merayakan ulang tahun di sekolah. Meskipun acaranya biasanya hanya untuk teman sekelas. Dalam hal hafalan doa-doa dan surat-surat pendek, sekolah ini agak jauh tertinggal dibanding sekolah Alfath yang lama. Tapi ternyata, walau tampak santai, banyak juga pelajaran yang didapat di sekolah ini. Ini kuketahui setelah pada waktu pembagian ijazah dibagikan buku tugas yang selama ini dikerjakan di sekolah.

Up to this point, ketika lulus TK, Alfath sudah bisa membaca walaupun belum lancar benar. Ia masuk SD usia 6,5 tahun. Umur yang cukup matang dan pas untuk duduk di Sekolah Dasar. Ini terbukti kurasakan benar pada anakku. Tak lama, ia dapat membaca dengan lancar. Hampir tidak mengalami kesuliatan berarti dalam tiap mata pelajaran. Aku pun tidak begitu susah payah mengajarinya. Terakhir, ini yang memicuku untuk menulis ini, nilainya cemerlang dalam Ujian Akhir Semester Ganjil. Minimal dapat 88, yang lain di atas 90. Padahal aku merasa hanya menemaninya belajar seadanya saja. He’s far beyond my expectation. Alhamdulillah…